Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Rabu, 04 Mei 2016

Sisi Selatan Kupang: Pantai Buraen

View pantai Buraen
Pemandangan pantai Buraen dari salah satu bukit
Setelah sekian lama aku menyimpan penasaran seperti apa pantai di kawasan selatan Kupang akhirnya terjawab dari perjalananku kali ini. Selama ini memang pesisir selatan cuma tersimpan di benak tanpa pernah terealisasi. Apalagi kalau bukan karena kondisi jalannya. Pernah mencoba sekali ke sana tapi menyerah karena motor matic-ku harus menghajar bebatuan yang ukurannya besar-besar (batu telford isitilahnya).

Bersantai dengan hammock di pantai Buraen
Jangan takut, aku jagain kok (ehmm bikin ngiri)
Jam sembilan sebenarnya bukanlah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan, apalagi menggunakan sepeda motor. Aku sendiri sudah mengingatkan Imam jika kemungkinan kita akan sampai di lokasi pas tengah hari jadi sangat mungkin cuaca akan terasa sangat panas. Tapi Imam tidak mempermasalahkan kondisi itu. Sebenarnya aku dan Imam sudah biasa dengan cuaca di Kupang, lagian kami berdua memang sudah gosong lama. Bedanya sama aku, Imam memang gosong dari lahir hehehehe. Aku sebenarnya lebih kuatir sama Adis, satu-satunya cewe yang ikut bakalan jadi mirip Imam. Kan kasian padahal Adis ini wajahnya imut-imut kayak anak kecil bisa jadi tambah imut (item mutlak). Tapi ya sudahlah, mereka memang tabah dengan pilihannya, sebagai orang yang bijaksana tentu aku gak berhak melarang mereka. 

Menikmati pasir putih di pantai Buraen
Pasir pantai yang landai di pantai Buraen
Dan perjalanan kali, yang akan kami tuju adalah kawasan pantai yang membentang di sisi selatan Kupang. Apa menariknya? Aku tidak tahu, demikian pula Imam dan Adis. Kalau kerennya, bukan tempat yang penting tapi perjalanan itu sendiri. Kata-kata itu seperti ungkapan mantra magis untukmu, entah untukmu... Memang perjalananku selalu kumulai dengan pencarian lokasi-lokasi yang kuanggap menarik, dalam dua hal. Menarik secara mata dan menarik secara batin. Tapi akhirnya ternyata bukan lokasi itu yang menjadi tujuan utama tapi perjalanannya sendirilah yang lebih penting. Kalau ada pemandangan bagus itu adalah bonus. Tapi kalau tidak ada bonus pemandangan bagus, yo itu kebangetan sialnya hahahaha.

Kalau sudah kategori menghilang mencari tempat baru yang tidak jelas seperti ini memang Imam adalah salah satu teman terbaik untuk melakukannya. Imam ini tipikal orang yang makin kesasar makin bahagia, kayaknya sih begitu. Apakah kalian tipe orang yang hepi walau kesasar? Mari kaka kita jalan sama-sama sudah.. 

Terik di pantai Buraen menciptakan fatamorgana kabut tipis di kejauhan
Seperti biasanya, perjalanan yang terjadi tanpa perlu persiapan yang matang, jika masing-masing klop dengan daerah yang dituju maka perjalanan segera terjadi. Karena dari awal tidak berniat menginap, jadi hanya membawa air minum kecil dan kue kering saja. Pokoknya edisi hemat lah kecuali untuk urusan bahan bakar. Tangki motor harus full, itu sudah pasti. Dengan informasi jarak 57,7 km dengan waktu tempuh hampir 2 jam, bisa dibayangkan kondisi jalan yang akan dihadapi. 

Nikmatnya hammock-an di pantai Buraen
Nikmatnya tidur di dalam hammock
Sampai ke Oesao jalan masih bagus. Ya iya lah, wong masih jalan negara mosok gak bagus. Bahkan sampai Oekabiti pun masih bisa dibilang kondisi jalan masih baik, artinya motor masih bisa lari dengan kecepatan normal. Normalnya perjalanan melewati perbukitan tentunya. Memang banyak titik jalan yang berlubang tapi tidak terlalu parah. Saat di depan gerbang masuk Taman Hutan Raya Ir. Herman Johannes ternyata ketinggian tempat ini sekitar 580 mdl. Wah pantas saja di daerah ini udara yang bertiup terasa dingin. Hutan raya ini ternyata luas dengan pepohonan besar. Udara yang sejuk dan pepohonan ini membuat suasana hutan sangat menyenangkan untuk dilewati. Informasinya di kawasan hutan ini terdapat danau yang cukup luas yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan. Sepertinya lain kali perlu diluangkan waktu untuk mencoba ke tempat ini.

Selepas perempatan Buraen itulah baru mulai terasa perjalanan. Tiga km jalan dari perempatan Buraen sampai ke gerbang desa Nekmese berupa jalan batuan yangtidak rata. Mungkin dulu jalan ini pernah diaspal hanya sekarang sudah tidak ada ada jejaknya hanya menyisakan batu-batu koral. Sampai di depan gerbang desa Nekmese justru kami disuguhi jalan yang lebih parah. Jalan menurun berkelok panjang ini ternyata masih berupa jalan dari tanah putih dan batu-batu koral/karang. Kami harus ekstra hati-hati karena batuan-batuan kecil yang bertebaran dapat dengan membuat roda motor slip. Perjalanan terakhir ini yang menguras waktu karena nyaris sepanjang jalan rem terus ditangan supaya motor tetep terkendali. Sampai harus melewati sungai yang tanahnya agak berlumpur. Masih bisa dilewati pada bulan seperti ini, tapi pada bulan-bulan hujan mungkin memang tidak akan bisa dilewati dengan kendaraan biasa.

Menikmati semilir angin di pantai Buraen
Menikmati pemandangan pantai Buraen (atau..)
Yang gak enak, di ending terakhir menuju pantai ternyata ada jalan beraspal membentang mulus. Sakit hati rasanya perjuangan melewati jalan tanah berkerikil yang bikin deg-degan kalau endingnya seperti ini, iya kan.. hahahaha... Jalan membentang mulus ini ternyata merupakan jalur trans-selatan pulau Timor yang akan akan melewati Kupang - Timor Tengah Selatan (Kolbano) - Malaka. Sebagian besar jalan sudah selesai tapi banyak yang masih terputus karena melewati jalur sungai. Just info, di Timor sisi pantai itu banyak sekali sungai yang sebagian besar bukan sungai aktif. Artinya, sungai-sungai ini hanya dilewati air saat musim hujan saja. Sungai-sungai ini semacam simalakama, dibangun jembatan tidak ada airnya tapi tidak bisa ditutup karena air hujan akan membentuk jalur baru yang malah akan menghancurkan badan jalan.
 

Karena masih jam 12 maka pasir pantai masih tersisa sedikit karena air laut masih pasang. Imam mengajak aku menelusuri jalan ke arah Timur. Pemandangan pantai selatan tampak dari ombaknya yang tidak pernah tenang. Pasir putih kekuningan yang memanjang menjadi isyarat jelas bahwa kawasan ini bakal menjadi destinasi wisata baru. Apalagi jika jalan trans-selatan pulau Timor ini kelar dikerjakan. Rumah-rumah di sepanjang jalan trans-selatan juga sedikit kalau tidak dikatakan nyaris tidak ada. Karena itu disepanjang jalan ini, rumah-rumah yang ada rata-rata belum memiliki akses listrik. Jika ada itu berasal dari panel surya kecil di atas atap yang mungkin hanya menerangi rumah beberapa jam saat malam hari.

Sampai jam setengah satu akhirnya kita menyerah dengan hawa panas. Di salah satu belokan kita menghentikan motor mencari tempat berteduh. Pohon pandan laut menjadi pilihan ideal untuk memasang hammock karena menurutku cukup kuat menahan bobot bahkan jika harus dinaiki dua orang sekalipun.
Boleh percaya boleh tidak, tapi angin yang bertiup dari pantai tidak panas sehingga tiduran di bawah pohon terasa sangat nyaman. Padahal jika di pantai sisi utara saat begini biasanya angin yang bertiup tidak terasa sejuk. Karena hawa yang sejuk berhembus ini tanpa sadar kita sempat tertidur sampai mendekati jam tiga. Sepanjang kita beristirahat di pantai tidak terlihat seorang pun di tempat ini.


Jam tiga barulah pasir pantainya makin tampak seiring air laut yang makin surut. Dari salah satu bukit, kita bisa melihat pemandangan pantai Buraen yang pasir putihnya memanjang. Di kejauhan aku melihat seperti kabut putih yang menghalangi pandangan ke perbukitan, entah itu berasal dari air laut yang menguap, atau kah fatamorgana semata.

Di pantai ini memang kita tidak bisa menikmati sensasi matahari terbenam karena matahari terbenam di balik bukit-bukit tapi view sesaat sebelum matahari menghilang di balik bukit-bukit juga tidak kalah memukau. Memang pantai ini lebih pas untuk menikmati sensasi melihat matahari terbit.

Pohon bakau di kawasan pantai Buraen
Pohon bakau yang berdiri sendiri (ujung pantai Buraen)
Ada satu pantai yang banyak karang terdapat sebuah pohon bakau yang berdiri sendiri. Tempat inilah yang aku lihat ada aktivitas orang-orang di pantainya, mungkin karena karang-karang ini bisa digunakan untuk menyimpan perahu mereka saat gelombang tinggi. Permasalahan nelayan-nelayan di pantai selatan memang lebih karena ombaknya yang bisa menjadi ganas sehingga areal-areal terbuka biasanya dihindari nelayan. Beberapa anak muda asyik main trek-trekan dengan motor di pasirnya karena pasirnya yang padat.

Perjalanan baliklah yang konyol. Karena berasumsi bahwa jalan baru bisa dijangkau sampai Kupang jadi kita mencoba menelusuri jalan trans-selatan ke arah barat yang berarti dengan jalan buntu. Sepanjang jalan yang masih terputus-putus tak terhitung melewati sungai kering (atau kubangan kering). Sehingga dari perjalanan jam setengah enam dari pantai Buraen kita baru tiba di Kupang jam delapan malam. Itu pun bisa dibilang kita tidak berhenti makan, paling hanya sebentar mampir di warung untuk minum.

Lokasi dari pantai Baun yang kita singgahi
Rute perjalanan:
Aku berterima kasih dengan blogger Destinasi Pantai Buraen Amarasi Selatan yang menuliskan detil rute perjalanan dengan cukup jelas. Rute ini aku gambarkan ulang dengan kondisinya:
  1. Dari Kota Kupang menelusuri Jalan Timor Raya terus ke Timur arah SoE, nanti dari pertigaan pasar Oesao beloklah ke kanan. Kondisi jalan aspal dan bagus
  2. Telusuri jalan aspal besar terus sampai menemukan pertigaan yang ada kantor Unit Simpan Pinjam Desa Bank NTT, ambil arah ke kanan menuju ke Buraen. Lanjutkan perjalanan mengikuti jalan beraspal sampai bertemu dengan sebuah gerbang yang menjadi pintu masuk Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Johanes. Kondisi jalan aspal dan cukup bagus, ada kerusakan jalan di beberapa titik tapi secara umum masih aman dilewati.
  3. Masuk terus ke dalam sampai bertemu dengan perempatan simpang Teres. Dari sana ambil kiri ada jalan menurun, ikuti jalan sampai bertemu dengan perempatan berikutnya yaitu perempatan desa Buraen. Kondisi jalan aspal yang mulai rusak.
  4. Di perempatan desa Buraen ambil ke kiri lagi. Kondisi jalan di sini adalah jalan yang rusak parah,sisa bebatuan yang aspalnya nyaris sudah tidak ada lagi.
  5. Sekitar 3 km selepas perempatan Buraen akan ketemu pertigaan dimana sebelah kanan terdapat gerbang Nekmese.
  6. Masuk ke gerbang Nekmese dan ikuti jalan sampai mentok ke laut. Selepas gerbang Nekmese adalah sebuah jalan tanah putih yang sama sekali belum diaspal. Kondisi tanah putih dan batu-batu karang membuat perjalanan harus hati-hati karena rawan sepeda motor mengalami slip.
    Dari sana akan melewati dua sungai, satu sungai kecil yang mudah dilewati dan satu lagi lagi jika musim hujan berarti tidak bisa dilewati. Belum ada jembatan jadi memang harus melewati sungai.
  7. Nanti di ujung jalan mentok akan tampak jalan besar beraspal yang merupakan jalan trans-timor sisi selatan. Kenapa kita tidak melalui jalan ini yang tentu lebih mudah. Tungguu!! Jangan terburu-buru menyimpulkan. Jalan ini memang bagus kondisinya tapi sebenarnya belum benar-benar terhubung (mungkin akhir tahun ini udah bisa kelar). Aku sudah membuktikan jalan ini dan berakhir di sebuah pantai dengan batu-batu besar berjajar (mungkin bisa dinamai pantai Batujajar kali ya). Jadi jalan ini belum tembus sampai ke daerah Baun.
Thanks buat temen-temen yang bersedia bersama berjalan-jalan ke tempat ini:
Imam 'Boncel' Arif Wicaksono
Adisti 'Pipi' Dwi Septyarini

12 komentar:

  1. Menarik mas
    Ditambahin rute perjalanan lgi
    Sip sip ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung lagi apal jalannya, kadang abis jalan kita sendiri suka lupa lagi kan

      Hapus
  2. Kenapa kau dari awal tak cari jalan beraspal itu kak ??? ayo jawab
    Jadi sungai nya kita beri nama sungai simalakama saja yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena belum selesai dikerjakan jadi tidak ada informasinya biar udah ubek-ubek di internet. Cuma ada pemberitahuan ada pembangunan jalan trans-selatan yang sedang berjalan...

      Hapus
  3. Waaa, pengen kepantai jadinya. Pantainya keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung siapkan kopi panas dan mereguk nikmatnya di bawah bayang matahari.. joss

      Hapus
  4. fotonya bagus, tapi kayaknya di sana emang keren ya... di bali kuga tempat wisatanya keren-keren gak kalah indahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti di Bali banyak tempat-tempat yang bagus dan sudah dikelola profesional. kalau di tempat ini masih belum dieksplore

      Hapus
  5. Belum ke Buraen, ini cakap banget. Mengingatkan ada pantai kyak gini si Pulau Semau, mirip sih tapi kayaknya Buraen ini juga sepi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepinya masih bisa dibilang sama, yang beda Semau ombaknya cenderung tenang jadi enak buat mandi.. kalau Buraen karena laut lepas cenderung ombak ganas, cocok buat ditawari ke bule pecinta selancar.. aku pribadi lebih vote Semau karena punya sunset yang asoy geboy

      Hapus
  6. Doh banyak banget yang mesti dikunjungi di kupang ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak mas Booby.. jadi kapan??

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya