Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Rabu, 02 September 2015

Gunung Fatuleu, Nyaris Vertikal

Senja di gunung Fatuleu
Menatap langit senja dari puncak gunung Fatule'u
Jam lima, kami baru mencapai dua pertiga perjalanan. Bisa dibilang, dua pertiga perjalanan menuju puncak Gunung Fatule'u ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Aku bisa melihat sorot mata penuh kegamangan dua orang temanku yang menatap dinding nyaris vertikal di depannya. "Nanti gimana turunnya?" Pertanyaan ini terlontar dari bibir Adis, satu-satunya cewe yang ikut di rombongan kami. Dan jawaban bahwa tempat kita naik inilah tempat kita turun nantinya membuat kami belum beranjak juga. Puncak Fatule'u dengan angkuhnya berdiri tegak seakan menantang nyali kami, akankah kami lanjutkan atau kembali dan membawa cerita gunung ini sampai di titik ini.

Istirahat di gunung Fatuleu
Istirahat di pemberhentian pertama gunung Fatule'u
Belakangan ini cerita tentang gunung Fatule'u menjadi hal umum di kalangan anak muda Kupang. Sampai-sampai muncul sebuah jargon "Jangan ngaku sudah pernah ke Kupang kalau belum ke Fatule'u". Beberapa teman yang lebih dulu kesana pun memposting foto-foto mereka, dari yang cuma memposting selfie berlatar gunung Fatule'u sampai yang berselfie berdiri di pucuk tertinggi. Untuk yang terakhir itu bagiku sangat konyol. Kalau kalian mau berpose di tempat berbahaya, coba minta orang lain yang memotret kalian jangan selfie karena posisi memotret selfie itu sangat tidak nyaman dan tidak aman. Jangan tambah potret-potret kekonyolan para selfiers yang berakhir di depan malaikat maut.
Entah gerangan apa yang membuat Fatule'u menjadi tempat anak muda menantang jiwa muda mereka sampai kemudian aku membuktikannya. Gunung itu indah, iya memang gunung itu indah dan bukan cuma gunung itu sendiri yang indah demikian pemandangan yang akan kamu lihat saat di atasnya. Dan gunung Fatule'u bukan cuma indah tapi begitu angkuh menantang nyali para pendakinya dengan dinding yang nyaris vertikal. Ketinggian puncak gunung sekitar 1.100 mdl, artinya sekitar 300 meter dari titik start pendakian bukan berarti itu sebuah perjalanan naik sederhana. Tidak ada start awal menanjak landai baru pelahan-lahan menanjak terjal sebagaimana kalau kita naik gunung. Dari awal perjalanan, kami langsung disuguhi perjalanan cukup ekstrim. Setelah kita berjalan sekitar dua ratus meter ke dalam pepohonan, maka kita akan langsung berhadapan dengan tebing batu yang harus didaki. Aku bisa melihat kegamangan di sinar mata kedua temanku yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Mereka bukan takut untuk menaikinya namun gamang bagaimana nanti mereka turunnya. Mungkin karena efek awal jalur yang langsung memanjat tebing membuat mereka dengan segera merasakan capek yang luar biasa.Di sini, aku melihat seorang Imam yang bisa tampil menjadi penyemangat. Dia dengan sabar mengajak Adis dan Rei istirahat dulu dan tidak memaksakan diri. 
Menuju puncak gunung Fatuleu
Berhenti di setengah pendakian menuju puncak
Setelah mendaki satu kali lagi barulah kami memasuki hutan. Lebih landai memang tapi tetap menanjak dan beberapa titik tetap harus dipanjat. Jadi walaupun tampak dari kejauhan agak landai, jalan sesungguhnya tetap naik turun karena nyaris seluruh gunung ini adalah dari batuan karang. Untungnya memang batuan di sini tidak mudah bergeser sehingga meski ada tonjolan kecil kami berani jadikan pegangan kala mendaki.
Hengki, seorang anak muda yang umurnya mungkin tidak lebih dari 17 tahun menjadi guide kami dengan cekatan memanjat terlebih dahulu dengan sendal jepitnya. Jalur yang dilalui di banyak titik tidak memiliki jalur jelas untuk dilewati. Beberapa kali kami kecele waktu melihat jalur yang landai tapi diperingatkan oleh Hengki pada di ujung jalan itu justru menunggu jurang. Jadi memang peran Hengki untuk menjadi guide kami sangat berarti, aku bahkan belum berani kesini lagi tanpa guide. Karena Rei sudah kepayahan akhirnya Hengki yang membawakan tas milik Rei sekaligus tas tripod-ku. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang telah selesai dan hendak turun ke bawah. Dengan jalur tunggal seperti ini, mereka mengalah menunggu kami semua selesai naik ke atas baru gantian mereka. Inilah kesulitan berikutnya jika gunung Fatule'u didaki ramai-ramai, bisa-bisa antriannya ngalahin kemacetan Jakarta.
Puncak pertama gunung Fatuleu
Akhirnya sampai di puncak pertama
Akhirnya sampailah aku pada titik dimana orang-orang muda suka menyombongkan diri jika sudah berhasil mencapai ke atas. Tebing tegak dengan kemiringan antara 70º sampai dengan 80º setinggi 200 meter berdiri di depan kami membuat kami terhenti. Ada kegamangan akankah kami berhenti disini atau melanjutkan perjalanan menuju puncaknya yang tampak angkuh menantang siapapun yang ingin menggapainya. Aku juga sempat memberikan pilihan jika mau berhenti di sini saja karena perhitunganku pastilah perjalanan kembali akan sampai malam hari. "Kita naik saja pak, sudah tanggung nih," kata Rei. Aku salut dengan mereka berdua yang tetap bertekad untuk tetap menyelesaikan pendakian ini sampai ke puncak. 
Dan dimulailah pendakian yang sungguh menegangkan. Hengki meminta kami merambat naik melalui patahan-patahan dinding batu. Pelan-pelan kami naik ke atas. Hengki yang terlebih dahulu naik terus membimbing Rei dan Adis, sementara Imam naik dari sisi lain sambil mengamati mereka berdua. Aku sendiri naik paling terakhir untuk mengabadikan perjalanan ini dalam rana kamera. Setelah aku mengemasi kamera, aku mulai ikut naik menyusul mereka. Namun karena aku terganggu dengan sendalku, akhirnya aku memutuskan melepas sendal dan mendaki dengan kaki kosong. Justru dengan cara ini aku dengan mudah bisa menapak di dindingnya dengan cepat. Beberapa orang yang mau turun heran melihat aku yang justru naik tanpa sendal. Hehehe, mereka belum tahu kalau kakiku ini masih kaki orang kampung paling udik yang lebih nyaman jalan nyeker daripada pakai sendal. Ini kulit kaki tebelnya aja ngalahin kulit badak (untung mukanya kagak muka badak).
Bersantai menikmati senja dari puncak kedua
Pelahan tapi pasti akhirnya satu demi satu kami berhasil mencapai puncak pertama. Di atas telah menunggu rombongan terakhir yang mau turun. Jadilah saat ini kami menjadi rombongan terakhir di puncak. Dan terbayarkan perjuangan di puncak dengan pemandangan sekitar yang memukau kami, apalagi kami di puncak tepat saat matahari tidak terik karena telah menjelang tenggelam di ufuk barat. Dari puncak pertama, kami bisa melihat laut Kupang di kejauhan dan beberapa bukit lain yang menantang untuk kami datangi lain waktu. Angin dingin langsung menerpa wajahku. Maklum dengan ketinggian sekitar 1.100 mdl yang artinya lebih tinggi dari SoE, makin mendekati malam tentu akan semakin dingin.

Tak seperti yang kami duga, ternyata di puncak tak ada tempat landai yang datar. Walau dari bawah, penampakan gunung bagian atas seperti rata ternyata itu merupakan tonjolan-tonjolan batuan yang formasinya sekilas seperti batu utuh. Akhirnya kami duduk seadanya di puncak di batu yang miring. Ada beberapa puncak yang untuk dicapai satu sama lain tetap harus berjuang menelusuri, seperti di bagian utara tampak bendera merah putih dan bendera lain seperti bendera pramuka terpasang. Juga di sebelah timur-nya ada bendera BRI yang juga terpasang. Sayang kami tidak membawa bendera supaya bisa ikutan nampang.


Berpose dengan latar belakang gunung Fatule'u
Tapi ada satu kejadian yang membuat aku sempat marah karena salah satu temanku tanpa babibu tiba-tiba membuang begitu saja botol bekas minuman. Saat aku marah dan memberitahunya justru Hengki membuat pernyataan yang mengejutkan. "Oh tidak apa-apa pak, pengunjung lain juga udah biasa kok membuang sampah ke bawah." Gantian aku yang langsung menceramahi Hengki supaya sebagai guide dia justru harus memperingatkan pengunjung lain supaya tidak membuang sampah sembarangan, jangan justru membiarkan seperti itu. Aku sengaja menceritakan kelakuan temanku bukan untuk mengolok, tapi biarkan ini menjadi kesalahan pertama dan terakhir dia. Aku berharap kejadian ini diingatnya, dan bahkan bisa ikut terlibat untuk memberikan kesadaran ke orang lain agar tidak sembarangan membuang sampah. Jika setiap orang yang naik ke atas gunung Fatule'u ini kita biarkan membuang sampah begitu saja, maka dalam 5 tahun ke depan mungkin gunung Fatule'u bukan hanya menjadi gunung batu tapi juga gunung sampah. 
View gunung Fatuleu
Hengki berlatar view gunung Fatule'u dari jalan masuk
Apakah saat pengunjung dipungut 5ribu per motor (2.500 rupiah per kepala), terus pengunjung punya hak untuk membuang seenaknya dan menjadi penanggung jawab petugas di sini sepenuhnya? Ingatlah, gunung, bukit, danau dan tempat wisata lain bukanlah tempat sampah, bawalah sampah yang anda buat, syukur-syukur kalau mau ikutan membawa sampah yang dibuang orang goblok lain.

Catatan: Naik gunung ini bukan lagi sekedar mendaki tapi sudah kategori rock climbing (memanjat tebing) sehingga disarankan untuk benar-benar berhati-hati. Jangan menantang teman kecuali mereka memang berniat untuk menaikinya. Walaupun bukan lokasi yang sulit dipanjat tapi kesalahan kecil yang diabaikan bisa berakibat fatal, persiapkan fisik dengan benar. Jangan sampai anda berangkat utuh, pulang tinggal nama. 
Jika lokasi ini dikelola betul, saya yakin tidak akan dibolehkan orang naik tanpa pengaman/tali. Tapi bukan karena tidak ada pengaman/tali artinya tempat itu bisa sembarangan didaki.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 24 Agustus 2015

Menikmati Kembali Air Terjun Ogi

River and waterfall of Ogi
Pemandangan air terju Ogi dari aliran sungai saat senja hari.
Gemuruh air terjun baru terdengar saat kami mulai dekat ke arah air terjun tanda kalau air terjun Ogi saat ini sedang berkurang banyak debitnya. Walau begitu, pemandangan yang ditampakkan tetaplah menawan walau sudah ada bangunan tembok penahan.

Ogi waterfall
Bebatuan dan rerumputan membentuk pemandangan yang menawan
Air terjun ini masih menyimpan keindahan sama sebagaimana memory yang terekam dalam ingatanku saat mengunjungi air terjun ini 5 tahun yang lalu. Kenangan yang masih terekam di memory otakku selain keindahannya juga tingkat kesulitannya menuju kesana. Air terjun ini pernah aku tulis di sini, saat itu hanya ada satu foto yang aku bisa pajang dan berjanji suatu ketika akan datang lagi untuk memotret tempat ini kembali.
Lokasi air terjun ini tidak jauh dari kota Bajawa mungkin sekitar 6 km, tepatnya ada di desa Faobata. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh ditempuh tapi jarang dikenal dibanding misalnya sumber air panas Mengeruda atau kamput adat Bena misalnya. Mungkin karena lokasi-lokasi yang aku sebut tadi memang sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata. Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang ingin memotret langsung air terjun ini malah mengalami naas. Tulang kakinya retak gara-gara terpeleset saat berjalan menyusuri parit saluran air menuju air terjun. Kasihan juga saat dia tunjukkan hasil rontgen kakinya. Aku pun pernah nyaris mengalami masalah yang sama, cuma untungnya saat itu aku terpeleset di parit yang masih berupa tanah bukan parit yang dari pasangan batu. Waktunya pun sama, saat bulan-bulan hujan. Kenapa aku dan temenku memilih jalan parit bukan jalan biasa? Karena tidak ada jalan lain menuju kesana selain melalui jalan itu. 
Dulunya memang ada jalan yang sempat mengalami perkerasan di sisi pinggir tebing yang mengitari air terjun, tapi aku hanya pernah melihat sisanya tak lebih beberapa meter dari jalan. Saat itu banyak sekali longsoran, dan longsoran yang aku lihat itu bukan longsoran pertama. Artinya, jalan itu mungkin telah hilang terkena longsoran berulang kali sehingga tidak bersisa sama sekali. Mungkin, aku hanya bisa mereka-reka sendiri.

View from west of Ogi waterfall
View air terjun Ogi dari sudut barat, uap air sampai ke sini
Bulan Agustus ini aku berkesempatan mengunjungi air terjun. Tapi bulan Agustus juga menjadi bulan simalakama, satu sisi lokasi air terjun enak didatangi karena bukan bulan hujan sehingga kondisi lokasi pasti lebih nyaman dijangkau tapi yang menjadi masalah justru kota Bajawa tempat aku menginap. Jika pada hari Selasa (18 Agustus) saat kedatangan saja suhu pada saat mulai malam turun sampai 19°C, maka pada hari Rabu aku harus merasakan dinginnya Bajawa yang menembus suhu 15°C pada malam hari dan turun sampai 12-13°C saat dini hari (seingatku jam 3 pagi). Aku harus rela memasukkan kepalaku ke dalam topi rajut yang hanya menyisakan mulut saja. Walhasil, paginya aku harus melihat wajahku penuh dengan motif rajutan.. Bajawa pada bulan-bulan seperti ini memang bukan pilihan terutama buat kalian yang tidak terlalu suka suhu dingin. Aku juga biasanya menghindari penugasan ke tempat seperti ini pada bulan-bulan begini namun memang lagi rejeki, aku harus menikmati pekerjaan di Bajawa justru saat puncak dingin seperti ini.
Siksaan ini makin bertambah saat berkendara dengan motor pada pagi hari menuju air terjun. Stang motor kurasakan seperti es kering yang membuat tanganku terasa nyeri kaku.
Berulang-ulang aku harus mengibaskan atau meniup tangan untuk menghilangkan rasa beku. Rasanya kebas sekali. Tapi perjalanan pagi ini aku lakukan untuk membuktikan apakah ada kabut pagi hari ini di air terjun. Aku berharap bisa menemukannya pagi ini.

Rainbow over the Ogi waterfall
Pelangi di atas air terjun Ogi
Perjalanan banyak terbantu karena sepanjang 3 km perjalanan ke arah Faobata telah mulus rata. Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di pinggir kampung yang dipenuhi lahan persawahan. Persawahan di sini memanfaatkan aliran air terjun. Penduduk menyarankan aku untuk terus masuk dengan motor terus ke dalam mengikuti jalan kecil dari tanah, katanya sekarang jalan itu bisa terus dilalui motor sampai dekat air terjun. Motor sewaan yang aku sewa 120ribu untuk kemarin sore dan pagi ini akhirnya aku bawa ke dalam. Walaupun jalannya masih berupa jalan tanah namun karena kering jadi mudah dilewati. Melihat kondisi ini, sepertinya jalan ini akan tetap tak bisa dilewati jika musim hujan karena tanahnya yang berupa tanah liat akan menjadi lunak dan jalan berubah menjadi kubangan. Setelah melewati beberapa ratus meter dengan pemandangan persawahan di sebelah kiri maka pada titik akhir kita akan melihar sebuah rumah penjaga bangunan pembangkit listrik. Ya, di sini memang telah lama berdiri PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) walaupun sampai saat ini belum beroperasi. Di belakangnya terdapat sebuah tangga naik yang memiliki kemiringan cukup ekstrem yang sepertinya digunakan untuk petugas PLN memasang alat di bagian atas air terjun. Beberapa meter setelah menyusuri parit saluran air barulah sampai di tampak air terjun yang dikelilingi bukit tegak lurus. 
tangga ke atas air terjun Ogi
Tangga terjal menuju bagian atas Ogi
Dengan ketinggian sekitar 30 meter, air yang masih cukup deras meluncur akan menciptakan kabut air yang naik seperti uap beberapa meter. Uap air yang naik ini bahkan bisa sampai lebih jauh tergantung arah angin. Di sebelah air terjun terdapat sebuah bukit dengan batu-batuan yang dikelilingin tanaman rumput dan perdu, mungkin karena tempat ini selalu basah sehingga menjadi lokasi yang subur bagi tanaman-tanaman itu. Keberadaan bukit itu menjadikan view air terjun Ogi semakin menawan, namun tidak untuk mengambil foto dari lokasi itu. Aku harus berpikir cara mendapatkan angle yang bagus dari lokasi itu karena harus berhadapan dengan uap air yang tentu menjadikan kamera tidak tajam yang bahkan tampak di hasil foto. Setelah melewati bebatuan sungai untuk menyeberang, aku berjalan mengikuti jejak sisa menuju ke bukit kecil itu, batu-batuan itu cukup mudah untuk dinaiki namun tetaplah hati-hati karena beberapa perdu yang hijau ternyata dibawahnya berupa tanah lembut yang dengan mudah akan membuat anda terpeleset.
Walaupun tangga yang ada di samping air terjun dapat dinaiki, tapi aku tetap menyarankan untuk berhati-hati karena di beberapa titik, pegangan yang ada telah rusak. Kata bapak penjaga, kadang-kadang mereka yang kesini suka iseng menjatuhkan batu-batu dari atas, atau mereka sengaja turun melalui rail pegangan. Akibatnya bisa diduga, dari kaca bangunan gardu pembangkit listrik yang pecah, rail pegangan tangga yang patah atau justru mereka sendiri yang celaka. Itulah kenapa bapak penjaga suka melarang anak-anak muda naik ke tangga itu karena kelakuan mereka kadang agak sulit dikendalikan. Masa remaja memang masa mereka saling menyombongkan diri kan. Lihat saja aksi vandalisme yang mereka lakukan, mencoret-coret nama mereka dimana saja, di pohon, di bebatuan. Mereka bisa menggunakan pisau, cat, atau menulis dengan menggunakan semen (yang satu ini tampaknya memang niat banget).
rainbow over the Ogi waterfall
Pelangi di atas air terjun
Kalau kalian mau melihat pelangi di atas air terjun cobalah datang pada sekitar jam 7 pagi saat matahari sudah menyinari tempat ini. Kabut air yang deras akan menciptakan bayangan pelangi. Terus terang pemandangan ini asyik dinikmati mata tapi agak sulit untuk direkam dalam kamera. Entah aku yang masih bodoh cara mengambil foto situasi seperti ini. Bahkan jika mau naik ke atas bukit maka pelangi yang tampak akan berbentuk nyaris sepenuh lingkaran. Tapi itu tergantung seberapa kencang kabut terjadi dan sudut cahaya matahari. Kalian tidak akan melihat pelangi ini saat sore hari karena matahari akan tertutup perbukitan yang melingkupi bukit ini.
Kalau kalian mau kesini, jangan lupa untuk bertanya kepada penduduk setempat ya karena tidak ada papan petunjuk bahkan di pinggir jalan menuju ke sana. Mungkin karena air terjun Ogi ini belum menjadi lokasi wisata. Ya untungnya, karena belum menjadi lokasi wisata jadi tidak ada pungutan. Tapi dengar-dengar dengan bapak penjaga, mungkin sebentar lagi ada kerjasama dengan pariwisata untuk pembangunan lokasi ini. Menjadikan lokasi ini tempat wisata? Bagus sih, asal direncanakan dengan benar dan tidak asal proyek jalan saja. Tidak membuat bangunan yang justru membuat lokasi ini jadi tampak aneh.
Dan yang pasti, tempat ini bukanlah tempat kalian bebas membuang sampah. Selalu jaga kebersihan, jika tidak ada tempat sampah tak ada salahnya kalian bawa dan buang nanti di tempat yang ada sampahnya. Tidak terlalu merepotkan kan hanya membawa sampah yang kalian buat sendiri, syukur-syukur ikut membawa sebagian sampah orang lain yang tidak bertanggung jawab disini. Karena hal yang paling menjengkelkan saat sebuat tempat wisata telah dikelola justru malah membuat pengunjung makin gak bertanggung jawab. Merasa telah membayar jadi bisa seenak jidatnya membuang sampah.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 16 Agustus 2015

Akhirnya Liburan Bareng Anak-Anak (1)

senja, SoE
Mampir menikmati pemandangan sore di jalan tanjakan baru menuju ke SoE
Libur lebaran tahun ini rencananya ke Jakarta, maklum anak-anakku terutama di kecil gembul belum pernah jalan ke Jakarta. Kebetulan neneknya juga udah kangen liat cucunya udah segede apa. Sayang tiket yang udah dibeli dari tiga bulan sebelumnya kandas hanya karena tepat hari Hyang bersamaan dengan hari raya Idul Fitri semua penerbangan dari dan ke atau lewat Surabaya dibatalkan. Apa lagi kalau bukan karena gunung Raung yang semula cuma meler-meler ingusan sama sekali-kali bersin akhirnya meletus. Pembatalan penerbangan ini memang sudah aku ketahui malamnya saat mencoba check-in secara online dan selalu gagal.
Pagi-pagi aku bareng bini coba ke bandara untuk memastikan perubahan jadwal. Aku memang tidka berminat membatalkan penerbangan karena ribetnya proses kembali uang (pengalaman dulu bisa dua bulan baru kembali). Itu pun dari awal, pihak maskapai menyatakan kalau pengembalian bukan langsung kepada pembeli tiket tapi kepada agen tepat aku membeli tiket. Padahal aku pesen tiket juga lewat online. Karena memang ketersediaan tiket pengganti agak jauh mendekati batas akhir cuti bersama, akhirnya aku memilih memindahkan waktu yang lebih longgar, kasihan kalau anak-anak liburannya hanya sebentar saja.
air terjun oehala
Karena dingin pagi, air terjun malah jadi terasa hangat
Sekarang masalahnya karena memang udah niat mau lebaran di Jakarta jadi tidak menyiapkan makanan sama sekali. Sementara kalau tetap tinggal di rumah siap-siap saja ketemu dengan tuyul-tuyul kecil yang akan menyambangi rumah untuk ikut berhari raya. Lewat pertimbangan singkat akhirnya aku dan istri memutuskan akan berlebaran di Atambua, kota kelahiran ibunya.
Gak mudah, karena pengalaman sebelumnya anak-anak mabuk berat waktu naik kendaraan bareng Abah Aswar (bapak besar-nya). Jarak tempuh Kupang-Atambua yang sekitar 300km dengan beberapa medan naik dan turun SoE yang penuh tanjakan dan kelokan tentu bukan jarak yang menyenangkan untuk dijalani anak-anak. Tapi perjalanan ini harus aku lakukan lagi terutama untuk membiasakan anak-anak, tapi penting juga membuat mereka nyaman dengan perjalanan darat. Dan hari itu aku harus bisa membuktikan ke anak-anak bahwa perjalanan darat itu tetap bisa menyenangkan. Sebenarnya abah Aswar menawarkan jalan bareng besoknya, tapi anakku yang cewe udah kasih pesan duluan, jangan jalan bareng abah ya ayah. Rupanya dia masih trauma dengan mabuk berat dulu itu.
sisi lain air terjun oehala
Sisi lain air terjun Oehala
Setelah packing-packing kayak orang pindahan (pindah rumah tiga hari), sekitar jam satu siang mobil merah "Baleno"-ku akhirnya meluncur ke arah SoE. Aku memilih jalan santai, di beberapa tempat aku memilih berhenti terutama jika anak-anak merasa jenuh atau agak pusing. Walhasil, jam lima seperempat sore mobilku baru sampai ditanjakan jalan baru SoE. Lumayan buat istirahat sekaligus menikmati senja. Ada beberapa mobil dan motor yang juga berhenti disana menikmati senja. Terutama tentu saja beberapa anak muda yang siap pose salam dua jari kepala miring. Jaman selfie dan medsos sekarang menjadikan setiap tempat yang menarik dengan cepat menjadi magnet para nyamuk-nyamuk muda ini untuk berkerumun dan berselfie ria.. bedo karo jamanku (jamanku kamera muahaaall, medos juga gak ada yang kenal).
Ternyata penginapan di sekitar SoE banyak yang sudah penuh, ini semua di luar perkiraanku. Setelah cek-cek hotel, akhirnya baru dapat di hotel Blessing. Hotel yang masih tergolong baru terletak di dekat pom bensin pertigaan masuk menuju Kota SoE. Cuaca SoE bulan Juli memang terasa dingin daripada bulan-bulan biasa sehingga aku dan bini memutuskan untuk tidak keluar kamar. Untung persiapan makanan komplit jadi cukup makan di kamar saja. Kebetulan pula aku mendapatkan kamar di lantai 2 yang berhadapan dengan restoran jadi bisa ambil air minum kapan saja 24jam.
Pagi-pagi setelah makan pagi, aku ajak anak-anakku mampir ke air terjun Oehala. Dengan jarak yang tidak lebih dari 15 km, aku tidak perlu bergegas meninggalkan hotel. Seperti biasa aku harus ekstra mengawasi Deva, karena si bungsu ini semangat eksplore-nya tinggi kalau melihat tempat baru. Aku harus sedikit menebalkan telinga saat mendengar teriakan-teriakan ibunya yang ibunya yang sibuk memperingatkan si bungsu.


Border gate Indonesia-Timor Leste
Menuju gerbang masuk ke Timor Leste
Kakaknya juga semangat sekali, dia turun lebih cepat mendahului ibunya untuk sampai ke air terjun. Dia juga yang pertama kali memasukkan kakinya dan berteriak kalau airnya hangat, padahal itu hanya efek karena cuaca SoE pagi hari yang dingin. Aku saja tidak perlu menghidupkan AC mobil sepanjang perjalanan kesini. Kakaknya yang menyelupkan kaki duluan, tapi adiknya yang semangat mandi sampai lepas baju semua alias bugil.
Baru menjelang siang aku kembali melanjutkan perjalanan ke Atambua. Perjalanan dari SoE menuju Kefamenanu memang berupa turunan tapi aku tetap berkendara lambat karena banyaknya tikungan yang cukup berbahaya. Yang agak lumayan cepat setelah melewati kota Kefamenanu karena jalur disitu tidak banyak tikungan tajam. Aku sampai di Atambua sebelum Maghrib. Walaupun kadang-kadang anak-anak minta berhenti sebentar karena sedikit pusing, namun untungnya selama perjalanan ini mereka tidak pernah mengalami mabuk. Perjalanan pun terasa lebih menyenangkan, walaupun Deva justru mulai pengen pulang saat perjalanan mulai terasa jenuh. Kota yang pernah menjadi lokasi film dari Riri Reza "Atambua 39° Celsius" menjadi kota jarak tempuh terlama yang pernah dijalani anak-anak via jalur darat.
Perjalanan berbahaya justru dirasakan anak-anak saat kembali dari berlibur ke pantai di daerah Atapupu. Perjalanan kembali melalui jalur Haliwen yang melewati bukit-bukit terjal berbeda jauh dengan perjalanan berangkat melalui daerah pantai. Beberapa titik jalan ternyata banyak yang sudah rusak parah bahkan banyak yang telah longsor. Yang paling menegangkan tentu saat melewati bukit yang jalannya telah longsor menyisakan jalan penuh bebatuan besar dan patahan-patahan. Sedan yang memang tidak dirancang untuk kondisi jalan seperti ini terang saja menjadi kesulitan melintasinya. Beberapa kali istriku harus turun untuk membantu mengawasi saat aku harus melewati daerah jalan yang patah dan longsor. Bahkan bisa kulihat Shiva terdiam di dalam mobil dengan kondisi tegang. Saat berhenti sebentar di stadion Haliwen melihat pertandingan grass track motor, aku bisa merasakan dinginnya tangan anakku yang cewek saat aku genggam.
Meski dengan banyak kejadian, sepertinya aku berhasil membuat anak-anak mulai menikmati perjalanan liburan kali ini melalui perjalanan darat yang lumayan jauh. Lumayan juga saat di perbatasan bisa masuk ke dalam melewati perbatasan Timor Leste sehingga dua krat minuman kaleng yang gak ada di Indonesia. Sebenarnya kalau orang bisa masuk sampai ke dalam seperti ini biasanya yang diincer minuman kerasnya, mau black label sampai red label ada semua. Itu semua karena jasa pacar ponakan yang ternyata masih berdarah Timor Leste, bahkan om-nya pun masih bekerja di pabeanan Timor Leste sehingga dia lancar saja waktu minta masuk walau tak satupun dari kita yang memegang paspor. 

Danau Supul di Kabupaten TImor Tengah Selatan
Danau Supul saat siang hari
Kondisi berbeda saat perjalanan kembali, mungkin karena lebih santai aku jadi bisa melajukan kendaraan lebih cepat. Ada dua tempat yang aku singgahi, satu untuk makan siang dan makan sore. Satu tempat untuk makan siang ada di antara Atambua-Kefamenanu hanya seperti 1/4 jalan menuju Kefamenanu. Di pinggir jalan dengan daerah berbukit, di sana ada satu tempat lapang yang nyaman untuk duduk-duduk. Sepertinya banyak yang melakukan hal seperti aku. Dari mana aku tahu? Dari jejak sampah minuman kaleng, boks bungkus nasi, dan plastik-plastik pembungkus snack yang bertebaran. Sial, selalu aku menemukan kampret-kampret seperti ini yang cuma bisa ikut liburan tapi tidak bisa menjaga kebersihan.
Aku juga berhenti di danau Supul untuk menikmati sore sekaligus makan malam di tempat itu. Bekal lengkap dari ibunya anak-anak memang jos, kita jadi gak perlu mampir-mampir di tempat makan. Danau Supul ini terletak setelah kita melewati Niki-Niki dari Kefamenanu. Danau yang terletak di pinggir jalan ini cukup luas untuk sebuah danau, sayangnya memang masih tanpa penataan dan satu lagi: sampah-sampah sisa makanan. 
Selepas dari dua tempat itu, anak-anak nyaris terus menikmati tidur di dalam mobil. Bahkan istriku sampai tangannya mati rasa karena dijadikan bantal untuk tidur sama anak-anak.

Semoga perjalanan ini bisa menjadi bekal anak-anak untuk melewati perjalanan liburan ke Jawa tak lama lagi. Sepertinya aku harus lebih sering mengajak anak-anak melakukan perjalanan seperti ini.
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 19 Mei 2015

Telaga Warna dalam Selimut Pagi

telaga warna pagi hari
Suasana di Telaga Warna yang terasa tenang saat pagi hari
Pagi di telaga yang begitu tenang kalau tidak ingin kukatakan sunyi. Selain aku dan penjaga yang malas buka gerbang, cuma tinggal dua mahluk sepasang yang ikut nimbrung (atau aku yang dibilang nimbrung). Itulah kenapa aku suka mendatangi telaga di pagi hari, di saat tubuh yang menggigil mendambakan selimut untuk melanjutkan lelap, dimana tubuh enggan beranjak dari tempat tidur. Apalagi di tempat dimana jaket saja belum tentu bisa menahan dingin? Ah masa, lah itu  di salah satu tempat duduk kayu duduk sepasang mahluk beda jenis yang cewe pake baju full open gitu gak kedinginan tuh. Kasian juga sih, cowonya pake jaket tapi ceweknya dibiarin bolong disana-sini.


telaga warna pagi hari
Matahari mulai menyinari kabut tipis yang turun
Sebenarnya perjalananku ke tempat ini karena kebetulan ada tugas dari kantor dan ada waktu luang aku coba manfaatin untuk mengunjungi tempat-tempat yang bisa dijangkau. Aku melemparkan pertanyaan ini di status facebookku yang mungkin memiliki referensi tertentu tentang tempat yang menarik di seputaran Ciawi. Dan rasanya referensi bu Erna Gunawan yang paling menarik perhatianku untuk mencoba ke Telaga Warna. Jadinya rekomendasi moto dari masjid di Puncak Pass deket rumah makan Rindu Alam aku batalin. Yah, kadang kita feeling aja mana yang sepertinya menarik untuk didatangi.  Dan jangan tanya apakah aku akan kecewa seandainya tempat tujuan itu tidak menarik seperti yang aku duga. "For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel's sake. The great affair is to move." tuh kata dari kang Robert Louis Stevenson. Jadi salah satu alasan kenapa aku gak mudah ngajak jalan orang lain, karena banyak kita yang terpatok pada lokasi tujuan sedangkan aku sendiri lebih kepada jalannya, tujuan cuma alasan untuk berhenti sesaat.


rakit tua di telaga warna
Sebuah perahu bambu yang tidak terpakai dipenuhi tanaman
Sendiri, aku memilih berangkat pagi karena belum mengenal lokasinya seperti apa. Umumnya jika sebuah danau/telaga di daerah perbukitan yang agak terbuka atau tidak ada bukit tinggi yang menutupinya biasanya jika mulai siang sampai sore airnya menjadi bergelombang, namun jika pagi airnya akan tetap tenang. Jadi dengan pagi aku sudah hampir memastikan bahwa aku akan mendapatkan suasana telaga yang tenang apapun kondisi telaganya.
Berangkat selepas Subuh, aku memilih berjalan kaki dari penginapan di Ciawi karena pagi buta begini belum ada belum ada ojek yang nampang di depan penginapan.

Bayangan pagi di Telaga Warna
Ketenangan seperti ini hanya dapat ditemui saat pagi
Baru dari pertigaan Danamon aku bisa mendapatkan mobil angkutan ke arah puncak berbekal informasi mamang yang juga jadi sopir angkutan. Katanya sih kalau di Telaga Warna itu dingin banget jadi harus pakai jaket, mungkin dia kasian liat aku yang cuma bawa kaos dalem sama rompi yang tentu gak bisa menahan hawa adem pegunungan. Tapi mamangnya bilang jangan kuatir, di atas pasti ada yang udah buka jualan sweater atau jaket. Aku berhenti di Tugu sesuai arahan dan berganti kendaraan ke arah Cisarua, patokannya angkutan yang berwarna kuning. Kenapa musti ganti karena Telaga Warna itu sudah masuk kabupaten Cianjur jadi angkutan kota tidak bisa melewati batas. Sebenarnya ada cara paling mudah yaitu naik bis kota yang menuju Bandung atau Cianjur yang melewati Puncak Pass. Cuma karena terlalu pagi kemungkinan bisa kelamaan cuma buat nunggu bis. Tapi kalau kita browsing kok nemunya Telaga Warna, Cisarua Kabupaten Bogor ya.. jadi bingung yang bener itu masuk Kabupaten Cianjur atau Kabupaten Bogor sih?!?


View Telaga Warna dari takit tua
View dari dalam perahu yang telah tak terpakai
Setelah melewati perkebunan teh milik Argo Gunung Mas yang juga banyak dijadikan tempat wisata alam akhirnya angkutan berhenti di sebuah lokasi yang dipenuhi para pedagang. Di belakang bangunan tampak sebuah masjid kecil dan disampingnya ada pintu gebang yang menunjukkan arah menuju Telaga Warna. Gak jauh jalannya kok cuma beberapa meter nanti ketemu gerbang masuk Telaga Warna. Penjaga gerbang ogah-ogahan waktu kita mau masuk, alesannya belum buka tapi saat disodorin uang 7rebu tanpa tiket langsung ijo cepet-cepet bukain gerbang... beuhh.. kalau urusannya duit aja dimana-mana sama.


View Telaga Warna pagi hari
Persahabatan bagai kepompong, semuanya pake kepompong
Telaga Warna ini ternyata berada di sekeliling bukit yang cukup tinggi di sisi Timur dan Selatan. Ini artinya kalau pagi sampai mungkin jam 8 suasana telaga pasti masih redup. Walaupun tetap enak untuk dinikmati namun di bawah jam 8 bisa dibilang bukan momen terbaik untuk mengambil foto. Kalau mau bersabar tunggulah sampai jam 8 ke atas karena di saat itu cahaya matahari sudah mulai memasuki celah-celah pepohonan membuat panorama Telaga Warna indah terpampang. Karena sepi asyik juga mondar-mandir disini sambil cari angle-angle yang bagus tapi asli cewe satu yang ditinggalin cowoknya sendiri dan asyik foto selfie ini agak mengganggu mata. Lah masak moto selfi bukan ke arah telaga tapi kearah dimana pahanya bisa ngangkang ke arahku.. Mau gak mau aku jadi perhatiin paha segede pentungan Mr Flintstone itu, belum lagi puser sama perutnya meluber kemana-mana akibat maksa pakai baju ukuran waktu SMP (ciri-ciri perempuan yang hemat). Duh kenapa mau moto pemandangan jadi banyak gini ya hehehe......

Kabut pagi di antara kebun teh yang baru dipangkas
Tak berapa lama kemudian beberapa pengunjung mulai berdatangan, hanya beberapa sih.. dua keluarga plus sodara sama buyut cicitnya :D. Penjual sekoteng baik hati ikutan datang jadi perut yang masih belum terisi dapat diganjel sama sekoteng panas seharga 8rebu, mahal ya? Gak lah, coba kamu bikin sendiri bawa kemari aku beli 10rebu juga gak papa..
Kalau menurut catatan di depan, Telaga Warna ini masuk kawasan cagar alam yang dikelola pemerintah. Makanya saat pagi-pagi banyak terdengar bunyi burung-burung dan teriakan seperti monyet dikejauhan. Aku masih bisa melihat seekor burung kecil berbulu biru dengan paruh panjang besar terbang melintasi telaga. 
Aku memutuskan kembali sekitar jam 8.19.. cieeh, kok hapal banget sih jamnya sampai menit begitu.. Sampai di jalan ternyata kendaraan arah ke Bogor antri memanjang, sepertinya ada buka-tutup jalan. Buka-tutup jalan di wilayah ini sudah biasa terjadi apalagi saat ada liburan seperti ini. Tau sendiri kan, orang Jakarta kalau libur bawaannya pengen melarikan diri aja dari Jakarta. Jadilah Bogor, Bandung dan Puncak jadi pelampiasan mereka.

Perkebunan teh di Puncak Pass
 Aku memutuskan jalan kaki sampai ke Tugu, tapi karena perut lapar aku mampir ke salah satu warung untuk makan. Di warung itulah aku mengenal salah lagi jenis lalapan namanya daun pohpohan. Rasanya harum-harum sengir kayak daun kemangi gitu.. sayang lagi gak pengen makan sambel banyak jadi gak bisa makan lalap sepuasnya, padahal pete yang digantung deket teteh berdiri dari tadi sudah melambai-lambai minta dicicipi. Petenya lho ya bukan tetehnya... pikiran jangan jorok nape!!! :D
Setelah selesai makan dan buang air kecil di kamar mandi masjid mulailah perjalanan dengan jalan kaki menuju Ciawi. Btw tentang kencing, entah cuacanya atau karena bawaan pengen minum, sepanjang jalan aku hitung sudah 6 kali masuk ke toilet 2rebu buat kencing.. dihitung-hitung abis 15rebu cuma buat kencing (karena yang terakhir uang 5rebu gak punya kembalian jadi dikasih aja semuanya). Ternyata jalan kaki lebih cepet daripada naik mobil. Itu mobil saking lama dapat giliran buka sampai banyak yang matiin mobil lalu istirahat sambil makan atau minum di pinggir jala. Kalau sering lama-lama ditutup gitu para pedagang di pinggir jalan jadi kecipratan rejeki. Yah, ternyata dibalik kesulitan tertentu ada kemudahan. 
Para ibu-ibu pekerja sedang memanen daun teh
Entah berapa jauh jarak dari Telaga Warna sampai dengan Ciawi yang pasti sampai dengan jam satu siang lebih aku baru sampai di daerah Cimory, berarti aku telah berjalan kaki 5 jam. Yah mungkin juga karena aku beberapa kali masuk ke dalam perbukitan kebun teh jika aku melihat view-view menarik. Namun berjalan menurun saat jam buka-tutup seperti ini harus berhati-hati karena jalur yang jadi sempit jadi kadang saat bis-bis yang berukuran besar lewat aku memilih minggir di tepi. Namun beberapa motor yang kadang mendesak ingin mendahului juga jadi fokus aku. Beberapa kali aku harus naik sampai ke pinggir jalan untuk menghindari motor yang mencoba melewati bis dari sisi dalam. Untungnya lagi suasana puncak yang lagi banyak awan sehingga tidak terlalu terasa menyengat walaupun berjalan dengan matahari yang telah di atas kepala.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 26 April 2015

Kembali Menikmati Alam Bawah Laut Kupang

Underwater in the Tenau Beach, Kupang
Dengan kedalaman yang begini sudah dapat menikmati terumbu karang warna warni yang cantik tersusun
Bertemu kembali dengan ikan Nemo yang masih tetap lucu dengan warna merah oranye yang cantik, kerinduanku melihat taman laut seperti terlampiaskan. Bagi yang sering snorkling pasti juga tahu kalau ikan badut (clown fish) ini adalah ikan yang penakut, makanya mereka bermain tidak pernah dari anemon. Anemon adalah tempat sembunyi yang pas buat si ikan badut ini, sulur-sulurnya yang panjang lembut terasa agak lengket menyedot jika tersentuh. Bagi yang menyentuh anemon ini, rasanya seperti tersengat padahal hanya efek rasa lengket menyedot. Kalau gak percaya tempelin aja itumu ke anemon nanti rasain sendiri sensasinya. Maksudnya itu yang disini bang?? (tunjuk itu).. Iya, yang itu... Masih gagal paham?? Ya udah, gak usah dibahas lagi.  

Clown fish in Tenau beach
Ikan Nemo kecil ini tak akan beranjak dari anemon
tempat bermain sekaligus tempat teraman baginya
Sudah cukup lama aku gak masuk ke dalam air untuk snorkling. Terakhir aku inget bareng Kadek cs mungkin udah sekitar 2 tahunan. Yang aku inget terakhir snorkling itu gagal karena peralatan buat nyelam bocor karena karet kacamata menjadi terlipat kaku. Mungkin karena terlalu lama dibiarkan. Tak ada teman lagi untuk snorkling setelah perpindahan mereka sehingga beberapa tahun aku melupakan rasanya bermain di laut melihat terumbu yang tersusun dengan indah. Warnanya itu lho, bikin rasanya pengen lagi lagi dan lagiiiii...
Namun Tuhan memang maha baik, mati satu tumbuh satu.. (ya iyalah, tumbuh seribu kebanyakan keles)... akhirnya aku punya kesempatan untuk snorkling lagi setelah bertemu dengan Ardi, Imam dan cs-nya yang punya minat sama. 

Tenau sea's underwater
Terumbu-terumbu bersusun indah dipenuhi ikan-ikan kecil
Awalnya kita mencoba peruntungan di daerah Bolok di pantai bawah kantor balai konservasil laut apa gitu. Namun sayang saat itu laut pasang dan agak keruh. Entah aku yang salah lokasi atau informasinya yang gak update ternyata dalam radius beberapa puluh meter aku memutari daerah ini tidak melihat kawasan terumbu ini. Padahal ini berdasarkan informasi salah seorang mbak-mbak berjilbab yang menjadi pegawai di balai itu saat ketemu gak sengaja di Sabu (iyalah gak sengaja, kalau sengaja namanya nge-date). Akhirnya percobaan pertama yang gagal ini kita ambil hikmahnya (salam lekum ustat), jadilah acaranya ngajari teman-teman lain yang baru pertama kali snorkling. Macam Imam misalnya, satu-satunya gaya berenang yang dikuasai cuma gaya batu.

Tenau sea's underwater
Karang-karang besar menjadi tempat strategis terumbu hidup
Kali kedua aku memilih ke Tenau, karena beberapa titik disini aku kenal cukup baik. Anak-anak lain sempat bertanya apakah aku akan snorkling dari jalanan turunan di depan Gua Monyet. Aku bilang gak, karena aku tahu persis di sana terumbunya sudah hancur cukup banyak terutama di perairan yang dangkal. Asli parah banget, mirip korban kecelakaan setelah dijampret trus dipukuli pake sapu dan disiksa digelitiki bulu ayam sampai kencing di celana.  Ibarat kasus penganiayaan pasti udah masuk kategori pembunuhan dengan kekerasan. Ah masak iya?? Gak, boongan!
Sumpah, sebenarnya aku gak mau ragu tau jalannya karena ragu apa kalian nanti kalau kesini abis snorkling trus naksir berat sama terumbu dan ikan-ikannya trus kalian ngambil terumbu atau ikannya buat dibawa pulang. Atau lebih parah seperti mereka yang tiap kali air surut datang ke sini membawa tombak untuk mencari ikan dan mereka dengan santainya menginjak-injak terumbu karang hingga menjadi rusak tak karuan. Tapi kalau aku gak aku kasih tau, nanti dibilang hoax. Apa foto seperti di bawah ini tidak cukup menjelaskan??

Tenau sea's underwater Underwater in Tenau sea
Terumbu menjadi tempat ikan kecil tumbuh Terumbu mulai tumbuh memenuhi karang
Untungnya memang lokasi itu masih terjaga karena bentuk pantainya hanya beberapa meter yang landai sehingga menghindari orang-orang untuk mencari ikan dengan menombak disini. Itu juga menguntungkan karena cukup berenang tak sampai sepuluh meter kita sudah bertemu dengan banyak terumbu karang yang indah.
Hanya memang lokasi di sini agak sulit karena berupa karang-karang yang terjal dan tajam, di beberapa titik ada tempat untuk turun ke pantai tapi itu harus dilakukan hati-hati karena sedikit saja kita salah melangkah dengan mudah karang akan melukai kaki.
Free dive under Tenau sea's
Yang tampak paling lihai snorkling tentu saja di Irmeng, lengkap dengan baju wet dry yang spesial untuk diving bahkan membawa baju untuk pemberat di badannya. Beberapa foto ini sebenarnya adalah foto yang diambil oleh Irmeng dan Yudha yang berenang lebih ke tengah. Yudha sendiri menurutku cukup mahir dan tenang namun masih kesulitan untuk melakukan free diving di awalnya, maklum karena dia sendiri belum banyak bermain snorkling. Aku sendiri biasanya bermain di tengah namun karena harus mendampingi anakku Shiva yang juga baru pertama kali ikut snorkling sehingga memilih bermain di daerah yang tidak terlalu dalam. Namun karena sudah pintar berenang dengan cepat dia bisa melakukan snorkling dengan mudah bahkan sudah mulai bisa melakukan free diving.
Dan terakhir, inilah foto para peserta snorkling itu, termasuk anakku Shiva yang menjadi snorking termuda. Semoga foto dan tulisan ini membuat banyak orang di Kupang berminat dengan alam bawah lautnya yang sebenarnya sangat menarik. Tapi tentunya dengan diiringi tanggung jawab untuk menjaganya. Mulai saat ini, berhenti membuang sampah sembarangan di laut, karena setiap kalian membuang sampah sedikit demi sedikit perairan akan menjadi tercemar. Cieee, sok ngingetin.. ya gitu deh, pokoke happy snorkling. 

Before snorkling in Tenau sea Underwater in Tenau sea
Poses sesaat sebelum snorkling Shiva, si kecil diantara para cowo gede
Thanks buat teman-teman yang telah bersama-sama snorkling beberapa waktu lalu baik yang sudah disebutkan namanya atau yang aku lupa menyebutkan (gak sengaja nih men ceritanya). Juga thanks buat mbak Arin (si Mak Ketjeh) buat informasi lokasinya walau sampai sekarang belum sempat dikunjungi karena masih bingung hehehe.... Dan tentu saja tunggu hunting lokasi selanjutnya.
Buat kalian yang berminat dengan lokasi snorkling di Kupang, sekarang sudah ada komunitas snorkling dan diving di Kupang, silahkan kalian cari saja via fesbuk, kalau gak nemun juga boleh kontak aku nanti aku hubungkan dengan mereka yang lebih mengenal daerah snorkling di Kupang.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 26 Maret 2015

Gambar-Gambar Kecil Lain dari Alor

Suasana pagi di perkampungan sekitar Kalabahi
Cerita sedikit dari perjalananku beberapa kali ke Alor yang sempat singgahi di beberapa lokasi yang kurang dikenal oleh masyarakat luar ataupun biasanya hanya dikenal oleh masyarakat lokal. Beberapa lokasi memang bukan tempat wisata yang tidak sengaja aku lihat waktu jalan-jalan pagi nyasar-nyasar.

Pantai Maimol, Alor
Menikmati pantai? Tidak meyakinkan
Ada satu pantai yang ada di pinggir jalan antara Mali (lokasi bandara) ke arah kota Kalabahi yang masyarakat sebut dengan nama Pantai Maimol karena berada di desa Maimol... sebenarnya Maimol itu nama dusun apa desa sih..
Letaknya yang berada di antara pertengaha jalan itulah yang justru sering terlewatkan untuk dikunjungi padahal tampaknya warna airnya yang hijau dan sedikit tosca. Aku pernah sekali mandi di pantai Maimol sekitar tahun 2007-an, sudah lama sekali waktu rambut belum ada yang putih (kata orang rambut putih tanda kebijaksanaan, berarti waktu itu masih belum bijaksana :P)

Balai-balai yang dipasang penduduk untuk bersantai
Kalau dulu tahun 2007 bisa dibilang kawasan ini masih kawasan terbuka, penduduk pemilik tanah di sekitar pantai ini cenderung membiarkan aktivitas wisatawan semacam kami yang duduk-duduk di pantai atau mandi di laut. Disekitar pantai memang banyak tumbuh beberapa pohon yang membuat kita bisa dengan mudah terlindungi dari panas saat kesini siang hari. Tapi pada waktu itu kita harus membawa perbekalan sendiri, jangan harap kita akan menemukan tempat orang menjual minuman atau makanan di sekitar lokasi pantai Maimol.
Tentu saja hal itu berbeda dengan kondisi sekarang, karena penduduk pemilik tanah mulai memagari tanah-tanah di sekitarnya dengan pagar kayu/bambu. Mereka memang menambahkan balai-balai di bawah pepohonan untuk tempat bersantai sambil menikmati pantai. Beberapa penduduk juga menjadikan lokasi sekitar tempat ini untuk menjual makanan dan minuman. Kalau lagi musim jagung, maka paling mudah ya mencari jagung rebus, kalau minuman tidak ada pilihan yang lebih nikmat selain kelapa muda.
Jangan buru-buru percaya kalau ada yang menawari jagung muda. Bukan karena mereka berbohong tapi mungkin ada perbedaan muda dari kita para pendatang dengan mereka.
Suasana pantai masih cukup tenang
Pernah dua kali aku beli jagung rebus dan tanya apakah jagung muda, mereka jawab ia jagung muda. Tapi waktu aku buka dan makan terasa sekali kalau jagung ini sudah tua tetap saja penjualnya bilang kalau itu jagung masih muda. Iya sih, lebih muda dibandingkan jagung pipil yang dijual kering untuk digiling jadi nasi jagung hehehehe. Tambah lagi mereka kadang rebusnya tidak seberapa masak jadi kadang masih terasa agak mentah di bagian dalam. Lagi-lagi mereka menyangkal kalau itu sudah masak dan mereka biasa makan seperti itu. Jadi inget sama jagung bose waktu di SoE yang dimakan oleh salah satu pekerja jalan waktu istirahat. Jagung yang mereka rebus itu jagung yang sudah dipipil dan direbus setengah matang, yang mereka makan dengan rebusan daun ubi atau daun pepaya dan sambal lu'at (itu sambal aslinya pedas sekali).

Biaya masuknya cukup mahal sih, 10rebu hanya untuk duduk di balai-balai. Namun jika mau asyik coba cari nelayan-nelayan yang selesai mencari ikan. Jika beruntung bisa mendapatkan ikan-ikan segar yang sangat nikmat dibakar. Saat aku dan teman-teman sedang bersantai di sini, aku harus puas cuma bisa ngiler memandang rombongan anak muda membakar ikan yang masih segar. Dengan hanya berbekal lombok, kecap, dan garam, ikan-ikan yang dibakar ini tetap nikmat disantap. Sebenarnya mereka gak perlu garam ya, kan ikan-ikan sudah berenang di air asin seumur hidupnya, pasti sudah cukup garam hehehehe. 
Untuk mendapatkan view terbaik tidak ada salahnya kalau mengunjungi tempat ini pada pagi hari, karena memang pantai ini menghadap ke arah timur sebagaimana pantai Mali. Memang matahari tidak terbit langsung dari horizon laut karena terhalang view daratan di seberang yang masih bagian dari pulau Alor.

Pantai di Sekitar Dermaga Kalabahi

Suasana pagi di perkampungan sekitar Kalabahi
Di sekitar daerah Kalabahi memang lebih banyak pantainya berpasir hitam dan tampaknya pasir itu memang warna khas di sepanjang kawasan teluk Mutiara ini. Suatu pagi aku iseng berjalan-jalan menyusuri perkampung di dekat daerah pelabuhan. Di sepanjang jalan ada beberapa tempat yang aku lihat ada tempat menjual jajanan hasil olahan mereka. Jadi berbeda dengan suasana pagi yang sering lenggang, di kampung ini pagi-pagi sudah tampak aktivitas warganya. Setelah beberapa gang aku lewati, iseng aku masuk ke dalam melewati rumah-rumah berimpitan yang dibangun di sepanjang pantai. Tidak mudah untuk menemukan sebuah pantai terbuka karena sebagian besar sudah dipenuhi rumah-rumah penduduk entah rumah permanen atau rumah sementara. Dengan mengikuti sebuah jalan setapak sesuai arahan salah seorang penduduk akhirnya aku dapat mencapat sebuah pantai yang kiri kanan juga sudah diapit rumah-rumah.
Anakan bakau yang telah ditanam di sepanjang pantai
Lagi-lagi aku menemukan kebiasaan buruk masyarakat yang menjadikan laut tempat untuk membuang sampah. Bahkan di beberapa sudut pantai aku harus melewati gundukan tanah yang terbentuk dari timbunan sampah yang tampaknya sudah lama. Mungkin juga bangunan-bangunan ini sebagian dibangun dari menebang pohon bakau yang biasanya banyak ditemui di kawasan pasir berlumpur seperti ini.
Saat aku terus berjalan ke arah timur untuk mencari view pemandangan pagi yang menarik, aku terhenti pada sebuah batu yang disusun di pinggir laut membentuk sekat dan ternyata di balik sekat itu terdapat sebuah kawasan yang sedang ditanami pohon-pohon bakau. Calon-calon pohon bakau yang masih kecil ini bagaimanapun menjadi sebuah penyejuk yang bisa diharapkan untuk dapat besar yang menjadi pelindung bagi pantai di kawasan ini. Walaupun dari sini aku melihat tidak terlalu banyak bakau yang sedang ditanam namun aku berharap siapapun yang memiliki inisiatif ini entah dari lembaga swadaya masyarakat atau pemerintah, maka upaya ini tidak berhenti seperti ini namun dibeberapa pantai lain yang kawasan bakaunya telah mulai habis dipotong masyarakat kembali ditanami.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya