Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Maret 2020

Segelas Kopi dan Alunan "La Valse d'Amélie"

Injak gas, motor hidup sebentar lalu mati, injak lagi hidup sebentar mati lagi. Setelah beberapa kali dan tahan gas motor barulah motor bisa hidup. Lagi-lagi begini nih motor yang diseting hemat keparat, dibanyakin anginnya kurangi bensinnya akhirnya motor lebih sering kentut.
Kali ini aku tetap ingin menjadi yang membonceng saja, apalagi kalau bukan karena helm pinjaman punya aroma yang tidak mengenakkan.. maaf ya saya terlalu jujur untuk ini. Kalau rambutku gondrong mungkin cuma bau di rambut tinggal disampo habis perkara, tapi karena kepalaku botak bisa-bisa terpaksa cuci pake sabu deterjen untuk kasih hilang baunya hahahaha. 
Golongan darah B memang dikaruniai lebih tahan makan daging, tapi mungkin itu pula pemilik darah B kadang agak emosional. Tidak heran kalau begitu motor hidup Kadek maunya lari saja. Agak malas mendebat kali ini, aku biarkan saja dia sama kelakuannya. Untungnya kita segolongan walaupun beda tampang. Kadek tampan, kalo aku? parah hahahahaha....... (parah pangkal pandai)
Rencana hari ini mengunjungi pohon rindang satu biji di tengah padang lapang sabana di jalur jalan Mbay-Ende. Bukan mau bakar kemenyan buat minta rejeki tapi mau moto, apa lagi. Pohon itu lumayan bertuah, terbukti cukup banyak menyelamatkan orang dari panasnya Mbay seperti sekarang ini.
Sayangnya kondisi perbukitan lagi aneh, banyak rumput kering berwarna kuning pucat tapi sebagian masih nongol warna hijau. Asli, sebenarnya aku maunya cuma rumput berwarna kuning pucat seperti minggu kemarin, rasanya rumput-rumput hijau ini malah menggangu saja.Tak apa lah, masih ada kesempatan berikutnya. Rumput di sabana ini luar biasa, biar dikeringin sampai hitam, tapi begitu ada hujan dengan ajaib bakalan hijau kembali.Pasti gara-gara hujan kemarin.


Roda motor "Megapro" menggilas batuan yang berserakan di beberapa ruas jalur Aeramo. Ini berasal dari tumpukan batu-batu dan pasir yang banyak ditimbun di pinggir sepanjang jalan. Jalur jalan yang diapit kiri kanan dengan kawasan persawahan terluas di Nusa Tenggara Timur ini rupanya sedang direhabilitasi untuk pelebaran jalan. Suasana persawahan yang sebagian besar masih menghijau ini tampak asri, tampak rumah-rumah dibangun tidak di pinggir jalan tapi agak menjorok ke dalam. Jalan kecil menuju rumah berdiri berjajar pohon kelapa kiri-kanan selang seling.  Tempat menarik yang sepertinya sudah kumasukkan dalam memori untuk nanti aku jelajahi. selain areal persawahan yang asri, Kadek yang menjadi tulang ojek kali ini menunjukkan tempat-tempat lapang yang ditumbuhi pohon-pohon asam yang rindang, dia terkesan tempat ini untuk menjadi tempat foto prewedding atau model. 
Setengah jam berikutnya aku sudah sampai di pinggir pantai Marapokot. Bingung mau kemana, akhirnya motor aku arahkan masuk kembali ke daerah pantai melewati kawasan perkampungan nelayan sebelah dermaga TPI Marapokot. Di perjalanan aku bertemu dengan orang-orang yang mondar-mandir di suatu jalan. Berbincang-bincang dengan orang tua yang sedang bertelanjang dada dan membawa handuk berjalan ke timur aku mendapatkan informasi bahwa di pinggir pantai ini terdapat sumber air panas. Dan orang tua ini mau ke sumber air panas untuk mandi.
Tertarik untuk tahu seperti apa sumber air panas disini aku mengikuti bapak tua itu. Sekitar 200 meter setelah melewati sebuah muara kecil akhirnya aku sampai disebuah kubangan air dikelilingi pohon bakau. Bau lumpur dan belerang langsung menyergap hidung. Sayang sekali sumber air panas di sini berada di rawa lumpur tidak seperti di Pantai Hading di Flores Timur yang ada di pasir sehingga warnanya bening dan tidak berbau lumpur.
Walaupun airnya berbau lumpur tapi kalau sore atau pagi hari rupanya tempat ini ramai orang yang datang untuk mandi, sepertinya mereka tidak terganggu dengan aroma lumpur campur belerang ini. Beberapa orang sempat menanyakan kalau aku hendak mandi, tapi aku mengeleng dan menolak halus. Sempat aku mencelupkan tanganku untuk memastikan bahwa air disini panas. Wah, aku lupa khasiat air panas disini, siapa tahu bisa untuk pengganti luluran lumpur hehehe.
Dari pantai Marapokot, aku dan Kadek langsung mau pulang tapi ternyata tertahan karena beberapa kali mata Kadek terkena serangga-serangga yang biasanya beterbangan menjelang malam. Aku lupa kalau daerah ini daerah persawahan yang tentu saja bukan waktu baik untuk berjalan senja menjelang malam begini. Aku masih lumayan, setidaknya serangga tidak mungkin langsung mengenai mataku karena aku berkaca mata (kadang berkaca mata harus disyukuri juga).
Akhirnya Kadek membelokkan motor ke arah pelabuhan Marapokot sesuai arahanku. Pemilik warung seorang bapak tua berambut putih yang ditutupi peci menyapaku dengan ramah menawarkan minuman. Ini kali kedua aku mengunjungi warung ini, jika kemarin aku mendapatkan ubi goreng yang enak, kali ini di atas meja yang terhidang adalah mangga. Nagekeo memang lagi musim mangga, saking banyaknya mangga bahkan minta satu mangga bisa dapat satu tas besar mangga, manis-manis pula lagi. Jadi acara kali ini no mangga
Tak lama kemudian secangkir kopi jahe panas mampir ke meja dan semangkuk mie rebus. Kadek tidak makan mie waktu aku tawari, kemungkinan dia takut rambutnya yang sudah seperti sarang burung akan tumbuh seperti mie goreng kalau terlalu banyak makan mie. Seandainya alasannya itu tentu aku memaklumi walaupun agak tidak masuk akal. (lagi berpikir bikin penelitian hubungan rambut keriting dan mie instan)
Beberapa orang tertarik dengan gaya penampilan aku yang mirip wartawan "Comberan", hanya karena melihat rompi dan tentengan kamera yang seperti orang mau transmigrasi. Walaupun setengah ngotot akhirnya mereka percaya kalau aku bukan wartawan. Akhirnya acara di warung menjadi ramai setelah mereka ingin mencoba kamera DSLR yang aku punya. Ramai karena aku pastikan hasil fotonya gagal semua karena kamera aku masih set manual semua yang tentu saja tidak bisa dibuat moto begitu saja layaknya kamera poket (pelajaran hari ini: ternyata kamera poket lebih enak dan gampang). Sepertinya setelah ini mereka bakalan berpikir bahwa orang yang menggunakan kamera DSLR kurang kerjaan dan cuma buat menghabiskan uang saja. Seorang lagi yang kebetulan sering menyopiri mobil rental untuk mengantar tamu-tamu berwisata di Flores juga menambah suasana makin ramai. Ada satu cerita lokasi yang tampaknya membuat Kadek tertarik untuk melihatnya. Lewat senja baru aku dan Kadek kembali ke hotel.


Besoknya acara hunting foto kembali di mulai, apalagi setelah seorang teman dari NPC yang merupakan musisi handal Eddy Kribo eh bukan Eddy Due Woi protes gara-gara ke hotel tidak menemukan kami. Tentu saja tidak ketemu, kita sedang bahagia terdampar di Marapokot.
Kembali ke tempat yang sama di sabana Mbay, kali ini kita mencoba naik lebih tinggi. Di jam tanganku ketinggian tempat ini menunjuk ke angka 220 meter. 


Ternyata dari tempat ini saat ini adalah spot terbaik untuk menikmati perbukitan Mbay, perbukitan tampak bertumpuk-tumpuk dengan dibatasi warna kabut yang turun menjelang malam. Sayangnya matahari lebih dulu menghilang sebelum sampai ke tempat ini, spot terbaik namun belum menjadi momen senja terbaik.


Di balik punggungku ternyata bulan pucat sedang menggantung tertutup awan tipis putih. Aku baru menyadarinya benar-benar setelah mengemasi peralatan dan berbalik untuk mencari Kadek dan Eddy yang sudah menghilang entah kemana. Beberapa saat dua pertunjukan senja berlatar tumpukan perbukitan yang dipenuhi kabut-kabut tipis dan purnama yang muncul dari balik awan membuat kita duduk terpesona dengan suasana ini.
Otak cerdas dari rambut mirip mie dengan sigap memutarkan sebuah musik orkestra lembut yang menggambarkan suasana perjalanan hati yang sendiri.   "La Valse d'Amélie" seolah melontarkan imajinasi masing-masing menikmati spot terbaik di sabana ini. Semua yang direncanakan menjadi tidak terencana. Seolah-olah kita disini karena dilontarkan waktu untuk menikmati rumput-rumput berwarna putih kekuningan yang makin memucat disinari cahaya bulan purnama yang juga pucat. Nyamuk-nyamuk sukses berpesta menggigiti kaki dengan antusias tapi tidak berhasil menarik kita untuk pulang. Rasa gatal di kaki terlalu kecil dibanding  menikmati alunan langsung  "La Valse d'Amélie" dari sabana ini. Awan kelabu dan awan terang bergantian datang, kadang diam kadang bergerak cepat.
Ternyata lewat jam 9 malam barulah kita sadar kalau kita lapar, bahkan kita lupa ancaman pulang dengan tahi-tahi kerbau yang tampak sore hari, entahlah apakah kita akan sukses melewatinya saat malam begini. Orkestra "La Valse d'Amélie" terus mengalun mengiringi langkah-langkah kaki yang hati-hati melangkah menyusuri sabana yang diterangi bulan purnama. Ada jiwa yang sama yang mendendangkannya, begitu halus namun terasakan, seperti jarum yang begitu halus pelan menghujam. 


Mbay, 11 November 2011 (saat orang-orang demen pada nikah dan orok-orok pada dipaksa lahir lewat caesar, sungguh kasihan)
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 10 Oktober 2019

Menangkap Matahari Senja di Wairinding

Lapisan demi lapisan perbukitan yang tampak seperti kue lapis yang terpanggang kuning matahari. Pemandangan senja yang mengurai ribuan cerita bagi penikmatnya: lapis demi lapis. Tak peduli tarian langit saat gelap atau terang, keindahan senja di tempat ini seperti tidak berkurang. Romantisme tempat ini telah terekam dalam ratusan foto dan video yang dipajang di media sosial. Memancing orang yang melihatnya, menyukainya, dan menjadi keinginan untuk ikut menjadi "aku juga pernah".


Media sosial adalah racun yang jauh lebih dahsyat. Foto instagram seorang perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai berkain etnik dengan rambut terurai terbang tertiup angin berdiri di atas sebuah padang tandus dengan langit lembayung dan lapisan-lapisan perbukitan di latarnya. Buumm... ribuan like langsung membanjiri fotonya. Tak lama kemudian, Wairinding menjadi lokasi impian yang masuk dalam 'wishlist' daftar wajib untuk dikunjungi. Bahkan, beberapa orang telah menjadikan Wairinding tujuan eksotik untuk merayakan mimpi bersama kekasih di bawah rindu merah matahari terbenam. Mereka menyebutnya foto pre-wedding.

Faktanya potensi Wairinding sendiri juga dimunculkan dari kehadiran film-film dengan menggunakan Sumba sebagai latarnya seperti "Marlina, Kisah Pembunuh Empat Babak"(2017), "Pendekar Tongkat Emas" (2014), "Susah Sinyal" (2017) yang berhasil menangkap eksotika keindahan perbukitan savana. Semua menjadi satu kesatuan untuk menyuarakan keindahan Sumba. Sebuah pulau yang pernah dengan gagahnya sebuah "Pulau Terindah di Dunia" (Sumba gehrt zu den 33 schnsten Inseln der Welt) yang disematkan oleh 'FOCUS' sebuah majalah bergengsi internasional dari Jerman.

Ada terbersit perasaan protes saat pengunjung yang datang Warinding hanya sekedar untuk mengabadikan dirinya dengan latar yang 'kekinian'itu. Keindahan Wairinding seolah hanyalah potret perbukitan dalam naungan senja sebagai latar belakang. Kata 'menikmati'senja seolah cukup kata yang dimunculkan dalam frame foto yang diunggah dalam IG atau facebook. Tidak punya arti, kecuali bagi penikmat senja dan para pejalan.

"Nikmati saja," kata temanku yang pandangan matanya tak lepas dari dua sosok wanita bercelana pendek menampakkan kaki putih panjang. Dulu sih katanya kalau mau cuci mata harus ke mall, bukan untuk belanja tapi melihat perempuan-perempuan cantik. "Ah iya, nikmati saja," dan aku kembali melihat ke layar kamera menunggu para wanita itu berdiri tempat di titik sebelum aku memencet rombol rana. Mencuri momen... jangan-jangan aku juga sama dengan para pemburu tempat indah itu. Sekedar memasukkan keindahan dalam sebuah "foto" dan tidak mempedulikan rasa dan nuansa-nya.

Lokasinya masuk desa Pambota Jara, kecamatan Pandawai. Wairinding mudah diakses karena berada di pinggir jalan besar Waingapu-Waikabubak, sekitar 30 km dari kota Waingapu ke arah Timur. Tempat ini masih dikelola sendiri oleh pemilik tanah. Tidak ada tarif berapa yang harus dibayar, hanya cukup menuliskan nama di buku tamu dan uang untuk sumbangan. Satu-satunya yang jelas adalah tarif parkir untuk mobil yaitu 10ribu. Dari parkir cukup naik beberapa meter ke atas dan pemandangan perbukitan yang indah langsung akan menyergap mata.


Tapi di atas itu semua, jangan lupakan satu: nikmati keindahan itu seutuhnya. Wairinding bukan sekedar sebuah padang sabana dengan lembayung senja dan kontur perbukitan berlapisnya. Wairinding adalah kehidupan bagi ternak-ternak dilepas-gembalakan. Pusat cerita bagi  kelincahan anak-anak Sumba di atas pelana. Tempat bertumbuh-tangguhnya masyarakat Sumba merangkul alam yang panas dan kering.

BTW, Wairinding ini pernah menjadi salah satu destinasi yang aku lewatkan saat perjalananku seminggu ke Sumba di cerita ini, ini dan ini. Kok bisa aku melewatkan tempat sekeren ini? Ya karena lokasinya yang mudah dijangkau jadi aku fikir bisa aku datangi lain waktu saat santai atau kalau ada kesempatan kunjungan singkat ke Waingapu. Dengan waktu seminggu kala itu, aku memang sengaja memilih untuk mendatangi lokasi-lokasi yang lebih jauh dan lebih susah dijangkau.

Temen jalan: Daniel ig: @danielkusdhana, Sugeng @sym_siyogamarsa
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 12 November 2018

Bermalam di Atas Fatubraun

Matahari terbit di bukit Fatubraun
"Anak dari mana?" Pertanyaan pertama itu yang diajukan ibu pemilik warung saat kami mampir di warungnya. Dari Fatubraun bu, jawab kami.
"Oh, mancing di laut?" Ibu itu coba memperjelas, sambil memberikan minuman yang kami pesan. "Bukan, menginap di Fatubraun"
"Rumah yang di bawah," Ada keraguan dalam pertanyaannya, iya sepertinya merasa aneh dengan jawaban kami.
"Bukan, kami menginap di atasnya" Tanganku menunjuk ke arah bukit Fatubraun.
"Wii, betul di sana?"
"Mama saja lewat di jalan pas sore saja masih merasa merinding. Kalau masih bisa lewat jalan lain lebih pilih jalan lain. Jadi anak bertiga benar-benar menginap di sana?" Nadanya masih terkesan ragu bahwa kami tadi malam benar-benar menginap di atas bukit Fatubraun.

Rumah di bawah bukit Fatubraun
Aku pernah ke Fatubraun beberapa minggu sebelum yang aku tulis disini: Fatubraun, Melihat Pantai Selatan dari Atas. Tapi waktu itu bisa dibilang hanya sebatas mampir saja setelah menginap di Pantai Tebi. Jadi waktu ke Fatubraun hanya beberapa jam saja. Berbeda dengan perjalananku bareng Adis dan Imam kali ini yang memang diniatkan buat nenda di atas sana.

Lama gak keluar buat jalan-jalan memang bikin badan pegel semua. Pas waktunya mereka berdua gak lagi keluar tugas, ya udah aku ajak mereka naik ke Fatubraun buat nenda. Karena waktu pertama kali ke tempat itu, menuruku lokasinya bagus untuk mengambil pemandangan matahari terbit. Tapi kita juga bisa mengambil foto pemandangan matahari terbenam, hanya kita harus naik ke arah puncak tertinggi di sisi barat. Tapi itu pun matahari terbenamnya di balik perbukitan lain, bukan jatuh di laut.

Persiapan Ala Kadar
Menjelang malam di Fatubraun
Persiapan buat nenda udah disepakati cuma apa yang dibawa belum disepakati. Kita memang seperti itu, gak pernah mau ribet mikir apa yang mau dibawa atau disiapin. Pokoknya ya nanti deket-deket jalan baru atur. Kata Imam sih kalau terlalu banyak perencanaan lebih sering gagal. Sayangnya, Al sama Trysu yang aku ajak naik ke Fatubraun pertama kali justru lagi tugas keluar.

Untuk tenda, aku sama Imam memilih membawa tenda single layer yang cuma muat buat dua orang. Pertimbangannya sih karena bukan musim hujan jadi kecil kemungkinan kita menginap di dalam tenda. Aku sama Imam nyaris gak pernah menginap di dalam tenda kecuali waktu ada hujan. Jadi tenda biasanya lebih banyak dipake untuk mengamankan tas saja. Hanya untuk jaga-jaga aku tetap membawa flysheet kalau tiba-tiba cuaca tak terduga seperti yang aku alami saat nenda di Pantai Tebi.

Karena tujuannya cuma satu tempat dan dilanjutkan nenda, jadi kita bertiga memilih berangkat siang selepas jam tiga. Cukup dengan dua motor, dan karena aku yang naik motor sendirian jadi seperti biasa kebagian yang angkut semuanya.

Nenda di Puncak
Aku sendiri awalnya menawarkan buat memasang tenda di bawah di area parkiran saja yang lebih teduh suasananya, ini juga udah aku tulis di postingan sebelumnya. Pertimbanganku karena di bagian atas tempatnya langsung berhadapan dengan dinding jurang yang tentu lebih berbahaya. Cuma Imam dan Adis maunya sekalian nenda di atas saja. Ya udah, aku ngikut saja keinginan mereka. Enaknya sih kalau nenda di atas tentu lebih gampang untuk menikmati matahari terbit dibandingkan di bawah yang tertutup dengan pepohonan.

Awalnya Adis gak percaya kalau ke Fatubraun itu nanjaknya cuma sedikit, dia pikir dengan pemandangan tebing batu yang tampak jauh lebih terjal dibanding Fatuleu. Padahal beneran ke bukit Fatubrau gak sesusah dan semenantang naik ke Fatuleu. Baru setelah 10 menit udah sampai dia percaya kalau memang gak terlalu susah naik ke atas Fatubraun. Tapi tetap saja ada adegan keringetannya lha naik ke atas pake jaket.

Dari semua pilihan tempat akhirnya Imam memilih memasang tenda di pinggir jalan masuk dalam hutan, tidak masuk ke dalam hutan seperti saranku. Imam sengaja memilih tanah datar yang banyak rumput supaya agak empuk buat tidur. Hanya memang jadi terbuka, yang akan terasa sekali jika ada angin kencang.

Tenda baru aku pasang sekitar jam enam setengah enam sore setelah rombongan wisatawan terakhir pulang. Seingatku rombongan terakhir turun sebelum jam lima sore. Untuk informasi, bukit-bukit batu di sini rata-rata masih digunakan untuk pemujaan. Ada keyakinan kuat dari masyarakat Timor tentang kekuatan yang tidak kasat mata yang tinggal di bukit batu seperti ini. Jadi wisatawan yang berkunjung rata-rata sudah turun dari bukit sebelum malam. Itu salah satu sebab jarang yang memotret waktu terbaiknya di bukit seperti ini.

****
Bicara tentang kekuatan tak kasat mata di bukit Fatubraun ini, aku teringat cerita tentang kasus lama yang diceritakan masyarakat. Seorang mama tua pernah bercerita bahwa di atas bukit itu dulunya ada batu besar yang membentuk kepala orang. Masyarakat di Amarasi walau sudah memiliki agama namun masih kental dengan kebudayaan leluhur, salah satunya pemujaan kepada gunung/bukit-bukit besar. Sehingga pada saat-saat tertentu, masyarakat tetap membuat upacara dan memberikan persembahan di sana. Ada tim doa yang tidak suka dengan kondisi ini dan menyalahkan keberadaan bukit batu itu sebagai penyebab perilaku syirik di masyarakat.
Hingga suatu ketika diputuskan untuk menghancurkan batu-batu besar yang ada di sana. Rombongan naik ke atas dan menghancurkan beberapa batu terutama yang berbentuk kepala manusia supaya tidak digunakan lagi untuk pemujaan. Mereka memang berhasil menghancurkan bukit batu itu. Namun hal buruk terjadi setelah itu. Konon katanya satu demi satu orang yang menghancurkan bukit itu meninggal dengan berbagai macam cara.
****

Malam itu aku batal memotret milkyway seperti yang aku rencanakan karena langit yang ada awan walau tidak terlalu tebal. Dan terutama juga adanya bulan yang mendekati purnama. Entah aku yang makin bodoh, aku tidak menggunakan aplikasi seperti biasanya untuk mengecek posisi dan penampakan bulan. Biasanya aku selalu menggunakan aplikasi untuk mengecek posisi dan penampakan bulan dengan aplikasi yang selalu ada di hape android-ku.

Justru malam itu kita membuat foto-foto yang super duper gak jelas. Ya tapi lumayan buat asyik-asyik saja sih. Lumayan lah, setidaknya ada satu properti lampu flip-flop semeter yang cukup asyik buat bikin eksperimen foto bareng mereka berdua.

Matahari Terbit Tidak dari Horison Laut
Pagi-pagi aku terbangun, udah agak telat sebenarnya. Setengah enam pagi, langit udah agak terang. Cuma mereka berdua masih asyik meringkuk dalam selimut masing-masing. Adis ngorok di dalam tenda, sedangkan Imam bergulung dengan sleeping bag-nya di dekat nyala api unggun yang tinggal onggokan bara kecil.

Setelah memotret disekitar tenda, aku berencana memotret dari atas bukit sisi barat yang lebih tinggi. Ya udah, aku ke tenda untuk membangunkan Adis yang katanya tadi malam minta dibangunkan untuk ikut motret matahari terbit. Tapi membangunkan Adis kali ini lebih susah, rupanya dia terlalu lama melek tadi malam. Aku memang selalu tertidur terlebih dahulu daripada mereka berdua. Karena mereka berdua memang seringkali insomnia, baru mulai ngantuk menjelang pagi.

Karena gagal membangunkan Adis, akhirnya aku masuk ke dalam hutan sendiri untuk mendapatkan view yang lebih bagus untuk memotret matahari terbit. Aku tepat waktu, saat sudah berada di titik tertinggi sisi barat rupanya matahari belum terbit. Matahari pagi terbit beberapa saat kemudian dari balik perbukitan tampak cemerlang tanpa terhalang awan. Karena masih bulan April sehingga posisi matahari terbit masih di sisi selatan sehingga masih terhalang oleh perbukitan.

Tenang saja, walau tidak sempurna terbit dari balik horison laut, pemandangan pagi-nya tetep kece kok. Seperti aku tulis sebelumnya, dengan ketinggian hanya sekitar 400 mdpl, dapat dikatakan matahari pagi akan mudah tampak tanpa terhalang oleh kabut. Hal ini tentu berbeda dengan melihat pagi dari pegunungan yang tinggi, kadang bisa terhalang oleh kabut pagi. Dan cukup banyak spot di atas Fatubraun ini untuk menikmati matahari terbit.

Saat balik ke tenda, aku melihat Imam dan Adis tetep saya khusyuk sama mimpi indahnya. Busyet dah, tuh kedua anak emang mirip anaknya vampir yang melek malam hari tapi justru tidur pagi. Padahal bunyi burung ramai bercuitan terbang kesana kemari. Ya udah, aku akhirnya masak air untuk membuat kopi. Sayang rasanya kalau tidak menikmati pagi begini tanpa segelas kopi panas.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 23 Juli 2018

Bermalam di Pantai Kura Kura

Pantai Kura Kura Kupang
Taburan bintang di langit Pantai Kura Kura
Bangun.. bangun... bangun... dalam kondisi baru saja tertidur aku dibangunkan Imam dan Trysu. "Air naik tinggi mas" kata Imam tampak mengangkat beberapa barang. Aku mengucek-ucek mata untuk melawan kantuk. Begitu mataku mulai terang, aku melihat tempias ombak sudah mencapai dua meter menuju tenda. Aku buru-buru ikut bangun.
Tengah malam, kami semua harus bergegas membereskan sleeping bag dan memindahkan barang-barang di bawah ke dekat tenda. Api unggun yang letaknya beberapa meter ke arah pantai sudah padam diterjang gelombang. Air pasang telah mengurung tenda kami, untungnya tenda dipasang di gundukan pasir yang paling tinggi sehingga belum terjamah air laut.


Menikmati milkyway
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, tengah malam. Kami semua hanya dapat duduk di sekeliling tenda dengan harap-harap cemas. Air sudah naik tak lebih dari satu meter dari tenda. Tak ada yang dapat tidur, kami hanya menunggu bahwa itu batas tertinggi air. Jika air naik lebih tinggi lagi alamat tenda kami akan terendam air. Mata kami tertuju ke salah satu celah bukit batu di sebelah tenda, satu-satunya jalan jika air laut terus naik. Celah itu kecil tapi cukup untuk kami melarikan diri. Kekuatiran kami kedua jika tiba-tiba muncul gelombang tinggi. Memang sekarang bukan musimnya gelombang saat ini, tapi kalian tahu kan jika pantai selatan tidak pernah bisa diprediksi gelombangnya. Untungnya letak pantai ini dikeliling bebatuan karang sehingga gelombang dari laut pasti sudah terpecah sebelum menuju pantai. 

Jam setegah satu air mulai turun kembali, pertanda pasang tertinggi sudah lewat. Duh leganya perasaanku. Walaupun begitu kami tidak berani berpindah sampai air bener-bener turun agak jauh. Jam satu barulah kami mulai tenang, satu demi satu kami kembali ke dalam sleeping bag dan melanjutkan tidur. 

Badanku seperti terayun-ayun pelan, tapi aku malas sekali membuka mata. Ayunan itu sepertinya bertambah kuat. Aku memaksakan membuka mata dan.. ternyata sleeping bag-ku telah terendam air laut sebagian. Aku merasakan dingin menerjang bagian bawah. Aku panik sementara suasana yang gelap membuatku kesulitan melihat ke arah tenda. Apakah semua senter dimatikan?
Sambil mencoba keluar dari sleeping bag aku berteriak memanggil Imam.. tidak ada jawaban. 
Trysu!.. trysu!.. teriakku.. tidak ada jawaban... Al!.. Al!.. tidak ada jawaban juga. Ah sial kemana mereka semua? Tanyaku dalam kepanikan karena sleeping seperti terkunci sementara aku semakin terseret ke tengah. 

Tiba-tiba mataku menatap ke atas bukit batu tampak mereka bertiga. Mereka mencoba berteriak kepadaku. Ah bagaimana mereka bisa naik ke atas dan meninggalkanku. Suara Imam terdengar lantang "Mas, cepat naik ke atas! Ombak besar!"
Aku semakin panik dan mendorong lebih kuat sehingga akhir sleeping bag terobek. Aku buru-buru keluar dan pada saat itu dari pantai sebuah bayangan hitam datang cepat dan saat aku tersadar tiba-tiba telah mendorongku ke bawah. Aku terpelanting masuk ke dalam pasir. 

Gelap... gelap... aku coba menggapai ke atas... Tak ada suara tapi kepalaku rasanya tertekan dan semakin panas.. Aku semakin panik, tanganku semakin meronta kuat..
Dan..


Pemandangan matahari terbenam di Pantai Kura Kura
Aku terbangun.. sial, rupanya aku hanya bermimpi. Langit memang masih gelap tapi lumayan terbantu dengan penerangan bulan yang masih tampak di antara pepohonan. Air laut sendiri sudah jauh surut dibanding semalam. Wajah-wajah Imam dan Trysu yang begadang menunggu ombak tampak pulas tak terganggu. Al yang tidur sendiri di dalam tenda. Aku melihat jam, sudah jam lima rupanya. Sebenarnya aku masih enggan beranjak dari sleeping bag, tapi sepertinya sayang jika tidak mencoba menjelajah sekitar tempat ini pagi ini. Aku mulai membereskan peralatan sleeping bag dan menyiapkan kameraku.

Pantai yang Tidak Bernama 
Aku memberi nama pantai ini Pantai Kura-kura karena memang di google maps pantai ini tidak memiliki nama. Dan karenanya pula dengan terpaksa untuk tulisan kali ini aku tidak dapat akan memberikan posisinya dengan gambar peta seperti biasanya. Maaf sekali ya.

Pertama kali aku ke pantai ini sebelumnya hanya berdua dengan Imam, dan hal yang pertama aku temui sepertinya adalah jejak penyu saja. Dan satu lagi yang miris adalah adanya sebuah tempurung penyu yang sudah tinggal rangka diletakkan tergeletak di atas batu. Sepertinya pernah ada yang mendatangi tempat ini untuk berburu penyu. Sayang sekali, padahal penyu sekali bertelur di suatu tempat cenderung akan kembali ke tempat yang sama sejauh apapun mereka berkelana. 

Pasir putih di Pantai Kura Kura
Pantai berpasir putih ini dikelilingi karang-karang tinggi dan terjal dan di bagian depan juga ada beberapa bukit karang sehingga nyaris seluruh pantai terlindungi oleh karang. Jalan masuk ke tempat ini juga tidak mudah karena untuk turun ke pantainya harus melewati tempat yang tidak ada jejak jalannya. Beberapa jejak jalan yang pernah dibuat sepertinya mulai menghilang, mungkin karena sudah lama tidak pernah didatangi orang.

Aku beruntung bisa melihat pantai ini, makanya perjalan ke dua aku bersama empat teman lainnya Imam, Trysu, Daud, dan Al kembali ke tempat ini untuk berkemah. Walaupun malamnya kami harus menjalani kondisi horor seperti yang aku ceritakan di awal tulisan. 

Setidaknya peristiwa malam itu membuat kami belajar. Artinya jika bermalam di pantai ini sebaiknya pahami pasang surutnya. Yang pasti, jika sedang purnama atau bulan mari sebaginya tidak memasang tenda di sini. Karena pada saat puncak pasang sepertinya tidak ada pantai yang tersisa kecuali sebagian kecil pasir di sudut bukit karang kami memasang tenda. Itu pun kemungkinan saat purnama darah sangat mungkin seluruh pantai ini akan tergenang air dan ombak yang besar akan mencapai ke arah bukit karang.
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 20 Juni 2017

Senja di Pantai Baliana

Pasir putihnya berubah menguning seiring matahari yang semakin turun di ufuk barat. Matahari tampak kuning membulat dibayangi langit yang semakin memerah. Pantai sore ini dipenuhi warna kehijauan di sepanjang pantainya karena sedang surut. Warna hijau itu berasal dari tanaman laut sejenis rumput menutupi batuan karang di bawahnya. Sementara itu, pemandangan yang paling jamak saat surut seperti ini adalah masyarakat sekitar yang sedang mencari keong laut. Umumnya yang melakukan ini para perempuan atau anak-anak.

Seorang gadis meneteng ember berisi keong
Bagi yang suka melihat si 'Patrick' bintang laut bakalan seneng kalau ke sini karena bintang laut di sini ukurannya besar-besar dan gampang ditemuin di antara rumput-rumput. Warnanya juga macam-macam. Cuma itu juga petunjuk kalau kawasan ini daerah terumbunya sudah rusak banyak makanya jadi banyak bintang laut.

Pantai Baliana, nama cantik yang disandang pantai ini tak membuat banyak orang tertarik mengunjunginya. Pasir putihnya memang hanya sepotong yang saat sedang puncak pasang tidak akan menyisakan apapun. Mungkin karena itu pantai Baliana cenderung sepi walaupun hari libur. Sebagian besar yang ada di pantai adalah masyarakat sekitar yang mencari keong atau kerang. Bahkan daerah karang landainya lebih luas daripada pasir putihnya, sehingga nelayan pun tidak mungkin menambatkan perahu. Kondisi pantai Baliana memang rawan membuat perahu kandas terkena karang.

Lampu cahaya mercusuar layaknya sinar matahari pagi
Ada sebuah bangunan kayu agak tinggi, ada sebuah tangga kayu untuk naik ke atasnya. Mengingatkan tentang bangunan penjaga pantai untuk mengawasi pantai hanya ini lebih sederhana, lebih terkesan bangunan darurat. Aku baru paham kalau bangunan ini berfungsi sebagai mercusuar. Ternyata ada sebuah lampu terang yang dihidupkan saat menjelang malam. Namun karena tidak ada listrik di sana, untuk menghidupkan lampu mercusuar itu digunakan mesin genset.

Sepertinya bangunan mercusuar ini dibangun swakelola masyarakat bukan milik pemerintah. Tapi entah punya siapa dan untuk apa. Mungkin juga punya PT TOM yang mengoperasikan budidaya mutiara. Dengan tiram-tiram bernilai mahal yang ditanam di perairan ini tentu rawan menarik orang untuk mengambilnya. Entahlah, mungkin aku harus bertanya ke penjaga kalau balik ke sini lagi.

Posisi pantai ini sederet arah dengan pantai Tablolong sehingga pantai ini posisinya pas menghadap matahari terbenam. Tidak tepat di horison laut karena ada pulau Semau di seberang yang menghalangi.

Perjalanan Kesana
Lokasi pantai itu cukup jauh dari kawasan penduduk, mungkin itu salah satu alasan pantai ini tidak ramai walaupun hari libur. Berjarak sekitar dua puluh tiga-an kilometer dari Kota Kupang, perjalanan menyusuri jalan sepanjang rutenya bisa dibilang mulus sampai ke jalan terakhir menurun menuju pantai.

Bahkan jalan selepas pertigaan menuju ke kawasan industri bolok bisa dibilang kosong melompong. Naik motor aja bawaannya ngantuk  karena lurus kosong itu, penghalang jalan kebanyakan berasal dari tinja sapi yang digembalakan lepas sama pemiliknya. Tapi kalaupun ditabrak juga tidak akan terasa apa-apa, paling motor jadi bau TAI!

Lokasi ini berdekatan dengan PLTU Bolok namun kalian tidak boleh melewati jalan ke arah PLTU Bolok karena jalan dari sana ke Pantai Baliana tidak ada, kalau untuk jalan kaki sih masih bisa.

Apa yang Menarik
Tempat ini bisa jadi alternatif buat lokasi foto atau sekedar santai. Obyek menarik ya motretin masyarakat sekitar yang kebanyakan mama-mama dan anak-anak yang jongkok berdiri mungutin keong. 

Penilaianku sendiri tempat ini masih enak buat didatangi karena belum ramai yang datang. Ya mungkin aku lebih menyukai pantai-pantai yang sepi walau tanpa fasilitas daripada ke pantai penuh fasilitas tapi ramai. Ya pasti satu termos kopi sudah aku bawa dari rumah. Asseeekkk.. melihat matahari terbenam sambil ngopi.

Yang pasti ini bukan lokasi yang tepat untuk berenang kecuali mungkin saat laut sedang pasang karena daerah landainya yang jauh dan dipenuhi rumput-rumput. Tapi itu membuat orang tua yang punya anak-anak akan lebih merasa aman melepaskan anaknya bermain di pantai ini. Setidaknya belum pernah mendengar buaya mampir ke tempat ini.

Atau kalau mau sabar, coba nunggu sampai langit gelap. Biasanya sebelum gelap lampu mercusuar dihidupin jadi tetep tempat ini gak gelap-gelap amat. View saat itu lebih keren dan asik dinikmati. Tapi ati-ati kalau jalan sama pasangan udah malam gak pulang-pulang bisa-bisa dicurigai mau berbuat yang aneh-aneh (saling mengorek tai hidung pasangannya pake sedotan misalnya).

Temen yang ngabisin kopiku di tempat ini ada dua mahluk: Imam Masjid Makkah Almukaromah eh bukan Imam Arief Wicaksono yang lebih familiar dipanggil boncel, sama anak yang masih kecil namun udah punya katepe dan status pekerjaan pe-en-es walau tidak ada yang yakin dengan usianya: Adisti.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 10 April 2017

Bunker Jepang di Bukit Cinta

Awan gelap menjadi pemandangan yang biasa kami temui tiap sore di langit Kupang beberapa hari ini. Secerah apapun langit pagi, akan berbeda saat sore beranjak. Mendung entah dari mana akan memucatkan langit yang semula cerah. Duduk di atas salah satu bunker, pemandangan rerumputan hijau tampak sejauh mata memandang. Oh tidak, bukan cuma rerumputan dan pepohonan hijau saja ternyata. Di kejauhan banyak banyak noktah-noktah kecil yang sedang bercengkerama. Mereka pasangan-pasangan yang menjadikan tempat ini untuk memadu kasih. Mungkin dari mereka-lah asal nama Bukit Cinta disematkan untuk tempat ini.

Menikmati Sunset di Bukit Cinta
Kalau sekarang noktah-noktah itu bukan lagi adalah pasangan-pasangan penuh cinta. Kini adalah noktah lainnya yang mengisi kehijauan sabana. Mereka adalah rombongan-rombongan yang sekedar ingin mengabadikan keindahan lewat jepretan atau setidaknya narsis di tempat ini. Jaman kamera resolusi tinggi menjadi barang yang jamak ada di banyak perangkat telah menciptakan budaya baru. Merekam gambar dimanapun berada, entah gambar pemandangan lokasi atau foto diri sendiri. Sekarang semua tempat yang dianggap hit menjadi serbuan semenjak media sosial telah menjadi barang biasa. Dan bukit cinta di Penfui menjadi salah satu lokasi favorit untuk dibadikan.

Sambil minum kopi panas yang aku bawa dalam termos kecil, aku, Imam dan pak Sulih duduk di salah satu bunker menikmati langit senja yang masih pucat. Sekarang tempat ini tak sesepi dulu. Tiap sudut kamu akan temui orang-orang yang duduk sekedar saling bercerita sambil menunggu matahari tenggelam atau sekedar narsis untuk dibagikan di medsos. Di depan kami ada tiga cewek satu cowok yang dari tadi tidak lepas dari smartphone yang dijepretkan.

Memang pada bulan-bulan hujan sampai dengan nanti pertengahan tahun, penampakan bukit ini sedap dipandang dengan view padang rumput yang menghijau. Penampakan rerumputan yang meninggi menutupi kondisi tanah perbukitan yang sebenarnya lebih didominasi batuan karang yang telah menghitam. Cobalah datang pada selepas tengah tahun sekitar bukan September sampai nanti musim penghujan, makan bukit ini akan tampak tak ubahnya sebuah padang batu karang yang semuanya tampak menghitam terutama saat dilihat dari atas pesawat.

Tapi saat rerumputan menghijau seperti sekarang, perbukitan ini berubah menjadi padang sabana yang cantik. Rerumputan rebah mengikuti arah angin, satu dua pepohonan menghijau. Dan lebih istimewa lagi, bukit ini juga bisa untuk menikmati matahari tenggelam. Terutama jika matahari tenggelam dari pantai sudah membuatmu bosan. Dari puncak bukit, laut tampak jelas sehingga matahari kekuningan yang tenggelam di horison laut sisi barat Kupang dapat jelas terlihat.

Bunker Peninggalan Jepang
Masyarakat sekitar awalnya menyebutkan kalau lokasi ini ada gua Jepang. Berawal dari cerita itu aku mencoba mencari tahu keberadaan gua-gua Jepang yang katanya banyak tersebar banyak juga di dalam lokasi bandara El-Tari Kupang. Tapi justru yang aku banyak lihat mereka bukan berupa lubang gua yang tembus di antara perbukitan melainkan bangunan-bangunan persegi. Sebagian besar bangunan tertanam  dalam tanah, hanya ada sedikit tonjolan setinggi lutut.

Apakah bangunan-bangunan ini terhubung satu sama lain sebagaimana gua-gua Jepang itu? Aku tidak yakin tapi dari satu dua gua Jepang yang pernah aku masuki, bangunan itu hanya bangunan persegi dengan jalan masuk kecil dan beberapa jendela kecil. Jadi menurutku, bangunan ini lebih pas disebut bunker Jepang. Ya bunker, sebatas tempat yang digunakan sebagai tempat persembunyian saja. Selanjutnya aku akan menyebut bangunan ini dengan nama bunker bukan gua sebagaimana masyarakat sekitar menyebutnya.


Bunker peninggalan Jepang ini ukurannya bermacam-macam dari yang terkecil seukuran kurang lebih enam meter persegi sampai ada yang berukuran besar sekitar lima belas meter persegi. Bunker ini rata-rata memiliki ketebalan antara dua puluh sampai tiga puluh centimeter. Ada jalan masuk yang rata-rata ukurannya kecil yang untuk masuk harus menundukkan badan karena tidak lebih dari satu setengah meter. Bahkan ada beberapa pintu yang lebih kecil dari itu. entah memang ukurannya yang memang sekecil itu ataukah karena tertimbun lama. Bunker-bunker ini memang sudah tidak terawat lagi, untungnya dengan konstruksinya yang kokoh membuat bunker-bunker sebagian besar tetap utuh.

Jadi jangan berharap akan menemukan gua Jepang sebagaimana gua Jepang di Jawa sebagaimana yang pernah aku lihat di perbukitan sekitar pantai Pangandaran dan di Taman Hutan Raya Juanda di Bandung. Gua-gua di sana biasanya dibentuk dengan membuat lubang-lubang kecil yang seukuran tubuh orang Jepang disekitar bukit. Gua-gua ini terhubung satu sama lain sehingga selain bisa untuk tempat persembunyian juga bisa digunakan untuk tempat melarikan diri.

Di salah satu bukit ada bangunan segi delapan. Agak sulit menemukannya, selain karena terletak di atas bukit, bangunan ini juga bentuk rata tanpa tonjolan. Bangunan ini berbeda dengan bunker lainnya di sekitarnya. Karena tidak ada lubang sama sekali, mungkin sekali ini bangunan ini dulunya digunakan sebagai landasan untuk menempatkan meriam mereka.

Yang disayangkan tentu saja sampah yang rata-rata tampak berserakan di sekitar bunker. Ini pasti ulang pengunjung yang datang bawa makanan dan malas membawa kembali sisa sampah mereka. Namun yang mengagetkan, aku pernah melihat di pintu masuk bunker bukan menemukan sampah plastik atau kertas tapi celana dalam dan beha. Serius? Dua rius malah. Denger-denger tempat ini dulu pernah dilarang dikunjungi malam hari karena disinyalir menjadi tempat untuk melakukan perbuatan mesum. Bunker-bunker ini memang lokasi yang cukup tersembunyi dari pandangan.

Baca keseluruhan artikel...

Sabtu, 12 November 2016

Basah di Pantai Klayar

View pantai Klayar dari perbukitan
View pantai Klayar dari atas perbukitan
Air naik dengan cepat sesaat setelah aku mendengar bunyi ombak besar menghantam dinding batu bukit batu di depanku. Semua terjadi di luar perhitungan saat mataku masih asyik menunggu rana kamera merekam alur air jatuh di bebatuannya. Refleks aku mengangkat tripod kamera tinggi-tinggi dan berharap buncah air yang menghantam karang itu tidak akan mencapainya. Aku berusaha tegak saat air terus naik melewati dada, berusaha untuk tidak terbanting di pasir pantainya. Aku merasakan pasir melewati mata kaki membantuknya berdiri lebih kokoh. Sesaat setelah arus balik selesai aku segera berlari ke tempat yang lebih tinggi. Aku melihat salah satu orang pengunjung terbanting saat mencoba lari menghindari ombak tadi. Untung tidak ada satupun pengunjung yang sampai terseret air. Beberapa orang yang tengah bermain di dekat karang pun harus rela basah kuyup termasuk kamera yang mereka miliki.

Gelobang pecah selaksa air terjun di pantai Klayar
Gelombang pecah berubah selaksa air terjun
Dan pagi itu sempurna basah sudah seluruh badanku. Aku masuk ke sebuah lopo dengan lincak (tempat duduk dari susunan batang bambu yang selain untuk duduk-duduk santai) milik salah satu warung kecil yang berdiri di tepi pantai.
bahkan pasir-pasir pun bebas masuk ke kantong samping tas kamera. Beruntung kameraku hanya terkena cipratan air, namun tidak demikian dengan tas kamera yang basah seluruhnya. Bahkan aku menemukan pasir diseluruh lipatan tas. Memang lensa di dalam tas tidak langsung terkena air namun hanya terkena rembesan karena lapisan busa yang cukup tebal. Tapi tetep saja bikin ketar-ketir, belum lagi batere aku letakkan di bagian tas paling depan yang tidak berlapis. Akhirnya terpaksa bongkar seluruh isi tas kamera dan lap satu demi satu semua pernak-pernik yang terkena rembesan air laut. Untuk tas backpack sempet aku titipkan di ibu pemilik warung sebelum memotret.


Hari ini aku merasakan dampak dari kejadian di atas. Aku harus merelakan lensa Tamron SP AF 90mm f/2.8 DI Macro mengalami ERR01. Biasanya ini error yang berkaitan dengan kabel fleksibel.

................................................................
"Kenapa mas itu tasnya di taruh di pagar?" tanya mas Teguh, salah satu pengrajin batu akik saat berbincang-bincang denganku. Mas Teguh baru datang belakangan sehingga tidak tahu alasanku menatuh tas di pagar pembatas di atas bukit. Di bukit ini sekarang total ada tiga pedagang yang menggelar barang dagangan batu akik di tempat ini termasuk mas Teguh. Mas Wito lah yang datang paling pagi sehingga dia yang tahu kondisiku dan menyarankan aku menjemur tas. FYI, daerah Pacitan memang terkenal salah satu kabupaten yang memiliki sentra pengrajin batu terutama batu-batu akik. Jadi saat boom batu akik beberapa waktu lalu, pengrajin batu akik dari Pacitan seperti mendapatkan durian runtuh karena harga batu akik yang melonjak tajam. Sekarang kalau kalian ke sana, kalian bisa mendapatkan batu akik dengan harga yang tidak mahal.

Sejoli berjalan di pantai Klayar
Sejoli berjalan-jalan di pantai Klayar
Sambil menunggu peralatanku kering dan dapat kupakai lagi, merekalah jadi teman ngobrolku di sana. Aku memasang hammock di rerimbunan batang pandan pantai supaya bisa bersantai. Sebenarnya ada beberapa papan yang dipasang pak Esdi untuk tempat duduk tapi kurang nyaman untuk tiduran.Untung tidak terlalu banyak yang datang ke atas bukit ini. Serombongan anak muda yang tampaknya semalam nge-camp di atas bukit ini juga sudah bersiap-siap mau kembali. Suasana yang tidak terlalu ramai akhirnya membuat aku bisa memejamkan mata beberapa saat menghilangkan kantuk yang masih tersisa.

Bukit ini terletak persis di samping bebatuan karang yang langsung menghadap ke Seruling Samudera. Bukit ini dimiliki dan dikelola pak Esdi, orang Madura namun telah lama tinggal di sini. Untuk naik ke atas bukit, ada jalan kecil menanjak dari dari sisi samping. Biasanya pak Esdi sendiri yang menjaga pintu masuk ke arah bukit.

Seruling Samudera di pantai Klayar Pacitan
Semburan air di titik Seruling Samudera
Saat ini bukit ini menjadi satu-satunya lokasi bagi yang ingin melihat Seruling Samudera. Di bagian bebatuan karang di lokasi telah dipasang papan penghalang dan papan larangan melewati daerah itu. Denger-denger sih sudah ada kasus pengunjung yang meninggal terseret ombak.
Seruling Samudera itu sebenarnya terjadi saat lubang di bebatuan mengeluarkan bunyi akibat tekanan air di bawahnya yang naik ke atas akibat gelombang. Jadi setelah bunyi suara akan disusul dengan semburan air ke atas beberapa meter. Semakin besar gelombang yang akan datang akan menimbulkan suara yang makin keras. Tapi itu dulu, kata pak Esdi sekarang bunyi yang keluar lebih banyak hanya berupa desisan keras karena beberapa lubang telah menjadi lebih besar. Mungkin akibat ombak terus menerus yang menggerusnya.

Suasana pantai Klayar saat sunset
Suasana pantai Klayar saat senja hari
Karena seharian di atas bukit, aku sekalian menjadi guide dadakan beberapa pengunjung yang ingin tahu Seruling Samudera. Cie..cie.. padahal aku cuma menyampaikan ulang apa yang aku denger dari pak Esdi. Asyik juga jadi guide gratisan sambil nungguin tas kamera kering dijemur. Bahkan kadang ikutan mas Wito dan Teguh komentar-komentar nakal kalau ada wisatawan cewe cantik dengan pakaian yang aduhai menggoda. Paling heboh kalau udah nemu pasangan beda usia jatuh kayak opa dan cucu yang asyik berpacaran di atas bukit. Tapi bukan menggoda mereka langsung lho ya, cuma celetukan nakal antar kami dan disambung dengan tawa terbahak-bahak.

..........................................................
Pantai Klayar sekarang tidak semenantang dulu, lokasi sekarang juga mudah dijangkau. Kondisi jalan bisa dibilang mulus lah, walau pun ada beberapa ruas jalan yang tergolong kecil tapi umumnya masih bisa dilewati bus besar. Tapi entah ada perjanjian tertentu. Sepertinya bis-bis besar yang mengangkut rombongan tidak bisa diijinkan sampai ke pantai hanya sampai di halte depan lokasi wisata Gua Gong. Di sana akhir bis-bis besar harus berhenti dan berganti naik sejenis omprengan untuk masuk ke dalam lokasi Pantai Klayar. Hanya kendaraan pribadi dan mini bis yang bisa masuk sampai ke lokasi pantai.

View pantai Klayar saat pagi
Penginapan dan warung-warung makan juga bisa dibilang cukup banyak. Walau pun jika bukan hari Minggu akan menghadapi kontradiksi, penginapan bisa ditawar dengan harga murah namun tempat makan jarang yang buka. Kemudahan-kemudahan inilah kenapa pada hari-hari libur bisa dibilang pantai ini akan padat pengunjung dari yang sekedar jalan-jalan sampai yang mau main off-road-an. 
Kendaraan roda tiga dengan ban tahu jika hari Minggu memang banyak bersliweran di sepanjang pantai menciptakan alur-alur panjang bekas roda. Bagi wisatawan, tentu fasilitas ini akan mempermudah mereka menikmati pantai. Apalagi kalau bareng hore-hore, fasilitas pantai ini akan membuat liburanmu di pantai tambah ceria.
Jika kalian adalah orang yang menyukai pantai yang tenang, lupakan pantai ini untuk didatangi di hari Minggu. Atau jika terlanjur mendatangi tempat ini, coba lah menunggu saat senja biasanya jumlah pengunjung sudah banyak berkurang. Apalagi saat bulan seperti ini posisi matahari posisinya condong ke selatan membuat penampakan matahari tampak jatuh tenggelam di horison laut.
Di antara waktu itu kalian bisa saja menyusuri beberapa titik lokasi yang masih jarang didatangi orang karena menurutku titik kumpul orang ke pantai ini yang disekitaran bukit batu itu. Ada beberapa lokasi yang cukup keren dan jarang yang didatangi karena lokasinya yang cukup sulit karena harus menuruni tebing menggunakan kayu sebagai tangga darurat.

Malemnya aku nginep di homestay punya pak Esdi yang dikelola sama anaknya mas Isni. Homestaynya terletak di bagian dalam paling dekat dengan bukit Klayar sebenarnya belum selesai pembangunannya. Hanya ada dua kamar, satu kamar sudah ditempati oleh sepasang suami istri yang sudah bermalam sejak Sabtu kemarin. Seperti halnya homestay di daerah wisata, umumnya mahal saat hari libur. Tapi kalau mau menginap bukan di hari libur harganya cenderung masih gampang ditawar. Tentu cara ini tidak cocok untuk orang yang liburannya bersamaan dengan hari libur.
Cara lain supaya tidak mendapatkan penginapan mahal ya menyewa satu homestay. Biasanya harga satu homestay ini akan dihitung lebih murah, dan pemilik juga biasanya gak repot menghitung berapa orang yang mau tinggal di dalamnya. Pinter-pinter kalian mengurus pembagian kamarnya saja.

...............................................................
Hari Senin aku baru balik kembali melanjutkan perjalanan setelah mampir dulu di Tanjung Klayar yang sudah aku tulis di tulisan sebelumnya.
Ternyata kembali harir Senin membawa kesulitan tersendiri. Tak ada satu pun kendaraan yang ada, bahkan satu motor ojek pun. Aku mencoba menunggu terminal yang juga menjadi tempat parkir angkutan omprengan dari dan ke pantai Klayar. Nihil, hanya ada satu dua kendaraan pribadi, itu pun baru sampai ke pantai ini bukan mau kembali. Bahkan dari pagi belum ada satu tempat makan pun yang buka untuk sekedar ngopi.

View pantai Klayar dari jalan masuk (dipotret dengan Blackview BV6000)
Akhirnya dengan menggendong ransel yang cukup berat aku berjalan keluar gerbang masuk tempat wisata. Sambil berharap ada kendaraan apa saja yang bisa aku tumpangi. Penjaga tiket pun bingung saat aku bertanya angkutan apa yang bisa mengantar aku kembali, dia malah bertanya balik bagaimana aku bisa sampai kesini. Karena mereka tahunya di luar hari libur kebanyakan yang kesini menggunakan kendaraan pribadi minimal motor karena semua kendaraan omprengan tidak ada yang masuk ke pantai Klayar kecuali hari libur itu pun statusnya dicanter dari awal.

Tunggu-tunggu-tunggu, eh ada orang naik motor masuk ke pantai Klayar menggoncengkan ibu-ibu. Waktu dia balik lagi, aku coba cegat tanya. Eh ternyata dia sedang memboncengkan istrinya yang berjualan di pantai. Dengan sedikit jujur memelas akhirnya mas Wanto mau mengantarku, malahan tanya kalau mau ditemeni masuk ke gua Gong.
Ternyata mas Wanto ini punya homestay di Klayar, lokasinya persis setelah gerbang masuk pembayaran tiket pantai Klayar. Dia sendiri punya penyewaan kendaraan off-road yang seperti aku tulis di depan, cuma dia bawa ke pantai Klayar saat hari Minggu atau hari libur saja

Karena lokasi untuk ganti kendaraan omprengan tepat di sebelah lokasi Gua Gong, jadilah aku mampir ke tempat ini. Sama seperti pantai Klayar, Gua Gong saat bukan hari libur seperti ini juga tergolong sepi. Beberapa guide yang biasanya agak agresif menawarkan jasa mengelilingi Gua Gong juga tidak terlalu antusias hari ini. Ah nanti saja kalau udah semangat lagi aku tuliskan tentang Gua Gong.

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya