Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Senin, 27 Maret 2017

Paradise of The South: Puru (Habis)

Pantai puru saat senja
Pemandangan senja hari di pantai Eno'niu
"Dilematis, kadang perjalanan ke tempat bagus ingin dikabarkan untuk mengenalkan orang lain untuk mencintai dan mengeksplore keindahan alam di sekitar. Tapi sering kali dan hampir selalu terjadi, orang hanya tau menikmati saja tanpa tanggung jawab merawatnya. Kalau istilahku, mereka yang sudah membayar 5ribu perak untuk masuk udah merasa terbebas untuk tidak membawa sampahnya sendiri. Seolah-olah 5ribu adalah harga petugas untuk memungut sampah yang mereka tinggalkan."


Ini vote aku taruh di depan tulisan dengan muka asem sedikit murka (selebihnya senyam-senyum ganjen). Karena pantai yang aku tuliskan di bawah ini adalah pantai yang masih paling terjaga dari pantai lainnya. Aku tidak ingin blog ini menjadi satu satu pemicu menjamurnya kedatangan traveler geblek yang tak ubahnya yang ngaku demen jalan tapi sebenarnya cuma mau mindahin tempat sampah. Kalau kalian tipe seperti itu, please tutup blog ini jangan diterusin, mending cuci kaki dan bobo sambil mimik susu..  

Ditulisan sebelumnya aku sudah menuliskan tentang pantai Etiko'u (meting besar) dan Snaituka (pasir pendek). Kalau mau kepo-in tulisan dua tempat itu bisa dilihat disini. Sekarang untuk melengkapinya, kali ini aku akan menuliskan dua pantai sisanya yaitu pantai Tubuafu dan pantai Eno'niu.

Pantai Tubuafu
Ada perahu nelayan di pantai Tubuafu
Tubuafu kalau diterjemahkan itu artinya tugu batu. Sesuai dengan namanya, penanda khas dari pantai ini adanya sebuah bukit kecil yang sebenarnya batu karang besar di pinggir pantai. Batu ini terpisah seperti membentuk sebuah bukit kecil. Hanya ada rerumputan dan beberapa pohon kecil yang hidup diatasnya. Saat surut, bukit kecil ini akan menyatu dengan daratan sehingga mudah kita panjat. Aku tidak menyarankan menaikinya saat air mulai pasang, karena saat air mulai mengitari bukit ini. Saat puncak pasang, air yang mengelilingi bukit ini selain kencang arusnya juga ombaknya sangat keras. Bahkan buncahan ombaknya bisa naik melebihi ketinggian batu. Kalau mau mati jangan sebut-sebut namaku ya, datang gak diundang ya pergi gak usah minta antar #jailangkung

Pemandangan pagi dari pantai Tubuafu
Pantai Tubuafu sendiri akan mudah dilihat pada saat kita di pinggir pantai Etiko'u yang dibatasi dengan bebatuan diantara keduanya. Namun jika dari penampakan pantainya, sebenarnya pantai Tubuafu ini masih bisa dibilang satu kesatuan dengan pantai Snaituka. Cuma pantai ini tidak masuk dalam deretan pantai Puru, menurut pak Frengki pantai Tubuafu sudah masuk dusun yang lain. Hanya memang untuk mencapai pantai ini ya paling mudah lewat pantai Puru, tinggal menyusuri pinggir pantai 300 meteran udah sampai di pantai ini.

Inilah batu di pinggir laut yang memunculkan nama Tubuafu
Pantai Tubuafu adalah pantai yang paling ujung kanan dari empat pantai yang aku sebutin. Selepas pantai Tubuafu adalah deretan karang terjal, setidaknya begitu menurut pandangan mataku. Karena pantai-pantai ini berada di lengkungan, maka dari pantai Tubuafu ini akan terlihat semua pantai lainnya. Bahkan pantai ujung kiri yaitu pantai Eno'niu akan terlihat dari pantai ini.

Jika menginap di sini, maka pantai Tubuafu paling pas untuk menikmati pagi. Karena dari pantai ini akan terlihat matahari terbit dari balik pantai Snaituka. Pak Frengki bilang kalau pantai Tubuafu ini pernah menjadi lokasi pendaratan Jepang. Di deretan dekat karang-karang terjal sebelah kanan pantai Tubuafu itu ada ditemukan beberapa bunker jepang. Sebenarnya keberadaan bunker-bunker Jepang di sekitaran Kupang bukanlah hal aneh. Kawasan sekitar bandara juga banyak ditemukan bunker-bungker Jepang, nanti aku ceritakan dalam tulisan lain. Cuma yang aneh, kok bisa Jepang mendarat di pantai ini yang notabene bukan pantai yang mudah didatangi lewat laut. Ah entahlah, tentara Jepang yang bisa menjawabnya.

Pantai Eno'niu
Pemandangan dari atas karang-karang menuju lokasi pantai Eno'niu (TUK)
Inilah pantai yang beberapa waktu aku harus tarik ulur dengan mas Eko Prasetyo untuk ceritakan. Kenapa? Ada banyak alasan kenapa aku diminta menahan diri untuk tidak menuliskan pantai ini.

Alasan pertama, pantai ini masih terbilang belum dikenal dari semua pantai lainnya karena akses yang tidak mudah untuk mencapai tempat ini. Menurut mas Eko, masih banyak tipe pelancong di sini yang hanya mau menikmati lokasi bagus tapi kurang tanggung jawab untuk menjaganya. Mau bukti? Seperawan-perawannya  pantai ini, ada tumpukan sampah tersisa yang ditinggalkan orang-orang kampret yang mendatangi tempat ini. Mereka mendatangi tempat yang indah dan bersih dan mereka meninggalkan tempat itu menjadi tempat sampah besar.

Alasan kedua, pantai ini diluar jangkauan pengawasan pak Frengki cs. Jika sampah-sampah yang ditinggalkan di pantai Snaituka saja sering terlewat tak dibersihkan apalagi sampah yang akan tertinggal di pantai Eno'niu. Mengharapkan para pejalan tak bertanggung jawab? Lebih baik bakar saja mereka daripada membakar sampahnya. #murkabesar

Eno'niu itu artinya pintu asam. Kenapa disebutkan pintu asam? Padahal di pantainya lebih banyak pohon santigi yang batangnya melengkung nyaris menempel ke pasir. Tapi jika mau diperhatikan betul-betul saat mau naik ke karang ada pohon asam di dekat situ, dan memang itu satu-satunya jalan untuk ke pantai Eno'niu. Pohon asam itulah kenapa pantai ini disebut. Jadi kalau mau kesini kuncinya cari pohon asam yang buahnya sudah masak, ambil, kuliti dan makan... Asyeeeem banget... se-asem muka para jomblo kalau ditanya kapan nikah.

Langit senja di pantai Eno'niu
Siluet yang ngaku-aku pemilik pantai TUK
Terkait nama alias untuk Eno'niu yang jujur susah untuk disebutkan, kita sudah bilang ke pak Frengki. Jika misal ada yang datang dan dianterin kesini lalu tanya nama pantai ini bilang saja pantai TUK, kependekan dari Tapaleuk Ukur Kaki.. jiah, baru sekali-kalinya datang langsung minta pengukuhan ganti nama. Tunggu, mungkin sebentar lagi mas Eko mau bikin acara syukuran di pantai ini. Kalian semua bakal diundang kok wahai para jin, setan dan sebangsanya....

Tapi kalau puncak surut, bisa ke pantai ini menyusuri lewat pasirnya tapi itupun kalo surutnya jauh. Selain itu ya harus lewat karang-karang yang masih runcing-runcing belum di-ampelas. Ya iyalah, emang situ mau ampelas karang biar licin gitu.

Ini adalah pantai tercantik dari empat pantai yang ada di Puru, walaupun jalannya paling ujung dan paling sulit tapi pemandangan..... #ikon mata melolot keselek biji salak. 
Dari sini kalian ditanggung bisa melihat pemandangan matahari senja yang tidak akan mengecewakan. Karena matahari di sini akan tampak bulat .. ya iyah, mana ada matahari bentuknya kotak, box nasi kalee bentuknya kotak. 

Duh di sini masih sepi dan bersih (kecuali itu seonggok sampah entah punya kampret siapa). Pasir putih dan langit Kupang yang pasti biru mengharu khas langit di daerah kawasan Indonesia Timur yang tidak tercemar polusi udara. Kalau malam pun, galaksi milky way sangat mudah tampak serasa ada di atas kepala (tulisannya ada disini).

Prewedding di pantai Puru
Pokoknya pantai yang satu ini epik, dan sialnya temenku udah duluin bikin prewedding di sini. Duh padahal aku belum prewedding di sini lho (kawin sama gendruwo).Tentu saja untuk membuat foto prewedding itu harus dibantu serombongan tuyul supaya acara foto tidak gagal, belum saja tidak lupa membawa dukun penolak hujan karena Kupang pada saat itu susah diprediksi walaupun BMKG sekalipun. Kalau kalian mau prewedding di sini boleh kontak aku, fotografer-nya gratis tapi sewa kamera itu sekitar 10juta. Itu kamera gak boleh peserta prewedding yang bawa, harus punya fotografernya hahaha.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 23 Maret 2017

Pemandian Air Panas - Guci Bumijawa

Musim hujan bukan berarti absen jalan-jalan. Alternatif wisata pemandian bisa jadi contohnya. Pilihanku kali ini jatuh pada Guci, wisata pemandian air panas yang terletak di Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah.

Dari Jakarta ke Tegal ditempuh selama 5 jam perjalanan dengan kereta api malam jurusan Semarang. Kali ini aku ditemani dua kakakku. Pagi hari kami tiba di Tegal.Keluar dari Stasiun Tegal sudah ada angkutan umum yang bisa mengantar kita sampai Slawi. Angkutan umumnya tiap lima menit lewat di depan warung tempat kita sarapan. Sampai Slawi disambung dengan angkutan umum berupa mobil pick up bak terbuka menuju Bumijawa.
Akhirnya tiba juga aku di Guci. Kawasan hutan wisata yang terletak di kaki Gunung Slamet.Setelah check-in hotel, aku bersiap-siap pergi ke  tempat pemandian umum. Kebetulan aku memilih hotel yang terbesar di kawasan ini dengan pertimbangan hotel ini memiliki kolam renang yang luas. Jadi setelah selesai mandi dari pancuran pemandian umum bisa lanjut ke kolam renang.

Tempat pemandian pertama yang aku kunjungi adalah Pancuran Tigabelas. Disebut Pancuran Tigabelas karena memiliki tiga belas pancuran. Terdiri dari tiga bagian berundak-undak. Bagian yang berada di undakan tertinggi berdekatan air terjun dengan aliran sungai yang mengikutinya. Penduduk sekitar menyebutnya Air Terjun Bedor. Diambil dari nama orang yang pertamakali menemukan air terjun itu.

Serasa dipijat punggung dan kepalaku saat air pancuran yang deras menyentuh tubuh. Mandi dan berendam di air panas membuat tubuh jadi rileks sekaligus terapi stres hehehe. Istimewanya mata air panas Guci ini berasa tawar dan tidak mengandung sulfur atau belerang jadi tidak membuat kulit menjadi kering.

Menurut legenda mata air panas Guci berasal dari tongkat yang ditancapkan ke tanah oleh Sunan Gunung Jati yang hendak mencari sumber mata air. Dari tongkat yang diangkat menyemburlah air panas yang tidak berbau dan berasa. Legenda lain menyebutkan anak buah Nyi Roro Kidul turut menjaga keberadaan mata air Guci, itu sebabnya ada patung naga di Pancuran Tigabelas.

Selesai berendam di Pancuran Tiga Belas, aku beranjak ke Pancuran Lima. Air di Pancuran Lima terasa lebih panas dikulit. Oleh karena itu aku hanya berendam selama lima menit, lalu pindah ke kolam sebelahnya. Disini pengunjung lebih sedikit dibanding Pancuran Tiga Belas. Puas berendam disini, aku kembali ke hotel.

Niatku setelah sampai hotel mau melanjutkan berendam di kolam renang tidak jadi. Perutku mengirim sinyal untuk segera diisi hehehe. Selesai mandi berbilas, saatnya isi perut.

Diseberang hotel ada pasar dan tempat parkir bagi para pengunjung wisata pemandian air panas. Kios-kios berjejer sepanjang area parkir, sehingga memudahkan untuk mencari makanan, minuman, jajanan dan cinderamata/oleh-oleh.

Sate kambing muda, sate kelinci dan teh poci menemani makan siang yang telat. Hhmmm yummy.... Kelar mengisi perut, aku balik ke hotel menghabiskan sore di pinggir kolam renang. Rencana nanti menikmati suasana malam di Guci.

Menikmati malam sambil berpayungan. Berjalan hati-hati untuk menghindari cipratan air. Hujan dari sore membuat aku mencari yang panas dan berkuah untuk makan malam. Mie instan, kopi dan wedhang jahe jadi pilihan yang asik.

Keesokan pagi aku langsung berendam di kolam renang karena kemarin belum sempat berenang disini. Setelah mandi dan sarapan di hotel, aku mengunjungi hutan wisata dan Pancuran Tigabelas lagi. Sekedar untuk berfoto dan mencicipi kuliner sepanjang jalan ke sana. Tak lupa membeli oleh-oleh. Saatnya check out hotel, kembali ke Jakarta.

Foto dan tulisan: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Jumat, 10 Maret 2017

Huta Bolon Simanindo

Selepas sarapan di hotel yang berada di tepian Danau Toba, aku langsung meluncur bersama kakakku. Kami diantar Pak Edy, pemilik mobil yang kami sewa. Rencana hari ini selain mengunjungi Siallagan (Batu Parsidangan), aku juga akan menonton pertunjukan tari di Museum Huta Bolon Simanindo di Pulau Samosir. Berdasar informasi yang aku dapat dari Pak Edy dan browsing internet, pertunjukan tari pertama dimulai pukul 10:30.


Setelah dari Siallagan, aku pun bergegas ke Museum Huta Bolon Simanindo. Begitu sampai disana telah ada beberapa rombongan turis asing bersama pemandu wisata masing-masing. Dari percakapan yang aku dengar sepertinya mereka turis dari negeri tulip - Belanda dan negeri mafioso - Itali.

Huta Bolon Simanindo adalah rumah adat warisan peninggalan Raja Sidauruk. Sejak tahun 1969 Huta Bolon Simanindo mulai dibuka sebagai museum. Di bagian depan Huta, pada bangunan sebelah kiri terdapat beberapa koleksi museum. Koleksi tersebut berupa kapal yang dulu biasa digunakan raja, Parhalaan, Pustaha Laklak, Tunggal Panaluan dan Solu Bolon. Ada juga peninggalan perlengkapan adat untuk upacara alat musik tradisional, aneka mainan tradisional seperti dalu putar dan janggar yang tersimpan dan tertata dengan baik.


Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu menjulang tinggi untuk menghalangi musuh masuk. Huta ini hanya mempunyai satu pintu masuk.
Rumah di dalam huta berjajar di sisi kanan kiri rumah raja atau disebut Rumah Bolon. Di seberang rumah raja dibangun lumbung padi yang disebut Sopo.

Di halaman tengah antara Rumah Bolon dan Sopo dulu sebagai tempat Mangalahat Horbo (tempat acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman ditancapkan sebuah tonggak (Borotan) yang dihiasi oleh dedaunan yang melambangkan pohon suci (Beringin). Kerbau pun digiring dan disembelih di Borotan.

Tibalah saatnya pertunjukan tari dimulai. Pertunjukan tari sebenarnya adalah rangkaian pesta adat "Mangalahat Horbo".
Diawali dengan Gondang Lae-lae (tarian seremonial), adalah tarian yang menggambarkan doa kepada dewata agar kerbau tidak berontak ketika digiring ke Borotan. Gerak-gerik kerbau sebagai cerminan baik buruknya upacara yang akan berlangsung bagi yang berpesta.

Selesai tarian Gondang Lae-Lae, para penari melanjutkan tarian dengan Gondang Mula-mula. Gondang Mula-mula adalah tarian doa kepada pencipta bumi, langit, alam semesta agar diberikan keturunan, kekayaan, menjauhkan dari bala, menyembuhkan segala penyakit. Kemudian dilanjutkan dengan tari Gondang Mula Jadi, adalah tarian yang sebagai pemberitahuan bahwa doa yang dilakukan telah dikabulkan Tuhan.

Tarian selanjutnya adalah Gondang Shata Mangaliat, yaitu orang-orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak/borotan. Kerbau yang diikat di borotan kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada yang berpesta. Danberlanjut ke tarian Gondang Marolop-olopan, tarian sambil memberi salam kepada sesama tamu pesta.

Selain itu ada juga tarian Gondang Siboru, merupakan tarian jejaka, ketika sang jejaka menari datanglah para gadis yang berharap ada jejaka yang datang melamarnya. Kebalian dari tarian Gondang Siboru adalah tarian Gondang Sidoli. Gondang Sidoli adalah tarian gadis, ketika sang gadis menari datanglah jejaka mendekati gadis yang dicintainya dan memberi uang sebagai bukti cinta.

Tarian Gondang Pangurason, adalah tarian sebagai pertanda datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan merasuk pada salah seorang gadis untuk memberkati mereka.

Sorak sorai penonton begitu riuh ketika mereka diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta. Tarian bersama dilakukan menjelang berakhirnya acara tersebut. Aku hampir saja larut untuk ikut menari tapi segera ingat nanti momen memotretku hilang. Jauh-jauh datang ke Pulau Samosir demi untuk event ini. 

Dilanjutkan tarian Tortor Tunggal Panuluan. Tari yang dilakukan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan dewata dengan cara memukul telur dengan tongkat. Biasanya permintaan seperti hujan, keturunan dan kesuksesan dalam kehidupan.

Mengisi sumbangan di patung Sigale-gale
Diakhiri dengan Gondang Sigale-gale. Tarian ini menggunakan boneka Sigale-gale yang terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia. Pada jaman dahulu kala seorang raja mempunyai anak laki-laki tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan meninggal dunia. Raja sangat sedih atas musibah itu karena anaknya diharapkan menjadi penerus kerajaan telah tiada. 

Untuk mengenang anaknya sang raja memerintahkan rakyatnya untuk membuat patung yang mirip dengan anaknya. Bila sang raja rindu anaknya, maka raja akan mengundang rakyatnya berpesta dan saudara perempuan Sigale-gale juga akan menari sebagai ungkapan kerinduannya.

Tarian Gondang Sigale-gale sebagai penutup rangkaian pertunjukan tari. Penonton dapat memberikan sumbangan sukarela kepada para penari pada wadah yang disediakan di Boneka Sigale-gale. Tiap kali penonton ada yang memberikan sumbangan, para penari langsung berseru "Horas!".

Foto dan tulisan: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 05 Februari 2017

Tour de Jawa: Gelandangan Solo-Dieng

Kawasan Candi Arjuna, Dieng
Kawasan Candi Arjuna, Dieng lokasi pertama yang aku kunjungi di Dieng
Lupakan segala rencana, terima aja nasib kalau sudah begini. Hari ini adalah ulang tahunku, dan sialnya aku justru terjebak di dalam terminal di kota presiden kita pernah menjabat sebagai walikota. Aku berandai-andai, jika sesuai rencana maka malam ini aku tentu meringkuk di tempat tidur salah satu penginapan di Dieng. Dan paginya, aku mungkin telah gagah berdiri menyambut sinar matahari pagi dari Puncak Sikunir. Ah gebleg, kalau udah begini memang satu-satunya jalan ya menikmati nikmatnya tidur di terminal. Emang enak mas? Gak usah tanyaa!!
 

Hari ke-3: Dinginnya Bangku Terminal Tirtonadi Solo
Aku menarik kepalaku lebih dalam di balik sleeping bag hijau gelap. Bangku jati panjang di depan masjid terasa keras di punggungku. Untung ruangan ber-AC ini masih terasa nyaman untuk berbaring. Agak dingin memang, setidaknya jika dibandingkan ruangan dalam masjid yang terlihat lebih nyaman untuk berbaring karena ada karpet tebal di dalamnya. Sayang pengumuman di teras masjid jelas terpampang: Dilarang Tidur di Dalam Masjid. Di seberang seorang bapak paruh baya terlelap dengan topi menutup mukanya, suara dengkurnya sedikit lebih lembut dari gergaji.


"Hari ini tidak bis jurusan Wonosobo yang masuk terminal, mas". Kalimat yang kudengar dari salah satu petugas di terminal Tirtonadi Solo membuatku lemas, selemas gurita setelah ketangkep dimasukin keranjang. Bangke betul, aku tidak menuruti saran mas Eko yang meminta supaya aku ke Dieng lewat jalur Yogyakarta.
Ternyata bis jurusan Solo-Wonosobo sedikit beroperasi. Kalau secara jadwal sih harusnya dua kali sehari, tapi sudah berbulan-bulan hanya dilayani satu trayek saja.

Dan disinilah akhirnya aku hari ini, mendekam di balik sleeping bag di atas bangku kayu dalam terminal bis Tirtonadi Solo. Betewe, jangan bayangin terminal bis Tirtonadi Solo ini seperti umumnya terminal bis di seluruh Indonesia. Ho-ho-ho, jauh bingit.. terminal Tirtonadi Solo ini suasananya udah kayak bandara. Ruangannya full AC dan bersih. Jadi kalau kamu musti terdampar di terminal seperti ini, masih enak buat tiduran. Lumayan, dengan bayar karcis masuk seribu rupiah bisa numpang tidur. Emang sih kalau mau mandi atau BAB tengah tetep harus bayar tapi gak mahal. Kalau tidur takut barangnya hilang gimana? Gampang, ada kok tempat penitipan barang sampai motor juga bisa titip di sekitar terminal.

Sebenarnya pagi aku sudah mau keluar dari homestay pak Isni di pantai Klayar setelah mampir dulu ke Tanjung Klayar (baca di sini), tapi karena arah baliknya lewat Gua Gong ya sekalian aja aku mampir kesana. Untungnya hari Senin jadi Gua Gong kondisinya sepi. Akhirnya aku justru siang hari baru sampai di Punung. Punung itu pertigaan jalan besar yang menuju ke Klayar.

Cerita tentang Gua Gong, gua ini sudah ditata rapi bahkan dengan tata cahaya warna-warni. Pencahayaan itu mungkin salah satu untuk membuat gua Gong lebih menarik wisatawan, tapi untukku justru membuat Gua Gong tampak seperti gua artifisial. Lain waktu aku mungkin bisa menuliskan tentang Gua Gong tersendiri.

Hari ke-4: Akhirnya sampai di Dieng
Pagi jam tiga dini hari aku bertanya ke petugas kalau mau ke Wonosobo. Oleh petugas itu, aku diarahkan supaya naik bis jurusan Semarang, nanti turun di Bawen dan berganti bis menuju ke Yogyakarta lewat jalur Magelang. Karena jalur busnya berbeda aku harus pindah ke jalur bis yang berangkat ke arah barat. Ternyata kondisi terminal jalur barat berbeda, di sini tidak ada AC melainkan hanya kipas angin. Denger-denger sih, yang jalur barat emang terminal aslinya yang dipugar, berbeda dengan terminal jalur timur yang memang baru dibangun.

Monumen batu Dieng Plateau
Tempat kekinian untuk bukti foto telah ke Dieng, aku gak punya :(
Asyik menunggu, aku diajak ngobrol bapak-bapak yang ngaku mantan pelaut yang sudah insaf.. eh yang sudah berhenti. Lagak-lagaknya sih penipu walaupun sampai terakhir tidak berhasil menipu aku, hilang-hilangnya duitku ya bayarin ongkos bis bapak itu yang pura-pura ketiduran. Kok yakin kalau itu penipu padahal aku tidak tertipu? Bukan tidak tertipu tapi tidak berhasil ditipu.. Aku bahkan sampai turun di Bawen juga tidak menuduh bapak tua itu penipu, mungkin dia hanya bisa mencari uang lewat menipu. Tapi dari pengalamanku ini, aku berpesan hati-hati di terminal jika didekati orang yang menunjukkan sikap baik tidak sewajarnya. Tapi jika ada yang kena tipu.. ya bersabarlah, memang belum rejeki hehehehe...

Turun di Bawen masih pagi banget, sehingga aku masih sempat ngopi pagi di pinggir jalan depan terminal Bawen. Dari Bawen aku naik bis jurusan Semarang-Purwokerta yang lewat Wonosobo. Kebetulan saat ngopi dapet temen ngobrol yang memang biasa mondar-mandir Solo-Purwokerto jadi aku ikut saja saran dia. Sekitar jam lima pagi, aku bis jurusan Semarang-Purwokerto dan turun di terminal Mendolo. Dari terminal mendolo aku berganti dengan angkutan kecil menuju kota Wonosobo.
Aku sampai di kota Wonosobo sekitar jam setengah sembilan pagi, dan langsung berganti naik kecil ke arah Dieng. Setelah setengah jam melewati jalan yang berkelok-kelok dan terus menanjak akhirnya aku turun di pertigaan Dieng. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan saat ini ketinggian 2.200 mdpl.


Hari ke-1 di Dieng: Semalaman Tiduurrr....

Telaga Merdada yang sedang gerimis dan berkabut
Ada yang salah dengan kedatanganku kali ini, setidaknya dari 2 versi. Versiku, bulan Juli ada bulan yang sedang puncak dingin-dinginnya di seluruh wilayah Indonesia sebelah selatan. Maka saat inilah Dieng juga berada pada puncak dinginnya. Bayangkan, suhu pada siang hari bulan ini sama dengan suhu yang kurasakan di Bromo saat malam hari di bulan Desember.
Versi orang setempat, aku datang terlalu cepat karena acara festival Dieng Culture Festival jatuhnya tanggal 5-7 Agustus 2016. Ah sebodo amat, pokoknya tahun ini yang penting aku sudah sampai ke sini. Dieng Culture Festival biar jadi jadwal trip selanjutnya.

Tujuan pertama itu tempat menginap, dan berhubung mata pertama tertuju ke Dieng Plateau Homestay ya akhirnya masuk ke situ dulu. Hargany masih normal 250ribu per malam, udah coba tawar tapi ya dapetnya cuma turun 200ribu. Kebetulan homestay juga menyewakan sepeda motor yang dikenakan biaya 100ribu per hari.

Telaga Cebongan, Dieng
Danau Cebongan di bawah Bukit Sikunir
Ya udahlah, dalam kondisi dingin begini malas kalau harus cari-cari homestay lagi. Kelar urusan penginapan, aku mampir cari makan. Berhubung di Dieng, salah satu makanan khasnya itu Mi Ongklok ya itu yang aku cari. Ternyata di depan penginapan ada warung yang jual Mi Ongklok. Mie Ongklok ini sama seperti mi godok, perbedaan di cara membuatnya yang pake sejenis keranjang bambu untuk meng-onklok mie dan sayuran. Kuahnya segar dan kental karena menggunakan bumbu ebi dan kanji.

Kelar urusan makan, karena masih siang aku berencana jalan-jalan. Sayang mendung dan gerimis tipis berseling datang. Sebentar matahari nongol, sebentar mendung yang ngeksis campur gerimis yang bikin geli-geli adem.. jadi pengen... #kompreskepala. Aku bener-bener tidak menggunakan informasi internet, lebih sekedar mengandalkan informasi percakapan dari orang-orang yang aku temui atau pemilik penginapan. Aku kali ini memang ingin benar-benar menikmati perjalanan sebagai seharusnya perjalanan kesasar yang tidak butuh melihat peta dan lain-lain.

Telaga warna dari Bukit Ratapan Angin
Ada dua lokasi yang aku kunjungi hari ini: telaga Merdada dan kawasan Candi Arjuna. Karena dua lokasi itu disebelah kanan dari homestay. Rencana besok aku baru mengeksplore sisi kanan homestay. Perhitunganku dalam tiga hari ini aku bisa mengunjungi beberapa lokasi yang cukup dikenal terlebih dahulu. Tapi kondisi Dieng yang kelewat dingin bener-bener aku menyerah sebelum malam. Berjibaku dengan tangan yang serasa memegang es di stang motor, hujan tipis juga membuat tanganku memucat lebih cepat. 

Malam ini aku berjibaku dengan sleeping bag yang terbungkus selimut. Sleeping bag yang kupakai cukup membantu menghalau dingin karena kasur tipis dan selimut di homestay justru bikin adem tambah awet. Dapat dibilang aku semalaman bergelung dalam sleeping bag dalam gulungan selimut. Hanya sekali dua kali aku harus keluar karena desakan alami dari bawah. Aku bahkan kehilangan minat untuk mencari makan malam. Padahal Purwaceng di suasana begini pasti nikmat sekali. 

Hari ke-2: Rencana Nginep Dua Malem Batal
Puncak pertama Sikunir, tempat melihat sunrise tidak selapang di puncak kedua
Dalam suasana yang aduhai dinginnya aku harus berjibaku bangun pagi agar tak ketinggalan acara melihat matahari terbit dari puncak Sikunir yang aku tuliskan di sini. 
Hari ke-2 aku lumayan mendapatkan kesempatan mengunjungi beberapa lokasi tanpa terganggu banyak keramaian, karena tiga hal: bukan hari libur, orang banyak yang menahan liburan ke Dieng menunggu sekalian pas Dieng Culture Festival, dan hari ini cuaca bisa terbilang cerah.

Jadi pagi-pagi buta aku sudah ikut antrian berdiri di puncak Sikunir untuk tidak melewatkan pemandangan matahari terbit yang aku tulis di sini. Aku bisa dibilang termasuk rombongan terakhir yang turun ke bawah. Seperti biasa tempat yang sudah nge-hits seperti ini banyak yang naik tak lebih dari sekedar "aku sudah sampai kesana, kamu kapan?".

Bagian telaga warna yang jarang didatangi orang
Dari Sikunir aku sempat duduk dan berjalan memutar sebentar di Telaga Cebongan. Sayang aku tidak sempat mencari spot dari Puncak Sikunir yang bisa memotret telaga Cebongan dari atas.

Dari Cebongan aku jalan balik ke arah homestay dan mengunjungi Kawah Sikidang, aku belum membuat cerita sendiri tentang Kawah Sikidang. Sebenarnya hari sebelumnya saat masuk ke Kawasan Candi Arjuna itu tiketnya plus dengan Kawah Sikidang. Hanya karena kemarin gerimis dan hujan silih berganti gak jelas jadi cuma bisa muter di candi Arjuna-nya. Setelah dari Kawah Sikidang barulah aku masuk ke kawasan wisata Telaga Warna yang sudah aku tulis di sini.

Tapi terus terang aku akhirnya menyerah bertahan sehari lagi untuk berjibaku dengan dingin, padahal setelah aku pikir-pikir sayang juga aku tidak menambah sehari. Kalau masalah dingin, kata orang Dieng sih saat ini belum apa-apanya. Jika puncaknya suhu bisa mencapai minus 4 derajat bahkan kadang ada fenomena bun upas yang menjadi mala petaka buat petani.

Dan di sinilah kakiku berlabuh di hari kelima, tergeletak di dipan dengan kipas angin yang bunyinya agak berdecit kurang oli di Yogyakarta. Setelah sukses merayu mas-nya yang jaga homestay di Dieng buat ngembaliin duitku yang sudah kubayar di awal.
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 01 Februari 2017

Situs Tuk Umbul / Pesanggrahan Rejowinangun

Bagian dalam Situs Tuk Umbul
Situs Tuk Umbul yang telah dipugar namun kolam belum dialiri air
Hembusan angin mengurangi panas terik saat aku berdiri di atas bangunan tertinggi. Terlihat Sekar, keponakanku yang berusia 3,5 tahun berlarian sambil berteriak kegirangan ingin menyusul naik ke atas. Bocah perempuan itu dengan tangkas dan lincah menyusuri tiap sudut lorong, menyelinap di antara ruangan dan menapaki tangga bersama ibunya. Sepertinya Sekar lebih mengenal tempat ini dibanding aku. Mungkin karena situs ini telah menjadi arena bermainnya.

Tangga  masuk Situs WarungbotoAku pertama kali mengunjungi situs ini Agustus tahun 2013, dua bulan setelah kelahiran Sekar. Waktu itu kondisi bangunan masih terbengkalai dan tidak terawat. Sangat disayangkan bila Taman Air peninggalan Sultan Hamengkubuwono II ini tak terurus. Situs ini awalnya adalah petilasan yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I dan pembangunannya diteruskan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II. 

Dahulu tempat ini menjadi pesanggrahan atau peristirahatan Sultan dan keluarganya sebelum Taman Sari dibangun. Namun akhirnya Taman Air Pesanggrahan Rejowinangun atau Tuk Umbul, yang bermakna mata air ini pun dipugar dan diresmikan pertengahan tahun 2016.

Sejak diresmikan pertengahan 2016 lalu, situs Tuk Umbul ini mulai ramai didatangi para peminat sejarah, pecinta fotografi atau sekedar wisata swafoto/photo selfie. Kebetulan untuk sementara ini belum diberlakukan tiket masuk bagi pengunjung. Lokasinya pun mudah dijangkau karena berada di Jalan Veteran No. 77, Warungboto, Umbulharjo, tidak jauh dari Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. Situs Tuk Umbul juga biasa juga disebut dengan nama Situs Warungboto, sesuai dengan lokasi situs ini berada.

View Situs Pesanggrahan Rejowinangun
Situs Tuk Umbul ini terbagi menjadi beberapa ruangan. Ruangan teras yang menghubungkan dengan kolam air. Terdapat kolam terbagi menjadi dua bagian. Sebuah kolam kecil berbentuk lingkaran dengan air mancur, dan kolam lain yang besar berbentuk segi empat. Ada sebuah saluran air menghubungkan dua kolam tersebut.

Membayangkan bila para putri mandi berenang di kolam saat panas terik apa tidak membuat kulit jadi gosong ya? Atau mungkin sebaliknya berendam di air sebagai penghalau panas disamping penyegar mata bagi yang melihat? Jadi kepo.. hehehe.

Di belakang kolam ada ruangan yang memiliki tangga di kanan dan kiri agar terhubung dengan bagian atas seperti benteng. Di sisi kanan dihubungkan dengan ruangan  berjendela besar, lorong dan tangga untuk menuju bagian bangunan tertinggi situs. Mungkin dahulu kala setelah para putri mandi bisa main petak umpet di sini seperti yang dilakukan Sekar tadi hehehe.

Di atas bangunan tertinggi ada pintu gerbang yang menghubungkan teras atas dengan bagian tengah atap. Aku sebut sebagai "gerbang langit". Dari sini terlihat pemandangan perumahan penduduk, jalan Veteran dan Kali Gajah Wong.

Selesai berkeliling situs, aku berteduh dibawah pohon rindang yang terletak disisi kanan bangunan. Semilir angin malah membuatku mengantuk. Harusnya aku membawa tikar biar bisa sekalian rebahan. Ah dasar muka bantal hahaha.

Saat ini di sekeliling lokasi situs telah berdiri beberapa warung/kafe bagi pengunjung untuk melepas lelah setelah berkeliling. Namun aku lebih memilih berteduh dibawah pohon.. lebih adem.
Situs Pesanggrahan Rejowinangun sebelum dipugar
Penampakan kondisi situs Tuk Umbul dahulu sebelum dilakukan pemugaran
Bila suatu ketika anda sedang mampir di Yogyakarta, aku sarankan berkunjung ke sini. Sayang kalau terlewatkan mengunjungi lokasi ini karena Situs Tuk Umbul bisa menjadi alternatif wisata edukatif.

Foto dan teks: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 22 Januari 2017

Tour de Jawa: Surabaya-Jakarta (1)

Galaksi Bima Sakti di atas Pantai Klayar
Malam di pantai Klayar yang sepi, sayang awan menghalangi pemandangan galaksi Bima Sakti
Bis kecil yang muat sekitar 20-an orang sudah mulai sepi, satu demi satu penumpang turun. Kondektur yang merangkap kernet juga lebih memilih duduk di salah satu kursi, tidak bergantungan di pintu seperti biasanya. Pertanda kami adalah penumpang bus terakhir. Desahan lega terdengar jelas saat pantatnya yang agak gemuk jatuh di kursi bis. Untung sore ini jalanan sempat diguyur hujan jadi hawa dingin segar berhembus dari lubang kaca jendela yang terbuka.
Liukan demi liukan bis menembus hutan wilayah antara Tulungagung - Pacitan. Inilah bis kedua yang membawaku dalam rencana perjalanan seminggu Surabaya - Jakarta melalui jalur lintas selatan. Sebuah tas ransel 60 liter berwarna biru teronggok di belakang yang akan menjadi teman perjalananku selama seminggu ini. Entah tempat saja yang akan aku lalui, aku akan membiarkan setiap peta terbuka sendiri di setiap tempat persinggahan baru. Aku hanya punya satu rencana yang harus kudatangi dari perjalanan ini: Dieng.

Hari 1: Menginap di Pacitan
Sopir berteriak-teriak, "bis terakhir, bis terakhir". Mengingatkan para penumpang yang masih belum masih ke dalam bis termasuk aku. Kopi hitam panas baru sempat kureguk sedikit karena masih terlalu panas. Aku memaksakan untuk bisa meminum sampai setengah sebelum beranjak naik ke bis. Agak ada rasa kebas di lidah, ah biarkan saja toh nanti juga sembuh sendiri.
Pengunjung di atas bukit pantai Klayar
Tak lama setelah aku naik, bis berjalan pelahan meninggalkan terminal yang kondisinya berantakan. Mencoba menambah penumpang sebelum meninggalkan kota Tulungagung. Kata kondektur, kalau sudah sore begini jarang ada yang mau naik bis ke arah Pacitan.

Bus hanya sarat muatan sampai pertengahan jalan, belum sampai Ponorogo jumlah penumpang sudah kurang dari setengah kapasitas bus. Makin mendekati Pacitan makin sedikit jumlah penumpang. Suasana makin sepi sementara langit makin gelap. Saat Maghrib tiba, sepanjang jalan terdengar lamat-lamat suara adzan dari musholla dan masjid saling bersahut-sahutan. Selepas Maghrib nyaris hanya deru bus yang aku dengar membelah hutan yang jalannya meliuk-liuk seperti tak ada habisnya.
Entah kebiasaan entah karena mengejar waktu, bus nyaris tidak banyak mengurangi kecepatan saat menikung membuat harus terbanting ke kiri kana melawan arah tikungan. Mendekati Pacitan aku lihat tinggal tiga orang. Aku bingung mau ngobrol dengan siapa karena yang satu dari percakapan jelas akan turun sebelum masuk kota Pacitan, hanya perempuan di depanku yang tadi saat naik sudah tanya ke sopir mau turun di kota Pacitan. Sayangnya perempuan di depanku yang diam meringkuk di dekat jendela yang sengaja dibuka. Tak ada suara namun aku bisa melihat wajahnya yang pasi. Kulitnya yang putih semakin memperlihatkan keberpucatannya, kegelisahan tampak nyata dari keringat besar-besar di dahinya di suasana yang cenderung dingin. Sepertinya dia sedang menahan mabuk, aku melihat dia meremas sebuah plastik hitam yang kelihatan kosong. Goyangan bus di tikungan memang ampun. Tak berapa lama terdengar bunyi hoek.. ah muntah juga rupanya.

View Seruling Samudera dari atas bukit
"Mas, turun sini mas, itu ada hotel di seberang kanan," teriak sopir bis mengingatkanku.
"Lho, gak ada hotel yang dekat alun-alun pak," tanyaku ragu.
"Kita mau belok mas gak lewat alun-alun sudah malam,"... Ah, beginilah kalau naik bis malam hari, kalau supirnya mau balik sebelum titik terakhir yang disitulah kita harus turun. Tapi gak papa lah daripada kelewatan sampe masuk pol bisa lebih runyam masalahnya. Di seberang hotel persis aku turun hanya tampak satu hotel, satu-satunya. Namanya terpampang jelas: Hotel Permata.

Perjalanan pertama ini aku tak ingin berfikir banyak, aku memutuskan untuk menginap di sini saja. Menurut informasi, kota Pacitan ini tergolong kota kecil. Jadi walaupun malam masih tampak keramaian tentu tidak mudah mencari tumpangan untuk mencari hotel di sekitar kota.

Pacitan adalah kota pertama yang aku pilih untuk disinggahi, pantai Klayar adalah salah satu alasannya. Pantai Klayar kupilih setelah menerima masukan alternatif beberapa tempat wisata yang bisa aku singgahi bila lewat jalur selatan.

Hari ke-2: Minggu di Pantai Klayar
Pagi-pagi sekali selepas sholat Subuh aku berjalan-jalan berharap pagi ini bisa mendapatkan angkutan yang bisa mengantarkanku ke Pantai Klayar. Semalam, aku coba mencari informasi dari resepsionis hotel tentang travel atau kendaraan umum yang bisa mengantarkan ke Pantai Klayar. Resepsionis sendiri menihilkan pertanyaanku, katanya sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi atau melalui travel kota-kota besar lain. 
Masih terlalu sepi di jalan, aku terus berjalan sampai di depan pasar Minulyo. Meski Pacitan termasuk kota kabupaten yang kecil di Jawa Timur, tapi suasana di pasar Minulyo cukup menyenangkan. Kondisinya yang tertata rapi membuatku terpikir dengan kondisi pasar-pasar di NTT yang masih acak kadul kalau tidak mau dibilang kurang terurus.

Suasana pagi hari di Pantai Klayar
Di pasar itulah aku ketemu pak Warno yang menawarkan tumpangan kendaraan. Pak Warno ini pekerjaannya sehari-hari nge-tem di pasar Minulyo.
Karena sepagian menawarkan tumpangan belum ada juga yang naik akhirnya menyanggupi mengantarkanku dengan motor. Untuk menggunakan jasa Colt miliknya, dia mengenakan tarif 150-ribuan sampai ke Pantai Klayar, alasannya kalau kesana tidak akan mendapat penumpang balik. Kalau motor dia minta 100-ribuan, nah lho kok bedanya dikit gitu.
Setelah sepakat dengan pak Warno, aku kembali ke hotel dan mengemasi barang-barangku. Resepsionis sedikit heran melihat aku yang check-out pagi begini bahkan masih sempat bertanya, "Tidak menunggu makan pagi dulu pak?"

Seperti dugaanku, Minggu di pantai Klayar tidak akan mendapatkan pemandangan yang seperti yang kuharapkan. Meski sudah pagi sekali, tapi pantai Klayar sudah dipenuhi wisatawan. Cerita di pantai Klayar ini sudah aku tuliskan di Basah di Pantai Klayar.

Bermalam di Pantai Klayar
Karena tidak mendapatkan view sesuai harapanku, aku memilih menginap semalam di pantai Klayar. Sebenarnya masih banyak lokasi menarik di seputaran pantai Klayar ini seperti yang ditutukan oleh pak Wito, penjual batu akik yang biasa mangkal di atas bukit pantai Klayar.

Berbeda dengan saat siang hari, saat malam hari Pantai Klayar ini akan terasa sekali sepinya. Musik dangdut samar-samar terdengar namun terkalahkan dengan bunyi ombak yang terdengar keras menghantam bebatuan. Ya, homestay ini letaknya persis di bawah bukit yang menjadi lokasi satu-satunya untuk dapat melihat Seruling Samudera. Sehingga saat malam sepi seperti ini, deburan gelombang menghantam karang akan lebih keras terdengar. Letak homestay yang jauh dari penginapan lain yang rata-rata dekat dengan jalan raya menambah suasana sepi tempat ini.

Alur balik gelombang
Tempatku menginap ini hanya ada dua kamar dengan ukuran sekitar 2,5mx2,5m dengan tempat tidur kecil dari busa dan sebuah kipas angin. Mereka minta harga 200-ribuan semalam, namun akhirnya mau dengan harga 100-ribuan dengan syarat tidak ada makan pagi. Satu kamar telah ditinggali suami istri yang sudah menginap sejak Sabtu kemarin. Penginapan ini memang masih baru, malah bisa dibilang belum selesai. Pak Isni, yang mengelola homestay ini awalnya hanya membangun warung di depan rumahnya serta beberapa kamar mandi dan toilet yang disewakan untuk pengunjung pantai Klayar. Kata pak Isni yang mengelola homestay ini, homestay sekitar pantai Klayar memang hanya ramai saat hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur. Di luar waktu itu, bisa dibilang homestay ini sepi tamu. Mereka yang datang ke tempat wisata rata-rata hanya mampir dan balik lagi, jarang yang menginap. Bahkan tidak ada kendaraan umum yang sampai ke pantai Klayar, rata-rata berakhir sampai di Gua Gong. Makanya mereka cukup heran aku yang berani kesini tanpa kendaraan pribadi. Aku akhirnya memahami ucapan mereka keesokan harinya saat akan kembali.

Kata pak Esdi, dulu waktu dia pertama kali datang ke tempat ini masih sangat sepi. Darah Madura yang mengalir di tubuhnya telah membawanya mengelana ke banyak tempat, dan pantai Klayar telah menjadi keputusan akhirnya untuk dia tempati sampai akhir hayat. Orang tua pak Isni ini memiliki tanah yang cukup luas di daerah ini. Sekarang, katanya, berapapun harga yang dia minta banyak yang bersedia membayarnya. Walaupun tepi pantai, tapi untuk urusan air sangat lancar. Pak Esdi menarik pipa sendiri dari mata air yang berada sekitar 2 km dari tempat ini karena belum ada PDAM yang masuk wilayah ini.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya