Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Kamis, 31 Oktober 2019

Berburu Bunga Konji (Sakura Sumba)

Sumba memang menawarkan berjuta pesona wisata yang sedang digandrungi banyak orang. Alam nan elok dan budayanya yang masih kental menciptakan perpaduan magis untuk dikunjungi. Lupakan padang-padang berumputnya yang seakan membawamu kembali ke dunia para, atau pantai-pantainya yang selalu menawarkan sensasi pasir putih. Mari kita menengok dunia kecil yang ternyata juga sedang mulai digandrungi wisatawan karena dianggap unik, yaitu: Pohon Konji.


Pohon Konji, orang yang akrab dengannya menyebutnya dengan nama Sakura Sumba. Disebut begitu, karena saat puncak musim berbunga yang biasanya jatuh di bulan Oktober-Desember seluruh batang pohonnya bisa dipenuhi dengan bunga. Saat itu serasa pohon ini seolah tinggal pohon dengan bunga saja. Sangat cantik. Bunganya juga punya wangi seperti melati namun jauh lebih lembut.

Tidak hanya menyebut sebagai Sakura Sumba, pohon Konji ini bahkan dianggap sama dengan pohon Sakura yang ada di Jepang. Bahkan diklaim, ada orang yang pernah tinggal di Jepang dan tahu bunga Sakura jika harumnya bunga Sakura dan bunga Konji sama. Bahkan konon katanya ikut meramaikan keindahan bunga Konji ini. Seorang pejabat di pemerintahan salah satu kabupaten di Sumba membuat cerita yang berasal entah dari mana. "Konon, Tentara Jepang menyebarkan biji sakura di pesisir pantai utara, jalur yang mereka lewati ketika memasuki Pulau Sumba". 

Apakah hal itu benar? Walaupun cerita ini kadang dibenarkan beberapa orang yang ditanya tentang asal usul bunga ini namun jawabannya tentu saja tidak. Secara ilmiah, nama latin bunga Sakura adalah Prunus Serrulataini, masuk dalam keluarga Rosaceae dengan genus Prunus. Bandingkan dengan bunga Konji yang akrab disebut sebagai sakura Sumba memiliki nama latin Cassia Javanica,  masuk dalam keluarga Fabaceae dengan genus Cassia.


Lucunya saat aku mencoba bertanya kepada masyarakat yang tanahnya ada pohon ini, justru berkata jika dirinya tidak tahu nama pohon itu. Waktu aku tanya bagaimana cara menanamnya, dia bilang pohon itu tidak bisa ditanam. Kalau ditanam terus saja mati, justru yang tidak ditanam malah hidup subur. Nah lho! 

Apakah pohon ini hanya secara spesifik di Sumba? Tentu saja tidak. Tumbuhan ini telah banyak dikenal di dunia dengan berbagai nama. Pohon Konji juga dikenal dengan nama pink shower, apple blossom tree and rainbow shower tree. Di Jawa tanaman ini dikenal dengan nama Trengguli Wanggang atau Bebondelan oleh masyarakat Sunda.

Tumbuhan ini asal usulnya dari Asia Tenggara, namun sebab bunganya yang cantik kini lalu pohon ini dikembangkan dan ditanam secara meluas di berbagai wilayah tropis. Pohon-pohon ini cukup populer sebagai tanaman hias dan pohon peneduh di negara-negara tropis Amerika Tengah dan Amerika Latin. Pohon ini ditemukan hidup secara alami mulai dari India, Burma, Indocina, Cina selatan, Thailand, dan seluruh wilayah biogeografi Malesia. Variasi anak-anak jenisnya ditemukan hanya di wilayah Malesia tersebut. Bahkan pohon ini bunganya menjadi identitas provinsi Chainat di Thailand. Ironisnya justru pohon ini sekarang sudah jarang ditemukan di Indonesia.

Ciri-ciri
Pohon Konji, Cassia Javanica, Tengguli Wanggang, Bebondelan dan banyak nama lainnya ini pohonnya tidak terlalu besar dengan tinggi antara 3-20 meter. Batang dan cabang tanaman muda kadang-kadang dengan banyak duri bekas cabang. Tanaman ini bertahan hidup dengan menggugurkan daunnya, utama pada musim kemarau.

Daun-daun majemuk menyirip genap, demgan anak daun 5-15 pasang, bundar telur, jorong atau lonjong, pangkal membundar lebar, berujung runcing, tumpul, atau membundar. Perbungaan berupa tandan atau malai, terminal (di ujung ranting) atau lateral (di sisi), hingga 16 cm panjangnya, berbunga banyak.

Bunga dengan kelopak yang berbagi. Daun mahkota berukuran 2,5-3,5 cm panjangnya, merah pucat hingga merah tua. Tiga tangkai sari yang terbawah berbentuk S, di atas belokan menggembung berbentuk gelendong yang tebal. Buah polong menggantung, bulat torak, ukuran 20-60 cm dengan ketebalan 1-1,5 cm, hitam dan tidak memecah ketika tua, dalamnya terbagi oleh sekat-sekat melintang dijadikan ruang-ruang berbiji, sekat serupa gabus.

Manfaat
Pohon Konji, Cassia Javanica, Tengguli Wanggang, Bebondelan banyak ditanam karena kegunaannya dalam pengobatan, selain karena bunganya yang indah. Buah dan biji yang sudah matang digunakan sebagai pencahar tradisional (laksativa). Kulit dan biji digunakan sebagai antipiretik dalam pengobatan demam. Hati-hati dalam penggunaannya karena dapat menyebabkan emesis.

Air rebusan akarnya digunakan untuk membersihkan luka dan bisul. Pepagannya digunakan di Jawa dan India untuk mengatasi penyakit kulit, sementara daun-daunnya di Filipina dipakai untuk menyembuhkan sakit kulit akibat jamur. Di India, akarnya dipakai untuk mengobati demam. Pohon ini juga dimanfaatkan di Panama untuk mengobati kencing manis.

Dalam pengobatan modern, daging buahnya yang kehitam-hitaman kadang kala dipakai sebagai laksativa menengah. Simplisia (bahan obat dasar) dari buah tengguli ini dikenal sebagai Fistulae Fructus (Buah Trengguli), dan setidaknya pada masa lalu, dimasukkan sebagai salah satu simplisia yang wajib tersedia di apotik. Daging buah ini terutama mengandung hidroksimetil antrakinon, yang berkhasiat sebagai pencahar; dan juga gula, pektin, lendir, minyak atsiri yang berbau seperti madu.

Gelam (kulit batang) pohon ini juga menghasilkan zat penyamak (tanin), yang dalam penggunaannya di perusahaan penyamakan kulit biasanya dicampur dengan gelam pilang (Acacia leucophloea). Tanin dan bahan-bahan lain dari gelam dapat membentuk asam, sehingga dapat menyamak dengan cepat. Hasilnya adalah kulit dengan mutu yang baik berwarna kuning muda; sebagai bahan pembuatan sepatu, atau pakaian kuda.

 
Penutup
Ada pula upaya pemerintah untuk mengembangkan tanaman ini untuk tujuan wisata. "Ada ratusan anakan pohon sakura yang sedang kami perbanyak melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk siap dikembangkan secara besar-besaran mulai tahun 2019 ini," kata Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora kepada Antara.

Aku sepakat, padang-padang sabana di Sumba akan sangat cantik apabila bisa ditanami pohon Konji ini. Mungkin suatu saat, orang-orang akan berbondong-bondong datang ke Sumba pas jatuh musim kemarau saat bunga Konji mekar.

Sumber penulisan:
http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Cassia+javanica
https://dody94.wordpress.com/2017/11/17/jenis-jenis-pohon-terbaik-untuk-peneduh-jalan/2/
http://pohon-kayu.dy.web.id/id1/1377-1267/Trengguli-Wanggang_104580_pohon-kayu-dy.html
https://www.antaranews.com/berita/784079/sumba-timur-siap-kembangkan-wisata-bunga-sakura

8 komentar:

  1. pas perjalanan dari soe ke fatumnasi juga menemukan bunga pink pink mirip konji ini, kayaknya sih masih saudaraan

    warga setempat menyebutnya bunga gamal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kadang Gamal juga suka disebut Sakura tapi Sakura Timor.. bedanya musim berbunganya. Kalau bunga Gamal mekar di bulan Juni-Juli pas dingin2nya NTT kalau Konji berbunganya pas puncak panasnya di Oktober.. Yang beda lagi Konji wangi, kalau Gamal gak ada baunya :D

      Hapus
  2. Wahh indah banget bunganya... Sungguh memanja mata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya perlu dikembangkan bunganya... thanks udah mampir

      Hapus
  3. Kirain tadi bunga di Jepang hehe.

    Warnanya semarak warna warni yah. Indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang menyebut bunga Sakura padahal aslinya beda..

      Hapus
    2. Kalo sakura bukannya hanya mekar saat musim dingin yah

      Hapus
    3. Iya.. cuma orang Indonesia kan gitu bang, apa-apa yang mekar satu pohon langsung dibilang sakura.. gak percaya kalau tanpa nama sakura juga tetep oke

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini. Untuk sementara komentar saya moderasi dulu karena banyak spam yang masuk. Terima kasih sudah berkunjung, salam MLAKU!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya