Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Minggu, 07 April 2019

Cunca Wulang: Keindahan yang Tidak (Lagi) Murah


Aliran sungai yang bening mengalir diantara celah-celah tebing tertangkap jelas dari jembatan gantung ini. Berdiri di jembatan gantung selalu memberikan sensasi menyenangkan bagiku. Walaupun tidak setinggi suspension bridge di Taman Nasional Gunung Pangrango, terlalu jauh kalau harus membandingkannya dengan jembatan gantung di air terjun Cunca Wulang ini. Walaupun begitu ayunan jembatan ini tetap memberikan sensasi jantung berdesir. Jembatan ini salah satu membedakan Cunca Wulang dahulu dibandingkan dengan saat ini. Baca ceritaku di Cunca Wulang dulu disini.

"In every walk with nature one receives far more than he seeks" --- John Muir

Cunca Wulang artinya Air terjun bulan. Mengapa disebut begitu? karena air terjun ini jatuh ke dalam sebuah tebing batu berbentuk lubang seperti lubang. Karena kondisinya seperti, sulit melihat penampakan air terjun untuk dari atas sampai ke bawah. Untuk bisa melihat utuh ada dua cara:
  1. Naik ke atas air terjun dan berdiri cukup dekat ke dinding tebing. Jangan kuatir, dinding air terjun ada batu padat yang tidak akan longsor oleh injakan kalian.
  2. Ini cara yang paling nikmat tapi basah. Jadi turun ke dalam sungainya dan berenang menyusuri sungai sampai masuk ke dalam dinding batu berlubangnya.
Namun, walau tidak bisa melihat air terjun secara utuh namun pemandangan aliran sungainya tetap indah karena melewati tebing-tebing batu yang pepohonan yang rindang.

Perjalanan ke Lokasi
Awalnya aku ingin ke Pulau Padar, cuma karena waktunya tidak nyambung dengan jadwal keberangkatan pesawatku. Pembatalan Padar ini akhirnya aku membuatku memilih lokasi lain yang bisa diakses melalui jalur darat.

Dengan berbekal pinjaman motor dari seorang teman, perjalanan ke lokasi aku tempuh hampir satu setengah jam mungkin lebih karena aku berjalan agak santai. Maklum naik motor sendiri jadi gak perlu terburu-buru. Lumayan bisa sambil menikmati pemandangan kota Labuan Bajo dari ketinggian.

Walau sebenarnya masih cukup hapal arah ke lokasi aku memilih bertanya arah kembali ke penduduk setelah dekat di Warsawe untuk meyakinkanku. Memang sekarang banyak aplikasi peta seperti Google Map yang dengan mudah menjadi guide andal ke lokasi-lokasi yang sudah terkenal, tapi GPS (Gunakan Penduduk Setempat) masih menjadi jurus andalanku. Ada beberapa faktor yang membuatku nyaman dengan mampir bertanya ke penduduk: (1) Cara mudah berinteraksi dengan masyarakat setempat, (2) Memastikan bahwa aplikasi peta tidak menyesatkan terutama jalur-jalur yang belum dikenal, (3) Aku masih old style yang masih nyaman bercakap-cakap dengan masyarakat.

Pembenahan Infrastruktur 
Wisata di Kabupaten Manggarai Barat mulai banyak dibenahi, termasuk di lokasi air terjun Cunca Wulang. Beberapa fasilitas mulai diperbaiki, seperti dibangunnya jalan setapak dengan beton menembus hutan menuju ke lokasi air terjun. Jarak tempuh berkurang hampir setengah waktu di banding dulu. Aku masih ingat dulu seorang teman dari bepeka sempat terduduk lemas kecapean waktu jalan balik karena kondisi jalan yang cukup sulit melewati hutan yang naik turun tajam. Apalagi menuju air terjun harus turun dari bebatuan sungai yang cukup curam. Belum selesai seluruhnya, jalan beton sudah dibangun namun pagar pengaman masih sebagian belum terpasang.

Dan juga adanya dua buah jembatan yang dibangun, satu jembatan biasa dan satu jembatan gantung. Jembatan biasa dibangun diantara dua bukit untuk memendek jarak perjalanan, sedangkan jembatan gantung untuk membantu melewati sungai. Hanya kalau melihat kualitas bangunannya, aku agak ragu jembatan gantung ini bisa bertahan lama.

Tapi itu infrastruktur yang ada di lokasi lho ya, kalau perjalanan dari Labuan Bajo ke Cunca Wulang tetap saja masih banyak yang kurang bagus. Terutama dari pertigaan Warsawe menuju lokasi air terjun.

Ada harga dengan dibangunnya infrastruktur ini, sekarang biaya masuk ke dalam lokasi bisa dibilang mahal. Ada seorang bule yang sepertinya solo backpacker keberatan dengan tarif masuknya. Kenapa? Karena ke sana diharusnya menggunakan jasa pemandu. Mau kalian jalan sendiri, berdua atau selusin tetap harus menggunakan jasa pemandu. Selamat jalan para backpacker hemat, kalian tak akan bisa berhemat berwisata di Manggarai Barat jika pergi sendirian. Tiket masuk plus jasa guide sekitar 70-ribu, itu untuk wisatawan lokal. Untuk wisatawan asing sepertinya lebih dari 100-ribu.

Sepuluh kali kalian ke lokasi itu, sepuluh kali harus membayar biaya guide lokal. Padahal tanpa guide pun dengan kondisi sekarang kecil kemungkinan seorang wisatawan akan tersesat, kecuali sengaja berjalan keluar dari trek yang ada. Ada setiap tempat wisata wajib ada? Hal itu tergantung lokasi tentunya. Jika lokasi yang belum dikembangkan dan susah diakses tentu butuh pemandu. Bahkan tanpa diwajibkan pun wisatawan akan mencari pemandu. Atau tempat bersejarah yang membutuhkan kehati-hatian dalam pengelolaan, jelas kebutuhan guide diperlukan.

Aku tidak berpendapat sendiri, silahkan kalian browsing dan cari tahu berapa banyak yang mengeluh dengan biaya tiket masuk yang dianggap terlalu mahal. Beda sekali rasanya saat aku berwisata di Jawa yang tiketnya banyak yang ramah kantong.


Aku sendiri tidak keberatan adanya guide, karena aku suka jika ada teman berbincang apalagi kalau sedang jalan sendiri. Hanya jika keberadaan pemandu menjadi kewajiban bagi seluruh wisatawan jelas itu akan membunuh keinginan banyak backpacker yang ingin menjelajah di Manggarai Barat. Tiba-tiba tempat wisata di Manggarai Barat menjadi tidak ramah terhadap para backpacker. Haruskah semua tempat wisata harus ditebus dengan kocek yang tebal?
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 17 Maret 2019

Benteng Tujuh Lapis di Fulan Fehan

Saran Mot dari Benteng Tujuh Lapis

Kami celingukan di depan gerbang masuk Benteng Makes yang lebih dikenal dengan nama Benteng Lapis Tujuh. Sebuah bangunan yang berdiri di samping sebuah tiang dikitari pagar batu tampak kosong tak terurus, entah karena hari ini Minggu atau memang sudah tidak dipakai. Katanya untuk masuk ke dalam harus bersama penjaga yang akan melakukan ritual supaya kita diijinkan masuk.

