Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Minggu, 07 April 2019

Cunca Wulang: Keindahan yang Tidak (Lagi) Murah


Aliran sungai yang bening mengalir diantara celah-celah tebing tertangkap jelas dari jembatan gantung ini. Berdiri di jembatan gantung selalu memberikan sensasi menyenangkan bagiku. Walaupun tidak setinggi suspension bridge di Taman Nasional Gunung Pangrango, terlalu jauh kalau harus membandingkannya dengan jembatan gantung di air terjun Cunca Wulang ini. Walaupun begitu ayunan jembatan ini tetap memberikan sensasi jantung berdesir. Jembatan ini salah satu membedakan Cunca Wulang dahulu dibandingkan dengan saat ini. Baca ceritaku di Cunca Wulang dulu disini.

"In every walk with nature one receives far more than he seeks" --- John Muir

Cunca Wulang artinya Air terjun bulan. Mengapa disebut begitu? karena air terjun ini jatuh ke dalam sebuah tebing batu berbentuk lubang seperti lubang. Karena kondisinya seperti, sulit melihat penampakan air terjun untuk dari atas sampai ke bawah. Untuk bisa melihat utuh ada dua cara:
  1. Naik ke atas air terjun dan berdiri cukup dekat ke dinding tebing. Jangan kuatir, dinding air terjun ada batu padat yang tidak akan longsor oleh injakan kalian.
  2. Ini cara yang paling nikmat tapi basah. Jadi turun ke dalam sungainya dan berenang menyusuri sungai sampai masuk ke dalam dinding batu berlubangnya.
Namun, walau tidak bisa melihat air terjun secara utuh namun pemandangan aliran sungainya tetap indah karena melewati tebing-tebing batu yang pepohonan yang rindang.

Perjalanan ke Lokasi
Awalnya aku ingin ke Pulau Padar, cuma karena waktunya tidak nyambung dengan jadwal keberangkatan pesawatku. Pembatalan Padar ini akhirnya aku membuatku memilih lokasi lain yang bisa diakses melalui jalur darat.

Dengan berbekal pinjaman motor dari seorang teman, perjalanan ke lokasi aku tempuh hampir satu setengah jam mungkin lebih karena aku berjalan agak santai. Maklum naik motor sendiri jadi gak perlu terburu-buru. Lumayan bisa sambil menikmati pemandangan kota Labuan Bajo dari ketinggian.

Walau sebenarnya masih cukup hapal arah ke lokasi aku memilih bertanya arah kembali ke penduduk setelah dekat di Warsawe untuk meyakinkanku. Memang sekarang banyak aplikasi peta seperti Google Map yang dengan mudah menjadi guide andal ke lokasi-lokasi yang sudah terkenal, tapi GPS (Gunakan Penduduk Setempat) masih menjadi jurus andalanku. Ada beberapa faktor yang membuatku nyaman dengan mampir bertanya ke penduduk: (1) Cara mudah berinteraksi dengan masyarakat setempat, (2) Memastikan bahwa aplikasi peta tidak menyesatkan terutama jalur-jalur yang belum dikenal, (3) Aku masih old style yang masih nyaman bercakap-cakap dengan masyarakat.

Pembenahan Infrastruktur 
Wisata di Kabupaten Manggarai Barat mulai banyak dibenahi, termasuk di lokasi air terjun Cunca Wulang. Beberapa fasilitas mulai diperbaiki, seperti dibangunnya jalan setapak dengan beton menembus hutan menuju ke lokasi air terjun. Jarak tempuh berkurang hampir setengah waktu di banding dulu. Aku masih ingat dulu seorang teman dari bepeka sempat terduduk lemas kecapean waktu jalan balik karena kondisi jalan yang cukup sulit melewati hutan yang naik turun tajam. Apalagi menuju air terjun harus turun dari bebatuan sungai yang cukup curam. Belum selesai seluruhnya, jalan beton sudah dibangun namun pagar pengaman masih sebagian belum terpasang.

Dan juga adanya dua buah jembatan yang dibangun, satu jembatan biasa dan satu jembatan gantung. Jembatan biasa dibangun diantara dua bukit untuk memendek jarak perjalanan, sedangkan jembatan gantung untuk membantu melewati sungai. Hanya kalau melihat kualitas bangunannya, aku agak ragu jembatan gantung ini bisa bertahan lama.

Tapi itu infrastruktur yang ada di lokasi lho ya, kalau perjalanan dari Labuan Bajo ke Cunca Wulang tetap saja masih banyak yang kurang bagus. Terutama dari pertigaan Warsawe menuju lokasi air terjun.

Ada harga dengan dibangunnya infrastruktur ini, sekarang biaya masuk ke dalam lokasi bisa dibilang mahal. Ada seorang bule yang sepertinya solo backpacker keberatan dengan tarif masuknya. Kenapa? Karena ke sana diharusnya menggunakan jasa pemandu. Mau kalian jalan sendiri, berdua atau selusin tetap harus menggunakan jasa pemandu. Selamat jalan para backpacker hemat, kalian tak akan bisa berhemat berwisata di Manggarai Barat jika pergi sendirian. Tiket masuk plus jasa guide sekitar 70-ribu, itu untuk wisatawan lokal. Untuk wisatawan asing sepertinya lebih dari 100-ribu.

Sepuluh kali kalian ke lokasi itu, sepuluh kali harus membayar biaya guide lokal. Padahal tanpa guide pun dengan kondisi sekarang kecil kemungkinan seorang wisatawan akan tersesat, kecuali sengaja berjalan keluar dari trek yang ada. Ada setiap tempat wisata wajib ada? Hal itu tergantung lokasi tentunya. Jika lokasi yang belum dikembangkan dan susah diakses tentu butuh pemandu. Bahkan tanpa diwajibkan pun wisatawan akan mencari pemandu. Atau tempat bersejarah yang membutuhkan kehati-hatian dalam pengelolaan, jelas kebutuhan guide diperlukan.

Aku tidak berpendapat sendiri, silahkan kalian browsing dan cari tahu berapa banyak yang mengeluh dengan biaya tiket masuk yang dianggap terlalu mahal. Beda sekali rasanya saat aku berwisata di Jawa yang tiketnya banyak yang ramah kantong.


Aku sendiri tidak keberatan adanya guide, karena aku suka jika ada teman berbincang apalagi kalau sedang jalan sendiri. Hanya jika keberadaan pemandu menjadi kewajiban bagi seluruh wisatawan jelas itu akan membunuh keinginan banyak backpacker yang ingin menjelajah di Manggarai Barat. Tiba-tiba tempat wisata di Manggarai Barat menjadi tidak ramah terhadap para backpacker. Haruskah semua tempat wisata harus ditebus dengan kocek yang tebal?

14 komentar:

  1. Simon Nany07/04/19 19.12

    Tempat yg indah... Pernah kesana bbrp thn lalu.. saat itu infrastruktur msh sangat terbatas.. dr posjaga t4 beli tiket masuk sampe lokasi air terjun jalan kaki lewat jalan setapak masuk hutan.. blom ada jembatan dan jalan beton...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga pernah pas masih belum ada infrastruktur, sampe temen yang gemuk pas baliknya nyerah sempat terkapar di pertengahan jalan karena baliknya kan banyak nanjak.

      Hapus
  2. cakeeeep bangeeet.. ah udah lama pgn kesini tapi belum kesampaian.. hmmm mahal juga ya guidenya 70rb , dan itu wajib -___-

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Musti cari temen kalau kesini biar bisa sharing biaya untuk guide-nya...

      Hapus
  3. Wah, dari fotonya, kelihatan Cunca Wulang ini keren banget. Soal pakai guide, mungkin untuk pendapatan masyarakat setempat ya. Tapi kalau begini, mendingan datangnya rombongan, jadi biaya guide bisa dibagi bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guide memang diperlukan salah satunya ya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Mustinya taveler menggunakan guide karena memang membutuhkan dengan memberikan guide informasi lebih yang tidak bisa diperoleh jika tanpa guide. Tapi mewajibkan akan menjadi momok solo traveler/backpacker atau yang sudah beberapa kali kesini. Aku sendiri biasanya pake guide pertama kali, abis itu ya kalau sendiri gak pakai. Sekarang udah gak bisa.

      Hapus
  4. Setuju mas, tarif masuk yang tinggi akan mengurangi minat orang untuk berkunjung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak semata tarif tinggi sih tapi juga spotnya satu dan tidak sulit dijangkau lagi jadi mewajibkan guide jadi kelihatan dipaksakan.. jadinya harga tinggi tapi tidak sesuai dengan apa yang didapatkan

      Hapus
  5. Cunca Wulang, dulu pergi saya tidak sempat turun ke bawah air terjun ini, cuma menunggu di atas (sebuah kios) dan mengobrol dengan penduduk lokal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi apa sebenarnya maksud kedatanganmu ke tempat ini? #curigapoll

      Hapus
    2. Untuk mencari bocah-bocah diajak foto bareng hahahahaha :D Lelah, Baaaang baru dari Pulau Kanawa, tiba Labuan Bajo langsung menyewa sepeda motor dibawa sendiri ke Cunca Wulang hahaha :D

      Hapus
    3. Padahal di air terjun bawah banyak anak-anak kecil yang cari kepiting lho, tapi di atas jam 5 sore... :D :D :D

      Hapus
  6. Kalo sudah dikelola pasti ada harga yang harus dikeluarkan utk pelestariannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya setiap upaya perbaikan fasilitas dan pelestarian memang ada cost yang harus dibebankan kepada pengunjung (traveler), hanya selain tiket masuk (yang udah naik) juga ada biaya guide yang sifatnya wajib. Biaya guide ini ternyata hanya diterima separo ke guide sisanya masuk ke desa.. guide saja mengeluh dengan kebijakan seperti ini.

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini. Untuk sementara komentar saya moderasi dulu karena banyak spam yang masuk. Terima kasih sudah berkunjung, salam MLAKU!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya