Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Senin, 16 Oktober 2017

Laguna di Bumi Kie Raha Ternate

Laguna di Bumi Kie Raha Ternate
Rimbun pepohonan mengelilingi pinggiran danau. Hijaunya sungguh menyegarkan mata yang melihat. Hawa sejuk diselingi angin semilir membuat suasana teduh. Kicau burung-burung kadang terdengar bagai nyanyian semesta yang menentramkan.

Danau Ngade atau sering disebut Danau Laguna Ngade. Laguna dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti  danau air asin dekat pantai yang dahulu merupakan bagian laut yang dangkal, karena peristiwa geografi terpisah dari laut. Meski dekat dengan laut, air danau tetap tawar rasanya. 

Danau ini terletak di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota ternate, Maluku Utara.  Berjarak 40 kilometer dari Bandar Udara Sultan Babullah, atau 18 kilometer dari pusat Kota Ternate.

Danau Ngade adalah anugerah dari Tuhan yang tak ternilai. Masyarakat menjadikan danau untuk budidaya ikan air tawar seperti Nila dan Gurame. Hasil budidaya ikan air tawar bisa kita nikmati pada restoran/warung yang terapung di atas danau. Selain itu danau juga menjadi sumber air utama untuk mengairi perkebunan milik masyarakat sekitar.

Laguna di Bumi Kie Raha Ternate
Aku bergegas mendaki menuju titik pandang tertinggi. Penduduk sekitar telah menyediakan tempat di atas ketinggian agar kita lebih leluasa melihat keindahan danau. Bunyi suara gesekan ban mobil/bus dengan aspal jalan di kejauhan, saat pengunjung ingin parkir kendaraan. Letak tanah yang miring dan curam membutuhkan ketrampilan ekstra berkendara. Disini kita dipungut biaya masuk dan parkir kendaraan.

So, here I'am. Standing on the best photo spot. Tempat ini sering menjadi incaran para Fotografer. Biasanya mereka mengambil angle foto dari atas untuk foto aerial. Hutan pepohonan, Danau Laguna, Pulau Maitara, dan gugusan pegunungan Pulau Tidore tampak menakjubkan dari sini. Biasanya air danau berwarna hijau, tetapi karena semalam hujan air danau berubah menjadi berwarna kecoklatan.

Laguna di Bumi Kie Raha Ternate
Saat lelah kita bisa minum air kelapa muda yang banyak dijual di tempat ini. Sambil duduk santai menghalau haus yang datang. Sungguh menyegarkan di kala panas terik.

Merepih alam. Melepas pandangan pada bentangan alam di ketinggian. Bak seorang penyair mencari inspirasi untuk menyusun dan merangkai kata demi kata. Aahh, Danau Ngade keindahanmu tak mampu membuatku berucap.

Lokasi Danau Ngade:
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 04 Oktober 2017

Tohula, Benteng di Kota Hula Tidore

Aku berhenti di sela anak tangga untuk memotret pemandangan tebing di sebelah kanan tulisan Benteng Tohula. Di sebelah kiriku tampak lautan lepas dengan perahu-perahunya yang bergerak hilir mudik. Sebenarnya berhenti di satu spot foto juga sebagai salah satu cara rehat mendadak, di samping mengumpulkan pasokan oksigen agar memenuhi paru-paruku. Ratusan anak tangga yang menanjak cukup membuatku terengah-engah hehehe. 

Dibelakangku terdengar beberapa pengunjung remaja menyemangati satu sama lain. "Ayo cepat naik, masa kalah sama mereka!", seru salah seorang diantara mereka, seorang remaja berbaju putih berambut ikal sambil menunjuk sepasang suami istri paruh baya sedang menuruni anak tangga setelah selesai mengunjungi benteng. Pertanda suami istri itu sebelumnya telah berhasil mendaki. Rombongan remaja itu pun bergegas naik. Mungkin mereka merasa malu masih jauh lebih muda namun kalah stamina hahaha.

Akhirnya aku sampai juga di atas Benteng Tohula. Well, always good view from the top. Melepaskan pandangan ke kiri tampak rumah-rumah penduduk, pantai dan dermaga perahu yang ingin menyeberang dari Tidore ke Halmahera. Pulau Halmahera terlihat memanjang didepan. Rasanya aku ingin melompat ke sana. Wait for me! Aku menengok ke arah belakang,  Gunung Kie Matubu di kejauhan seperti menyembul dari balik benteng.

Benteng Tohula terletak di Desa Soasiu tidak jauh dari Kedaton Kesultanan Tidore dan pusat kota. Tohula/tahula dalam bahasa Tidore yang berarti Kota Hula. Mudah menemukannya karena berada di jalur jalan utama Tidore.  Mengunjunginya tidak dipungut biaya, baik tiket masuk, maupun parkir kendaraan. 

Adalah Sebastiano De Elaco, seorang pelaut berkebangsaaan Spanyol yang membangun benteng ini pada tahun 1512. Didirikan sebagai benteng pertahanan Spanyol ketika menduduki wilayah Tidore di awal abad 16. Persaingan dagang dan perluasan wilayah jajahan untuk menguasai jalur rempah (Cengkih dan Pala) antara Spanyol dan Portugal sebagai alasan utama dibangunnya benteng ini. Pembangunannya dimulai pada tahun 1610 sampai tahun 1662. Letak lokasi yang berada di atas bukit karang yang tinggi sebagai titik pandang terbaik untuk mengamati wilayah perairan/lautan maupun daratan Tidore.

Benteng ini kemudian ditinggalkan Spanyol setelah kekalahan dengan Belanda dalam perebutan wilayah jajahan pada tahun 1707. Rencananya benteng akan dibongkar, tetapi ditentang oleh Sultan Tidore yang bertahta saat itu, Sultan Hamzah Fahroedin dengan dalih benteng akan digunakan sebagai tempat tinggal Keluarga Sultan Tidore. Belanda pun memenuhi permintaan Sultan dengan syarat seluruh aktifitas dalam benteng tersebut dibawah pengawasan Belanda.

Undak-undakan dibuat untuk menghubungkan ruang satu ke ruang yang lain karena kontur tanah yang tinggi dan rendah. Tanaman hias berwarna-warni tumbuh di kanan kiri jalan setapak menambah keasriannya. Lampu-lampu pun ikut menghiasi taman benteng ini. Bangku-bangku juga disediakan di tiap sudut.

Sayang sekali seluruh bangunan ruangan telah roboh jadi yang tersisa hanyalah pondasinya. Tampak tangga bambu bersandar di dinding tembok benteng, mungkin untuk digunakan naik ke atas tembok. Selayaknya benteng, Bunker atau ruangan bawah tanah juga dibangun. Ada pintu gerbang yang tertutup/terkunci dibagian lain benteng. Aku tidak tahu ruangan itu berisi apa.

Sekitar lima belas menit cukup untuk mengelilingi benteng ini, tetapi bagi pecinta foto mungkin kurang untuk mengexplore hanya dalam waktu lima belas menit. Apalagi jika mengejar Sunrise/Sunset. Don't worry, My Friends, Gazebo sebagai gardu pandang disediakan bagi yang ingin santai berlama-lama disini. Jangan lupa membawa perbekalan. Sambil minum kopi, makan camilan Kue Pia ditambah menikmati pemandangan dari atas benteng. Mantap jiwa!

Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 03 Agustus 2017

'Rumah Besar' Balla Lompoa

"Silahkan masuk!" ujar Pak Andi, pengurus Balla Lompoa sambil membuka pintu ruang pusaka dan mundur selangkah  memberi aku jalan masuk. Wow.. lady first, aku merasa tersanjung. Ruang pusaka yang juga ruang pribadi raja memang sehari-hari selalu terkunci dan hanya dibuka untuk tamu-tamu tertentu.

Di bagian depan museum Balla Lompoa
Menapaki karpet merah memasuki ruang pusaka. Salakoa, sebuah mahkota Raja Gowa yang pertama kali menarik perhatianku seakan menyambut. Salokoa diletakkan di tengah ruangan sebagai pusaka utama. Mahkota emas seberat 1.768 gram berbentuk kuncup bunga teratai berkelopak lima helai daun yang dihiasi batu-batu permata.

Menurut penuturan Pak Andi, konon mahkota tersebut pertama kali dipakai oleh Ratu Tumanurunga, seorang perempuan berparas cantik yang turun dari langit sebagai Raja Gowa pertama. Ratu Tumanurunga menikahi Karaeng Bajo dan menurunkan Raja-raja Gowa selanjutnya. Oleh karena itu setiap penobatan raja selalu ada ritual pemakaian Mahkota Salokoa. Setiap tahun diadakan pencucian mahkota dengan darah kerbau penanda kesakralannya.

Dibelakang Salokoa, terlihat kursi, lukisan dan patung Sultan Hasannudin. Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional melawan kolonial Belanda.

Disisi lain ruang pribadi raja terdapat perhiasan Kolara/Rantai Manila, sebuah kalung rantai emas hadiah dari Kerajaan Sulu (Negara Philipina) dan Tatarampang yaitu keris emas bertahtahkan permata hadiah dari Kerajaan Demak (Pulau Jawa). Disimpan juga Ponto Janga-jangaya (Gelang emas dua kepala naga), Sudanga (senjata sakti atribut raja yang berkuasa), Bangkarak Ta'roe (anting-anting emas), Gaukang (kancing emas). Ada juga Al Quran yang ditulis dengan tangan.

 

Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti Rumah Besar. Balla Lompoa ini merupakan bangunan rekonstuksi dari Istana Kerajaan Gowa yang sekarang telah menjadi museum. Lokasi berada di Jalan Wahid Hasyim Nomor 39, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Berjarak 10 km dari Kota Makassar. Dibangun pada masa Raja Gowa ke-13 bernama I Mangngi-mangngi Daeng Matutu. Bangunan terbuat dari Kayu Ulin atau Kayu Besi yang besar dan kuat. Beratapkan Sirap, lembaran kayu yang dibentuk menjadi atap. Di atas atap diletakkan Kepala Kerbau. Bangunan terdiri dari Teras, Ruang Utama, Ruang Dalam. Kita harus melepas sepatu/sendal dan mengisi buku tamu sebelum masuk.


Ruang utama berfungsi sebagai balairung, ruang pertemuan atau ruang menerima tamu. Ada singgasana dan lukisan Raja Gowa di apit payung kebesaran. Meja-meja panjang di sisi kanan kiri. Bernuansa warna merah dan kuning emas.

Di sisi kanan terdapat sebuah pigura yang menggambarkan silsilah raja-raja Gowa dari raja pertama Tumanurunga yang dari pernikahannya dengan Karaeng Bajo melahirkan raja Tumassalangga Baraja sampai raja terakhir Sultan Mochammad Abdulkadir Aididdin Andi Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruang utama ini diletakkan panji-panji kerajaan juga meriam besi beserta pelurunya.


Di ruang dalam terbagi menjadi dua ruang, ruang kerajaan dan ruang pusaka/ruang pribadi raja. Di ruang pusaka/pribadi tersimpan koleksi baju tradisional, kipas kerajaan, alat-alat untuk upacara kerajaan berupa cupu, mangkok, piring keramik, lilin. Terdapat juga senjata-senjata yang dipajang seperti parang (Lasippo), badik, tombak rotan ekor kuda (Panyanggaya Barongan). Foto tiga tokoh pemimpin kerajaan Gowa, Bone, Wajo juga dipajang dalam ruang dalam.

Di teras rumah dipajang buku-buku yang menceritakan sejarah Sulawesi Selatan beserta adat istiadatnya yang dijual untuk umum. Pengunjung yang berminat bisa membelinya sebagai cenderamata/souvenir. Selain itu juga ada boneka yang mengenakan pakaian tradisional, kaos, kopiah khas Makassar, sarung, gelang dan batu-batu permata juga bisa dibawa pulang (tentu saja setelah kita membayarnya hehehe).

Foto dan Tulisan : Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Jumat, 21 Juli 2017

Air Terjun Mauhalek: Juara!

Mauhalek Waterfall
Aku duduk di atas sebuah batu sambil menatap ke atas, ke arah sumber suara gemuruh bunyi air yang jatuh ke bawah membentuk sebuah pemandangan yang orang bilang air terjun. Mataku bisa menangkap beberapa pria muda dengan hanya celana pendek mencoba naik dari sela-sela batu menuju ke atas. Pria-pria muda sedang menikmati memacu adrenalinnya. Terlalu berbahaya sebenarnya, tapi siapa yang bisa melarang mereka naik ke atas. Penjaga hanya ada di pintu masuk di tepi jalan yang jaraknya masih 800-meteran jauhnya. Aku mulai bersiap-siap saat awan mulai bergerak pelan menutupi matahari. Momen siang seperti ini memang repot untuk memotret air terjun karena terlalu banyak spot yang bocor. Maka untuk mendapatkan gambar yang tidak terlalu buruk, aku bergantung sama kebaikan awan yang mau menutupi sebentar sinar pagi. Walau tetap saja, tidak akan mengalahkan cantiknya cahaya pagi matahari yang kekuningan. Itulah alasan aku lebih suka mendatangi lokasi-lokasi seperti ini saat pagi atau sore: golden moments.

Foto bareng di air terjun Mauhalek, Belu
Dari atas sini aku bisa jelas melihat Deva yang sangat menikmati mandi di air terjun. Bahkan beberapa kerabat istriku ikut menemani bermain air bersama Deva. Gara-gara dia berendam, akhirnya anak-anak kecil yang lain ikut nyebur juga. Dinginnya air terjun yang berada dikaki gunung Lakaan pasti tidak dirasakannya, maklum cadangan lemaknya banyak. Tidak terlalu ramai menurutku, mungkin karena lokasi tempat ini yang belum banyak dikenal orang. Atau cerita banyak orang yang masih menganggap kalau ke air terjun Mauhalek itu susah medannya.

Perjalanan naik ke atas saat mau makan siang itulah yang bikin barisan mak-mak nafasnya tinggal satu-satu padahal jaraknya tidak jauh. Bahkan dari tempat parkir kendaraan, air terjun Mauhalek masih dapat jelas dilihat. Berbeda saat turun ke air terjun yang pada semangat karena jalan setapak yang telah dibeton menurun terus, maka saat kembali artinya harus menikmati jalan naik terus. Deva yang turun semangat pun, harus disemangati untuk naik ke atas. Perut gendutnya sekarang jadi beban tambahan.. Ayo nak, semangatttt...

Suasana riuh pengunjung masih terdengar di bawah, semakin siang semakin ramai yang datang. Untung lopo utama sudah tidak ada penghuninya jadi bisa kami pakai. Lopo bulat dengan empat tiang khas lopo pulau Timor pun gak kalah ramai dengan suasana di bawah. Gemuruh air dan pemandangan air terjun masih tampak dari tempat aku duduk menjerang air yang tak kunjung memanas. Senang aku melihat Deva menikmati perjalanan kali ini, walaupun komunikasinya masih kalang kabut. Dia bicara dengan bahasan dan logat Inggris-nya sementara yang lain dengan bahasa Indonesia dan logat Belu-nya.

Ya, hari ini aku wisata bareng keluarga kakak perempuan istriku di Atambua. Salah satu alasan aku tidak membawa tripod saat diajak mudik ke Atambua, kupikir kita hanya akan pergi ke tempat-tempat biasa. Bakar ikan, sekedar duduk-duduk di pantai atau kolam susu yang penuh orang, atau apalah. Bagaimana dengan tempat wisata? Kalau ingin sekedar jalan okelah.. kalau ingin mendapatkan gambar bagus lupakan saja. Saat libur lebaran seperti ini, rasanya tidak akan ada tempat yang sepi selama masih bisa dijangkau mobil. Itu salah satu sebabnya aku kurang berminat mengunjungi tempat wisata saat libur lebaran. Kalaupun tiap tahun aku mengunjungi tempat-tempat wisata memang cenderung lebih untuk kepentingan anak-anak.

Lokasi Air Terjun Mauhalek
Air terjun Mauhalek adalah salah satu dari sedikit air terjun yang ada di pulau Timor. Mungkin karena faktor geografis dan kontur yang membuat pulau Timor tidak banyak ditemukan keberadaan air terjun. Berbeda halnya dengan pulau Flores atau Sumba yang memiliki lokasi air terjun lebih banyak.

Informasi keberadaan air terjun Mauhalek sendiri belum lama. Mungkin pula karena itu tak banyak orang yang tahu saat aku menanyakan keberadaan air terjun Mauhalek ke masyarakat Atambua. Untung ada keponakan yang kerjanya di PLN bagian lapangan yang ngurusi tower-tower tegangan tinggi jadi banyak tahu wilayah-wilayah terpencil.

Air terjun Mauhalek ini terletak di dusun Fatumuti, desa Raiulun. Desa Raiulun ini masuk kecamatan Lasiolat yang artinya wilayah ini terletak di wilayah kantong yang dikelilingi oleh wilayah Timor Leste. Berada di bawah kaki gunung Lakaan, daerah sekitar air terjun Mauhalek tergolong sejuk. Gunung Lakaan adalah gunung tertinggi kedua di Tanah Timor setelah gunung Mutis.

Gunung Lakaan sebenarnya tujuanku jika bukan libur Lebaran, tepatnya di daerah Fulan Fehan yang terkenal dengan lokasi Benteng Tujuh. Mungkin lain waktu aku akan kembali mengunjungi Fulan Fehan sekaligus mengunjungi kembali air terjun Mauhalek.

Kondisi jalan ke Mauhalek tidak terlalu sulit walau perjalanan selama satu jam penuh dengan tikungan dan tanjakan karena sudah sebagian besar jalan sudah beraspal. Tapi memang saat ini separo jalan sisi kanan dan kiri di banyak ruas sedang digali hampir sedalam satu meter untuk pemadatan dan pelebaran jalan. Beberapa bukit juga sudah mulai dipotong untuk mengurangi tinggi tanjakan. Tanah kecoklatan akhitnya membuat jalanan penuh debu. Balik dari Mauhalek itu mobil sudah sama warnanya dengan tanah. Mungkin kalau pekerjaan jalan sudah selesai, lokasi Mauhalek bisa ditempuh tak lebih dari setengah jam karena jaraknya tak lebih dari 30km.. beberapa orang mengatakan kalau jaraknya hanya 24km. Ah di tanah Timor itu bukan kilometer yang penting tapi berapa lama sampainya.

Pendapatku tentang Tempat Ini
Aku datang dalam kondisi air terjun sudah tidak terlalu besar debitnya. Airnya dari atas tidak langsung jatuh lurus tapi tapi jatuh ke lapisan batu di bawahnya sehingga pecah menjadi aliran-aliran yang lebih kecil. Kondisi itu membuat air terakhir jatuhnya tidak kencang. Karena itu batu-batu diantara air terjun ditumbuhi lumut dan tanaman-tanaman kecil.

View ini membuat pemandangan air terjun Mauhalek jadi indah dan mudah untuk diambil foto bahkan dari dekat sekalipun. Ini beda dengan tempat-tempat yang air terjunnya jatuh lurus ke bawah yang biasanya menciptakan uap air yang naik jauh ke udara membuat kamera mudah terkena uapnya. Sepertinya saat debit air terjunnya lebih kencang juga tidak akan membuat uap air yang terlalu tinggi.

Jika bersedia datang pagi sepertinya bisa menghasilkan foto air terjun yang juara.. sepertinya aku harus datang lagi kesini pagi-pagi sekali untuk mendapatkan momen terbaik. Apalagi saat pagi biasanya masih jarang orang yang datang. Paling-paling penduduk sekitar yang mau ambil air.

Jadi untuk pemandangan air terjunnya juara lah apalagi untuk difoto. Lain lagi dengan fasilitas pendukungnya. Jalan dari parkir menuju air terjun memang sudah dirabat beton, juga sudah ada sekitar tiga lopo yang dibangun, dan satu tolilet umum yang lebih sering terkunci. Yang agak mengganggu adalah bangunan toilet yang diletakkan pas di depan air terjun sehingga mengganggu pemandangan dari kejauhan. Di beberapa belokan juga harus hati-hati karena tidak dibangun pagar pengaman.

Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 19 Juli 2017

Overland ke Tana Toraja

"Bu, packing baju buat tiga hari ya besok kita berangkat", kataku.
"Emang mau kemana? Ke tempat siapa?", tanya ibuku.
"Kita ke Makassar dan Toraja, jalan-jalan saja. Ibu sudah Arum belikan tiket", jawabku.

Ibuku tentu saja kaget karena beliau baru saja tiba di Jakarta setelah mengunjungi kakaknya di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Landing di Makassar larut malam. Disambut teman kami, Kartini yang menjadi tuan rumah selama kami di Makassar. Kami pun segera beristirahat karena besok pagi berangkat ke Toraja.

Pukul 6 pagi kami telah dijemput Bang Ancu, pemilik mobil yang kami sewa. Dalam perjalanan menuju Toraja, kami melewati Maros. Dari jendela mobil terlihat sinar Matahari pagi menyembul dari sela-sela hamparan batuan karst yang berjajar di kejauhan. Wah pendaran cahayanya bagus banget! Di tengah perjalanan kami melihat Jeruk Bali yang dijual dipinggir jalan. Kami mampir untuk membeli beberapa buah sebagai bekal diperjalanan.

Sampai di Pare-pare kami mampir ke sebuah warung makan untuk sarapan Coto, daging sapi/kerbau dengan kuah dari air beras yang dimakan dengan ketupat/buras. Rasanya lebih enak daripada yang biasa aku makan di Jakarta. Pare-pare kota pesisir pantai barat yang juga dikenal sebagai kota kelahiran BJ Habibie, Presiden ketiga RI.


Belakang adalah Bukit Enrekang Di depan gerbang Maros
Kami istirahat di Enrekang untuk sekedar minum kopi, makan pisang goreng dan camilan jagung goreng atau Marning biasa orang Jawa bilang. Jagung goreng ini menjadi cemilan khas Enrekang. Itu sebabnya aku lihat banyak tanaman Jagung di lereng bukit kawasan Enrekang ini.

Warung kopi yang juga menjual cenderamata/souvenir ini berada tepat di muka pegunungan. Dari sini kita bisa minum kopi sambil melihat pemandangan Gunung Bambapuang atau lebih dikenal sebagai Gunung Nona. Landscape gunung yang mengundang berbagai imajinasi. Ada yang bilang bentuknya menyerupai area pribadi kaum hawa.Tergantung persepsi masing-masing mata yang memandang. Hohoho.

Akhirnya kami sampai di gerbang Tana Toraja. Setelah menempuh perjalanan selama 7 (tujuh) jam! Wajarlah karena jarak dari Makassar ke Toraja 350 km. Pastinya kami foto-foto dulu di gerbang sebelum lanjut menuju Pallawa.

Gerimis mengiringi kami menuju Pallawa. Butiran air hujan yang disinari matahari menjadi semburat pelangi. Melihat Pelangi sebagai pertanda keinginanku terkabul. Yes! Keinginan ke Tana Toraja.

Saat tiba di Pallawa, begitu aku membuka pintu mobil, gerimisnya langsung berhenti. Ajaib! Mungkin hujannya memberi kesempatan aku untuk foto-foto.

Suasana dalam rumahDesa adat Pallawa
Desa adat Pallawa berada di kawasan Rantepao adalah desa yang masih memegang kuat tradisi dan memiliki Tongkonan  tertua di Tana Toraja. Ada 11 Tongkonan yang ada di Pallawa.

Tongkonan, adalah rumah tradisional Toraja. Bentuk bangunan yang menyerupai sebuah kapal, beratap bambu yang ditutup rumbia. Bagian atap banyak ditumbuhi tanaman liar pertanda tua/lamanya bangunan itu berdiri. Tongkonan dihiasi ukiran khas dan didominasi warna hitam, oranye, merah. Tanduk kerbau di depan Tongkonan sebagai simbol pemilik rumah telah melakukan upacara Rambu Solo/ Aluk Rampe Matampu.

Penduduk desa sebagai pemandu wisata banyak memberikan keterangan tentang bangunan Tongkonan dan adat istiadat mereka. Konon tradisi kanibal pernah dilakukan saat perang antar kampung dengan memakan dan meminum darah lawan yang kalah. Perkembangan jaman telah merubah tradisi itu dan menggantinya dengan memakan ayam yang disebut Pallawa Manuk.

Bercengkrama dengan penduduk desa yang ramah, sambil sesekali memotret kegiatannya. Anak-anak suka sekali difoto meski tampak malu-malu. Tidak lupa kami membeli cenderamata hasil buah tangan mereka, berupa asbak yang berbentuk miniatur Tongkonan, patung kakek nenek dan gelang-gelang.

Meneruskan perjalanan kami ke tebing Lemo. Lemo adalah tebing yang dijadikan makam.Di depan dinding dipasang Tau-tau, yaitu boneka-boneka kayu yang diukir sebagai personafikasi orang yang telah meninggal dan dimakamkan di sana. Patung ini hanya dibuat untuk para bangsawan.

Biasanya sebelum dimakamkan, diadakan Upacara Rambusolo/Aluk Rampe Matampu.Terlihat pintu pada tebing Lemo terbuka. Sepertinya sedang ada persiapan untuk upacara Rambu Solo. Rambu Solo dalam bahasa Toraja berarti asap yang arahnya ke bawah. Maksudnya upacara ritus persembahan ini dilakukan saat matahari mulai bergerak menurun sesudah pukul 12 siang. Rambusolo selain sebagai penghormatan kepada jenasah, juga sebagai penghantar menuju gerbang arwah.

Sayang kunjunganku hanya singkat jadi tidak bisa memotret Rambu Solo. Semoga aku bisa kembali mengunjungi Tana Toraja.

Teks dan foto: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 20 Juni 2017

Senja di Pantai Baliana

Pasir putihnya berubah menguning seiring matahari yang semakin turun di ufuk barat. Matahari tampak kuning membulat dibayangi langit yang semakin memerah. Pantai sore ini dipenuhi warna kehijauan di sepanjang pantainya karena sedang surut. Warna hijau itu berasal dari tanaman laut sejenis rumput menutupi batuan karang di bawahnya. Sementara itu, pemandangan yang paling jamak saat surut seperti ini adalah masyarakat sekitar yang sedang mencari keong laut. Umumnya yang melakukan ini para perempuan atau anak-anak.

Seorang gadis meneteng ember berisi keong
Bagi yang suka melihat si 'Patrick' bintang laut bakalan seneng kalau ke sini karena bintang laut di sini ukurannya besar-besar dan gampang ditemuin di antara rumput-rumput. Warnanya juga macam-macam. Cuma itu juga petunjuk kalau kawasan ini daerah terumbunya sudah rusak banyak makanya jadi banyak bintang laut.

Pantai Baliana, nama cantik yang disandang pantai ini tak membuat banyak orang tertarik mengunjunginya. Pasir putihnya memang hanya sepotong yang saat sedang puncak pasang tidak akan menyisakan apapun. Mungkin karena itu pantai Baliana cenderung sepi walaupun hari libur. Sebagian besar yang ada di pantai adalah masyarakat sekitar yang mencari keong atau kerang. Bahkan daerah karang landainya lebih luas daripada pasir putihnya, sehingga nelayan pun tidak mungkin menambatkan perahu. Kondisi pantai Baliana memang rawan membuat perahu kandas terkena karang.

Lampu cahaya mercusuar layaknya sinar matahari pagi
Ada sebuah bangunan kayu agak tinggi, ada sebuah tangga kayu untuk naik ke atasnya. Mengingatkan tentang bangunan penjaga pantai untuk mengawasi pantai hanya ini lebih sederhana, lebih terkesan bangunan darurat. Aku baru paham kalau bangunan ini berfungsi sebagai mercusuar. Ternyata ada sebuah lampu terang yang dihidupkan saat menjelang malam. Namun karena tidak ada listrik di sana, untuk menghidupkan lampu mercusuar itu digunakan mesin genset.

Sepertinya bangunan mercusuar ini dibangun swakelola masyarakat bukan milik pemerintah. Tapi entah punya siapa dan untuk apa. Mungkin juga punya PT TOM yang mengoperasikan budidaya mutiara. Dengan tiram-tiram bernilai mahal yang ditanam di perairan ini tentu rawan menarik orang untuk mengambilnya. Entahlah, mungkin aku harus bertanya ke penjaga kalau balik ke sini lagi.

Posisi pantai ini sederet arah dengan pantai Tablolong sehingga pantai ini posisinya pas menghadap matahari terbenam. Tidak tepat di horison laut karena ada pulau Semau di seberang yang menghalangi.

Perjalanan Kesana
Lokasi pantai itu cukup jauh dari kawasan penduduk, mungkin itu salah satu alasan pantai ini tidak ramai walaupun hari libur. Berjarak sekitar dua puluh tiga-an kilometer dari Kota Kupang, perjalanan menyusuri jalan sepanjang rutenya bisa dibilang mulus sampai ke jalan terakhir menurun menuju pantai.

Bahkan jalan selepas pertigaan menuju ke kawasan industri bolok bisa dibilang kosong melompong. Naik motor aja bawaannya ngantuk  karena lurus kosong itu, penghalang jalan kebanyakan berasal dari tinja sapi yang digembalakan lepas sama pemiliknya. Tapi kalaupun ditabrak juga tidak akan terasa apa-apa, paling motor jadi bau TAI!

Lokasi ini berdekatan dengan PLTU Bolok namun kalian tidak boleh melewati jalan ke arah PLTU Bolok karena jalan dari sana ke Pantai Baliana tidak ada, kalau untuk jalan kaki sih masih bisa.

Apa yang Menarik
Tempat ini bisa jadi alternatif buat lokasi foto atau sekedar santai. Obyek menarik ya motretin masyarakat sekitar yang kebanyakan mama-mama dan anak-anak yang jongkok berdiri mungutin keong. 

Penilaianku sendiri tempat ini masih enak buat didatangi karena belum ramai yang datang. Ya mungkin aku lebih menyukai pantai-pantai yang sepi walau tanpa fasilitas daripada ke pantai penuh fasilitas tapi ramai. Ya pasti satu termos kopi sudah aku bawa dari rumah. Asseeekkk.. melihat matahari terbenam sambil ngopi.

Yang pasti ini bukan lokasi yang tepat untuk berenang kecuali mungkin saat laut sedang pasang karena daerah landainya yang jauh dan dipenuhi rumput-rumput. Tapi itu membuat orang tua yang punya anak-anak akan lebih merasa aman melepaskan anaknya bermain di pantai ini. Setidaknya belum pernah mendengar buaya mampir ke tempat ini.

Atau kalau mau sabar, coba nunggu sampai langit gelap. Biasanya sebelum gelap lampu mercusuar dihidupin jadi tetep tempat ini gak gelap-gelap amat. View saat itu lebih keren dan asik dinikmati. Tapi ati-ati kalau jalan sama pasangan udah malam gak pulang-pulang bisa-bisa dicurigai mau berbuat yang aneh-aneh (saling mengorek tai hidung pasangannya pake sedotan misalnya).

Temen yang ngabisin kopiku di tempat ini ada dua mahluk: Imam Masjid Makkah Almukaromah eh bukan Imam Arief Wicaksono yang lebih familiar dipanggil boncel, sama anak yang masih kecil namun udah punya katepe dan status pekerjaan pe-en-es walau tidak ada yang yakin dengan usianya: Adisti.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya