Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Senin, 21 Maret 2016

Ups.. Ternyata Ada Pasir Putih di Borong

Senja di Pantai Liang Bala Borong
Rela pingsan menikmati ademnya pasir putih di pantai Liang Bala
Pantai Liang Bala adalah pantai yang pasirnya berwarna putih yang ada di sekitaran kota Borong. Keistimewaannya, selain berpasir putih, di pantai ini juga terdapat beberapa gua. Gua terdekat yang bisa dijangkau lewat pantai hanya bisa dicapai kalau sedang surut saja. Saat ini pantai ini masih belum dikelola oleh pemerintah, jadi masih gratis dan bebas. Iya bebas beneran kok mau ngapain aja asal bukan bebas buang sampah ya, kalau itu minta aku gosok kepalamu pake kaus kaki. Wisatawan lokal juga belum banyak yang ke tempat ini, entah karena belum dikenal atau karena kondisi jalannya yang kurang bagus. Tapi ada juga yang bilang begini: ah, sama kayak di sini kok om cuma pasirnya warna putih tapi sama saja. Wah ini orang mungkin belum tau kenapa ada salon #apahubungannyacoba.

Liang Bala dari atas
Tampak pasir putih pantai Liang Bala dari puncak
 Sebelumnya gak pernah mikir kalau di Borong itu ada pantai yang pasirnya berwarna putih. Iya beneran.. Aku gak ada ekspektasi bakalan mendatangi pantai yang memiliki pasir berwarna putih di sini. Dari pertama kali ke Borong sekitar tahun 2012-an (awal-awal Manggarai Timur lepas dari Manggarai, kabupaten induknya), aku cuma tahu pantai Watu Ipu yang memanjang dari dermaga Borong yang sebelah tenggara dibatasi sama bukit batu yang terjal itu pasirnya warna hitam. Bahkan salah satu lokasi wisata yang dari dulu dikembangkan sejak kabupaten induk yaitu kawasan pantai Cepi Watu itu pun juga pasirnya berwarna hitam cuma di sana ada lokasi yang banyak batu-batunya. Kelebihan Cepi Watu cuma satu, kalau lagi pas bisa lihat mbak-mbak bahenol jalan-jalan di pantai. Ternyata oh ternyata di Cepi Watu itu ada tempat karaoke.. mungkin mbak-mbak itu yang jaga parkir kali ya #sokculun. Karena itulah, wajar aku gak punya ekspektasi banyak kalau ke Borong. Tetap suka sih menikmati senja di pantai walau pasir hitam, karena senja tetaplah senja yang asyik dinikmati dari mana saja bahkan sambil boker aja nikmat #timpukboker.


View gua Liang Bala
Suasana tebing gua dari ujung lain gua
Katanya pantai Liang Bala ini belum lama baru diketahui keberadaannya baru sekitar dua tahunan ini. Mungkin saja pantai itu diketahui keberadaannya sejak kawasan bukit yang menghalangi pantai itu kena gusur sebagian jadi jalan. Iya, memang ada jalan baru yang harus memangkas samping bukit yang isinya batu-batu lempengan dan batu-batu besar segede gaban. Batu-batunya unik lho lempengannya lurus-lurus kayak baru keluar dari pabrik. Coba ada yang kreatif bisa langsung dibikin batu alam tuh. Yuk yang mau bisnis jualan batu kakak? Kakak yang potong batu, aku yang jual.
Ikhwal aku sampai ke pantai ini saat gak sengaja liat foto-foto pantai yang dipasang di salah satu restoran saat kita sedang makan siang. Di situ ketemu mas Eko - pinisepuhnya Tapaleuk Ukur Kaki #sungkem - yang kesasar sampai ke Borong. Dapat info dari teman-teman pemda yang sudah ke sana lebih dahulu kalau lokasi pantai itu ternyata dekat yaitu di balik bukit di pantai Watu Ipu. Waktu ngobrol siang itu juga belum kepikiran ke sana karena informasinya lokasinya masih susah dilewati. Mungkin kurang doa kali.


View dalam gua Liang Bala
View dari dalam gua pertama di pantai Liang Bala
Sore hari rencana awalnya mau jalan-jalan di pantai yang ada muara dari sungai Wae Bobo. Kebetulan sudah ada jembatan yang membentang tinggi melewati muara sungai Wae Bobo yang pas buat nikmati sunset. Masalahnya cuma satu motor, gak mungkin kan kita bonceng bertiga nanti bisa-bisa saingan sama alay-alay bekicot. Karena Trysu batal mau ikut (kayaknya memberi kesempatan aku dan mas Eko berduaan #halah), akhirnya kita merubah arah mau mencoba mendatangi pantai Liang Bala. Walaupun sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi informasi lokasinya lumayan belibet jadi memang harus rajin-rajin nanya sama penduduk sekitar kalau tidak mau kesasar ke tempat lain.

Salah satu cekungan air di gua Liang Bala
Kita melewati jalur baru yang memangkas sisi kanan bukit sehingga kondisi jalannya masih berupa jalan tanah berbatu. Sebelumnya di daerah ini mungkin sudah ada jalan namun masih berupa jalan setapak yang digunakan untuk masyarakat sekitar bukit. Karena memang pekerjaannya baru kondisi pemotongan bukit jadi kondisi jalannya masih amburadul. Selain kurang rata batuannnya pun gampang terlepas bisa bikin motor gagap. Untung aku duduk manis jadi pembonceng di atas motor Mega Pro yang ditunggangi sama mas Eko yang juga gedenya saingan sama motornya. Jadi mantep aja lewat jalan berbatu, itu batu saat digilas bukan melenting keluar tapi langsung amblas ke tanah. Mungkin kalau dilewati mas Eko beberapa kali itu jalan langsung mulus sendiri #digamparmaseko. Aku sendiri merasa miris tiap kali lewat di batuan yang berpasir. Rem gak boleh bener-bener ditekan kalau gak ingin motor slip. Setelah melewati dua tanjakan, di tanjakan terakhir itulah view pantai pasir putih nampak jelas. Bagian menurun inilah yang bener-bener harus hati-hati. Aku bener-bener gak nyaranin ke tempat ini pakai motor yang rodanya kecil. Di belokan menurun terakhir aku memilih turun dari motor karena selain belokan tajam juga jalan berlubang dalam. Sepertinya kalau habis hujan lokasi ini tidak bakalan bisa dilewati motor, cuma bisa pake kolor itu pun jangan bukan kolor ijo, halah.

Memotret air di Liang Bala
Lokasi yang cocok untuk memotret slowspeed
Angin dari laut langsung menerpa ke wajah begitu sampai di lokasi, menyengat-menyengat gurih gimana. Cuaca masih terasa gerah walau sudah sore karena saat ini memang wilayah NTT menjadi salah satu wilayah yang masih mengalami gejala El Nino - gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan lautan - makanya jadi terasa lebih kering dan panas walaupun sebenarnya saat ini seharusnya masih jatuh musim hujan. Untungnya laut masih surut walaupun belum terlalu turun. Dengan menyusuri pantai ke tenggara melewati pinggir tebing batu akhirnya bertemu dengan sebuah lubang besar. Gua Liang Bala yang pertama ini tidak terlalu dalam, lebih mirip sebuah ceruk besar. Dari posisinya, air laut akan membasahi sampai ke ujung gua saat puncak pasang. Di sekitar gua banyak cekungan-cekungan air dimana beberapa ikan kecil tampak terperangkap di dalamnya. Di antara pantai pasir putih dan gua ini ada tempat karang yang bagian bawahnya bolong sehingga saat ombak naik dari lubang-lubang itu keluar suara mendesis keras yang kadang-kadang disertai semprotan air yang kencang ke udara. Tidak banyak orang hari ini, hanya ada beberapa anak yang sepertinya merupakan anak-anak dari kampung ini juga sedang menggunakan tombak dan pancing. Di bagian tebing atas tampak sebuah bangunan pondok terbuka yang dibuat oleh penduduk. Ada sepasang suami istri yang tengah beristirahat setelah selesai menanam. Di bagian atas tebing itulah tanah mereka. Saat ini mereka sedang menanam jagung, ada beberapa pokok ubi di bagian samping yang mungkin sudah di tanam jauh sebelumnya.

Kolam di gua Liang Bala
Kolam-kolam di sekitar gua, banyak ikan kecil terjebak
Karena jaraknya tak jauh, dua hari berikut setelah mas Eko melanjutkan tour ke Ruteng, aku mengajak Trysu kembali ke pantai Liang Bala. Kebetulan dari siang, listrik di hotel yang pelayanannya ala kadar namun harganya ala mak, maka aku dan Trysu sudah mulai jalan sejak jam empat. Karena jalan kaki, aku dan Trysu memilih menyusuri jalan pantai yang sudah dilapis batu dengan jarak tempuh tak lebih dari lima belas menit. Dari dermaga pantai Watu Ipu, jalan ke arah bukit sangat terjal. Sepertinya tempat ini sudah beberapa kali longsor tampak dari beberapa pohon yang sudah tumbang jauh ke bawah. Sebenarnya waktu kembali dari pantai ini, penduduk ada yang bilang kalau kita bisa lewat bawah menyusuri bukit cuma aku kurang tahu dari mana mulainya makanya aku memilih lewat atas bukit saja. Di atas kami harus beberapa kali berhenti berteduh karena cuaca yang masih terasa terik walaupun sudah jam empat sore.

Awalnya aku mengajak Trysu ke atas bukit untuk menunjukkan view gua dari atas bukit. Saat berada di atas justru aku dikiranya mau ke gua yang lain jadi mereka memandu kami arah menuju gua lain. Wah memang rejeki, akhirnya malah tau cara menuju ke gua lainnya dan itu tidak perlu harus menunggu laur surut. Tapi masalahnya berganti. Dari atas bukit ini untuk turun ke bawah yang harus hati-hati. Turun pertama harus melewati kayu yang dibuat penduduk untuk turun ke bawah. Setelah beberapa meter menyisir pinggir tebing barulah kita harus kembali agak merangkak menyusuri tebing untuk sampai di bawah gua. Kondisi di sini kita harus hati-hati karena tipe batu di tebing bukan tipe karang tapi jenis batu cadas campur karang. Artinya tidak semua batu aman untuk dijadikan pegangan.

Senja dari tebing Liang Bala
Senja dari atas tebing pantai Liang Bala
Begitu sampai di gua bawah, pemandangan pasir putih di pantai ini lebih asyik. Bukan cuma karena tempatnya yang lebih tersembunyi tapi yang pasti juga lebih bersih karena sepertinya tidak semua orang yang berwisata ke pantai Liang Bala sampai ke pantai yang sisi ini. Ternyata di sini selain gua yang langsung kita temui saat turun juga masih ada dua gua kecil lain yang letaknya tak jauh tinggi dari pantai, yang artinya akan tergenang saat air mencapai puncak. Berarti hanya gua awal kita turun yang paling aman karena tidak akan terjangkau air walau sedang puncak pasang juga kondisi dalam gua yang berupa tanah landai bisa digunakan untuk berteduh. Hayo siapa yang berminat pasang tenda di sini. Gak rugi lah pokoknya kalau mau nenda di sini.

Perjalanan pulang aku dan Trysu sempat menyusuri lewat pingir pantai yang ternyata capek karena harus loncat dari satu batu ke batu lain. Ternyata waktu naik ke atas ada jalan setapak yang hanyak cukup satu badan. Walau kecil saja tapi jalan ini rupanya jalan yang paling cepat bila mau ke Liang Bala dengan jalan kaki. Motor tidak bisa melewati jalan ini ya karena di beberapa titik kita tetap harus melewati batu-batu besar. Gobloknya, dengan jalan kaki sejauh itu kira malah hanya membawa satu botol air putih ukuran kecil. Keruan saja kita pulang jadi setengah mati gara-gara kehausan di sepanjang jalan. Udah gitu warung yang biasa buka di pinggir dermaga entah kenapa juga tidak jualan hari ini.
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 16 Maret 2016

Air Terjun Tesbatan, Jangan Nyampah!

warna tosca air terjun Tesbatan Kupang
Warna tosca air terjun ini tetep nampak walau sudah sore, jika ada cahaya matahari warna tosca-nya makin menjadi.
Keindahannya tampak jika tak ada sampah berserakan


Mungkin sudah banyak orang Kupang yang berwisata ke air terjun Tesbatan. Bukan banyak lagi tapi banyak banget. Tau dari mana? Dari sampah yang mereka tinggalkan. Itu sampah plastik sama kantong Ka-Ef-Ce yang jelas saat ini satu-satunya yang ada di Kupang berserakan di tanah lapang dekat air terjun Tesbatan. Pokoknya itu pengalaman gak banget yang bikin aku gak mau nulis pengalaman pertama berkunjung ke Tesbatan. Di situ, aku mendapat predikat "Orang Gila" sama ibu-ibu gendut yang jengkel karena asap dari sampah yang aku bakar. Iya mungkin aku salah bakar sampah yang aku kumpulin, tapi aku memang mau kasih pelajaran sama pengunjung yang cuma bisa datang buang sampah seenak udelnya. Padahal udelnya aja gak enak diliat #cekudelsendiri.

menikmati air terjun Tesbatan
Berendam di air terjunnya yang segar
Saking sampahnya yang bikin sepet mata akut, akhirnya kita bersihin tuh sampah-sampah apa saja yang bikin pemandangan air terjun Tesbatan kehilangan asyiknya. Pas kita lagi bakar, ada bapak-bapak yang bilang "sekarang lagi buat mandi, nanti aja bersihinnya kalau pengunjung udah pulang". Lah dipikirnya aku ini penjaga air terjun apa ya, disuruh bersihin abis gak ada orang. Pas dibilangin kalau aku juga pengunjung yang udah sepet akut sama sampah-sampah ini, dengan bijaksananya si bapak bilang, "Ya percuma dibersihin dek, di taman Nostalgia aja banyak sampah gak dibersihin". Bijaksana banget sih pak tapi lebih mirip orang putus asa. Kalau Bapak putus asa, aku punya tali buat mengakhirinya #bikinayunantali.
Udah lama juga sejak kunjungan pertama aku gak ke Tesbatan lagi. Padahal perjalanan pertama kesana lumayan asyik karena bareng anak-anak gokil yang sok-sokan hapal jalan, dan berujung pada jalan yang ancur-ancuran. Roda-roda motor matic yang kelasnya jalan aspal mulus harus rela menghajar jalan sekelas batu telford. Aje gile gak tuh.
 

air terjun Tesbatan
View aliran air dari bagian teratas
Kemarin setelah ambil cuti libur ke Surabaya, aku sempetin coba balik ke Tesbatan sekalian ngajak bini yang belum pernah tau tuh Tesbatan kayak apa. Kesian, lahir dan besar di pulau Timor masak Tesbatan aja gak tahu.
Berangkat sekitar jam setengah tigaan sore dengan tujuan biar gak pas rame orang. Lagiaan saat itu bukan sedang hari libur jadi kemungkinan sepi pengunjung, tambah beberapa hari sebelumnya ada hujan jadi ada kemungkinan sampah-sampah yang bikin sepet mata mungkin udah hilang kebawa air. Kalau pun sampah-sampah itu gak hilang terbawa air biar yang buang sampah saja yang kena banjir gak papa. Ini bukan doa lho, cuma permohonan orang teraniaya.
 

Belajar dari pengalaman pertama, aku memilih mengikuti jalur waktu pulang yang lebih mulus jalannya. Walaupun lebih jauh tapi setidaknya perjalanan jadi terasa lebih nyaman. Mungkin lariku yang kelewat pelan, akhirnya nyampai ke sana pas udah mendekati jam setengah lima. Berarti perjalanan hampir dua jam, lumayan bikin ngilu tangan yang agak kram. Perjalanan ini sekaligus uji coba pertama motor X-ride sebelum nanti dipakai untuk perjalanan yang lebih ekstrem: naik ke gunung Fatumnasi. Secara umum aku bisa bilang dari Kota Kupang sampai masuk ke desa Tesbatan bisa dikatakan kondisi jalannya aman bahkan dengan motor matic yang modelnya nyaris rata dengan tanah. Ada juga sih beberapa ruas yang agak jelek tapi gak jelek banget-banget kok. Itu juga gak banyak, mungkin gak nyampai 30km yang rusak begitu #ituparahmonyet! Gak bercanda...

sore di hijaunya air terjun Tesbatan
Ngeksis buat bukti kalau udah ke Tesbatan walau gak nyemplung
Justru di ruas terakhir setelah masuk ke pertigaan menuju pintu masuk air terjun yang mulai jelek. Jalannya masih berupa aspal yang tinggal menyisakan batu-batu kerikil. Setelah gerbang pintu masuk air terjun disitu kita harus lebih hati-hati lagi karena batuan bekas beraspal ini tipenya mudah lepas jadi bisa bikin motor tergelincir.
Begitu sampai di sana justru aku masih sempat berpapasan rombongan-rombongan yang udah mau balik. Kirain bakalan sepi ternyata ada yang sepikiran dengan aku, mendatangi tempat ini pas bukan hari-hari libur. Tampaknya mereka rombongan yang bukan tipe pembuang sampah dan pecinta vandalisme di tempat-tempat publik. Coba tanya ke beberapa anak kampung di dekat situ katanya udah sepi. Setelah jalan masuk beberapa ratus meter dari parkiran, akhirnya ketemu air terjun Tesbatan yang mulai berkurang debit airnya. Suasana sudah sepi, hanya ada beberapa remaja tanggung sekitar tiga orang yang sedang mandi di air terjun. Aku lihat sekeliling tidak terlalu banyak sampah seperti sebelumnya dan tidak ada tampak sampah baru. Ternyata rombongan-rombongan yang tadi lewat untung termasuk wisatawan yang bertanggung jawab.
 
air terjun Tesbatan
Bonus dari perjalanan pulang dari Tesbatan
Ternyata kalau udah sepi dan agak bersihan begini, suasana air terjun Tesbatan lumayan asyik. Biniku yang melihat genangan airnya berwarna tosca pengen nyebur aja untung diingetin sama adik-adik yang berenang itu kalau di bagian tengah itu langsung dalem. Akhirnya dia cuma main air di pingir doang. Karena udah sore jadi gak susah dapat view enak di air terjun Tesbatan. Tak berapa lama kemudian, beberapa anak yang lebih kecil (sepertinya mereka masih SD) mulai ikut mandi di bawah. Kalau anak-anak yang umurnya tanggung (sekitar SMA) mereka tinggal di sekitar Oesao agak jauh dari sini, kalau yang kecil-kecil baru datang memang anak-anak desa Tesbatan. Asyik aja lihat anak-anak bermain air dengan cara meloncat dari tingkat paling atas untuk terjun.
 

Aku senang melihat sebuah tulisan papan yang ditulis dari para Traveler Malaka yang mengimbau para pelancong tidak meninggalkan sampah. Walau 100 pengunjung tidak peduli setidaknya ada satu-dua yang belajar untuk peduli. Sepertinya aku juga harus menyiapkan papan tulisan bagus untuk dibuat seperti itu.

Catatan: Air terjun Tesbatan itu bukan ada di Kota Kupang tapi di Kabupaten Kupang. Beberapa orang luar sering keliru menganggap Kota Kupang itu dekat dengan Kabupaten Kupang, padahal bedanya bisa puluhan bahkan ratusan kilometer. Jadi dari Kota Kupang itu jalan menyusuri jalan Timor Raya arah SoE, nanti dari pertigaan pasar Oesao belok ke kanan terus ikuti jalan besar. Jangan ragu untuk bertanya ke penduduk sekitar, umumnya mereka akan dengan senang hati menunjukkan arah ke air terjun. Nanti kalau melihat pertigaan dengan tugu Selamat Datang di desa Tesbatan di tengah-tengah belok ke kanan lagi  sampai ketemu pertigaan terus ke bawah. Sekali lagi, jadilah pejalan yang bertanggung jawab. Jika hari ini kamu melihat keindahan tempat yang kamu kunjungi, buatlah tempat itu tetap terjaga indah untuk pengunjung selanjutnya. Jangan ragu untuk mengingatkan pengunjung yang masih suka menyampah dan berbuat vandalism.

Baca keseluruhan artikel...

Sabtu, 23 Januari 2016

Mengejar Pasir di Kepulauan Mekko

Bersandar di pulau Meko Adonara
Bersandar di pulau Keroko salah satu  pulau di Kepulauan Meko, Adonara
Gosong lagi gosong lagi... dan lagi-lagi perjalanan kali ini bikin gosong kulit, bahkan rasa terbakar di tengkuk, tangan dan kaki masih terasa lebih dari dua hari. Tapi itu sepadan dengan perjalanan seharian yang aku lakukan di pulau Adonara. Apakah karena lokasinya bagus? Ya emang lokasinya bagus tapi bukan karena itu. Saat kita memilih berjalan, sebenarnya perjalanan itu sendiri tujuannya. Lokasi yang dituju itu hanya persinggahannya toh akhirnya juga balik bukan menetap di lokasi itu kan.


Perjalanan kali ini yang punya hajat temen pak Dib yang sudah dikenal dengan sebutan 'pakde'. Pakde ini yang lagi ngotot-ngototnya pengen ke Adonara, mau kemana aja asal udah menginjakkan kaki ke Adonara. Lah waktu aku tanya di Adonara mau kemana juga dia gak tau pokoknya sampai Adonara. Aku curiga Pakde nih lagi menggenapkan nadzar-nya buat menginjakkan semua pulau di Nusa Tenggara Timur sebelum balik ke Surabaya. Menurutku sih posisi bulan yang baru separo bukan waktu yang tepat karena posisi puncak surut pasti terjadi tengah hari. Semangat Pakde memang udah diubun-ubun jadi kita ngalah aja, yah tapi tetep happy lah.. siapa sih yang gak happy jalan-jalan biar pun udah kebayang panasnya saat bulan-bulan begini. 
Buat yang belum tau, di wilayah NTT saat ini sedang dilanda badai el Nino yang kata para ahli di BMKG mengakibatkan penurunan curah hujan dan itu bisa terjadi sampai akhir Februari. Bayangin aja gilanya kalau NTT yang udah pasti lebih panas saat musim penghujan bakalan tambah lebih panas kalau hujannya juga ogah turun. Padahal matahari di NTT itu lebih deket dari pada di Jawa, iya beneran.. bulan Desember-Januari kan posisi matahari lagi di puncak miring ke Selatan. Ah lagian ngapain aku ngurusin panas yang emang dari sono begitu.. pokoknya kita jalan...

Gagal Nyeberang ke Waiwerang
View laut di salah satu tiang dermaga di Waiwerang
Hari Sabtu pagi, setelah sarapan nasi goreng di hotel kita berempat: aku, Pakde, Idil dan Yudha meluncur ke Pelabuhan Larantuka sekitar jam tujuh lewat pakai motor pinjeman: tanpa plat dan gak ada esteneka. Udah kuatir aja sih karena ke dermaga musti melewati kantor polisi. Belum lagi cuma dapet pinjeman dua helm, artinya cuma yang di depan yang pakai. Yang depan pakai helm, yang belakang pakai doa "moga-moga selamat". Sempat mampir cari topi karena serba dadakan jadi gak ada yang bawa topi. Aku yang bahkan kemana-mana selalu pake topi jelajah pun gak tau kemana tuh topi tiba-tiba hilang saat dibutuhkan seperti ini. Emang gitu, saat dicuekin nongol melulu, giliran dibutuhin sok jual mahal pakai menghilang segala.
Pas nyampe di Pelabuhan untungnya kapal yang jadwalnya dari Larantuka - Waiwerang - Lewoleba masih ada yang memang jadwalnya berangkat jam setengah delapan pagi. Sayangnya bagian dek kapal dua lantai sudah penuh dengan motor jadi hanya orang yang bisa masuk. Daripada menunggu kapal berikutnya yang baru tiba nanti siang, akhirnya kami memutuskan naik perahu lebih kecil menuju ke Tobilota. Kalau dari Pelabuhan Larantuka menuju Waiwerang sekitar satu setengah jam, dari Pelabuhan ke Tobilota hanya sekitar sepuluh menit. Ya jauh lebih dekat karena cuma menyeberang saja, berbeda dengan Waiwerang yang letaknya di Adonara Timur jadi harus memutari setengah pulau Adonara. 

Menyeberang dari Larantuka ke Tobilota
Duduk di depan perahu yang menuju dermaga Tobilota
Cuma ya itu, dari Tobilota menuju ke Meko itu sama dengan perjalanan membelah Adonara. Ada yang menyarankan kita dari Tobilota ke Waiwerang lewat Terong yang bisa ditempuh satu jam tapi kondisi jalannya katanya jelek (akhirnya kami buktikan saat kembali). Karena arah tujuan kami Meko, seorang bapak-bapak yang ngajak ngobrol kami di kapal menyarankan kami menuju Witihama karena kebetulan bapak itu juga tinggal di Witihama.
Perjalanan dari Tobilota ke Witihama kita tempuh sekitar hampir tiga jam, karena walaupun beberaa ruas jalan sudah diperbaiki tapi jalan-jalan di perkampungannya masih banyak yang sudah rusak. Ada jalur menurun yang paling sulit dari kampung Kelubagolit ke Witihama karena itu jalan hanya bisa dilewati satu arus karena kondisinya yang sangat rusak. Kami harus menunggu kendaraan dari bawah naik semua baru kendaraan searah arus kami bisa lewat. Aku sampai minta Idil untuk turun karena kondisi jalan yang sulit seperti itu.
Dalam perjalanan kami terus bertanya ke penduduk jika sudah mulai kebingungan. Kami bertemu seorang pria muda yang asli dari Adonara yang katanya kerja Larantuka di penagihan kredit. Untungnya dia dengan suka rela mengantar kami bahkan sampai masuk ke dalam. Di pertigaan, dia tunjukkan arah jalan ke Meko tapi dia menyarankan tidak lewat kesana karena walau bisa ditempuh pakai motor tapi kondisi jalannya parah banget. Dia lebih menyarankan aku ke arah Waiwuring yang tidak seberapa jauh lagi.

Pasir Putih di Kepulauan Meko
Narsis di Nuha Pasir Putih di wilayah Adonara
Narsis ria di pulau pasir putih yang kepulauan Meko
Kami diantarkan ke seorang nelayan di kampung Waiwuring yang menyebut namanya Mat, katanya berasal Sulawesi di daerah Wakatobi. Karena perjalanan ke sana sekitar memakan satu jam jadi kita sepakat harga 250ribu. 
Sekitar jam sebelas lewat kami berangkat dengan perahu kecil milik pak Mat. Supaya seimbang, dua harus di depan dan dua lagi di belakang. Untuk perjalanan berangkat, aku dan Pakde kebagian di depan, kata pak Mat biar gampang buat ngambil foto. Pakde pakai jaket sementara aku pake rompi dan baju lengan pendek. Gara-gara pakaian ini dan duduk di depan perahu saat terik yang akhirnya sukses membakar kulit lenganku sampai gelap naik 5 level dari gelap menjadi guelaaaap bangeeeeetttt.
Perjalanan pakai perahu dari Waiwerang sampai ke kepulauan Meko memakan waktu 50 menitan. Tanning 50 menit memang joss, mau coba? Sepanjang perjalanan itu aku menemukan beberapa pasir putih yang timbul di tengah laut dan dipenuhi burung belibis dan bangau.

View dari satu-satunya bukit di pulau Keroko
Di kepulauan Meko ini terdapat 4 pulau, dua pulau yang pertama tampak yaitu pulau Konawe dan Ipet. Kedua pulau ini tampak seperti satu pulau yang terpisah dengan dibatasi bakau. Sedangkan dua pulau kecil di bagian luar yaitu pulau Keroko dan Watupeni. Nah diantara pulau ini ada sebuah daratan pasir putih yang hanya muncul saat laur surut yang mereka sebut "Nuha Pasir Putih". Pulau ini di foto teman termasuk pulau yang sering dipenuhi burung-burung seperti belibis dan bangau berkumpul. Dan benar saja, justru siang ini pas puncak surut sehingga pulau pasir itu jadi tampak luas, sayangnya minus burung-burung itu. Mungkin perahu yang datang terlebih dulu sebelum rombonganku yang membuat burung-burung di pulau itu kabur. Disekeliling pulau ini dipenuhi warna toska dan kehijauan menunjukkan daerah ini banyak yang merupakan perairan dangkal. Tapi memang kami gak bisa berlama-lama, gak tahan merasakan panasnya di pulau yang hanya berupa pasir putih tanpa ada satu tumbuhan pun. Tak lama kemudian setelah Pakde bernarsis kekinian kami naik kembali ke perahu. 

Bersandar di salah satu pulau di kepulauan Meko
Bersandar di pulau Keroko yang jernih
Saya minta ke pak Mat supaya ke pulau depan yang juga berpasir putih yang ternyata bernama pulau Keroko. Karena perairan dangkal sekali kami tidak bisa langsung lurus tapi berputar keluar di perairan yang lebih dalam. Setelah agak dekat barulah mesin perahu dimatikan dan dari depan pak Mat menggunakan galah bambu untuk mendorong perahu ke tepi. Mendekati pulau, kawasan ini tampak berserakan di bawah air terumbu-terumbu karang yang masih cantik. Memang di daerah yang sangat dangkal banyak kumpulan warna hitam yang berisi puluhan bulu babi yang kalau terinjak serasa ditusuk sengat lebah.
Di sini pun kami tidak lama karena sekarang harus mengejar kapal dari Lembata-Larantuka yang singgah Waiwerang. Sesuai jadwalku sebelumnya, biasanya kapal terakhir menuju Larantuka itu jam setengah tiga. Perjalanan pulang sempat kena gerimis, untungnya tak berubah menjadi deras, aku gak bisa membayangkan asyiknya perjuangan perahu melewati selat yang dikenal arusnya ini jika ada hujan lebat di tengah lautan.

Mampir ke Pantai Inaburak Sebelum Pulang
Pantai Inaburak saat mulai pasang kembali
Kamu sudah balik ke Waiwerang jam hampir mendekati jam jarum tiga. Awalnya mau mampir ke rumah pak Mat supaya bisa duduk-duduk, solat dan makan siang sebentar namun karena itu berarti kita tidak akan mendapatkan kesempatan mengejar kapal di Waiwerang. Akhirnya kita berempat sepakat langsung berangkat ke Waiwerang. Kata pak Mat ke Waiwerang tidak sampai satu jam karena kondisi jalan sekarang sudah bagus.
Sebenarnya ada jalan potong yang pernah aku gunakan dulu waktu ke Waiwuring tapi sayangnya medannya lewat perkebunan kelapa dan lewat sungai. Terus terang aku sendiri tidak bisa mengingatnya. Akhirnya kami memilih jalur balik Witihama sampai Kelubagolit baru belok ke kiri menyusuri jalan aspal yang kadang-kadang bagus, kadang-kadang jelek, dan sebagiannya lagi jelek sekali.

Di atas puncak salah satu karang pantai Inaburak
Di atas puncak salah satu karang pantai Inaburak
Walaupun sudah dikejar, ternyata kami baru sampai sekitar jam dua lewat 50 menit. Dan itu artinya kami kehilangan kesempatan naik kapal. Duh harus jalan darat lagi ke Tobilota untuk sampai ke Larantuka. Gak ada pilihan, kami tetap harus ke Larantuka karena besok Minggu pagi-pagi kami harus naik pesawat untuk kembali ke Kupang. Kata penduduk setempat, kalau di Tobilota ada banyak kapal sampai jam tujuh malam.
Karena sudah terlanjur akhirnya aku menyarankan supaya bisa mengunjungi satu lokasi lagi sebelum ke Tobilota dan itu adalah pantai Inaburak yang pernah aku tulis disini: Pantai Ina Bura di pulau Adonara.. Pantai ini kalau dari Waiwerang tidak terlalu jauh mungkin sekitar 20-30 menit saja. Jadi kita bergerak balik ke arah Witihama, nanti ada pertigaan jalan aspal pilih ke kanan ke arah kecamatan Ile Boleng. Sekali lagi tanya penduduk saja karena tidak papan petunjuk ke sini. Jika nanti melihat papan petunjuk jalan lokasi Pantai Watutena nah berarti satu percabangan di depan itu setelahnya itulah pantai Inaburak. Kedua pantai ini sebenarnya bersebelahan cuma dipisahkan batu karang.

Suasana pantai Inaburak, Adonara
View Inaburak yang aku foto sebelumnya
Perjalanan balik ke Tobilota melewati Lamahala dan Terong memang lebih dekat sekitar satu jam lebih sedikit. Cuma jalannya emang hancur banget, aku yang sekarang jadi pembonceng harus merasakan bijiku rasanya mau lepas saat motor yang seenaknya melibas jalan yang aspalnya udah berantakan terkelupas tanpa rem. Untung bijiku cuma dua, kalau bijiku banyak kayak anggur jangan-jangan juga rontok semua. Biji apa sih kaka? Biji mata ..... :D
Untungnya kapal terakhir yang ternyata kapal yang sama mengantarku ke sini masih ada. Emang jodoh, dia katanya juga nunggu-nunggu motor untuk naik. Akhirnya memang kapal itu cuma angkut dua motor punya kita makanya minta 70rebu untuk dua motor dan penumpangnya. Udahlah, yang penting kita bisa jalan balik biar gak ketinggalan pesawat.
Kalau dihitung jumlah kecamatan yang kami singgahi ternyata sudah enam: Adonara Barat, Adonara, Adonara TImur, Klubagolit, Witihama dan Ile Boleng. Hahaha sungguh perjalanan asyik hari itu bisa mengelilingi Adonara selama seharian.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 28 Desember 2015

Akhirnya Sampai ke Lembata

Anak-anak belajar menjaring ikan-ikan kecil di kampung nelayan Kuburan Cina
Akhirnya aku sampai ke Lembata... yieeeee.... Aku sudah dari tahun 1999 pindah ke bumi Nusa Tenggara Timur. Itu tiap jengkalnya udah aku tanami biji buah-buahan (kalo sempet) tapi paling tidak aku udah meninggalkan jejak (biasa lah urusan belakang pohon). Kamu boleh tanya semua tempat di Nusa Tenggara Timur ini, pasti aku bakal bisa jawab.. yah minimal jawabanku: tidak tahu hehehehe. Padahal dari kota kabupaten yang sudah ada swalayan besar sampai kota kabupaten tapi gak tau dimana itu kotanya sudah aku injak lho, cuma mukamu saja yang belum aku injak-injak.

Rumah di pinggir pantai kampung nelayan
Parahnya dari semua kabupaten yang aku datangi, ada satu kabupaten yang entah kenapa aku gak pernah ke sana sama sekali. Entah karena kena sumpah (serapah) atau emang yang kasih tugas sirik kok ya bisa-bisanya aku selalu terlewat kalau urusan kerjanya berhubungan dengan satu kabupaten ini. Betewe dulu pernah males sampai bilang: "Pokoknya gak mau ke Lembata kalau belum ada pesawat". Itu kalimat emang jamannya Lembata belum ada pesawat. Jadi kalau ke sana naik pesawat kecil Cassa ke Larantuka (Flores Timur). Itu pesawat yang tempat duduknya udah sekualitas angkot rombeng lengkap dengan suara baling-baling yang tidak berhasil diredam sehingga setiap naik pesawat telinga rasanya berdenging-denging terus. Jangan pernah naik pesawat ini kalau sedang pilek, itu kepalamu yang udah pusing rasanya jadi pengen meledak aja. Ditanggung abis naik pesawat ini pilekmu bakalan naik tingkat 3 level. Sampai Larantuka baru sambung naik kapal ke Lembata. Bayangin kerennya, abis kepala nyaris meledak gara-gara bising pesawat, belum reda langsung disusul ayunan gelombang selat Flores yang kalau sedang galau suka keluarin arus berputar yang bikin kapal ikutan mabok. Dan memang sumpah itu mujarab, bahkan surat tugas yang udah ditangan aja bisa-bisa tiba-tiba batal. Bukan karena aku deket trus nepotisme sama kepala kantor ya.. sorry gak lepel nepotisme gituan... tapi karena penerbangan dibatalkan. So, bahkan setelah Lembata buka bandara pun ternyata gak pernah aku kebagian tugas ke Kabupaten yang terkenal dengan rumah para pemburu ikan paus.
Jadi dari aku ngebet pengen liat para pemburu ikan paus sampai sumpah balik gak mau lihat atraksi perburuan ikan paus, tetep aja gak ada tiket gratis ke Lembata.

Tapi akhirnya Tuhan berbaik hati juga, kasihan juga ngeliat aku termenung sendiri, galau, sedih, bimbang, dan terpingkal-pingkal gara-gara gak ke Lembata akhirnya aku dikasih tugas ke Lembata. Kenapa gak cari tiket sendiri ke sana? Wah, kalau bisa gratis kenapa harus bayar kan. Sudah terlalu banyak yang harus kita bayar di dunia ini, jadi kalau ada yang gratis janganlah engkau sia-siakan sahabatku yang super #mariogalau. Yah walau cuma tiga hari, setidaknya tiga hari sudah cukup untuk mengakui bahwa Lembata sudah aku injak. Cuma mukamu saja yang belum aku injak-injak.

Tapi jangan tanya, gimana rasanya melihat perburuan ikan paus? Itu sungguh konyol, aku itu kesini bukan mau melihat ikan paus diburu terus jadi tontonan penuh decak kagum wal histeris. Perburuan ikan paus atau ikan lumba-lumba atau ikan apalah di Lembata sudah aku hapus dari daftar hal-hal yang ingin aku lihat di sana. Ada alasan yang aku gak ingin bagi disini walaupun sebagian kalian pasti bisa menebaknya. Curiga yang baca ada yang profesi tukang ramal.

Bukit Cinta
Entah siapa yang memberi nama semesum itu. Aku bahkan berpikir jangan-jangan di sana aku akan menemukan celana dalam atau beha yang tertinggal di semak-semak begitu. Tapi tidak, bukit cinta ternyata bukanlah bukit orang bercinta atau bukit yang jika melihatnya orang jadi pengen bercinta.. bukan... bukan begitu sayang. Jadi ceritanya, bukit cinta itu berasal dari legenda. Legenda itu.. ah sudahlah aku ceritakan saja nanti kalau udah dikasih bocoran.
Suasana senja di bukit Cinta
Tapi memang suasana di Bukit Cinta ini asyik lah, seasyik kalau bukit-bukit ini tidak dibakar sehingga tinggal menyisakan warna hitam. Dari bukit ini kita bisa menyaksikan 'indahnya' matahari terbenam. Sebenarnya mengatakan indahnya matahari terbenam itu kayak orang agak galau ya. Apalagi kalau disebelahmu ada orang yang kalau ditanya itu jawabnya: biasa aja.. Bayangin saat kita melihat rerumputan yang coklat tertiup angin menurun dari perbukitan dan menimbulkan suara khas rumput-rumput yang tertiup. Kita duduk santai melihat warna-warna rumput memudar oleh matahari yang berangsur-angsur tenggelam di ufuk barat. Trus kita sampai bayangin bawa kopi panas, ubi goreng hangat dan sebuah gitar yang mendentingkan alunan nada lagu-lagu romantis. Tapi buyar seketika saat temen sebelah kita bilang kalau pemandangannya: biasa aja. Tiba-tiba saja aku bayangin ada tutup panci dua biji di tangan.
Bukit cinta bahasa kerennya bukit padang savana, letaknya ini persis berhadapan dengan pulau Adonara. Kalo padang savana biasanya paling keren itu setelah musim hujan masuk jadi mulai Januari. Kalau pas bulan aku datang begini ya gitu deh, padangnya lebih banyak sudah dibakar warga. Jadi bukit-bukitnya yang separo masih ada yang warna coklat, sebagiannya udah item kebakar.
Bukit cinta lengkap dengan penampakannya
Sudah mulai bangun beberapa lopo untuk bersantai dari Pemda dengan jalan setapak yang menyusur terus ke bawah ke arah pantai. Lagi-lagi aku sayangin karena bangunan yang dibuat justru tidak menambah cantik tempat ini. Entah kenapa, jarang aku menemukan bangunan tempat wisata yang dibangun oleh pemerintah di NTT ini yang bikin tempat jadi makin bagus.  
Juga lagi dibangun satu penanda di dekat pintu masuk yang belum selesai juga tertulis huruf kapital L O V E. Nah lho, ini namanya bukit Cinta atau bukit Love??? Wah gak jelas banget nih. Ini mungkin maunya biar kelihatan keren ya namanya tempat ya tulis aja namanya aja gak usah pakai ke-ingrisingris-an gitu. You underrock man!!
Saran terbaik kalau kalian ke tempat ini ambil waktu sore di bulan-bulan yang rumputnya lagi subur atau pas rumputnya lagi menguning. Berarti waktu yang tepat antara bulan Januari sampai dengan pertengahan Agustus, itu juga kalau warga lagi gak kumat bakar-bakar padangnya lho ya. Ada satu lagi, dalam perjalanan ke bukit cinta itu ada beberapa spot pantai yang layak dikunjungi juga kalau gak salah namanya pantai Waijarang.
Aku gak sempet eksplore tempat ini, hal biasanya aku lakuin kalau ke tempat yang baru. Padahal dari bukit cinta tampak dua bukit kecil di bagian bawah yang berbatasan dengan laut dan keliatannya menarik buat dieksplore.
Maklum karena kesini gak sendirian alias bareng cewe-cewe berapa biji gitu lupa gak ngitung lagi. Jagain anak orang gini nih yang bikin orang, kalau hilang terus orang tuanya minta tanggung jawab gimana coba? Kalau cuma jawab doang asal gak tanggung sih bisa. 

Kampung Nelayan Kuburan Cina
Lokasi ini awalnya informasi dari temen yang sebelumnya udah kesini. Awalnya dari hotel yang kami tempati jika melihat ke belakang hotel tampak sebuah pulau pasir putih. Kata temen yang pernah ke sana, pulau itu cuma muncul saat surut aja.
Penasaran aja sama yang suka muncul hilang gitu, mirip-mirip kayak hantu. Gak jauh dari hotel sih lokasinya jadi aku sama temen-temen sengaja agak sore-an biar matahari gak terlalu panas. Bulan November ini memang di NTT memang lagi gila-gilanya panas. Kayaknya matahari memang kayaknya lagi dideketin sama yang Diatas beberapa centi. Mau tabis surya dari SPF10 sampai SPG juga gak mempan buat halangin panasnya. Makanya kalau jalan bareng gini enaknya sore karena.. apalagi kalau bukan karena cewe-cewe yang umumnya phobia sama matahari.

Nah, buat ke pulau pasir putih yang nongol itu kita harus naik perahu dari kampung Kuburan Cina. Gak tau sih namanya yang bener, tapi anak-anak yang aku tanyain bilangnya begitu. Kampung Kuburan Cina ini merupakan perkampungan nelayan, asalnya mereka sih macem-macem, ada yang dari Bugis, dari kampung Adonara, sebagian juga masyarakat Lamalera sendiri. 
Asik melihat anak-anak belajar menjaring
Trus kenapa aku gak nulis tentang pulau pasir itu justru nulis kampung ini. Ya karena akhirnya aku batal ke pulau pasir itu. Udah dapat perahu sih, cuma gak bisa langsung jalan karena masih menunggu dua mahluk kucel lain yang udah janjian tapi gak nongol-nongol batang hidungnya. Karena nungguin itu aku milih turun ke pantai karena ngeliat suasana kampung yang lagi rame anak-anak, alamat banyak spot foto. Pas mereka berdua datang eh langit lagi di puncak warna yang bagusnya. Karena perhitunganku gak mungkin aku ngejar pemandangan senja di pulau pasir itu akhirnya aku milih tinggal di kampung Kuburan Cina ini. Sayang juga sih, cuma aku juga ngerasa sayang kalau hanya buat sekedar pernah mampir. Mungkin lain kali aku kalau kesini punya waktu khusus buat jelajah ke pulau pasir itu.
Tempatnya sih jorok, banyak sampah seperti biasa dengan warna pasir hitam. Tapi suasana kampung dan perilaku anak-anak yang sedang mencari ikan yang terjebak di darat asik buat diperhatikan.
Sempat diajari sama bapak-bapak dan anaknya cara mencari kerang. Ternyata kerang itu gak langsung keliatan ya, harus dikorek-korek dulu. Lumayan hasil belajar dapat sekitar lima biji kerang. Bapak itu bilang kalau yang di pulau depan itu yang banyak kerangnya. Ah satu alasan lagi ke pulau itu, buat cari kerang. Berarti kalau kesini lagi musti bawa kompor biar bisa langsung masak kerang.
Dari senja mulai gelap, dari kejauhan aku bisa melihat temen-temenku baru sampai ke pulau pasir. Ah benar saja dugaanku, waktunya gak cukup untuk dapat menikmati sunset dari pulau itu.
Pas coba nunggu mereka balik di situ mulai gak enaknya. Ternyata air yang naik kental sekali bau solar, padahal waktu surut aku gak mencium bau solar seperti ini.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 19 November 2015

Ada Pulau Pasir di Pantai Meting Doeng

Pulau pasir di pantai Meting Doeng Larantuka
Yudha dan Winner lupa diri di pulau pasir Meting Doeng
Sebuah daratan pasir kecil menyembul saat air laut surut jauh menciptakan pulau kecil berpasir putih yang dikelilingi air laut biru terang, duh asli cakep banget dah. Kalau kamu cewe bawa kursi dan payung trus tiduran pake bikini (mata menyala terang), maka kamu serasa ada di sebuah pulau pribadi yang tidak ada siapapun kecuali dirimu dan samudera yang luas. Dan pulau pasir itu aku temukan dari tempat yang sering kali aku datangi tapi tidak kusadari adanya pulau pasir itu. 

Pantai Meting Doeng, itulah nama yang dikenalkan masyarakat kepadaku. Jika ke Larantuka dengan pesawat, pantai berpasir putih ini yang akan terlihat pertama kali saat perjalanan dari bandara menuju kota Larantuka. Pasir puithnya tidak terlalu luas dan langsung berada di tepi jalan. Dulu di tempat ini pernah dibangun beberapa pondok dan restoran yang cukup bagus. Saat itu restoran ini bisa dibilang tempat yang menjadi favorit untuk menjamu tamu. Sekarang nyaris sudah tidak ada bangunan yang berdiri di tempat ini namun masih ada beberapa bangunan sisa yang tampak sudah hancur dibiarkan begitu saja.

Melewati air menuju pulau pasir Meting Doeng
Meski tidak ada restoran lagi, namun tempat ini tetap menjadi salah satu lokasi penduduk lokal Larantuka berakhir pekan. Minggu sore aku pernah melihat orang tua beserta anak-anaknya berenang atau sekedar bermain di lokasi ini. Dan yang pasti, disinilah salah tempat yang sering digunakan masyarakat untuk mencari ikan saat laut surut. Kata 'meting doeng' sendiri arti katanya adalah surut jauh. Jadi saat surut, perairan yang dangkal di sini bisa sampai ratusan meter makanya tak heran jika kamu melihat orang-orang berdiri memancing atau mencari ikan di tengah laut jauh dari pantai.

Nah saat hari Minggu kemarin aku lagi bingung mau kemana. Ini gara-garanya pas hari Sabtu mau ke pantai Kawaliwu batal padahal sudah full persiapan. Sudah jalan sampai di pertigaan desa Oka pas masuk beberapa ratus meter terhadang dengan jalan yang sedang diperbaiki. Awalnya masih mencoba ikut antrian buat bisa lewat namun karena kendaraan yang menunggu sama sekali tidak bergerak karena kecilnya jalan yang tersisa akhirnya aku memutuskan berbelok balik. Karena itu aku mencoba mengajak Yudha dan Winner untuk sedikit mengendurkan otot-otot ke pantai Meting Doeng. Saat sampai di pantai ternyata aku melihat ada sebuah tonjolan pasir putih di tengah pantai, yang selama ini tidak pernah terperhatikan olehku. Karena penasaran aku dan teman-temanku mencoba berjalan ke sana. 

Berpose di pulau pasir Meting Doeng Larantuka
Foto-foto wajib hukumnya
Pantai saat itu memang lagi surut tapi belum puncak surut. Meski begitu, jauh di tengah laut termasuk beberapa puluh meter dari tonjolan pasir putih itu berdiri orang-orang yang sedang mencari ikan.
Entah karena pengaruh surut yang ekstrim atau juga kebiasaaan masyarakat, keberadaan terumbu di sini hanya tinggal sisa-sisa. Beberapa terumbu yang ada banyak yang posisinya terbalik, artinya ada orang yang sengaja membalik terumbu ini dan kemungkinan besar saat mencari ikan atau kerang. Aku juga pernah melihat cara mencari ikan seperti ini juga di Kupang. Malahan kadang mereka juga membawa racun ikan yang biasa dikenal dengan nama potas. Dengan memberi potas, ikan-ikan yang bersembunyi di karang biasanya akan mabuk sehingga mudah ditangkap. 

Suasana sekitar bukit pasir pantai Meting Doeng Larantuka
Suasana sekitar bukit pasir pantai Meting Doeng
Tapi untuknya sepanjang kami berjalan tidak banyak bulu babi yang durinya jika tertusuk di badan dijamin akan bikin nyeri berhari-hari. Bulu babi ini salah satu tanda untuk mengukur kerusakan ekosistem laut. Makin banyak bulu babi berarti daerah tersebut bisa dibilang sudah rusak ekosistemnya. Bagi yang belum tahu bulu babi, bulu babi itu bentuknya seperti bola namun diseluruh tubuhnya diselimuti duri panjang berwarna hitam pekat. Di bagian atas bahkan durinya bisa tumbuh lebih dari 30 cm, jauh lebih panjang dari ukuran tubuhnya yang bulat pekat. Duri-duri ini walaupun sangat tajam tapi juga sangat getas (mudah patah).

Justru yang banyak aku temukan adalah bintang laut yang ukurannya besar-besar dengan warna yang sangat komplit, dari yang warna kunin biru ungu, sampai kuning terang bercak merah hitam di tengah. Yang berwarna biru pekat yang berbentuk jari-jari panjang pun banyak ditemukan.Beberapa meter sebelum sampai di gundukan pasir putih, kami sempat melewati butiran-butiran putih mengambang entah itu apa namanya aku tak tahu.Yang pasti sih bukan telur ikan apalagi telur orang.

Yudha tiba-tiba narsis abis di pulau pasir Meting Doeng
Gundukan pasir yang berbentuk pulau kecil ini memang cantik walaupun mungkin hanya muncul sebentar saja. Luasnya yang tidak lebih dari dua puluh lima meter persegi ini bisa menjadi lokasi untuk pemotretan, ayo siapa yang berminat foto di sini? Cukup bawa kursi santai dan payung dan dipotret dengan drone dari atas. Lebih keren lagi kalau bawa pohon kelapa sebiji di sini, itu kalau udah kalap mau foto yang bener-bener beda ya silahkan.

Tapi sayangnya aku gak bisa lama di sini karena ternyata air sudah selesai surut sedari siang, artinya sekarang air naik terus. Jika sebelumnya kami menyeberangi pantai ketinggian air masih dibawah lutut, waktu balik sekarang ketinggian sudah sedikit lebih tinggi dari lutut bahkan ada tempat yang tingginya mendekati paha atas. Karuan saja celanaku jadi basah semua, terpaksa saat menyeberang menaikkan semua peralatan elektronik ke atas biar tidak ikutan basah.
Lagi pula matahari juga terasa sangat menyengat, sebentar saja di pulau pasir putih kecil itu sukses membuat kulitku gosong empat tingkat. Untung aku memakai topi sehingga terlindungi bagian leher. Beberapa kali aku kelupaan bawa topi di tempat seperti ini dan berakhir harus merasakan perih beberapa hari pada kulit leher yang terbakar. Kalau kulit di bagian tangan dan kaki sepertinya sudah cukup kebal dengan sinar matahari.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 16 November 2015

Kopi dan Senja: Pantai Walakiri

Bermain kerjar-kejaran di  Pantai Walakiri
Pasir putih berlekuk-lekuk memanjang, jajaran pohon kelapa, air laut yang bening berwarna biru kehijauan. Tiga alasan itu cukup menjelaskan mengapa pantai Walakiri layak dikunjungi. Kalau gak ada sampah sama sekali, aku rela kasih tunjuk jempol tangan, kalau perlu naikkan jempol kaki juga biar kalian yakin kalau tempat itu potensial banget buat dikembangkan. Dan pastinya, pantai Walakiri tidak jauh dari kota Waingapu plus kondisi jalannya yang udah bagus (ada juga yang jelek tapi lagi ada perbaikan,nanti kalau sudah selesai di jamin ke lokasi ini mulus luuusss..

Suasana menjelang senja di pantai Walakiri
Dan satu lagi, sampahnya belum banyak. Entah kalau setelah ini wisatawan ramai-ramai membuang sampah di sana. Memang sorenya, aku dan Trysu sempat bersihin lokasi dari sampah plastik bekas air minum. Biasalah, sampah dari wisatawan kelas jelata yang cuma pintar datang sok menikmati pantai trus dengan seenak udel (itu pun kalau udelnya masih ada) ke sekitar pantai. Dan gara-gara bersihin sampah itu aku malah justru ketinggalan keong lima jari yang aku dapetin dari sekitar pantai. Pantai Walakiri ini justru menjadi lokasi pamungkas yang baru aku ketahui sehari sebelum balik. Kok bisa? Ya itulah kalau pikirannya muluk-muluk mau ke tempat-tempat yang jauh-jauh seperti pantai Watu Parunu, pantai Tarimbang sama air terjun di kawasan cagar alam Wanggameti, akhirnya justru melewatkan lokasi-lokasi bagus yang ada di sekitar Waingapu. Untungnya saat lokasi lainnya batal, ada usul dari salah satu temen di Dinas Pendapatan buat mengunjungi pantai Walakiri. Padahal kalau udah bingung mau kemana lagi ya ujung-ujungnya nanti ke pantai Puru Kambera lagi. Ya gak bosen juga biarpun udah ulang-ulang ke pantai Puru Kambera, tapi kan sayang kalau ada lokasi lain yang bisa dijelajahi kok cuma kesitu-kesitu lagi.. lagi-lagi kesitu...situ kelagi-lagi.. gila-gila situ ke... mbuh...
 

Asyik bermain di pantai Walakiri
Pokoknya kalau mau ke tempat wisata di daerah Sumba ya begitu.. begitu gimana? Ya gitu itu, musti tanya terus sama penduduk. Pokoknya kalau mulai gak yakin benar apa gak jalannya, mulailah cari penduduk yang kamu temui di jalan untuk cari tahu.. bisa tahu goreng, tahu bacem, apa sajalah. Kok bisa? Ya bisa, gak ada papan petunjuk, jalan juga gak punya tanda khas. Aku saja kalau mau ke tempat ini tetep harus nanya lagi kok.
Akhirnya sekitar jam empat, aku dan Trysu sampai di tempat ini. Lho kok akhirnya trus permulaannya gimana nih. Harus cerita permulaannya gitu ya, gak boleh langsung akhirnya gitu? Bete ah cerita pakai permulaan segala, terlalu mainstream. Permulaannya sama saja kok: dari ketiadaan dan kegelapan pekat lalu buumm!!! terjadi bigbang yang menciptakan jagat dan segala isinya. Halah...


Pohon bakau di pantai Walakiri senja hari
Jalan masuk dari jalan raya gak lebih dari satu kilometer, gak percaya hitung sendiri. Suasana pertama yang kami tangkap ya sejuk karena jajaran pohon kelapa di sepanjang pantai. Aku lewat di samping sebuah bangunan kayu masih tahap konstruksi. Kalau melihat desainnya yang atapnya unik memanjang, kelihatannya bakal dibangun semacam pondokan wisata. Suasana pantai sendiri tampak ramai. Ada rombongan wisatawan entah dari mana (nanti waktu dari ngobrol aku tahu kalau mereka dari Jakarta).

Begitu melewati pepohonan kelapa, barulah tampak pemandangan pasir putih memanjang. Karena sekarang baru surut, pasir putih tampak lebih jauh ke tengah, dan menariknya pasir putih ini tidak berbentuk rata memanjang sepanjang pantai. Ada beberapa titik yang pasir putihnya menjorok ke arah laut. Lekukan-lekukan pasir itu lah yang menjadi tempat bermain banyak orang. Pantai ini rupanya dangkalnya jauh sehingga di sepanjang pantai, air yang tampak berwarna biru cerah kadang kehijauan.


Pasir putih berlekuk-lekuk yang khas di pantai Walakiri
Wih, pokoknya kalau orang bule di kasih pondok di sini pasti demen banget.. Iyalah, aku juga kalau dikasih pondok gratis di sini juga mau.. goblok banget kan nolak gratisan.
Coba jalan-jalan ke arah Timur eh nemu bule cewe sedang berjemur.. sendirian lagi. Eh bukan sendirian ding tapi ada temennya. Gak usah dibahas bule berjemur ah, pakaian dijemur aja juga gak pernah dibahas kok kecuali nanti kalau dijemur musim hujan. Mulai sore mulai tuh pengunjung pada menghilang. Nah itu bedanya kita sama pengunjung umum, justru sore itu yang ditunggu. Sialnya pas saat balik ke tempat semula ternyata cuma pengunjungnya yang balik tapi sampahnya ditinggal. Bukannya di tinggal di tempat sampah tapi di sekitar pantai. Pasti mereka lapar makanya gak fokus jadi lupa tempat sampah. Atau jangan-jangan mereka amnesia sesaat, entahlah.. yang pasti aku dan Trysu akhirnya melakukan kerja bakti sebentar buat bersih-bersih pantai.
 

Pepohonan bakau saat senja
Matahari mulai menghilang di balik pepohonan bakau, karena surut aku mengajak Trysu ke arah batas luar bakau karena aku melihat anakan pohon pakau yang tumbuh unik. Akarnya tampak seperti bakau yang sudah besar namun daunnya sedikit seperti bakau yang baru tumbuh.
Sempet disapa cewe yang kayaknya guide dari rombongan yang masih tersisa. Katanya sebagian rombongan sudah balik tinggal beberapa orang yang masih tinggal. Orangnya ramah dan asyik, sayang aku lupa nanya namanya. Kebiasaan nih, aku gampang banget ngobrol asyik sama orang yang sama sekali baru tapi sering gak nanya hal-hal simpel kaya nama.

Tak lama tuh cewe sempet ikut ke arahku sama ngajak gang-nya, yang ternyata para mak-mak... hahaha bukan mak-mak pake sirih pinang lho, lebih tepatnya cik-cik yang udah mateng.. sebagian mateng pas petik pohon sebagian kematengan dah udah jatuh di pohon hihihihi... Kalau aku sibuk moto pohon bakau berlatar sunset, kalau cewe itu sibuk moto mak-mak pengganti pohon bakau berlatar sunset.
 

Kalau kira-kira aku ikut foto bareng mereka, kira-kira kayak brondong lagi dijepit tante-tante gak ya? Udah gak usah dipikirin, aku sendiri males mikirin kok.
 

Langit mulai gelap, jadi aku dan Trysu mulai deh gelar dagangan nyiapin kompor dan sejenisnya buat masak air. Segelas kopi dan senja.. dan semangkuk mie rebus, oooo... hidup menyenangkan itu simpel kok ternyata. Apalagi tinggal kita berdua, selaksa pantai ini milik pribadi. Pikiran mesum? Gak lah, Trysu itu jelas mahluk cowo kategori asli tanpa campuran.. najis berpikiran mesum sama cowo hueeekk...


Galaksi bimasakti di pantai Walakiri
Dan malemnya, duh lagi-lagi aku bersyukur menikmati malam di tempat-tempat seperti ini. Bintang-bintang jadi kelihatan jelas, bahkan galaksi Bima Sakti begitu jelas terlihat memanjang memotong utara dan selatan. Walau kalah di kamera minimal mata bisa sepuasnya menikmati momen langit seperti ini.
 

Oh iya lupa.. Pantai Walakiri itu terletak di Sumba Timur ya, kira-kira 26km dari kota Waingapu. Arahnya ikuti aja jalan menuju ke Bandara, nanti sampai di sana tinggal beli tiket pulang.. bukan ding, ambil jalan samping bandara ikut terus ke arah timur, itu arahnya sama dengan jalan menuju pantai Watu Parunu. Kalau pakai motor kayak aku paling setengah jam udah nyampai, tapi nanti jalan udah full bagus semua sekitar dua puluh menit juga udah bisa nyampai kok. Patokannya setelah melewati tiga jembatan nanti akan ketemu bangunan sekolah, belok ke arah kiri ya. Cuma kalau ketemu sekolah jangan sok yakin langsung belok kiri takutnya itu sawah nanti malah masuk ke parit. Jangan lupa tanya penduduk untuk memastikan kalau mereka itu penduduk bukan hantu, eh bukan tanya lokasinya...
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya