Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Minggu, 20 November 2011

Kampung Kambajawa Deri

Dari balik kaca ruangan kantor, aku memandang hujan di luar yang tumpah dari langit begitu lebatnya. Langit gelap menandakan bahwa hujan kali ini hampir merata diseluruh tempat. Menurut Enos, hampir tiap hari hujan turun mengguyur Sumba Tengah sejak dari bulan Oktober. Padahal perjalananku dari Waingapu ke Waibakul aku banyak menemui padang-padang dan perbukitan savana yang masih kering, menandakan bahwa hujan belum juga turun.


Suasana di kota Sumba Tengah masih terasa suasana perkampungan, kota yang masih banyak dikelilingi persawahan ini terasa menyenangkan. Pagi hari selalu dimulai dari kabut tebal yang secara pelahan naik seiring naiknya matahari. Masih mudah menemui rumah-rumah asli Sumba dan batu-batu kubur, namun sayangnya sebagian rumah-rumah itu sudah banyak yang telah dimodifikasi seperti atapnya yang sebagian besar sudah menggunakan seng bukan alang-alang, batu-batu kubur dari beton yang telah dikeramik bukan dari batu asli yang dipotong. Sebenarnya ada beberapa perkampungan yang suasananya masih asli namun sayang lokasi agak jauh dan agak sulit ditempuh jika masih sering hujan seperti ini.


Untungnya Enos yang tiap pagi rajin mengantarku mengatakan kalau perkampungan dari neneknya yang berada di daerah Deri tidak jauh dari kota sekitar sepuluh kilometer saja. Bahkan para penghuni di daerah itu masih erat memegang kepercayaan Marapu. Informasi yang tidak bisa ditolak, apalagi menurut kabar di lokasi ini pernah digunakan untuk syuting Etnic Runaway. Hari ketiga aku, teman dan Enos menjelang sore sudah jalan menuju ke lokasi, beberapa kilometer setelah percabangan kompleks Kantor Bupati, Enos membelokkan mobil ke kanan masuk ke jalan agak kecil. Jalan menanjak dan berliuk-liuk langsung menhadang kami, untunglah walau jalan tidak beraspal namun kondisi jalan yang disusun dari batu kapur masih bagus dan tidak terpengaruh kondisi hujan sehingga dengan mudah Enos meliuk-liukkan mengikuti kontur jalan yang terus menanjak menerobos diantara hutan kebun milik penduduk.


Suasana saat ini memang kurang menentu, kabut datang dan pergi dengan cepat. Namun menjelang di ujung jalan cuaca kembali terang walau masih mendung rata di langit. Kami berhenti tepat di samping sebuat kubur batu besar yang masih terdapat sebuah karangan bunga yang masih baru. Tampaknya ada yang baru dimakamkan di dalam kubur baru yang sudah tampak tua ini. Kubur batu megalitik ini dibuat dari 2 buah baru utama, batu pertama berupa batu kotak yang tengahnya dilubangi sebagai tempat untuk jenazah, sedangkan batu kedua berupa batu persegi berbentuk plat untuk penutup. Satu batu kubur ini bisa digunakan untuk memakamkan beberapa kali namun mengikuti hirarki hubungan kekeluargaan tertentu. 


Suasana perkampungan yang rindang yang dipenuhi pohon-pohon besar begitu tampak damai. Desain arsitektur khas rumah sumba juga menarik dan nyaman. Rumah berbahan kayu dengan atap rumbia ini dibangun dengan konsep tiga tingkat. Tingkat pertama digunakan untuk gudang menyimpan perkakas dan tempat tinggal hewan piaraan, tingkat kedua digunakan untuk tempat tinggal penghuni rumah, sedangkan tingkat ketiga digunakan untuk menyimpan persediaan pangan. Dengan konsep ini, bangunan tingkat kedua yang merupakan hunian manusia dibangun dengan kontur bertingkat. Bagian depan dibangun agak rendah agar orang bisa mauk ke rumah sekaligus sebagai beranda tamu. Di bagian samping rumah depan dibangun bale-bale yang bisa digunakan untuk tempat bersantai atau tiduran. Masuk ke bagian dalam dibuat lebih tinggi dari bagian depan, disini aktivitas dalam seperti ruang tidur dan sebagainya berada. Yang unik adalah dapur yang berada ditengah-tengah rumah yang dengan tingkat paling tinggi, jadi dapur adalah akses utama para penghuni. Biasanya dapur ini dilapisi tanah atau pasir dibagian bawah. Jika dinding bangunan itu dari kayu maka dapur biasanya boleh dibangun di luar rumah. Dan itulah aktivitas yang sedang ada bagian paling depan perkampungan, sebuah bangunan untuk dapur sedang dibangun secara gotong royong.   Membangun rumah juga tidak sembarangan, karena rumah dibangun bersama-sama dengan warga kampung ada beberapa perayaan yang harus dilakukan. Seorang bapak tua pemilik rumah sedang asyik membuat tali yang berasal dari rotan yang akan digunakan sebagai ikat antar kayu dan atap.


Enos yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kampung ini mengajakku masuk lebih ke dalam, melewati jalan batu kami masuk ke dalam dan disambut aktivitas beberapa penghuni kampung. Seorang kakek tampak asik memukul-mukulkan sebuah alat penjepit dan hasil dari benda yang pecah dari pukulan itu dipilah oleh seorang nenek, ternyata mereka sedang membuka biji kemiri. Pohon-pohon kemiri memang banyak tumbuh di hutan-hutan adat kampung ini dan ini menjadi tambahan pendapatan mereka selain mereka juga berkebun dan memelihara ternak. Namun untuk ternak seperti kerbau, sapi atau babi sering tidak mereka jual karena lebih sering dipersiapkan untuk kegiatan upacara-upacara adat seperti perkawinan atau kematian yang sering membutuhkan korban dalam jumlah besar. Tentu saja yang menjadi ternak favorit mereka adalah kerbau apalagi jantan yang memiliki tanduk panjang.

Enos menunjuk sebuah bangunan paling tinggi yang dinaman rumah kilat, Bangunan berpondasi batu kapur dengan ukiran ini digunakan sebagai upacara memanggil kilat. Menurut cerita, jika ada warga atau permintaan orang lain yang kehilangan barang atau ternak maka mereka akan melakukan persembahan dan upacara di rumah kilat dan meminta bantuan Marapu  untuk menyambar kilat orang yang telah mencuri tersebut. Aku hanya bisa mengamati di dekat rumah kilat itu karena ada undakan tangga batas yang tidak dapat dilewati oleh orang luar.  


Di depan bagian bawah undakan terdapat sebuah kayu yang diukir dan dibagian atas dibuat bercabang. Konon kayu ini dibuat untuk meletakkan kepala manusia yang mereka tebas baik karena kasus pencurian atau peperangan antar kampung. Walaupun konon, tapi kejadian itu bukan berarti tidak terjadi lagi. Jika ada warga kampung lain yang terpergok mencuri ternak maka kasus penebasan dapat terulang kembali karena kasus-kasus pencurian ini juga masih  terjadi. Menurunnya kasus pencurian sekarang ini juga salah satunya sumpah antar kampung bahwa kasus pembunuhan akibat kasus pencurian tidak akan membawa dendam di antara mereka.


Saya masih ingat tahun 2010 sewaktu saya melintasi daerah ini dari Waingapu menuju Waikabubak. Waktu itu karena aku tunggu orang yang menjemput ternyata tidak muncul, dan baru muncul menjelang sore. Saat aku meminta jalan langsung dia menawarkan untuk berjalan esok harinya untuk menghindari jalan malam, karena menurutnya jalur antara Anakalang-Waikabubak di sekitar kawasan hutan sangat rawan pencurian biasanya dengan memasang balok-balok kayu penghalang kendaraan.


Enos mengajakku sampai ke belakang dimana terdapat satu bangunan tunggal yang diberi nama tiang delapan. Itulah induk rumah dari semua rumah itu dan menjadi rumah paling sakral yang tidak boleh dimasuki sembarang orang kecuali warga kampung. Biasanya tamu-tamu asing dari pemilik rumah tiang delapan ini diterima di rumah lain. Ada batas baru yang disusun sebagai batas yang tidak boleh dilanggar oleh orang luar bahkan oleh Enos sendiri. Menurutnya, semenjak dia memeluk agama Kristiani maka keluarganya keluar dari kampung ini karena disini masih erat dengan keyakinan Marapu. Listrik belum sampai di kampung ini namun sudah ada beberapa rumah yang memiliki panel tenaga surya kecil yang digunakan untuk menyalakan barang-barang elektronik mereka seperti handphone atau televisi.
Kabut kembali datang dan kali ini lebih tebal membuat kami harus segera kembali. Di perjalanan turun kami menemui salah satu penduduk kampung sedang mengiring kerbau-kerbau kembali yang dinaiki olah beberapa anak kecil. Dengan mata bercahaya dan senyum lebar mereka melambai-lambaikan tangan ke arahku. Sungguh suasana damai dan sederhana dan masih begitu dekat dengan alam. Semoga perkembangan zaman tidak menggilas mereka dan tetap menjadikan mereka orang-orang yang bersahabat dengan alam, sebuah hubungan harmoni yang menjadi tanah Sumba ini masih begitu damai dan dipenuhi mistis alam.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 07 November 2011

Sesaat Sebelum Hujan Menghampiriku...





Kesibukan beberapa hari ini benar-benar membuatku jenuh. Kesibukan itu juga yang membuatku sering kehilangan menikmati moment ‘cantik’. Namun semua itu kuanggap berkah, kuterima dengan hati yang gembira. Toh, dapat menatap keindahan alam ini dengan mata saja sudah teramat sangat menghiburku. Memberikanku tenaga extra untuk selalu giat bekerja.


Senja nanti pasti datar, begitu pikiranku pada awalnya. Langit tidak terlalu berwarna terlalu banyak awan kelam. Plus teman huntingku, Didimoezh, masih lembur di kantornya. Tak ada niat untuk hunting atau trekking sebenarnya, walau sore ini ku dapat sedikit waktu untuk beristirahat. Karena rencana malam ini aku harus latihan nyanyi bersama teman-teman vocal groupku.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Entah mengapa,mungkin karena lagi ada feel, ku putuskan untuk sedikit berjalan-jalan sore. Putar-putar kota mbay. Mendekati perkotaan aku di hadapkan pada 2 pilihan. Jalan-jalan ke bendungan Sutami, ataukah ke bukit di daerah Penginanga. Aku kemudian memlih ke bukit saja. Sudah lama tidak ke sana juga. Siapa tahu malah dapat moment bagus.

Kalau untuk mendapatkan momen 'indah' landscape membutuhkan suatu keberuntungan tersendiri (menurut para fotografer handal dalam beberapa majalah), maka aku mungkin termasuk beruntung sore ini karena awan dalam cuaca mendung yang kelam mendadak menjadi ‘indah’ untuk diabadikan. Aku berhenti di suatu tempat yang selama ini tidak menarik perhatianku. Tempat yang biasanya tidak menarik mataku dan di mata lensa KITku. Namun sebuah lensa Fish Eye 8mm pinjaman dari mas Baktiar Sontani, berimajinasiku mengembara dan melihat tempat ini menjadi punya ‘sesuatu’ yang indah. Imajinasi itu kemudian menuntunku ke sini, bukit penambangan pasir. Letaknya tepat di pinggir jalan utama Aegela-Mbay.

Di sana mendung belum tentu disini juga, begitu pendapatku. Mulailah ku siapkan kamera kesayanganku untuk memotret. Langit tampak gelap di kejauhan. Gambaran hujan yang turun ke bumi yang semakin jelas dan pekat. Membentuk sebuah pemandangan yang memikat. Setelah beberapa jepretan, terasa titik-titik air hujan mulai membasahiku. Pemandangan yang indah 'menurut aku' membuatku nekad untuk sedikit lebih lama bertahan pada keadaan ini. Berpindah-pindah di sekeliling tempat penambangan pasir ini, mencari sudut-sudut yang indah. Satu menit kemudian tepat setelah shutter terakhirku di bukit itu, hujan deras menghampiriku.


Jadi kalang-kabut, kabur menyelamatkan perlengkapanku. Kamera terpaksa segera kusembunyikan di dalam jaket. Tak ada waktu lagi untuk memasukannya ke dalam tas kameraku karena hujan sudah terlajur deras. Untungnya ada sebuah kios kecil di persimpangan jalan Mbay-Aeramo. Aku memilih untuk berteduh untuk menyelamatkan peralatan kameraku. Iseng, masih ada satu jepretan lagi di tempatku berteduh. ‘Gambaran’ persimpangan jalan ke Mbay dan ke Aeramo dalam guyuran hujan. Motorku jadi model dadakan...hehehehehe... Ngobrol sebentar dengan pemilik tempatku berteduh sementara menunggu hujan reda, sebelum aku kembali ke pondokku.
Thanks a lot buat mas Baktiar Sontani untuk pinjaman lensanya. Dari pada nganggur kan mas lensanya...hehehehehe..."pernyataan sepihak"

Ku sajikan foto-fotoku sore ini dalam sedikit cerita...
Foto di tempat penambangan pasir daerah Penginanga...
Foto yang kubuat... Sebelum hujan menghampiriku.

---Mbay, 6 November 2011
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 24 Oktober 2011

Melukis Keindahan Mbay - Bukit dan Pantai Kita


Sebuah tulisan yang sedikit basi. Dalam arti beberapa visualisasi dalam tulisan ini sudah di buat pada beberapa waktu yang lalu. Beberapa bahkan sudah cukup lama. Hal yang memicu semangat saya untuk menuliskan narasi ini adalah karena saya merasa, saya berpikir dan saya kemudian berkesimpulan, bahwa saya harus membagi apa yang saya sendiri rasakan seakan tidak pernah puas-puasnya menatap keindahan tanah Mbay, Nagekeo.

Menurut saya ada dua hal yang paling menarik, pertama adalah pemandangan bukit dan pantai. Menatap Mbay dari perbukitan daerah Penginanga saja saya tak pernah bosan. Hamparan sawah hujau, kuning dan coklat selalu membuat segar mata ini. Apalagi menikmati keindahan pesisir pantai di daerah Marapokot dan Nangadhero. Walaupun kurang tertata dan terawat dengan baik, guratan keindahannya tetap meneduhkan mata dan pikiranku. 



Bersapa dan bercanda dengan penduduk yang bermukim di daerah persawahan dan perkampungan nelayan senantiasa menjadi agenda rutin saat trekking dan hunting. Dan semuanya itu membuatku semakin tidak bosan untuk ‘menggauli’ keindahannya. Gambar dan cerita pada tulisan ini pun sebenarnya hanya sebagian kecil dari indahnya pengalamanku selama berada di Mbay ini. Masih ingin jalan-jalan mengelilingi seluruh tanah Mbay ini.


Sudah 6 bulan saya tinggal di Mbay. Bersama teman-teman sesama pencinta fotografi dan indahnya pemandangan alam disini, kami bentuk Nagekeo Photographer Club (NPC). Guru yang selalu memberi masukan positif dalam hal fotografi, mas Baktiar Sontani tak henti-hentinya memberikan suntikan semangat bagi kami untuk terus berkarya dan menceritakan keindahan Mbay lewat lensa kami. Pos Kupang pun turut mendukung kami atau bahasa kerennya turut mengapresiasi terhadap kegiatan kami dengan mengulas tentang keberadaan NPC ini di beberapa edisinya.


Kesibukan kadang menghalangi niat saya untuk mengabadikan keindahan Mbay ini. Tapi saya sadar, pekerjaan tetap yang utama sedangkan kegiatan ini selalu yang pertama hehehehehe... artinya sesibuk apapun kerjaan saya, trekking dan hunting tetap must go on, di sela-sela kesibukan tentu. Pandai-pandai membagi waktu serta mengikuti feel and sense.

Selain teman-teman dari NPC, mas Baktiar, mas Kadek, mas Nyoman, mas Koco, dan mas Arief Papat pernah bersama-sama dengan saya mengabadikan keindahan bukit dan pantai. Mas Baktiar sering pula menulis cerita menarik tentang Mbay ini, di blog Indonesia Sungguh Indah ini dan di Facebook di timpali dengan foto-fotonya yang joss gandossss.

Hal-hal baik dan buruk juga akrab menemani langkah saya saat mengelilingi bukit dan pantai di Mbay ini. Kamera kesayanganku pernah rusak terbentur permukaan tanah saat hunting ke Pantai Watundoan. Mungkin saya tidak ‘permisi’ dahulu sebelum memotret di sana. Kadang kita memang harus menghargai alam kita walau dengan ucapan permisi dalam hati kita. Manjadi doa bagi karya kita. Nyamuk sering menjadi sahabat dalam kegelapan saat pulang trekking dan huntingnya sudah cukup malam. Di gigit semut dan tabuhan juga mewarnai kegiatan trekking dan huntingku. Di suguhi minum dan makan dalam persinggahan perjalanan juga sering terjadi. Suatu tradisi keramahtamahan asli Indonesia. Mendapatkan cerita-certa dan ilmu kemasyarakatan jadi bagian pemanis dari trekking dan hunting. Membuka wawasan saya tentang Mbay dan adat istiadatnya, Mbay dan masyarakatnya, serta yang utama adalah Mbay dan keindahannya.


Bukit yang gersang ternyata bisa tampak indah di mata kamera. Walau sering menjadi keluhan saat panas menyengat. Komposisi awan dengan ROL-ROL cantik memberi warna. Pohon-pohon kering dan ilalang memberi kesan. Kontur tanah dan bentuk bebatuan hasil pahatan alam sangat berkarakter. Semuanya begitu indah. Sangat indah malah.
Pantai yang masih asri walau kurang terawat juga sering menjadi indah dan bernilai dalam mata kamera. Komposisi awan, pantulan cahaya, garis pantai yang luas dan panjang, batu-batu karang hitam, perahu, penduduk dan pemukimannya telah menjadi lukisan yang berkanvaskan kawasan pantai. Sunrise, sunset dan purnama menjanjikan kepuasan bathin untuk di nikmati dan diabadikan.


Banyak tempat yang masih ingin saya datangi. Banyak kesempatan yang sering terlewatkan. Banyak keindahan yang belum tertangkap mata dan kameraku. Dan semuanya mematri kerinduan yang dalam untuk dapat mengabadikannya lewat kamera, mata dan hati ini.
Bersama teman-teman NPC dan teman-teman fotografer dari luar daerah kerinduan saya akan selalu bisa di wujudkan. Tentu dengan semangat kebersamaan dan tulusnya niat untuk bercerita kepada dunia tentang Mbay yang indah ini.
Melihat Indonesia dari Timur. Harus dapat kita wujudkan bersama. NTT sungguh indah. Flores Nusa Bunga. Terima kasih Tuhan.

------>Mbay, 24 Oktober 2011
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 17 Oktober 2011

Hamparan Batuan di Pantai Kolbano

"Tempatnya mantap bro, gak menyesal lah sampai sana walau jaraknya jauh",  kata-kata yang memancing adrenalin itu muncul beberapa hari lalu. Sebenarnya aku sama seorang temen pernah kesana pakai, tapi tinggal tujuh km kita dipaksa mundur gara-gara lubang di jalan sebesar kubangan kerbau membuat beberapa kali bagian bawah mobil terhantam.
Pantai Kolbano, ya itu yang diceritakan beberapa teman yang sudah pernah singgah ke tempat ini. Jaraknya memang cukup jauh, dari titik percabangan di daerah Noelmina menuju arah Batu Putih masih harus ditempuh lebih dari 65 km lebih. Dari percabangan ke Kupang sendiri jaraknya juga sekitar 60 km lebih jadi kalau ditotal sekali jalan lebih dari 125 km.


Hari Minggu sebenarnya ada rencana mau ikut acara bersih-bersih pantai Kupang, tepatnya di kawasan Lai Lai Besi Kopan sekitar jam 3 sore. Karena mempertimbangkan bahwa aku jarang lama di Kupang juga karena adrenalin lagi naik, maka kuputuskan untuk berangkat hari ini. Dua orang teman yang rencana mau jalan juga ternyata batal, katanya sih yang satu kurang banyak orang (lagi mikir supaya lain kali kalo mengajak dia bawa rombongan pake truk saja) yang satu lagi katanya ada kegiatan (sebenarnya karena lagi malas tu). Ah, sebodo teuing.... The show must go on, perjalanan harus tetap terjadi. Jalan kaki saja kalau memang harus jalan ya jalan kok, apalagi ini bisa pakai motor, tidak ada yang bisa menghalangi.

Sebotol air minum, sebuah senter (kalau kemalaman), pisau lipat (siapa tahu dapat buah gratis) dan yang lain nanti bisa cari di jalan. Kalau peralatan fotografi: kamera dan sebangsanya jangan ditanya, udah nangkring duluan sebelum yang lain disiapkan. 

Jam satu siang persis aku jalan. Aku belum tahu persis berapa lama perjalanan kesana, daripada salah set waktu dan cuma dapat malam lebih baik aku berangkat lebih awal. Kalau sampai lebih cepat ya berarti bonus bisa jalan-jalan lebih lama. Namun dengan kendaraan roda dua yang perhitunganku masih bisa mengatasi kondisi jalan, setidaknya dalam waktu tiga jam lebih-lebih sedikit bisa sampai.

Aku melarikan kendaraan melalui jalur lingkar luar Kupang, perhitunganku melalui jalan ini lebih cepat juga aku bisa melaju lebih enak karena jalurnya terpisah. Tapi sedikit meleset karena ternyata sisi jalan balik sedang dalam pembangunan sehingga sekarang satu jalur arah keluar menjadi jalan dua arah. Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku berhasil sampai di percabangan Manikin dan langsung kuarahkan motor ke Timur arah ke SoE.

Perjalanan sempat tegang karena sebelum memasuki Camplong, penunjuk bensin sudah ke tanda merah. Motor matic macam Vario memang boros bensin tambah lagi tempat bensin kecil lagi. Tapi karena lagi kumat adrenalinnya bukannya cari bensin nekat saja menerobos hutan, untung-untungan saja kalau tidak sampai ya tinggal dorong motor hahaha..... Tapi mungkin sugesti, kadang-kadang kendaraan seperti ada yang tidak beres walau ternyata sukses juga sampai diturunan menuju ke Takari. Kali ini aku tidak berani nekad, akhirnya ada juga penjual bensin eceran yang mendapatkan anugerah aku beli. Tapi acara bensin jadi lebih lama gara-gara yang jual bensin gak punya kembalian uang 50 ribu yang aku kasih. Kalau ada jerigen aja sepertinya aku milih uang kembalian ditukar sama bensin semua saking lamanya. Akhirnya lega setelah seorang anak kecil lari-lari dari warung di bawah bawa uang kembalian. Ternyata pepatah sedia receh sebelum ngoceh berlaku juga (pepatah karangan sendiri hahaha). Jalan Takari lumayan enak buat menarik gas kendaraan lebih kencang karena kontur jalan yang lumayan tidak banyak tikungan tajam. Hanya di dekat tikungan sungai besar yang harus ekstra hati-hati karena memang daerah itu daerah yang sering longsor dengan tikungan yang tajam. Satu jam lewat sedikit akhirnya aku berhasil memasuki jembatan Noelmina, jembatan terpanjang di pulau Timor yang menyeberangi sungai Noelmina. Sungai ini yang menjadi pembatas antara SoE dan Kupang.

Persis setelah lewat jembatan Noelmina terdapat percabangan ke kanan ke arah Batu Putih. Aku mampir sebentar ke warung untuk membeli sebotol minuman dan sebungkus kue kering. Dari cabang sampai beberapa kilometer di depan ternyata sedang ada kegiatan pelebaran dan perbaikan jalan sehingga jalan menjadi sangat berdebu. Sialnya di depan ada truk yang dengan seenaknya melaju meninggalkan debu-debu berterbangan untuk kuhirup. Aku sedikit menjaga jarak dari truk tapi juga tidak bisa jauh karena dibelakang juga ada truk, siapa mau dapat debu dua kali.

Untunglah selepas jembatan truk berbelok kek kiri sehingga aku terlepas dari debu-debu yang membuat jaketku yang berwarna hitam jadi putih dipenuhi debu. Selepas debu sekarang aku harus menghadapi jalan berkelok-kelok naik turun. Perjalanan terasa lancar, beberapa kendaraan yang ada justru arah balik. Selepas Kualin yang merupakan percabangan berikutnya, motorku bisa melaju di jalan yang lurus dan panjang. Aku sempat berhenti di kawasan persawahan yang kering karena tertarik gumpalan-gumpalan awan yang bergerak cepat ke Timur.

Lewat dari satu jam belum ada tanda-tanda sampai, ketegangan melewati jembatan kayu yang membuat motor harus jalan di atas tiga balok kayu sempat membuat perasaan putus asa. Aku sempat berpikir jangan-jangan perjalanan masih jauh dan baru bisa sampai setelah sore lewat. Ngomong jembatan kayu, pengalaman lewat dengan mobil di jembatan ini membuat aku menahan napas. Jembatan kayu disini bukan gelagarnya yang melintang dibawah justru gelagarnya yang melintang di atas, jadi roda kendaraan harus lewat tepat di atas gelagar melintang di sisi kiri-kanan dengan ukuran sekitar 40 cm dan jangan sampai geser dari posisi itu karena dijamin mobil langsung akan terperosok. Sekalinya terperosok akan sulit naik karena kayu-kayu balok akan menghalangi. Dan untuk sampai ke Kolbano harus melewati dua jembatan kayu seperti ini.

Sekitar tujuh km menuju ke Kolbano, kendaraanku melewati jalan menyusuri pantai selatan. Sepanjang jalur jalan menuju pantai tampak tumpukan-tumpukan batu bulat yang dikumpulkan penduduk Kolbano. Sebagian penduduk Kolbano memang saat ini punya mata pencaharian sampingan mengumpulkan batu-batu laut yang berbagai warna ini untuk dijual ke pengumpul-pengumpul batu. Kegiatan ini cukup membantu membuat dapur penduduk Kolbano terus mengepul.

Sesampainya di kawasan wisata pantai Kolbano, kesan pertama yang aku tangkap adalah pantai yang indah dan punya ciri-ciri unik untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata yang bagus. Hamparan batu-batu bulat pipih yang berwarna warni namun sebagian besar putih menghampar memenuhi seluruh  kawasan pantai yang memanjang menghadap langsung pantai selatan. Samudera Hindia yang membentang di depan sepertinya memuntahkan butiran-butiran baru pipih ini sehingga tidak pernah habis walau puluhan truk tiap minggu singgah disini untuk mengambil batu-batu yang dikumpulkan penduduk. Salah satu pengumpul batu-batu ini adalah kedua orang tua Jefrit. Jefrit adalah seorang anak yang membantu membawa peralatanku saat aku memotret. Tubuhmu yang kecil dengan rambut warna merah keriting ini tampak kontras saat mengangkut tripodku yang ukurannya cukup besar. Kata Jefrit, mata pencaharian orang tuanya adalah petani, saat ini ladangnya sedang ditanami jagung. Sebagai petani yang mengandalkan curah hujan untuk bercocok tanam, pekerjaan mengumpulkan batu menjadi berkah tersendiri. Mereka sendiri bangga bahwa batu-batu dari daerah mereka telah diekspor sampai ke Jepang. Hihihi batunya sudah sampai terlebih dahulu sebelum orangnya.

Jefrit kecil ini dengan setia membawa peralatanku berjalan-jalan seperti kebiasaanku kalau mengunjungi daerah baru. Dari dia aku juga tahu kalau pengunjung ramai biasanya hari Minggu namun mereka datang pagi hari dan sudah pulang saat siang hari. Sebagian besar pengunjung adalah wisatawan lokal, walaupun pantai indah dengan hamparan batu-batu pipih bulat ini telah banyak disampaikan namun rupanya jarak yang jauh dan akses lokasi yang tidak mudah menjadi halangan utama.

Sayangnya pengunjung lokal sering bersikap kurang baik. Kemauan mereka untuk menjaga tempat wisata sangat kurang. Lihat saja sampah plastik bekas minum dan makan yang berserakan di depan tempat parkir kendaraan, banyak sekali. Belum lagi aku juga banyak menemukan bekas sampah potongan kayu bakar dan buah kelapa, walaupun sampah-sampah ini bersifat organik namun sangat tidak bijak membiarkan tergeletak begitu saja tanpa membersihkannya. Waktu aku menunjuk beberapa grafiti dengan cat berwarna hitam dan hijau yang terpampang besar di batuan bukit yang menjorok ke daratan lagi-lagi Jefrit menunjuk para pengunjung lokal. Sangat menyedihkan, kreatifitas yang tidak pada tempatnya yang justru menunjukkan kerendahan etika mereka dalam berkunjung, bukannya bersikap santun justru mengumbar diri dan menunjukkan kehebatan yang tidak semestinya.

Cerita tentang sebuah bukit tegak yang berdiri menjulang menjorok ke pantai, itu salah satu obyek menarik yang ada di sini. Itulah obyek besar satu-satunya yang jadi tampak menonjol sendiri. Bukit yang berdiri itu membuat tempat ini makin indah walau dirusak oleh guratan-guratan grafiti dari tangan-tangan yang tidak bertanggun jawab. Tamparan ombak demi ombak dari laut berwana biru muda menghempas ke pasir membawa bebatuan. Karena keberadaannya yang langsung berhadapan dengan Samuderan Hindia memang membuat laut  Kolbano ini berombak keras sehingga kegiatan orang nelayan tidak bisa dilakukan saban waktu namun menunggu saat ombak tidak keras seperti saat ini. Orang tua dan kakak Jos, seorang anak kecil berumur empat tahun dengan hiasan ingus kering dibawah hidungnya, membawa sebuah jala tangkap segi empat menggunakan bambu.

Aku juga sempat berkenalan dengan mas Ihsan dan rombongannya. Bedanya kalau aku sendiri melakukan perjalanan kesini, mereka datang berombongan menggunakan pickup. Katanya sehabis melakukan pekerjaan pemasangan spanduk iklan di kota SoE pulangnya mereka mampir kesini. Jadi satu mobil ini semuanya adalah karyawan mas Ihsan yang kantornya ternyata dekat dengan kantorku di Kupang. Karena rombongan ini semuanya karyawan, mas Ihsan menyebut acara hari ini sebagai "Employee Weekend". Lumayan juga hasil perkenalannya, aku jadi bisa numpang makan saat malam. Dengan membawa sebuah kompor kecil, mas Ihsan memasak ayam goreng. Lumayan lezat, malam-malam di pantai dalam kondisi lapar mendapatkan menu makanan hangat ayam goreng, tak ada piring maka selembar daun pisang sangat memadai untuk menggantikannya. Hanya yang lucu saat berikutnya mau memasak air panas untuk membuat kopi ternyata gasnya habis, rupanya gasnya memang tinggal sedikit sehingga dan tidak disiapkan cadangannya. Wal hasil, kopi panas nihil dari daftar. Mas Ihsan ini ternyata penyuka fotografi yang jauh lebih lama, perkenalanku dengannya juga dimulai saat dia hendak meminjam lensa wide untuk memotret ramai-ramai karena kebetulan dia salah membawa lensa. Kalau tidak salah lensa yang dia bawa Canon EF 50mm f/1.8 yang memang lebih tepat untuk memotret model, sepertinya itu juga tujuan dia makanya ada dua mahluk wanita dirombongannya.

Karena ingin menikmati malam sendiri aku menolak ikut rombongan sehingga aku mendahului rombongan setelah terlebih dahulu mengantar Jefrit pulang ke rumah.

Diantara perjalanan pulang aku menyempatkan diri berhenti di daerah yang memiliki jalan lurus dan kosong. Dengan keadaan yang gelap gulita aku duduk menikmati jutaaan titik-titik cahaya di langit yang berada simponi jagat raya luar biasa, jutaan bintang itu begitu cemerlang berada di kawasan galaksi Bima Sakti yang malam ini terasa sangat terang menunjukkan kegagahannya.

Perjalanan pulang sendiri melewati perbukitan yang gelap dan berkelak-kelok terasa menyenangkan, ternyata disepanjang jalan aku banyak bertemu orang-orang kampung yang berjalan-jalan seperti biasa. Mata yang biasa di kampung ternyata lebih tajam sehingga santai saja berjalan malam di tempat yang gelap seperti ini.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 09 Oktober 2011

Ilalang Semusim

Langit tampak begitu biru dan matahari masih saja garang menyala-nyala walau bayangan telah lebih panjang dari badan. Angin menerabas di sela-sela ilalang yang telah kuning mengering. Sekarang udara panas mulai menerjang, hamparan sabana yang biasanya hijau membentang kini dipenuhi onggokan-onggokan ilalang mengering. Sebagian batang ilalang saling berpilin kala ujung-ujung batangnya yang berbulu dan dipenuhi bulir-bulir saling melekat satu sama lain. Lalu saat angin kencang menerjang mereka terbang menghilang entah kemana.

Bukit-bukit yang biasanya menghijau telah bermetamorfosis setelah melewati satu musim menjadi padang batu dengan warna kecoklatan yang mendominasi. Ilalang sedang tertidur sekarang. Di beberapa titik bukit tampak warna kehitaman pertanda sabana-sabana itu telah habis dibakar. Masih ada satu dua bukit yang berwarna kuning karena ilalang belum sepenuhnya mengering tapi itu pun tidak akan lama, paling lama dua minggu aku akan pastikan bukit-bukit itupun akan berwarna sama.

Harusnya aku di rumah, panas seperti tak terkira di bulan begini. Bahkan sekalipun aku sekarang berteduh di bawah pohon akasia yang masih menyisakan daun-daunnya yang terus gugur. Aku berharap hari ini awan akan datang, dan sore disini menjadi sedikit teduh namun panas rupanya masih belum mau berkompromi. Tapi aku menikmati duduk disini di sebuah bangku kayu panjang yang tersusun dari batang-batang kayu kecil. 

Bangku ini dibuat oleh penggembala-penggembala yang suka menggembalakan ternaknya disini, karena selain bangku ini aku juga melihat sebuah rumah gubuk kayu kecil beratap daun lontar yang dibangun di cerukan bukit tak jauh dari bangku ini. Jika kamu ada pada saat itu, maka di waktu sore menjelang kamu akan melihat mereka yang menggiring ternak. Akan kau dengar lenguhan-lenguhan sapi yang berjalan rombongan dengan satu atau dua orang penggembala dibelakangnya. 


Aku suka dengan simponi senja hari di atas bukit ini, menikmati suara-suara ternak yang melenguh dan teriakan-teriakan penggembala yang menggiring ternaknya. Rombongan burung-burung kecil yang berkicau ramai mencari tempat bermalam, kadang singgah satu pohon ke pohon lain sampai menemukan tempat yang pas untuk beristirahat malam. Kadang-kadang aku juga masih mendapati bunyi pokok-pokok pohon ditebang berdentang-dentang disusul bunyi kerosak saat sebuah pohon tumbang. Tapi yang sering kulihat ditebang disini adalah pohon lontar, mungkin karena sudah tua dan tidak produktif. 

Sebenarnya dari sini tak lebih dari 5 rumah yang tampak, namun karena sepi sehingga bunyi-bunyi kecil itu terdengar riuh rendah memenuhi udara. Anak-anak yang berlari-lari pulang mandi, ibu-ibu yang sibuk di belakang rumah berkelontangan dengan alat-alat dapurnya dan suara grak-grok babi yang dikandangkan terpisah tak jauh dari rumah. Sekali dua tokek juga ikut menambah simponi senja hari disini.

Tapi sepertinya saat-saat seperti ini tak akan lama. Di balik beberapa bukit di seberang mata sudah banyak rumah yang dibangun. Jalan aspal sebentar lagi juga akan melewati sisi bagian bawah bukit ini, artinya akan semakin mudah orang-orang membangun disini.
Bahkan bukit-bukit yang pada musim hujan hanya tampak hijau sekarang terdapat jajaran pokok kayu kecil yang menjadi pagar pembatas kepemilikan.


Aku tahu, suatu ketika nanti aku akan rindu simponi ini. Rindu yang tak tahu kapan akan kembali saat tanah-tanah di bukit ini terjamah diaroma kota. Rindu ini seperti rinduku padamu di kala ilalang menghilang seperti ini. 

Aku masih mengingat dengan jelas denting-denting nada yang keluar dari senar gitarmu. Ada kalanya engkau bersenandung mengiringi nada lagu itu namun lebih sering kau biarkan denting-denting itu menyanyikan syairnya sendiri. Engkau mengajak nada-nada itu menggembara sendiri melintasi sabana-sabana layaknya angin yang menyisir celah-celah rerumputan. Tapi ada satu yang pasti, kau akan menghentikan denting itu kala senja mulai mengarak awan-awan di langit. Dan itulah saatnya kita diam dan menjadi pendengar dan pengamat alam yang sedang melakukan simponi dengan pencahayaan luar biasa di langit.

Kini, saat rinduku padamu mulai mendekat pasti justru aku seperti dibayangi kehilangan segala bukit sabana yang ilalangnya hanya semusim ini. Jika aku pergi besok, entah apakah saat aku kembali masih akan kutemui segala simponi alam ini ataukah aku harus menjenguknya di tempat lain.

Tiba-tiba aku menjadi ragu, rindu ini terlalu besar untuk kubayangkan. Baiklah ia kulepaskan hingga tak menjadi beban perjalanan. Dan aku juga menjadi ragu padamu, apakah denting-denting itu masih kau simpan bersamamu ataukah mengering seperti ilalang semusim ini.

Nagekeo - September 2011
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 05 Oktober 2011

Rote Ndao - Tiang Bendera (Bagian 3)



Rencana perjalanan ke Batu Termanu masih belum berhasil, dan ternyata aku justru berhenti di Tulandale seperti yang kuceritakan pada catatan sebelumnya.
Pagi hari aku naik ke lantai paling atas hotel, aku berniat mau melihat posisi Batu Termanu. Ternyata justru malah tidak terlihat, setahuku kalo di Pelabuhan Ba'a posisi dari Batu Termanu terlihat.
Tapi saat perhatianku kuarahkan ke barat aku justru melihat view lain di ujung yang biasanya dari sini aku bisa menyaksikan matahari tenggelam. Di ujung barat tampak deretan warna putih dan beberapa batu karang  terjal di laut serta adanya beberapa bangunan kecil berbentuk kerucut. Dugaanku kerucut ini seperti lopo-lopo yang biasanya digunakan orang untuk duduk. Apakah itu tempat wisata atau tempat pribadi, entahlah. Tapi rasanya aku belum pernah mendapatkan informasi ada tempat wisata disana.


Siang hari aku menunda perjalanan ke Batu Termanu dan memutuskan untuk mencoba ke tempat itu walaupun aku tidak tahu persis seberapa jauh sebenarnya. Pokoknya asal masih bisa dilihat mata berarti masih bisa dijangkau, itu prinsipku. Kecuali lihat bulan lho, hehehe.
Jam setengah tiga aku mulai berjalan ke arah dermaga namun tidak turun di dermaga karena setauku di sana terhalangi dengan kawasan bakau yang lebat.
Dari pinggir pantai, aku menemukan ternyata kawasan di balik dermaga view pantai yang menarik. Dengan kondisi pantai yang rata-rata berpasir putih, kawasan di Rote Ndao memang cukup bagus. Rata-rata nyiur tumbuh di sepanjang alur pantai kecuali untuk daerah-daerah yang terdapat hutan bakau.
Sepuluh menit kemudian aku sampai ke Mokdale. Beberapa anak kecil yang sebagian bertelanjang dada asyik bermain bola. Sekali lagi aku menemukan daerah dengan nyiur berderet yang membuat kawasan pantai tetep enak untuk bermain biar pun siang hari.
Aku duduk mengamati mereka bermain bola, melihat aku duduk dengan kamera yang siap sedia tampaknya membuat mereka makin semangat. Kiper kecil berambut jigrak itu menunjukkan atraksi menangkap bola beberapa kali. Seorang nona manis yang berdiri tampak malu-malu menyemangati.
Yang juga menarik ternyata ada juga seorang anak perempuan kecil yang juga bertelanjang dada ikut bermain. Tapi karena badannya yang paling kecil anak perempuan ini kebagian menjadi kiper di bagian seberangku.
Dari Mokdale aku menelusuri kawasan hutan bakau yang masih asri hingga memasuki kawasan perbukitan yang agak kering. Setelah melewati dua hutan bakau aku terjebak dengan batu karang yang menjulang tegak lurus dengan karang-karang yang sangat tajam. Sekarang aku punya pilihan apakah mau tetep maju atau mundur, perjalanan masih setengah jalan. Akhirnya dengan merayap dan berpegangan akar-akar pohon yang tumbuh di sepanjang karang aku merangkak naik, untungnya aku sudah mengemasi dulu peralatan kamera. Batu-batu yang nyaris tegak 90 derajat ini untungnya karang terjal jadi banyak pegangan walau kadang terasa sakit.
Aku melewati celah yang telah ditutup, tampaknya celah ini ditutup untuk menghindari binatang lewat sini karena rawan terperosok. Sekalinya terperosok dipastikan akan ditangkap oleh jajaran karang terjal di bawah.
Dari atas bukit karang aku menelusuri jejak jalan yang pernah digunakan orang. Beberapa kali burung-burung sebesar burung dara berwarna hijau dan jenis lain yang tidak kukenal. Semoga disini masyarakat tidak punya hobi berburu burung sehingga burung disini tidak akan bernasib sebagaimana burung Kakatua Jambul Putih asli Sumba yang sekarang justru sudah tidak ditemukan lagi di Sumba.
Melewati dua bukit terjal keringat mulai bercucuran, minuman yang aku bawa tinggal separuh. Untungnya di turunan berikutnya aku menemukan daerah pantai landai, beberapa burung laut berdiri di tepi pantai dan segera terbang menjauh saat aku menuju ke sana. Di bawah aku menemukan rumput laut berwarna hijau yang terhempas ke pinggir pantai. Aku mengambil yang masih segar dan setelah kucuci kumakan. Rasanya enak khas rumput laut cuma agak asin karena aku mencucinya pakai air laut, tapi lumayan membantu aku mengisi perut yang jadi lapar.
Dari sini aku kembali harus naik bukit karang yang lebih terjal, aku sempat kehilangan  jejak namun untungnya kebiasaan mengenali medan ini membuat aku kembali menemukan jalan setapak. Namun kali ini aku harus lebih hati-hati karena jalan dibawah sepenuhnya karang terjal. Untungnya tak jauh kemudian aku sudah sampai di tempat itu. Wah lokasinya memang menarik sekali.
Lokasi ini ternyata memang ternyata telah dibangun menjadi lokasi wisata, tampak dari lopo-lopo yang masih baru. Pantai berpasir putih dengan beberapa gugusan karang yang beberapa tumbuh terpisah sungguh sebuah lokasi yang pas. Dari tempat ini kita bisa melihat matahari terbit maupun matahari terbenam.
Beberapa lama setelah aku sendiri mengitari daerah ini datang rombongan sekitar 5 motor yang rupanya anak-anak Malang yang sedang PKN di Kabupaten Rote Ndao. Dari salah satu rombongan ini aku mendapatkan informasi kalau daerah wisata baru ini dikenal sebagai Tiang Bendera. Asal usulnya berasal dari sebuah bangunan seperti kerucut panjang yang atasnya terpenggal di salah gugusan karang sisi barat.
Aku masih menunggu senja habis untuk mendapatkan foto-foto slowspeed. Saat mulai gelap aku berkemas kembali. 
Aku memutuskan menggunakan jalan karena menurut informasi salah satu rombongan tadi kalau menggunakan motor sekitar 15 menit. Dari sini perjalanan langsung menanjak dan dari atas ternyata ada beberapa spot lain yang mirip. Ternyata jalur jalan yang baru dibangun dari tanah putih tidak ada penerangan sama sekali sepanjang hampir dua kilometer, deretan pohon besar dan karang-karang besar mengapit sepanjang jalan, untung bulan setengah muncul tidak tertutup awan. Cahaya bulan dan jalan tanah berwarna putih cukup membantuku berjalan sampai aku menemukan rumah pertama.
Dari rumah pertama ini aku menemukan informasi arah menuju kembali ke Ba'a. Tiba di bukit atas aku baru mengetahui jika lewat jalan jauhnya lebih jauh dua kali lipat dibanding menelusuri pantai. Untungnya rumah-rumah yang walaupun jaraknya berjauhan satu sama lain namun sudah berpenerangan listrik. 
Di pertengahan jalan aku ditawari untuk naik ojek, hanya karena sudah setengah jalan aku memilih meneruskan dengan tetap berjalan kaki. Aku harus beberapa kali bertanya kepada setiap penduduk yang aku termui di jalan karena banyaknya percabangan di daerah ini.
Aku sampai di Ba'a sekitar jam 7.30 malam. Perjalanan hari ini walaupun capek tapi sangat menyenangkan.

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya