Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Selasa, 07 Juni 2016

Senja di Pantai Oebali

Senja di pantai Batu Burung
Dari kejauhan beberapa burung tampak terbang mengelilingi sebuah batu besar yang berdiri sendiri di pinggir laut. Selain mereka aku tak melihat tanda-tanda ada kawanan burung lainnya yang datang ke tempat ini. Sambil melangkah di antara bebatuan yang tersebar di sepanjang pantai, aku mencoba mencari kemungkinan mengapa orang-orang menyebut pantai ini dengan nama "Pantai Batu Burung". Pak Kus menunjuk sebuah batu, dia bilang jika dari sisi pantai tempat dia berdiri tadi tampak seperti burung. Batu yang mau aku naiki tadi? Ah, aku masih gagal melihat bentuk burung dari batu itu. Baiklah, mungkin kalau aku kesini lagi itu adalah hal pertama yang harus aku amati terlebih dahulu.

Pasir putih kecoklatan di pantai Batu Burung
Pantai Batu Burung, nama itu tidak akan terdengar akrab bagi banyak orang di Kupang jika kau cobakan menanyakannya. Bahkan jika kamu menggunakan internet untuk memandu, maka yang akan muncul adalah pantai Batu Burung di daerah Singkawang, Kalimantan. Tapi coba tanyakan tentang pantai Oebali, mungkin ada yang bisa memberitahukanmu arahnya. Mungkin? Iya, karena memang pantai Oebali juga tidak banyak dikenal oleh masyarakat disini. Tidak dikenalnya Oebali oleh masyarakat bukan berarti pantai ini tidak menarik tapi lebih karena kondisi jalannya yang cukup parah.

Aku sendiri kurang familiar menyebut pantai Batu Burung, aku lebih suka menyebutnya pantai Oebali. Pantai Oebali berada di lekukan yang dibatasi bukit yang tidak terlalu tinggi. Sebagian besar dipenuhi bebatuan, yang sebagian besar berupa batu berwarna putih, dari bentuk batu sepertinya berasal dari laut. Aku jadi membayangkan, jika sekarang masih nge-tren batu akik mungkin pantai ini salah satu pantai yang akan diserbu pencari batu akik dan akan menjualnya dengan berbagai macam nama.

Warna-warni batu di pantai Batu Burung
Secara keseluruhan, aku bisa mengatakan pantai ini punya reputasi: layak dikunjungi. Selain bebatuan yang tersebar di pantai ini bervariasi, kondisi pantai yang berada di cekungan juga masih sangat bersih. Pasir pantainya memang tidak seputih pasir di pulau Semau misal, warnanya cenderung coklat cerah yang mengingatkanku pada pasir di pantai Lasiana. Kondisi pasirnya landai, artinya pengaruh pasang surut akan sangat terasa. Jika datang pas waktu laut surut, pasir pantainya akan sangat panjang dan jauh. Jika pun pasang, air lautnya pun masih tampak jernih jadi asyik juga untuk mandi dan berenang terutama saat ombak tidak terlalu besar seperti saat aku kesini.

Menikmati senja di pantai Batu Burung
Pantai Oebali ini terletak di sisi selatan pulau Timor, salah satu daerah yang akan disasar proyek jalan trans-selatan pulau Timor. Karena di berada di sisi selatan, tentu saja setenang-tenangnya ombak di pantai Oebali akan lebih kencang dibanding pantai di wilayah kota Kupang yang berada di sisi utara perariran pulau Timor. Pada saat-saat tertentu terutama jika pasang, sangat mungkin kamu akan melihat ombak yang besar. Aku bahkan berfikir jika tempat ini bisa dikembangkan untuk pariwisata yang berhubungan dengan olahraga selancar air.

Tempat ini sebenarnya baru terfikirkan sehari sebelumnya, karena dari awal aku masih memenuhi otakku untuk melakukan perjalanan ke gunung Mutis. Teman-teman dari Nekad Team yang sudah pernah ke gunung Mutis memang berencana ke sana lagi tapi nanti selepas puasa. Sementara si anak gunung dan si anak Toba yang tangguh buat teman jalan di medan begini lagi ke Solo buat cari beasiswa. Mungkin mereka sudah semakin tersesat maka butuh jadi mahasiswa lagi biar dikembalikan ke jalan yang benar. Karena itu, akhirnya aku mencoba mencari lokasi yang bisa dijangkau tanpa harus menginap. Untung aku dapat informasi lewat foto-foto teman fotografer yang sudah kesana. Foto slowspeed-nya cukup menggoda walaupun aku yakin tambahan pemandangan milky way di langit akan makin bikin foto sempurna. Lupakan milky way yang harus menyiapkan makanan seabrek buat cemilan, sarung buat penghangat, bahkan kesabaran untuk menunggu. Aku butuh jalan, dan itu yang penting.

Hamparan bebatuan di pantai Batu Burung
Tak perlu banyak rencana, hanya berbekal seadanya dan dua buah hammock yang akhirnya cuma nangkring dalam tas tanpa pernah keluar maka perjalanan ke pantai Oebali dimulai. Menggunakan dua motor, kami berempat (aku, pak Sulih, Rei, pak Kus) berangkat sekitar jam setengah empat. Harusnya memang kami berangkat lebih awal sekitar jam dua siang, apalagi dengan waktu tempuh dan lokasi yang belum pernah ketahui. Seharusnya memang kami sudah jalan sebelum jam tiga. Dipertengahan jalan melihat matahari sudah setengah menuju ke ufuk barat membuat aku kuatir, jangan sampai kita keburu dikejar gelap. Apalagi saat melewati jalanan berbatu yang membuat motor kita merangkak pelan. Ternyata memang ada ruas yang kondisinya lumayan parah. Tidak terlalu panjang namun jalan masih berupa timbungan batu-batu saja. Mungkin dulunya jalan ini pernah dihampar batu, cuma hamparan timbunan penutup batu tampaknya sudah hilang terkikis hujan. Bahkan ada satu titik jalan ada gorong-gorong melintang di jalan yang sudah banyak bolong. Terus terang aku sendiri tidak merekomendasikan menggunakan kendaraan roda empat. Memang ada kendaraan roda empat yang sampai ke tempat ini, namun aku justru kuatir penggunaan kendaraan-kendaraan itu akan memperburuk kondisi jalan.

Di jalan menurun ke arah pantai sempat melihat sebuah cabang jalan ditutup kayu-kayu dan peringatan yang tidak membolehkan orang masuk. Belakangan aku baru tahu kalau ada yang membangun semacam rumah atau villa di tempat ini. Ujung pantai Oebali adalah sebuah hamparan tanah yang agak tinggi dengan sebuah bangunan kayu bertingkat. Salah seorang penjaga sempat bertanya jika kami mau menginap di sini. Rupanya bangunan ini disewakan, sayang aku lupa menanyakan berapa harga sewa bangunan ini per malam. Kami ditarik biaya 10ribu per orang entah untuk biaya parkir atau biaya masuk ke lokasi. Akibat terlalu sore sampai ke sini, akhirnya hammock cuma gak pernah keluar dari tas.

Bagaimana Cara Kesana
Peta jalan google dari kota Kupang ke pantai Batu Burung
Untungnya pantai Oebali sudah dapat dicari menggunakan Google Map jadi kalau kesulitan saat dijalan bisa langsung dipantau. Namun, tak selalu informasi dari Google Map nyambung kalau misalnya kalian bertanya kepada penduduk. Penduduk lokal umumnya mengenal daerah dengan nama desa/kampung bukan nama jalan. Pantai Oebali jelas tidak bisa menggunakan kendaraan umum, karena jalur bis terjauh yang saya tahu itu bus Damri jurusan Kupang-Oemofa. Dari Kupang-Oemofa saya gak tahu apakah ada ojek di daerah itu. Kendaraan yang aku sarankan motor tapi jangan motor matic karena terlalu rendah jarak terendah ke tanah (ground clearance). Jika menggunakan mobil, kesulitan utama ada jalur yang pas satu mobil bahkan jika berpapasan antara mobil dan motor maka motor harus mau masuk ke semak-semak sementara agar mobil bisa lewat.

Gak usah panjang lebar lagi, ini rute yang kami lewati dan kondisi jalannya:
  1. Titik poin perjalanan adalah perempatan Polda, ambil ke jalan Badak (menuju ke Bakunase/Oenesu/Tablolong). Ikuti jalan sampai bakunase terus sampai ketemu perempatan dengan jalan besar 2 arah yang biasa disebut jalur 40, tetap ambil lurus ke arah Oenesu. Kondisi jalan aspal yang cukup bagus.
  2. Ikuti jalan terus sampai bertemu pertigaan ke arah Tablolong. Jika ke arah Tablolong belok ke kanan, tetap ke arah kiri. Kondisi jalan sampai dengan ke arah pertigaan ini sebagian besar sudah bagus karena baru saja diperbaiki. Hanya perhatikan di beberapa titik ada beberapa lubang di pinggir jalan.
  3. Selepas jalan ini nanti banyak bertemu dengan jalan tanah berbatu dan jalan beraspal yang sudah rusak sampai jalan mendekat ke arah pantai. Secara umum kondisi jalan masih bisa dilewati dengan motor matic sekalipun.
    Setelah itu akan bertemu dengan jalan besar yang masih bagus, ikuti terus sampai dibatas jalan bagus dan melewati sungai kering yang cukup lebar.
  4. Selepas melewati sungai lebar dan beberapa ratus meter jalan bagus selanjutnya melewati jalan tanah berbatu menanjak sampai ke arah pertigaan yang ada tugu. Dari tugu tersebut belok ke kanan, kondisi jalan ini yang paling parah karena batu-batunya cukup besar dan tajam. Jalan ini tidak terlalu jauh hanya memakan waktu karena harus pelan. Hati-hati, ada satu gorong-gorong melintang di jalan yang sudah berlubang besar.
  5. Selepas jalan ini akan bertemu dengan pertigaan belok ke kanan menurun sampai bertemu dengan sebuah papan kecil bertuliskan "Pantai Batu Burung". Kondisi jalan ini berupa jalan tanah hitam yang menurun agak curam. Pada musim hujan jalur ini akan sulit dilewati. Di ujung jalan itulah pantai Oebali yang sekarang coba diperkenalkan dengan nama Pantai Batu Burung.
Baca keseluruhan artikel...

Jumat, 03 Juni 2016

Menantang Gelombang Pantai Boa

Berselancar di pantai Boa
Uffft! Aku menarik bahu ke belakang ikut merasakan ketegangan Yunus salah memperhitungkan liukan papan seluncurnya. Papan seluncurnya meliuk naik tepat saat gelombang lebih dahulu pecah membuat dia berikut papan seluncurnya terbanting dalam gulungan ombak. Hilang sesaat, dia tiba-tiba sudah muncul dipermukaan sambil menengok ke kanan kiri mencari papan seluncurnya.

Berselancar di pantai Boa
Tak berapa lama kemudian keempat anak-anak ini kembali mendayung ke tengah laut. Tiap kali gelombang datang dan tidak terlalu besar mereka akan menyusup ke dalam gelombang untuk terus menuju ke tengah. Pada jarak yang tepat mereka akan menunggu ombak terbesar dan paling menantang datang. Saat ombak yang dinanti datang mereka telah menduduki papan seluncur masing-masing. Begitu gelombang menyeret papan seluncur mereka, segera mereka naik berdiri di atas papan seluncur dan membiarkan ombak mendorong mereka. Di situlah permainan papan seluncur dimulai. Sepertinya gampang waktu dilihat tapi percayalah, itu tidak semudah seperti saat kita melihatnya. Keseimbangan menjadi hal utama juga ketepatan mengambil momen saat meliukkan papan seluncur ke atas lekukan gelombang. Salah perhitungan, kejadian seperti tadi akan terulang.

Berselancar di pantai Boa
Aku juga bisa merasakan sensasi keberhasilan saat Yunus meliuk ke dalam gulungan yang belum pecah dan berhasil tanpa terbanting. Sepertinya akulah yang melakukan liukan indah itu. Pecah rekor, itulah liukan paling indah diantara mereka berempat. Ya, mereka berempat adalah anak-anak kampung yang sudah mahir bermain papan seluncur (istilahnya surfing). Mereka termasuk generasi-generasi dari penduduk pesisir barat pulau Rote yang sudah mulai mengenal olahraga yang benar-benar memicu adrenalin ini. Memang sekarang ini mereka masih belajar meliukkan papan di atas ombak yang tak terlalu besar, tapi nanti mereka pasti akan menjadi salah satu jagoan di atas papan seluncur menghadapi ombak pantai Bo'a dan Nemberala yang terkenal tinggi dan berlapis. Keren melihat anak-anak ini menenteng papan seluncur menuju ombak yang untuk berenang saja membuat kita merinding.

Pasir putih memanjang di pantai Boa
Sebagian orang yang pernah mendengar tentang Rote pasti lebih kenal dengan Nemberala. Desa Nemberala ini memang tersohor di kalangan bule pecinta surfing. Di desa ini, banyak dengan mudah ditemui rumah-rumah tinggal yang dihuni bule baik yang cuma tinggal untuk beberapa waktu atau yang benar-benar ingin tinggal di sini selamanya. Desa dengan deretan nyiur dan pasir putih yang aduhai ini memang telah menjadi setengah kampung bule, tidak heran jika berjalan-jalan ke sana sering ketemu anak-anak bule atau yang udah blasteran. Dengan lokasi yang menghadap matahari tenggelam, jelas Nemberala menjadi tempat ideal untuk menikmati semua keindahan itu. Cerita pantai Nemberala bisa kalian baca di: Nemberala, We Call it Beach.

Tebing-tebing di pantai Boa
Tapi, jika kalian mengira Nemberala juga tempat ombak yang terkenal besar untuk surfing itu kurang tepat. Memang Nemberala juga memiliki ombak yang besar yang menjadi tujuan utama para surfer, namun bukanlah pemilik ombak terbesar. Pantai apa yang sebenarnya memiliki gulungan ombak fenomenal itu? Itu adalah pantai Bo'a. Ya, pantai Bo'a terletak di sebelah pantai Nemberalalah yang sebenarnya memiliki ombak terbesar untuk selancar. Pantai Bo'a inilah yang pernah dijadikan ajang untuk lomba selancar tingkat internasional di Rote Ndao beberapa tahun lalu. Pantai ini menghadap barat daya, jadi sedikit lebih serong ke Selatan dibanding pantai Nemberala. Belum banyak bangunan di tempat ini dibandingkan di desa Nemberala karena memang lokasi ini lebih gersang dan lebih berkarang.

Burung-burung di pantai Boa
Namun saat ini sudah mulai bermunculan bangunan-bangunan baru di sekeliling pantai Bo'a. Bahkan di tanah yang sekarang masih dimiliki Pemerintah Kabupaten Rote Ndao telah dikerjasamakan dengan swasta untuk dibangun vila dan hotel kelas internasional. Tanah milik pemerintah seluas 60ribuan meter persegi ini denger-denger mau dikelola oleh bule lewat perusahaannya cucunya Soeharto (mantan presiden Indonesia).

Sebatang pohon di pantai BoaDi sebelah kanan yang tertutup pepohonan dan bukit karang kecil juga berdiri bangunan yang kata-katanya milik salah satu artis Indonesia namanya LM (kalau gak salah denger). Pantai disana asyik karena seperti pantai pribadi yang dijepit bukit karang di sisi kiri dan kanannya. Wih sepertinya asyik kalau bisa melihat LM berjemur di pantai ini #keplakpakebikini

Sedangkan di sebelah kiri yang nyaris dipenuhi karang-karang terjal berdiri bangunan yang katanya dimiliki oleh keluarga bule. Widih, kalau orang pribumi menghindari bangunan di karang-karang justru lokasi seperti ini menjadi tempat favorit para bule. Pertama tentu saja rumah itu menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati pantai dan senja tanpa terganggu bangunan lain. Yang kedua ini nih yang aku juga baru tahu, ternyata dibalik karang-karang ini terdapat pantai yang terjepit karang di kiri kanannya. Jadi dengan memiliki rumah di situ, dengan sendirinya mereka memiliki akses pantai yang layaknya pantai pribadi. Keren kan, guys... Aku saja baru bisa menjangkau tempat ini setelah air laut surut jauh.

Pantai ini tergolong pantai yang masih sepi, itulah kenapa pada saat-saat tertentu kawanan burung laut suka berkumpul di pantainya. Entah jika nanti pantai ini mulai berkembang, apakah burung-burung itu tetap akan datang seperti biasanya. Pantai Ndana tampak di kejauhan, membuatku bertanya apakah di sana memiliki view yang sama indah atau justru lebih indah daripada pantai Bo'a.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 26 Mei 2016

Kolam Air Asin di Gua Kristal

Kolam air asin di gua Kristal Kupang
Warna kebiruan toska air kolam yang terkena sinar matahari
Kucoba membuka mataku ke dalam air saat menyelam bebas agar bisa menatap bebatuan di bagian bawah namun tetap saja tidak jelas.Anehnya, saat aku muncul ke permukaan aku tidak merasakan perih di mata sebagaimana kalau membuka mata di air laut. Mungkin kalian masih ragu, apa mungkin air yang rasanya masih tetap asin itu tidak perih di mata? Aku tidak tahu, tapi aku bahkan berani bilang kalau air tawar di kolam renang saja masih lebih perih dibanding air di dalam gua ini. Masih gak percaya juga? Aku tunggu kapan mau tes air di gua Kristal...

Lokasi yang Tak Terduga 
Letak gua Kristal tidak jauh dari kota Kupang, sekitar setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat ini. Tapi ada yang berubah dari informasi awal yang kudengar. Tidak ada petunjuk jelas gua Kristal karena jalan masuk tidak ada tanda sedangkan sekitar gua Kristal masih daerah yang dipenuhi pepohonan. Tapi tidak, ternyata di tempat kami parkir motor sedang berdiri puluhan rumah yang masih dalam proses pembangunan: perumahan. Imam yang jadi pemandu sempat kebingungan karena memang perjalanan ke tempat ini sebelumnya tidak dijumpai perumahan melainkan masih pepohonan. Untung ada sepotong tulisan penanda ala kadarnya "Gua Kristal 100 meter" yang membantu meyakinkan bahwa kita sudah di lokasi yang benar.

Bertujuh di dalam Gua Kristal Kupang
Cuaca bulan ini memang terasa terik, apalagi di sekitar tidak ada pepohonan besar. Tapi beberapa pohon yang tidak terlalu besar cukuplah menjadi tempat parkir yang dikelola oleh seorang anak muda yang mungkin tinggal disekitar tempat ini. Belakangan waktu pulang aku baru tahu kalau anak muda itu tidak cuma mengenakan harga parkir tapi juga ongkos masuk ke dalam, dan untuk itu kami harus membayar 5.000 rupiah per motor. Yah, setidaknya motor kami aman kami parkirkan di sini.

Lucunya papan penanda itu tidak menunjuk jalan apapun karena memang tidak ada jalan. Jadi kami ikut saja menerobos batu karang menjadi tempat yang kami bisa berjalan. Entah sebenarnya kami yang memang asal jalan atau memang jalan itu ada tapi kami tidak tahu. Waktu pulang kami baru tahu jalan itu ada tapi memang tidak terlalu jelas.

Cahaya dari mulut gua Kristal Kupang
Jangan bayangkan gua Kristal itu seperti gua-gua pada umumnya yang lubangnya besar tinggi. Gua Kristal dari luar tak ubahnya sebuah bongkahan batu yang berlubang. Sampai dengan titik tujuan memang tak tampak ada gua, karena memang gua Kristal ini lubang menurun ke bawah menuju sebuah kolam air asin.

Satu yang aneh lagi yaitu adanya toilet sekaligus kamar ganti yang dibuat persis di mulut gua.  Penempata itu saja sudah parah, ditambah dengan bahan untuk toilet dari tripleks yang menambah bentuk depan gua Kristal itu tampak acakadut gak jelas. Setelah masuk memang ruang gua kelihatan lebih besar. Mungkin itulah kenapa cahaya matahari tidak bisa masuk sepenuhnya ke dalam gua. 

Berada di dalam gua yang lubang masuknya tidak terlalu besar dan jalan yang menurun ke bawah, aku yakin kolam air asin di dalam gua Kristal ini terus tersembunyi dari matahari. Hanya pada siang hari saja matahari mampu menerobos ke dalam gua melalui satu-satunya lubang gua untuk keluar dan masuk. Itu pun sinarnya hanya sampai menembus sepertiga bagian gua. Untungnya sepertiga cahaya yang masuk ini memantul ke seluruh dinding gua sehingga setengah air yang lebih sering bersembunyi dalam bayangan gelap berubah lebih terang ke warna kebiruan yang pekat.

Seiring naiknya sinar matahari yang menerobos dari lubang masuk gua, warna air yang biru akan menjadi biru lebih terang, kadang-kadang tampak seperti biru toska. Entah apakah masih pas menyebut gua ini dengan nama gua kristal sementara aku tidak melihat warna berkilauan bebatuan yang tertimpa sinar matahari. Mungkin kilauan-kilauan yang muncul laksana kristal yang pernah mereka ceritakan telah hilang seiring warna bebatuan yang menjadi kusam. Tapi di sisi dalam, stalagtit dan stalagmit yang tidak terlalu besar masih tampak berkilauan dan basah. Mungkin jika sinar matahari sampai menembus ke stalagtit dan stalagmit yang di dalam aku akan melihat kilauan kristal.

Aku menghela napas panjang melihat tulisan-tulisan dari cat berwarna-warni di dinding batuan dalam gua. Kampret!! Mahluk-mahluk keparat ini memang tidak pernah tau keindahan. Tangan-tangan mereka sepertinya akan gatal seumur hidup jika lupa tidak membuat tanda-tanda graviti seperti ini. Dengan graviti yang ditulis sporadis memang jadi sulit untuk mencari tempat yang tidak menampakkan graviti mereka.

Kolam Air Asin yang Jernih
Air kolam di ujung gua memang tidak terlalu besar, pun tidak banyak tempat datar yang dapat digunakan untuk duduk menikmati pemandangan. Mungkin kolam ini masih jika dinikmati jika yang masuk ke dalamnya tidak lebih dari sepuluh orang.

Kolam air asin di dalam gua Kristal Kupang
Anakku lah yang teriak-teriak di air waktu aku masih asyik mengabadikan gambar gua. "Ayah.. ayah.. Shiva tadi matanya masuk air tapi gak perih lho. Tapi airnya dingin", katanya senang sekali waktu berenang di dalam airnya. Aku sendiri memang berniat berenang setelah menuntaskan memotret lokasi ini. Jadi Shiva ditemani pakde Dibyo dan pak Achmadi yang turun lebih dulu.

Tak dapat berlama-lama, akhirnya aku menyusul mereka memasukkan badan ke dalam air. Bener-bener air di gua ini segar. Dan seperti yang aku bilang di awal, walau airnya asin tapi tidak perih di mata. Hanya sesekali aku menggunakan kecamata untuk menyelam ke dalam air. Karena tidak terlalu banyak orang, aku jadi bisa menikmati nikmatnya berendam air di sini.
Kedalaman kolam sekitar tiga meteran aku rasa, tapi di bagian sisi batas gua ke bawah masih tampak bayangan hitam pertanda kalau di sisi itu lebih dalam dari tempat lain. Akun menduga di sisi itulah yang menghubungkan kolam ini dengan laut. Mungkin juga air di sini pasang surut seperti kondisi di laut, aku tidak terlalu yakin karena dari gua ini ke laut jaraknya lebih dari 100 meter.


Menunggu di depan mulut gua Kristal Kupang
Ada satu batu yang agak menjorong ke kolam. Tempat itu sering digunakan orang untuk meloncat ke dalam air karena memang air di bawahnya langsung dalam jadi aman. Namun hati-hati, jangan terlalu semangat meloncat. Jika kamu orang yang tinggi dan sembarangan meloncat bisa-bisa kepalamu terbentuk dinding atas gua yang tidak terlalu jauh tingginya dari batu itu.

Tidak seperti di bagian luar gua yang berupa batu karang hitam terjal dan kasar, bagian dalam gua batuannya berwarna putih kekuningan. Batu-batu itu terasa rapuh namun untungnya kesat sehingga tidak licin waktu diinjak. Hanya memang waktu untuk turun harus lebih hati-hati karena dari luar yang terang, maka di dalam gua tampak sangat gelap. Agak lama untuk membiasakan mata agar dapat melihat ke dalam gua lebih baik. Sayang tepat di tengah-tengah pintu gua ada batu besar yang menghalangi sinar matahari masuk lebih banyak.

Untuk amannya, jika ada yang mau ke sini bukan saat siang hari sebaiknya selalu bersiap-siap dengan senter atau lampu karena kemungkinan gua akan terlihat sangat gelap dan jelas akan mengecewakan perjalananmu ke tempat ini.

Hari Minggu itu Waktu yang Salah
Kami bertujuh mencari tempat duduk persis di belakang batu besar yang menutup pintu gua. Kami masih harus membiasakan mata karena di dalam gua selain warna biru air selebihnya adalah gelap. Memang terdengar celotehan pengunjung yang sedang mandi atau berenang di dalam kolam gua. Setelah agak lama dan mulai bisa melihat lebih jelas ke dalam gua, ternyata sudah ada beberapa anak muda yang berenang di dalam kolam, beberapa tidak berenang tapi seperti biasa sibuk mengabadikan diri. Istilah selfi sekarang memang kekinian dan tidak bisa ditolak.

Shiva di depan mulut gua Kristal Kupang
Jumlah anak-anak muda yang di dasar gua yang sudah puluhan jelas sudah tidak bisa ditambah sehingga aku dan teman-teman memilih mengalah. Itu pun dari belakang kami masih berdatangan beberapa anak lebih kecil yang turun dengan cepat ke dalam gua. Aku berpikir mereka anak-anak di sekitar sini yang sudah terbiasa dengan suasana gua.

Untungnya acara mandi mereka tidak terlalu lama. Setelah aku lihat yang berenang hanya tinggal tiga orang, maka kami mulai ikut turun ke bawah. Awalnya kami benar-benar harus hati-hati karena batuan di bawah yang basah tampak licin. Ngeri juga membayangkan stalagmit menyambut kami jika sampai tergelincir. Ternyata aku salah, batu-batu itu tidak licin walau terkena air dari anak-anak muda yang naik balik ke atas dalam keadaan basah.

Sialnya selepas siang, rombongan yang datang lebih banyak. Jelas itu waktunya kami berbenah untuk pergi. Dengan kedatangan rombongan baru sebanyak itu jelas berada di dalam gua tidak lagi menyenangkan. Benar seperti perkiraanku semula, mengunjungi tempat wisata hari Minggu adalah pilihan yang salah. Masih untung kami sempat merasakan saat kolam sepi, namun di banyak waktu lain, Minggu berarti siap-siap kecewa.

Bagaimana Menuju Kesana?
Sebenarnya lokasi ini tidak susah di jangkau. Bisa menggunakan kendaraan umum dengan setidaknya 2 kali ganti angkutan kota. Tapi menurut saya lebih enak menggunakan kendaraan pribadi (motor kalau saya). Rute perjalanan sebagai berikut:
  1. Dari kota Kupang arahkan kendaraan menuju arah Namosain, ikuti jalan sampai bertemu pertigaan Namosain yang ada tugu "Imperial Estate". Sebenarnya dua arah itu semuanya bertemu lagi di jalan yang sama pertigaan Bolok. Namun saya lebih menyarakan ikut jalur ke kiri menuju ke atas.
  2. Ikuti jalan terus sampai ke pertigaan Bolok (belok kanan ke pelabuhan Tenau), tetap terus sampai melewati jembatan. Setelah jembatan ada pertigaan belok ke kiri lagi (lurus sampai ke pelabuhan perikanan)
  3. Terus lurus melewati sampai ke pelabuhan Bolok tetap lurus, nanti sekitar satu km dari pelabuhan ASDP Bolok akan bertemu pertigaan yang menuju ke kantor DIT POLAIR POLDA NTT belok kanan.
  4. Berhenti di depan perumahan (100 meter sebelum kantor Polisi Perairan), parkirkan kendaraan di sekitar situ dan cari papan petunjuk menuju Gua Kristal.  
Terima kasih buat temen-temen yang ikut bersama ke gua Kristal: pakde Kushandoyo, pakde Dibyo, pak bos Sulih, pak Ahmadi, Imam 'Boncel' .
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 18 Mei 2016

Hammock-an di Danau Nefokouk

View Danau Nefokau Apren
Hammock bergoyang pelan di ayun angin yang bertiup menerobos sela pepohonan. Gemerisik dedaunan tidak menarik perhatiannya, matanya sayu menatap langit yang hari ini cerah sambil sesekali masih menjawab pertanyaanku. Aku membiarkan dirinya asyik menikmati suasana siang ini di atas hammock, toh kesempatan tiduran di tempat seperti ini tidak sering dia dapatkan. Matahari boleh saja menyengat, tapi angin yang bertiup terasa sejuk. Mungkin hawa bulan Mei memang seperti ini.

Bersantai di tepi danau Nefokau
Bersantai menikmati suasana
Aku senang sekali melihat wanita yang kunikahi 16 tahun yang lalu begitu menikmati tiduran di hammock. Sebenarnya dia sudah menawarkan membantu aku menyiapkan masakan tapi aku menolaknya. Saat-saat seperti ini, bagiku justru waktu untuk memanjakannya. Toh untuk perlengkapan camping seperti ini, aku pasti lebih sigap menggunakannya. Setelah aku membatalkan rencana perjalanan ke Fatumnasi, pilihan mengunjungi tempat ini tidak terlalu buruk tampaknya. Hujan yang terjadi di musim yang seharusnya bukan waktunya hujan memang menjadi dilema. Beberapa rencana perjalanan apalagi yang harus ke tempat terbuka pasti akan berantakan.

Sambil menyiapkan peralatan masak, aku mencoba mengamati seorang pria berkulit hitam yang duduk di atas cabang pohon yang tumbang. Ditangannya masih memegang alat pancing dari bambu, sementara masih ada beberapa bambu pancing yang tergeletak di dekatnya setidaknya enam buah kalau aku tidak salah menghitung. Sayangnya, sampai saat ini hanya beberapa ikan kecil yang dia dapatkan. Padahal aku berharap akan melihat tangkapan ikan yang jauh lebih besar dari yang dia dapatkan saat ini. Ikan mujair saja, kata pria itu.

View siang hari di danau Nefokau
Danau ini tidak terlalu besar memang, pun juga tidak dalam. Bahkan sisi danau sebelah timur sebelah timur sudah dipenuhi tumbuhan semak berbunga putih dan merah. Airnya pun berwarna coklat tanah bukan bening sebagaimana danau-danau di ketinggian seperti danau Ranamese. Dengan ketinggian sekitar 200 mdpl tentu saja cuaca di sekitar danau cenderung panas. Untungnya sekitar danau banyak ditumbuhi pepohonan besar, ya karena danau ini terletak di pinggiran hutan. Danau yang aslinya bernama Nefoko'uk namun lebih dikenal dengan nama danau Apren ini masuk kawasan Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johannes. Hutan ini cukup luas, menurut catatan dari Dinas Kehutanan, luas kawasan hutan ini sekitar 1.900 hektar.

Memancing saat siang terik di danau Nefokau
Entah sebelumnya atau hujan angin yang terjadi baru-baru ini, beberapa batang pohon tampak tumbang di sekitar danau, yang justru dapat dimanfaatkan masyarakat menjadi lokasi duduk memancing. Danau ini setiap hari didatangi masyarakat sekitar untuk memancing ikan. Beberapa anak kecil terlihat ramai mandi di sisi lain danau.

Di tengah-tengah danau tampak tiga rumah kayu terapung di tengah danau yang bisa dijangkau dengan naik sampan. Kata pemiliknya, selain kadang digunakan sendiri untuk memancing juga untuk disewakan wisatawan yang berlibur ke tempat ini. Sayang waktu aku sampai di sana, pemiliknya sedang tidak ada. Rupanya pemiliknya sering tidak ada pada hari-hari biasa, mungkin mereka baru ada jika waktu liburan dimana bakal banyak wisatawan yang datang.

Bunga merah di pinggir danau Nefokau
Untung suasana saat ini cukup sepi, hanya sesekali terdengar percakapan mereka yang sedang memancing. Sekali ada masuk beberapa rombongan anak-anak muda dengan menggunakan motor. Saat itulah ketenangan tempat ini pecah oleh tawa dan teriakan melengking dari cewe-cewe ABG. Dimanapun mereka ada, mahluk-mahluk seperti ini memang sering menciptakan kehebohan. Di banyak waktu kadang asyik aja melihat kehebohan mereka, meski lebih sering aku mengabaikan keriuhan yang mereka ciptakan. Namun juga sekali dua aku agak terganggu dengan pekikan-pekikan mereka terutama saat di daerah yang memang dikenal dengan suasananya yangn hening dan tenang. Tapi rupanya mereka tak terlalu lama, karena tak berapa lama kemudian aku kehilangan keriuhan mereka.

Sisi timur danau Nefokau
Cukup lama juga aku bersantai di tempat ini sampai aku lihat mendung mengelayut dari sebelah timur. Beberapa hari ini memang hampir tiap hari hujan turun. Berharap hujan tidak turun hari ini namun ternyata justru hujan yang semula gerimis berubah menjadi hujan lebat waktu masuk Oesao. Hampir seperempat jam berteduh di emperan toko akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan lebat. Ternyata perkiraanku benar, bahkan sampai aku kembali ke Kupang ternyata hujan belum juga berhenti.

Danau Nefoko'uk ini lebih mudah dikenali dengan nama danau Apren karena memang terletak di desa Apren. Desa ini masih masuk kecamatan Amarasi Timur. Untuk fasilitas, sudah dibangunkan lopo-lopo oleh pemerintah daerah di sekitar danau di bagian atas dekat jalan, lumayan bisa untuk bersantai. Lebih disarankan membawa tikar atau hammock sendiri. Untuk sanitasi, ada bangunan toilet umum cuma sayangnya sepertinya sudah tidak dimanfaatkan lama. Kalau sudah kebelet berak sepertinya mau gak mau meniru sapi yang suka berak sembarangan.. eh jangan.. masuk hutan sebentar, gali tanah dan seterusnya ya. Pokoknya jangan bikin bau kotoranmu kemana-mana, lagian lumayan untuk pupuk. Untuk fasilitas tempat makan belum ada dan sepertinya memang tidak ada yang menjual makanan di tempat ini jadi bekal makanan dan minuman itu sifatnya harus. Lupa bawa makanan boleh coba ngramut daun di hutan.

Gerbang masuk ke danau Nefokau
Cara untuk mencapai tempat ini:
Tempat ini tidak terlalu jauh dari kota Kupang mungkin sekitar 45 km, dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam. Ada kendaraan umum (sejenis pickup modifikasi dengan tempat duduk kayu) yang lewat tempat ini namun aku tidak tahu kendaraan itu dari mana menuju mana. Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi (motor/mobil). Motor matic biasa juga tidak masalah kok masih aman dilewati kecuali 2-3 km terakhir. Detil menuju lokasi ke tempat ini:

  1. Dari Kota Kupang menelusuri Jalan Timor Raya terus ke Timur arah SoE, nanti dari pertigaan pasar Oesao beloklah ke kanan.
  2. Telusuri jalan aspal besar terus sampai menemukan pertigaan yang ada kantor Unit Simpan Pinjam Desa Bank NTT, ambil arah jalan lurus (kiri) jangan belok kanan menuju arah Tesbatan. Perjalanan sampai ke sini juga masih cukup baik. Beberapa ruas memang ada lubang-lubang tapi masih bisa dilewati dengan aman.
  3. Melewati desa Ponain dan menuju ke desa Tesbatan sampai di pertigaan tugu desa Tesbatan belok ke lurus kiri (jangan ke kanan) menuju ke desa Oenoni. Jalan masih aspal dan masih cukup baik untuk dilewati.
  4. Di Depan Toko Sinar Utama Oenoni belok kanan mengikuti jalan beraspal sampai di perempatan jalan SDN Ropnoni belok  kiri menuju Gapura Desa Apren. Dari perempatan jalan SDN ini kondisi jalan tanah berbatu. Ikuti saja jalan yang besar sampai ketemu gapura desa Apren.
  5. Dari Gapura Desa Apren jalan lurus terus sudah mendekati gerbang masuk Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johanes, persis setelah masuk gerbang itulah letak danau Apren.
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 04 Mei 2016

Sisi Selatan Kupang: Pantai Buraen

View pantai Buraen
Pemandangan pantai Buraen dari salah satu bukit
Setelah sekian lama aku menyimpan penasaran seperti apa pantai di kawasan selatan Kupang akhirnya terjawab dari perjalananku kali ini. Selama ini memang pesisir selatan cuma tersimpan di benak tanpa pernah terealisasi. Apalagi kalau bukan karena kondisi jalannya. Pernah mencoba sekali ke sana tapi menyerah karena motor matic-ku harus menghajar bebatuan yang ukurannya besar-besar (batu telford isitilahnya).

Bersantai dengan hammock di pantai Buraen
Jangan takut, aku jagain kok (ehmm bikin ngiri)
Jam sembilan sebenarnya bukanlah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan, apalagi menggunakan sepeda motor. Aku sendiri sudah mengingatkan Imam jika kemungkinan kita akan sampai di lokasi pas tengah hari jadi sangat mungkin cuaca akan terasa sangat panas. Tapi Imam tidak mempermasalahkan kondisi itu. Sebenarnya aku dan Imam sudah biasa dengan cuaca di Kupang, lagian kami berdua memang sudah gosong lama. Bedanya sama aku, Imam memang gosong dari lahir hehehehe. Aku sebenarnya lebih kuatir sama Adis, satu-satunya cewe yang ikut bakalan jadi mirip Imam. Kan kasian padahal Adis ini wajahnya imut-imut kayak anak kecil bisa jadi tambah imut (item mutlak). Tapi ya sudahlah, mereka memang tabah dengan pilihannya, sebagai orang yang bijaksana tentu aku gak berhak melarang mereka. 

Menikmati pasir putih di pantai Buraen
Pasir pantai yang landai di pantai Buraen
Dan perjalanan kali, yang akan kami tuju adalah kawasan pantai yang membentang di sisi selatan Kupang. Apa menariknya? Aku tidak tahu, demikian pula Imam dan Adis. Kalau kerennya, bukan tempat yang penting tapi perjalanan itu sendiri. Kata-kata itu seperti ungkapan mantra magis untukmu, entah untukmu... Memang perjalananku selalu kumulai dengan pencarian lokasi-lokasi yang kuanggap menarik, dalam dua hal. Menarik secara mata dan menarik secara batin. Tapi akhirnya ternyata bukan lokasi itu yang menjadi tujuan utama tapi perjalanannya sendirilah yang lebih penting. Kalau ada pemandangan bagus itu adalah bonus. Tapi kalau tidak ada bonus pemandangan bagus, yo itu kebangetan sialnya hahahaha.

Kalau sudah kategori menghilang mencari tempat baru yang tidak jelas seperti ini memang Imam adalah salah satu teman terbaik untuk melakukannya. Imam ini tipikal orang yang makin kesasar makin bahagia, kayaknya sih begitu. Apakah kalian tipe orang yang hepi walau kesasar? Mari kaka kita jalan sama-sama sudah.. 

Terik di pantai Buraen menciptakan fatamorgana kabut tipis di kejauhan
Seperti biasanya, perjalanan yang terjadi tanpa perlu persiapan yang matang, jika masing-masing klop dengan daerah yang dituju maka perjalanan segera terjadi. Karena dari awal tidak berniat menginap, jadi hanya membawa air minum kecil dan kue kering saja. Pokoknya edisi hemat lah kecuali untuk urusan bahan bakar. Tangki motor harus full, itu sudah pasti. Dengan informasi jarak 57,7 km dengan waktu tempuh hampir 2 jam, bisa dibayangkan kondisi jalan yang akan dihadapi. 

Nikmatnya hammock-an di pantai Buraen
Nikmatnya tidur di dalam hammock
Sampai ke Oesao jalan masih bagus. Ya iya lah, wong masih jalan negara mosok gak bagus. Bahkan sampai Oekabiti pun masih bisa dibilang kondisi jalan masih baik, artinya motor masih bisa lari dengan kecepatan normal. Normalnya perjalanan melewati perbukitan tentunya. Memang banyak titik jalan yang berlubang tapi tidak terlalu parah. Saat di depan gerbang masuk Taman Hutan Raya Ir. Herman Johannes ternyata ketinggian tempat ini sekitar 580 mdl. Wah pantas saja di daerah ini udara yang bertiup terasa dingin. Hutan raya ini ternyata luas dengan pepohonan besar. Udara yang sejuk dan pepohonan ini membuat suasana hutan sangat menyenangkan untuk dilewati. Informasinya di kawasan hutan ini terdapat danau yang cukup luas yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan. Sepertinya lain kali perlu diluangkan waktu untuk mencoba ke tempat ini.

Selepas perempatan Buraen itulah baru mulai terasa perjalanan. Tiga km jalan dari perempatan Buraen sampai ke gerbang desa Nekmese berupa jalan batuan yangtidak rata. Mungkin dulu jalan ini pernah diaspal hanya sekarang sudah tidak ada ada jejaknya hanya menyisakan batu-batu koral. Sampai di depan gerbang desa Nekmese justru kami disuguhi jalan yang lebih parah. Jalan menurun berkelok panjang ini ternyata masih berupa jalan dari tanah putih dan batu-batu koral/karang. Kami harus ekstra hati-hati karena batuan-batuan kecil yang bertebaran dapat dengan membuat roda motor slip. Perjalanan terakhir ini yang menguras waktu karena nyaris sepanjang jalan rem terus ditangan supaya motor tetep terkendali. Sampai harus melewati sungai yang tanahnya agak berlumpur. Masih bisa dilewati pada bulan seperti ini, tapi pada bulan-bulan hujan mungkin memang tidak akan bisa dilewati dengan kendaraan biasa.

Menikmati semilir angin di pantai Buraen
Menikmati pemandangan pantai Buraen (atau..)
Yang gak enak, di ending terakhir menuju pantai ternyata ada jalan beraspal membentang mulus. Sakit hati rasanya perjuangan melewati jalan tanah berkerikil yang bikin deg-degan kalau endingnya seperti ini, iya kan.. hahahaha... Jalan membentang mulus ini ternyata merupakan jalur trans-selatan pulau Timor yang akan akan melewati Kupang - Timor Tengah Selatan (Kolbano) - Malaka. Sebagian besar jalan sudah selesai tapi banyak yang masih terputus karena melewati jalur sungai. Just info, di Timor sisi pantai itu banyak sekali sungai yang sebagian besar bukan sungai aktif. Artinya, sungai-sungai ini hanya dilewati air saat musim hujan saja. Sungai-sungai ini semacam simalakama, dibangun jembatan tidak ada airnya tapi tidak bisa ditutup karena air hujan akan membentuk jalur baru yang malah akan menghancurkan badan jalan.
 

Karena masih jam 12 maka pasir pantai masih tersisa sedikit karena air laut masih pasang. Imam mengajak aku menelusuri jalan ke arah Timur. Pemandangan pantai selatan tampak dari ombaknya yang tidak pernah tenang. Pasir putih kekuningan yang memanjang menjadi isyarat jelas bahwa kawasan ini bakal menjadi destinasi wisata baru. Apalagi jika jalan trans-selatan pulau Timor ini kelar dikerjakan. Rumah-rumah di sepanjang jalan trans-selatan juga sedikit kalau tidak dikatakan nyaris tidak ada. Karena itu disepanjang jalan ini, rumah-rumah yang ada rata-rata belum memiliki akses listrik. Jika ada itu berasal dari panel surya kecil di atas atap yang mungkin hanya menerangi rumah beberapa jam saat malam hari.

Sampai jam setengah satu akhirnya kita menyerah dengan hawa panas. Di salah satu belokan kita menghentikan motor mencari tempat berteduh. Pohon pandan laut menjadi pilihan ideal untuk memasang hammock karena menurutku cukup kuat menahan bobot bahkan jika harus dinaiki dua orang sekalipun.
Boleh percaya boleh tidak, tapi angin yang bertiup dari pantai tidak panas sehingga tiduran di bawah pohon terasa sangat nyaman. Padahal jika di pantai sisi utara saat begini biasanya angin yang bertiup tidak terasa sejuk. Karena hawa yang sejuk berhembus ini tanpa sadar kita sempat tertidur sampai mendekati jam tiga. Sepanjang kita beristirahat di pantai tidak terlihat seorang pun di tempat ini.


Jam tiga barulah pasir pantainya makin tampak seiring air laut yang makin surut. Dari salah satu bukit, kita bisa melihat pemandangan pantai Buraen yang pasir putihnya memanjang. Di kejauhan aku melihat seperti kabut putih yang menghalangi pandangan ke perbukitan, entah itu berasal dari air laut yang menguap, atau kah fatamorgana semata.

Di pantai ini memang kita tidak bisa menikmati sensasi matahari terbenam karena matahari terbenam di balik bukit-bukit tapi view sesaat sebelum matahari menghilang di balik bukit-bukit juga tidak kalah memukau. Memang pantai ini lebih pas untuk menikmati sensasi melihat matahari terbit.

Pohon bakau di kawasan pantai Buraen
Pohon bakau yang berdiri sendiri (ujung pantai Buraen)
Ada satu pantai yang banyak karang terdapat sebuah pohon bakau yang berdiri sendiri. Tempat inilah yang aku lihat ada aktivitas orang-orang di pantainya, mungkin karena karang-karang ini bisa digunakan untuk menyimpan perahu mereka saat gelombang tinggi. Permasalahan nelayan-nelayan di pantai selatan memang lebih karena ombaknya yang bisa menjadi ganas sehingga areal-areal terbuka biasanya dihindari nelayan. Beberapa anak muda asyik main trek-trekan dengan motor di pasirnya karena pasirnya yang padat.

Perjalanan baliklah yang konyol. Karena berasumsi bahwa jalan baru bisa dijangkau sampai Kupang jadi kita mencoba menelusuri jalan trans-selatan ke arah barat yang berarti dengan jalan buntu. Sepanjang jalan yang masih terputus-putus tak terhitung melewati sungai kering (atau kubangan kering). Sehingga dari perjalanan jam setengah enam dari pantai Buraen kita baru tiba di Kupang jam delapan malam. Itu pun bisa dibilang kita tidak berhenti makan, paling hanya sebentar mampir di warung untuk minum.

Lokasi dari pantai Baun yang kita singgahi
Rute perjalanan:
Aku berterima kasih dengan blogger Destinasi Pantai Buraen Amarasi Selatan yang menuliskan detil rute perjalanan dengan cukup jelas. Rute ini aku gambarkan ulang dengan kondisinya:
  1. Dari Kota Kupang menelusuri Jalan Timor Raya terus ke Timur arah SoE, nanti dari pertigaan pasar Oesao beloklah ke kanan. Kondisi jalan aspal dan bagus
  2. Telusuri jalan aspal besar terus sampai menemukan pertigaan yang ada kantor Unit Simpan Pinjam Desa Bank NTT, ambil arah ke kanan menuju ke Buraen. Lanjutkan perjalanan mengikuti jalan beraspal sampai bertemu dengan sebuah gerbang yang menjadi pintu masuk Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johanes. Kondisi jalan aspal dan cukup bagus, ada kerusakan jalan di beberapa titik tapi secara umum masih aman dilewati.
  3. Masuk terus ke dalam sampai bertemu dengan perempatan simpang Teres. Dari sana ambil kiri ada jalan menurun, ikuti jalan sampai bertemu dengan perempatan berikutnya yaitu perempatan desa Buraen. Kondisi jalan aspal yang mulai rusak.
  4. Di perempatan desa Buraen ambil ke kiri lagi. Kondisi jalan di sini adalah jalan yang rusak parah,sisa bebatuan yang aspalnya nyaris sudah tidak ada lagi.
  5. Sekitar 3 km selepas perempatan Buraen akan ketemu pertigaan dimana sebelah kanan terdapat gerbang Nekmese.
  6. Masuk ke gerbang Nekmese dan ikuti jalan sampai mentok ke laut. Selepas gerbang Nekmese adalah sebuah jalan tanah putih yang sama sekali belum diaspal. Kondisi tanah putih dan batu-batu karang membuat perjalanan harus hati-hati karena rawan sepeda motor mengalami slip.
    Dari sana akan melewati dua sungai, satu sungai kecil yang mudah dilewati dan satu lagi lagi jika musim hujan berarti tidak bisa dilewati. Belum ada jembatan jadi memang harus melewati sungai.
  7. Nanti di ujung jalan mentok akan tampak jalan besar beraspal yang merupakan jalan trans-timor sisi selatan. Kenapa kita tidak melalui jalan ini yang tentu lebih mudah. Tungguu!! Jangan terburu-buru menyimpulkan. Jalan ini memang bagus kondisinya tapi sebenarnya belum benar-benar terhubung (mungkin akhir tahun ini udah bisa kelar). Aku sudah membuktikan jalan ini dan berakhir di sebuah pantai dengan batu-batu besar berjajar (mungkin bisa dinamai pantai Batujajar kali ya). Jadi jalan ini belum tembus sampai ke daerah Baun.
Thanks buat temen-temen yang bersedia bersama berjalan-jalan ke tempat ini:
Imam 'Boncel' Arif Wicaksono
Adisti 'Pipi' Dwi Septyarini
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 04 April 2016

Fatu Nausus: Bukit yang Terpotong

Bukit Anjaf di Fatu Nausus
Bukit batu Anjaf, salah satu bukit Fatu Nausus yang telah terpotong
Bukit batu karst yang menjulang ini masih menampakkan sisa-sisa kemistisannya. Bukit Nausus masih tampak utuh dari tempatku berdiri. Nampak sedikit ada bekas batu terpotong di bagian bawah yang sebagian tertutup longsoran batu-batu dari atas. Sementara bukit Anjaf tempatku berdiri sebagian besar bukitnya telah terpotong sehingga sekarang menyisakan bukit terjal dengan dinding tegak lurus licin dari marmer. Bahkan lantai yang kupijak ini bukan lantai semen tapi dari batu marmer. Karenanya pagi yang dingin semakin terasa dingin jika menginjak lantai ini tanpa alas kaki.

Aku meletakkan tas ranselku di ujung bukit yang terasa makin berat oleh medan jalan yang harus kulewati untuk mencapai tempat ini. Ada perasaan lega telah mencapai tempat ini karena sepanjang jalan aku harus terus sibuk bertanya kepada setiap orang yang kutemui untuk menyakinkan arah lokasi yang mau aku tuju.
Dari kejauhan kedua bukit batu yang dikenal dengan nama Anjaf dan Nausus memang sudah tampak dari daerah Kapan, ibukota kecamatan Mollo Utara karena memang kedua bukit ini paling menonjol. Namun untuk mencapainya ternyata tidak segampang kita melihatnya.


Menyusuri Pagi Buta yang Sepi
Jam tiga aku keluar dari rumah dengan motor matic 'Trondol' yang sudah kuganti rodanya dengan jenis dosser tipe roda semi trail. Kupang yang siang hari ternyata terasa dingin jika pagi begini. Di sepanjang jalan tampak obor-obor dari botol berjajar di sepanjang jalan. Hari ini adalah paskah. Di beberapa titik tampak tanda salib tiga buah di pasang para warga, kadang tampak beberapa pemuda bergerombol duduk sambil mendengarkan musik yang berbunyi sepanjang malam. Namun selebihnya jalanan sepi.

Hutan cemara di Fatu Nausus
Tanaman perdu menghijau menghiasi perbukitan Cemara
Beberapa kali aku berjalan pelan di pinggir karena berpapasan rombongan yang beriringan dengan obor di tangan melantunkan pujian-pujian menuju gereja. Aku baru tahu jika paskah begini justru ada acara jalan salib sepagi ini.Setelah itu jalanan bisa dibilang sepi, hanya kadang bertemu satu dua motor yang berboncengan. Jika melihat perlengkapannya, sepertinya mereka juga melakukan perjalanan luar kota.

Sampai di hutan Camplong cuaca masih tampak cerah walaupun terasa lebih dingin di banding kota Kupang. Justru saat mulai memasuki Takari aku harus menurunkan kecepatan motorku karena kabut nyaris dimana-mana membuat jarak pandangku terbatas. Apalagi kabutnya juga disertai air gerimis tipis. Beberapa kali aku harus berhenti untuk membersihkan kaca helm memudar oleh kabut membuat bias cahaya tampak bergaris mengganggu pandangan.

Sekitar jam setengah enam pagi aku sudah sampai di pom bensin di pinggiran kota SoE yang masih tutup. Untungnya ada celah sehingga aku bisa memarkirkan kendaraanku sebentar, berharap toilet di pom bensin ini bisa aku gunakan dan istirahat sedikit melepas sisa kantuk yang masih ada. Setelah menambah bensin satu liter di warung sebelah pom bensin aku kembali melanjutkan kembali perjalanan. 

Keindahan yang Tidak Ditopang Infrastruktur
Hutan Fatu Nausus
Matahari bersinar dari balik pepohonan cemara, hutan Fatumnasi
Perjalananku dari SoE menuju Kapan masih cukup lancar, walaupun beberapa ruas menuju kapan sudah mulai mengalami kerusakan. Selepas Kapan, dipertigaan aku mengambil ke arah kiri. Di papan petunjuk tertera tulisan arah menuju Fatumnasi, sebagaimana petunjuk yang diberikan penduduk desa yang aku tanyai dari di percabangan. Selepas satu km yang masih mulus (sepertinya proyek rehabilitasi jalan baru-baru ini) akhirnya kembali melewati yang ruas jalannya mulai rusak parah. Bahkan masih ada ruas yang longsor parah dan menyisakan sisa selebar setengah meter. Cukup untuk satu motor saja.

Perbukitan di Fatu Nausus
Hamparan perbukitan menghijau di Fatu Nausus
Kapan yang ketinggiannya sekitar 900 mdl (sedikit lebih tinggi dari SoE) memiliki banyak potensi yang menjadi andalan Kabupaten Timor Tengah Selatan, salah satunya jeruk. Konon katanya di sini juga pernah menjadi sentra dari buah apel yang khas dari Timor, sayang sekarang tidak ada jejak sama sekali dari buah apel ini.

Selepas tugu pertigaan itulah jalur yang lumayan cukup sulit karena jalan nyaris tidak menyisakan lagi aspal. Dengan jalur menanjak dan banyak kelokan, batu-batu bulat yang licin jika hujan membuat kendaraan tidak bisa bergerak cepat. Pada kondisi seperti ini, motor memang menjadi lebih fleksibel, kalau pun dengan kendaraan maka lebih pas jika menggunakan kendaraan jenis off road (penggerak empat roda).

Dengan kondisi jalan yang rusak, namun pemandangan yang ditawarkan mampu mengimbangi. Sepanjang kelokan menanjak, view pohon cemara yang telah berlumut dengan tanah yang menghijau mampu menyihir mata yang memandang.
Apalagi dengan eloknya cahaya matahari menyeruak di antara jajaran batang cemara, menerobos dingin yang berusaha kulawan dengan meniup-niupkan hawa panas ke tanganku. Sendirian tak membuatku tergugu, sendirian saat seperti ini seperti sebuah kesempatan untuk menghirup kesegaran dan keindahan yang ada sepenuhnya. Di sini hawa pegunungan yang dingin nyaris belum berpolusi, kalau pun polusi itu tak lebih dari tai sapi yang sering hangat tergeletak di sepanjang pinggir jalan.


Kuda-kuda di hutan Fatu Nausus
Kuda-kuda merumput di hutan cemara Fatu Nausus
Sapi-sapi banyak bersliweran di perbukitan dan di lembah. Mereka beruntung tinggal dan besar di sini, walau tahu akan tetap berakhir di tempat pemotongan sapi hehehe. Kadang-kadang tampak serombongan kuda muncul tiba-tiba dari antara semak mengejutkanku. Awalnya kupikir kuda-kuda ini adalah kuda liar karena aku melihat kuda-kuda ini surainya panjang tak terpotong. Ternyata aku salah, saat bincang-bincang dengan penduduk kampung, ternyata mereka memang membiarkan kuda-kuda ini lepas begitu saja tak dimasukkan kandang.

Bunyi binatang-binatang malam masih berderik juga padahal matahari sudah keluar dari tadi. Entah karena mendung yang masih mengelayut di langit, ataukah dingin yang masih menyergap. Memang walaupun matahari sudah keluar sedari aku sampai di turunan pertigaan tugu di kapan, namun dengan ketinggian 1.160 mdl suhu di atas sini masih terasa dingin. Aku sesekali masih harus meniupkan udara panas ke telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin di jari-jari.

Fatu Nausus dari cek dam Fatukoto
Bayangan Fatu Nausus dari cek dam Fatukoto
Jalan yang harus dilewati pelan makin pelan karena aku sering harus berhenti. Di bukit atas terdapat percabangan jalan, di situlah aku harus kembali belok kiri karena jalan lurus berarti ke arah Fatumnasi. Jalanan menurun ini tak terlalu lama sampai aku bertemu dengan perkampungan. Salah satu dusun dari desa Fatukoto.

Ternyata sebelum perkampungan ada jalan ke kiri lagi itu yang harus kuikuti. Persis di depan percabangan itu terdapat sebuah cek dam yang dikembangkan oleh masyarakat untuk menjadi daerah wisata. Memang bukan danau sehingga airnya pun tidak berwarna bening namun suasana tempat ini lumayan menyenangkan apalagi pepohonan banyak berjajar di sepanjang jalan lokasi ini. Dari sini pemandangan bukit batu Nausus tampak menarik terpantul di air  di sela-sela bayangan pohon ampupu yang masih muda di sekitar lokasi cek dam. Hanya ada seorang pria yang duduk menggelung kaki sedang memancing di salah satu ujung batu. Udara dingin begini memang tidak menarik orang untuk keluar sekedar memancing. Apalagi jika rumah hangat masih menyala apinya.

Kendaraanku kembali masuk ke kiri menyusuri jalan tanah berbatu yang adak licin, mungkin sisa embun semalam. Jika sebelumnya pemandangannya adalah pepohonan cemara sekarang pemandangannya didominasi pepohonan Ampupu.

Bukit Batu Karst yang Menjulang: Anugerah dan Bencana
Bukit terpotong Fatu Nausus
Pepohonan mulai tumbuh di bekas potongan batu
Pintu gerbang kawasan wisata Fatu Nausus masih tertutup, aku menarik pintu dari potongan-potongan kayu ini agar cukup untuk masuk motor. Pagar yang menutup kawasan ini hanya dibuat secara sederhana dari potongan batang-batang pohon sekitar kawasan ini. Beberapa puluh meter selepas masuk gerbang terdapat bangunan panjang yang saat ini digunakan penjuga dari lokasi ini. Hanya ada satu orang penjaga dan seorang anak kecil yang menjaga tempat ini. Karena aku hanya sendiri dan belum ada orang lain, mereka mempersilahkan aku menggunakan motor sampai ke dalam sampai persis di bawah bukit.

Mataku langsung tertambat pada pemandangan bukit yang dindingnya tegak lurus licin, dinding ini lurus licin bukan dibentuk oleh alam tapi oleh tangan manusia melalui teknologi yang dimilikinya. Ya, bukit yang terpotong tegak lurus ini hasil dari eksplorasi perusahaan tambang marmer. Bukit-bukit karst yang menjulang ini dipuja danb dijaga masyarakat karena dianggap keberadaannya memberikan kehidupan bagi sekitarnya juga dipuja oleh para pebisnis.  Bukan oleh karena kemistisannya namun lebih kepada nilai ekonominya. Dibalik batu-batu terjal inilah tersimpan potensi batu marmer yang katanya berkualitas nomor dua di dunia.

Longsoran Fatu Nausus
Longsoran batu di bukit Anjaf
Dulu tempat ini dulunya digunakan oleh masyarakat Mollo untuk melakukan upacara-upacara adat. Tempat ini memang layak dipuja karena dengan hutan disekitarnya mampu menjadi penopang kehidupan. Air-air hujan yang tertahan dan mampu menghasilkan kehidupan dengan adanya mata air bagi daerah yang dibawahnya.

“Seperti manusia. Kawasan ini dulu bentuknya utuh sempurna. Ada rambut yaitu hutan-hutan di sini, segala pohon yang melekat. Ada darah yang menghidupinya yaitu air-air yang tersimpan dalam tanah, ada kulitnya yaitu tanah-tanah yang menghidupkan, serta batu-batu yang menjadi tulang punggung sehingga menguatkan kawasan ini. Seperti itulah keindahan di sini dulunya. Rupanya sempurna seperti manusia, sebelum perusahaan tambang marmer datang dan merusak alam hidup di sini. Jadi coba bayangkan, jika itu manusia, kamu tidak punya alis, rambut, seperti apa rupanya?,” jelas Petrus Almet, salah seorang tokoh adat dari desa Lelobatan. 

Pintu masuk lokasi wisata Naususu (Fatu Nausus)
Kudengar, bukit yang menonjol paling menonjol di kawasan Mollo ini berubah menjadi bencana saat masyarakat terpecah menjadi dua, yang pro tambang dan menolak tambang. Akhirnya memang kawasan ini telah ditinggalkan perusahaan tambang namun bukan dengan cara yang mudah. Ada perjuangan yang cukup lama dan keberanian yang harus terus dikobarkan agar masyarakat mau saling bahu membahu dalam satu suara menolak pertambangan ini.

Di bagian dekat rumah panjang bekas bangunan perusahaan masih terdapat beberapa balok yang ditinggalkan, ada juga beberapa yang masih tersisa tertutup semak belukar. Bahkan bukit Anjaf yang telah terpotong juga sudah mulai hidup beberapa pohon termasuk pohon beringin didindingnya. Alam sedang berusaha mengembalikan tempat ini.

Potongan marmer di Fatu Nausus
Sisa potongan batu milik perusahaan tambang yang belum diangkut
Di balik dari bukit Anjaf, beberapa batu yang terpecah-pecah lebih kecil tampak longsor sehingga aku tidak berani menaikinya. Hanya dua pasang kambing coklat dan hitam yang telah nangkring di atas entah lewat mana.

Sayang aku tidak bertemu kera putih yang menjadi legenda tempat ini. Katanya kera putih itu memang tidak mudah ditemui, hanya orang yang beruntung saja yang bisa bertemu dengan kera putih itu. Kemunculan kera putih itu dianggap pertanda baik. Ah, cerita mistis dari tempat-tempat seperti ini memang menarik bagiku. Walaupun aku tidak mempercayainya, tapi akan menghormati dan menghargainya. Karena bagiku, cerita-cerita mistis yang melingkupi tempat ini adalah cara agar manusia yang sebenarnya bergantung dengan keberadaan tempat ini tetap menghormatinya.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya