Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Kamis, 10 Oktober 2019

Menangkap Matahari Senja di Wairinding

Lapisan demi lapisan perbukitan yang tampak seperti kue lapis yang terpanggang kuning matahari. Pemandangan senja yang mengurai ribuan cerita bagi penikmatnya: lapis demi lapis. Tak peduli tarian langit saat gelap atau terang, keindahan senja di tempat ini seperti tidak berkurang. Romantisme tempat ini telah terekam dalam ratusan foto dan video yang dipajang di media sosial. Memancing orang yang melihatnya, menyukainya, dan menjadi keinginan untuk ikut menjadi "aku juga pernah".

Media sosial adalah racun yang jauh lebih dahsyat. Foto instagram seorang perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai berkain etnik dengan rambut terurai terbang tertiup angin berdiri di atas sebuah padang tandus dengan langit lembayung dan lapisan-lapisan perbukitan di latarnya. Buumm... ribuan like langsung membanjiri fotonya. Tak lama kemudian, Wairinding menjadi lokasi impian yang masuk dalam 'wishlist' daftar wajib untuk dikunjungi. Bahkan, beberapa orang telah menjadikan Wairinding tujuan eksotik untuk merayakan mimpi bersama kekasih di bawah rindu merah matahari terbenam. Mereka menyebutnya foto pre-wedding.

Faktanya potensi Wairinding sendiri juga dimunculkan dari kehadiran film-film dengan menggunakan Sumba sebagai latarnya seperti "Marlina, Kisah Pembunuh Empat Babak"(2017), "Pendekar Tongkat Emas" (2014), "Susah Sinyal" (2017) yang berhasil menangkap eksotika keindahan perbukitan savana. Semua menjadi satu kesatuan untuk menyuarakan keindahan Sumba. Sebuah pulau yang pernah dengan gagahnya sebuah "Pulau Terindah di Dunia" (Sumba gehrt zu den 33 schnsten Inseln der Welt) yang disematkan oleh 'FOCUS' sebuah majalah bergengsi internasional dari Jerman.

Ada terbersit perasaan protes saat pengunjung yang datang Warinding hanya sekedar untuk mengabadikan dirinya dengan latar yang 'kekinian'itu. Keindahan Wairinding seolah hanyalah potret perbukitan dalam naungan senja sebagai latar belakang. Kata 'menikmati'senja seolah cukup kata yang dimunculkan dalam frame foto yang diunggah dalam IG atau facebook. Tidak punya arti, kecuali bagi penikmat senja dan para pejalan.

"Nikmati saja," kata temanku yang pandangan matanya tak lepas dari dua sosok wanita bercelana pendek menampakkan kaki putih panjang. Dulu sih katanya kalau mau cuci mata harus ke mall, bukan untuk belanja tapi melihat perempuan-perempuan cantik. "Ah iya, nikmati saja," dan aku kembali melihat ke layar kamera menunggu para wanita itu berdiri tempat di titik sebelum aku memencet rombol rana. Mencuri momen... jangan-jangan aku juga sama dengan para pemburu tempat indah itu. Sekedar memasukkan keindahan dalam sebuah "foto" dan tidak mempedulikan rasa dan nuansa-nya.

Lokasinya masuk desa Pambota Jara, kecamatan Pandawai. Wairinding mudah diakses karena berada di pinggir jalan besar Waingapu-Waikabubak, sekitar 30 km dari kota Waingapu ke arah Timur. Tempat ini masih dikelola sendiri oleh pemilik tanah. Tidak ada tarif berapa yang harus dibayar, hanya cukup menuliskan nama di buku tamu dan uang untuk sumbangan. Satu-satunya yang jelas adalah tarif parkir untuk mobil yaitu 10ribu. Dari parkir cukup naik beberapa meter ke atas dan pemandangan perbukitan yang indah langsung akan menyergap mata.


Tapi di atas itu semua, jangan lupakan satu: nikmati keindahan itu seutuhnya. Wairinding bukan sekedar sebuah padang sabana dengan lembayung senja dan kontur perbukitan berlapisnya. Wairinding adalah kehidupan bagi ternak-ternak dilepas-gembalakan. Pusat cerita bagi  kelincahan anak-anak Sumba di atas pelana. Tempat bertumbuh-tangguhnya masyarakat Sumba merangkul alam yang panas dan kering.

BTW, Wairinding ini pernah menjadi salah satu destinasi yang aku lewatkan saat perjalananku seminggu ke Sumba di cerita ini, ini dan ini. Kok bisa aku melewatkan tempat sekeren ini? Ya karena lokasinya yang mudah dijangkau jadi aku fikir bisa aku datangi lain waktu saat santai atau kalau ada kesempatan kunjungan singkat ke Waingapu. Dengan waktu seminggu kala itu, aku memang sengaja memilih untuk mendatangi lokasi-lokasi yang lebih jauh dan lebih susah dijangkau.

Temen jalan: Daniel ig: @danielkusdhana, Sugeng @sym_siyogamarsa

6 komentar:

  1. oh ini toh yang di Film Marlina, keren banget cui

    BalasHapus
  2. Mas...itu kyak kue lapis brarti enak buat dmakan y 😬

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak asal pas ngeliatnya sambil bawa kue brownis dan kopi coklat panas

      Hapus
  3. Wah ini nih yang jadi destinasi Jalan2men tahun ini. Keren banget!

    Fajarwalker.com

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini. Untuk sementara komentar saya moderasi dulu karena banyak spam yang masuk. Terima kasih sudah berkunjung, salam MLAKU!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya