
"Eh itu Eri!" sambil tanganku menunjukkan kepada kakakku yang berjalan keluar stasiun. Aku baru saja tiba di Stasiun Bogor setelah naik kereta commuter line yang menempuh waktu perjalanan kurang lebih sejam dari Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Stasiun Bogor sebagai meeting point kami sebelum beranjak ke Kebun Raya Bogor. Demi mempersingkat waktu kami tidak naik angkutan umum karena jalannya hanya satu arah. Daripada kendaraannya memutar lebih jauh lebih baik kami berjalan kaki ke Kebun Raya Bogor.
Berawal dari iklan promo epic sale dari sebuah online travel agent dan juga provokasi temanku, akhirnya tergoda mengambil promo diskon hotel di Bogor.![]() |
![]() |

Ternyata berjalan kaki dari stasiun sampai dalam taman kebun raya cukup menguras energi. Kebetulan juga sudah masuk jam makan siang. Segera aku buka bekal makanan tadi. Menyantap makananku sambil memperhatikan sekelilingku. Di sisi kiriku spot kemah dome dipenuhi orang-orang berkaos merah biru yang sedang ada acara company gathering.
Semilir angin diantara dedaunan seperti kipas angin alami membuatku sedikit mengantuk. Mungkin juga efek kekenyangan ;) Biar mata melek segera kuseduh serbuk minuman coklat hangat. Aroma coklat yang semerbak sungguh menyegarkan.

Aku beranjak ke lokasi lain, danau kolam gunting yang terkenal dengan view belakang Istana Bogor. Bila dari pintu masuk kita berjalan belok ke kiri, belok ke kanan, dan lurus. Di kanan jalan terdapat monumen untuk mengenang Olivia Raffles, isteri dari Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles tahun 1814, saat Indonesia dalam peralihan kolonial Inggris dan Belanda.
Sebuah bingkai kayu membentuk gerbang dengan tulisan "Kebun Raya Bogor" menarik pandangan mataku. Sebuah dermaga kayu telah dibangun untuk spot foto kekinian dengan latar belakang kolam gunting. Jalan setapak dibentuk dari batuan kecil yang disusun sedemikian rupa berfungsi sebagai terapi telapak kaki. Hhhmm Kebun raya sudah banyak yang berubah. Terakhir aku kesini tahun 2009. Berarti sepuluh tahun yang lalu.
Aku terus berjalan menuju Danau kolam gunting dengan view belakang Istana Kepresidenan. Beberapa remaja sibuk berpose dengan kamera ponselnya. Ini memang spot favorit pengunjung. Di perbatasan antara gerbang belakang istana dan Kebun Raya dibangun tugu monumen kecil relief wajah Reinwardt untuk mengenang Prof. Casper George Carl Reinwardt yang turut berjasa membangun Kebun Raya Bogor.
Tampak seorang tentara sedang berjaga. Duduk sambil memperhatikan layar telepon selulernya. Beberapa kemah tentara didirikan dekat kolam. Sejak Istana Bogor ditempati presiden, Kebun Raya Bogor masuk dalam ring satu penjagaan. Oh ya aku datang tinggal 19 Oktober 2019, sehari sebelum pelantikkannya Presiden terpilih.

Menurut Prasasti Batu Tulis Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari Samida (hutan buatan/Taman buatan) yang telah ada sejak Pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi (1474-1513). Hutan buatan ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan dan sebagai tempat memelihara benih kayu yang langka. Samida serupa juga dibuat di perbatasan Cianjur - Bogor, yang disebut Hutan Ciung Wanara. Hutan ini tidak terawat setelah Kerajaan Sunda takluk kepada Kesultanan Banten.
Foto dan tulisan: Arum Mangkudisastro
http://befreetour.com/id?reff=X3KRF Baca keseluruhan artikel...