"I believe that imagination is stronger than knowledge. That myth is more potent than history. That dreams are more powerful than facts. That hope always triumphs over experience. That laughter is the only cure for grief. And I believe that love is stronger than death." --- Robert Fulghum

Katanya, untuk memasuki benteng sampai ke pagar ke-tujuh yang disebut dengan Saran Mot ini, harus didahului dengan upacara adat yaitu meminta izin untuk membuka jalan menuju Saran. Ritual adat ini dilakukan oleh Tisi Antak Ne’an (kepala suku setempat). Ada lima tempat yang harus dilewati sambil membuat upacara adat untuk membuka jalan atau pintu menuju Saran Mot. Kalau niatnya berkunjung atau sekedar jalan-jalan menuju Saran, syaratnya bisa dengan beras yang dihambur – hamburkan sedikit demi sedikit di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh kepala – kepala suku, kemudian meletakkan sirih pinang dan uang kertas. Lain halnya kalau mau melakukan suatu upacara adat dalam Saran Mot itu sendiri, syaratnya adalah harus membawa beras, uang kertas, ayam jantan warna apa saja, tetapi khusus pintu terakhir masuk Saran harus ayam jantan warna merah dan sirih pinang.

Saran Mot dari Benteng Tujuh Lapis
Setelah beberapa saat bimbang, akhirnya kami masuk ke dalam setelah meletakkan beberapa uang koin dan sebatang rokok di samping pagar batu. Tentu saja dengan niat baik sekedar berkunjung. Lagian aku gak mungkin tebar-tebar beras, karena bisanya tebar-tebar mie instan hehehe.

Begitu masuk pagar batu pertama kami harus berjalan menyusuri pinggir untuk menemukan pintu pagar kedua, lalu setelah masuk pintu kedua kembali menyusuri gerbang kedua untuk menemukan pintu ketiga dan seterusnya. Hal ini disebabkan benteng memiliki lapisan-lapisan pagar dengan pintu yang tidak langsung. Entah mengapa dibuat seperti itu, kemungkinan itu adalah strategi supaya jika musuh masuk ke dalam tidak langsung bisa menjangkau pusat benteng sekaligus membingungkan musuh. Hanya perkiraanku saja.

Saran Mot dari Benteng Tujuh Lapis
Benteng Makes berada di bukit Makes yang masuk dalam wilayah Desa Dirun, Kecamatan Lakmanen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan ketinggian sekitar 1200 Mdpl. Jarak dari Kota Atambua menuju Desa Dirun kurang lebih 40 km, dengan waktu perjalanan ± 1,5 jam. Benteng ini berada satu wilayah yang sebut dengan Fulan Fehan, sebuha padang sabana yang telah berkembang menjadi objek wisata alam. Tempat ini sudah dikenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan Indonesia dan asing. Biasanya ramai kunjungan pada saat musim liburan. Bukit Makes dan padang sabana Fulan Fehan masuk ke dalam zona Hutan Milik Negara.

Cerita Singkat Benteng Lapis Tujuh
Benteng ini sebenarnya bernama Benteng Ranu Hitu atau yang biasa dikenal orang-orang lokal sebagai Benteng Lapis Tujuh, karena berada di atas bukit Makes maka sering disebut dengan Benteng Makes. Benteng ini adalah benteng utama Kerajaan Dirun pada waktu itu, benteng perang yang pada saat itu di pulau Timor masih sering terjadi perang antar suku.

Menurut cerita masyarakat setempat Benteng Ranu Hitu/Makes sudah ada sebelum penguasaan Portugis dan beberapa kali berpindah tangan sampai akhirnya dijaga oleh tiga pahlawan lokal dari 3 suku yaitu suku Loos, suku Sri Gatal, dan suku Monesogo. Benteng ini dulu merupakan tempat para Meo, atau pemimpin perang. Di dalam benteng inilah tempat mereka mengatur strategi atau bahkan melakukan tes kekebalan tubuh dengan cara memotong-motong tubuh mereka sendiri untuk membuktikan apakah tubuh mereka bisa kembali menjadi utuh sebelum maju ke medan perang.

Ada sebuah tradisi yang masih berlanjut dari Suku Uma Metan, menaruh sirih pinang di dekat makam raja. Hal ini merupakan adat istiadat masyarakat setempat. Sirih pinang memang identik sekali dengan suku-suku di Timor, bisa sebagai lambang persahabatan, lambang perdamaian juga lambang keakraban. Seakan dengan mengunyah sirih pinang menjadikan kita sebagai bagian dari keluarga masyarakat Timor. Selain itu sirih pinang juga merupakan simbol rasa hormat. Dengan menaruh sirih pinang di dekat makam raja. Suku Uma Metan percaya bahwa arwah leluhur masih banyak bersemayam di tempat itu. Benteng Ranu Hitu sendiri kabarnya dibuat selama tujuh hari tujuh malam, dimana pada siang hari dikerjakan dengan tenaga manusia dan pada malam hari dikerjakan oleh para arwah leluhur. Tidak heran suasana mistis terasa kental sekali saat berada di tempat ini.


Seperti apa Benteng Tujuh Lapis
  1. Seperti yang aku ceritakan di awal, benteng ini dibangun dari batu-batu yang disusun membentuk pagar dengan jumlah tujuh lapis pertahanan. Batu-batu yang disusun hanya diletakkan tanpa menggunakan semen atau bahan pengikat lain. Sampai saat ini bangunan ini masih kuat, pada musim hujan biasanya lebih berlumut namun mengering saat musim kemarau.
  2. Setiap lapisan pagar memiliki pintu letaknya yang tidak berada sebaris. Jadi untuk menuju ke pintu harus berjalan menyusuri gerbang lapis pertama sampai menemukan pintu kedua dan seterusnya.
  3. Di bagian pusat atau Saran Mot terdapat sebuah meriam tua yang diletakkan di depan pintu Saran Mot. Meriam tua itu katanya adalah peninggalan dari bangsa Portugis.
  4. Ada cerita yang mengatakan tentang Saran Mot, walaupun diameter lingkarannya tidak lebih dari 10 m, konon apabila melakukan upacara ritual adat dalam lingkaran kecil ini, walaupun ditempati lebih dari 500 sampai 1000 orang, akan tetap muat dalam lingkaran ini. Bagian ini cuma katanya lho ya, aku sendiri belum pernah membuktikannya.
Beberapa sumber tulisan yang aku gunakan untuk menulis ini:
  1. http://lopezdedhe22blee.weebly.com/benteng-makes.html
  2. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/situs-benteng-ranu-hitu-makes-desa-dirun-kecamatan-lakmanen-kabupaten-belu-provinsi-nusa-tenggara-timur
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 12 Maret 2019

Menyusuri Jejak Pangeran Diponegoro

Lukisan di museum/monumen Diponegoro
Sunyi dan sepi kesan pertama ketika aku dan keponakanku, Sekar memasuki komplek museum ini. Museum Sasana Wiratama atau lebih dikenal sebagai Monumen Diponegoro. Berlokasi di Jl. H.O.S Cokroaminoto TR III/430, Tegalrejo, Yogyakarta. Di depan gerbang gedung diletakkan patung tokoh pahlawan nasional, Jendral Oerip Soemohardjo dan Jendral Soedirman. 

Setelah aku melewati gerbang terlihat sebuah bangunan yang dindingnya terdapat  relief pertempuran Pangeran Diponegoro dan Belanda. Di depan gedung terdapat canon meriam.  Gedung inilah yang disebut Museum Monumen Diponegoro. Setelah aku mengisi buku tamu, kami memasuki ruangan tempat koleksi museum terpajang.

Menapaki selasar melihat display sisi kanan beberapa koleksi senjata perang berupa bedil senapan, pedang, perisai. Sebuah kereta kepangeranan di letakkan di tengah ruangan bersama seperangkat alat musik gamelan peninggalan Sultan Hamengkubuwono II dan patung Loroblonyo. Dibawahnya ada display senjata Kujang, Patrem (keris kecil), Candrasa, senjata berupa tusuk konde telik sandi (mata-mata) perempuan, batu akik/batu permata, koin kuno. Foto-foto Goa Selarong, Alibasyah Sentot Pawirodirjo, Kyai Mojo juga terpajang disini.

Paling ujung kiri ruangan diletakkan lukisan ilustrasi serangan Belanda di rumah Tegalrejo. Di sisi kiri display senjata tombak, sangkur, trisula, golok, pedang, beberapa keris yang berwarangka dan tidak berwarangka. Beberapa peninggalan rumah Tegalrejo yang terdiri dari tempat sirih, kecohan tempat ludah setelah menyirih, kacip alat pembelah pinang, cangkir, alat dupa ratus, kendi, vas bunga, bokor dan Dakon atau Congklak terbuat dari kayu berbentuk ular naga (alat permainan tradisional untuk anak-anak dengan mengisi cangkang kerang/keong laut dilubang kayu). Sekar wajahnya serius memperhatikan benda-benda peninggalan rumah Tegalrejo. Disebelahnya display senjata-senjata seperti keris, tombak, patrem. Ketika di bagian display senjata-senjata itu, aku mencium bau harum bunga. Padahal tidak ada bunga atau pengharum ruangan disini. Aku mencari-cari asal bau wangi itu tapi tak kutemukan. 

Aku bergegas ke bagian belakang komplek museum ini.  Di sisi kiri lokasi tembok jebol berada. Pangeran Diponegoro menendang dan kudanya menyepak tembok tersebut hingga jebol untuk melarikan diri dari kepungan Belanda. Ketika aku berada di lokasi tembok jebol, lagi-lagi aku mencium bau harum bunga. Bau wangi ini dari manakah asalnya?

Dari lokasi tembok jebol aku menuju pendopo. Di depan pendopo ada Padasan, tempat wudhu keluarga. Di samping pendopo ada Batu Comboran, tempat makan kuda-kuda yang terbuat dari batu. Dalam Pendopo ada dua lukisan Pangeran Diponegoro mengapit prasasti yang ditandatangani Mayjen Surono. Satu lukisan pangeran dengan kudanya dan satu lukisan koyak pada bagian wajah pangeran.  Aku melihat ada panggung tempat pelaminan pengantin, kursi-kursi lipat di sini. Sangat disayangkan bila Pendopo saat ini digunakan sebagai function hall yang disewakan untuk acara pernikahan. Aku takut bila situs sejarah ini menjadi rusak. Ketika aku sibuk memotret, tiba-tiba Sekar mengambil sapu yang tersandar di tiang Pendopo. Seperti di rumah sendiri, bocah perempuan itu tampak rajin membersihkan lantai Pendopo hehehe. Biarpun baru pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini, tetapi aku merasa familiar alias tidak asing berada di sini. Hhmmm sebuah perasaan yang aneh. 

Pangeran Diponegoro adalah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III, Raja Yogyakarta. Terlahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar pada tanggal 11 Nopember 1785. Setelah menikah berganti nama menjadi Bendara Raden Mas Antawirya/Ontowiryo. Ketika ayahandanya menjadi raja, beliau berganti nama menjadi Pangeran Dipanagara/Diponegoro. Sang Pangeran memiliki sembilan istri. Salah satunya bernama Ratnaningsih yang setia menemani hingga akhir hayat. Selain perempuan Jawa, pangeran juga menikahi perempuan yang berasal dari Wajo bernama Syarifah Fathimah Wajo binti Datuk Husein (bernasab dengan Husein Jalaludin Akbar sampai Fathimah Azzahra binti Muhammad SAW) yang dinikahinya selama menjalani pengasingan di Makassar.

Di rumah inilah awal Perang Jawa/ Perang Diponegoro bermula tepatnya tahun 1825. Dimulai dengan serangan pihak Belanda ke kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo sebagai reaksi karena pangeran membuang patok-patok untuk membuat jalan oleh Belanda yang kebetulan melewati tanah milik pangeran. Pangeran Diponegoro bersama keluarga besarnya melarikan diri dari rumah yang telah terkepung dengan menjebol tembok pagar samping rumah. Mengetahui Pangeran telah pergi, pihak  Belanda geram dan membakar rumah pangeran. Perang selama lima tahun yang membuat banyak kerugian di pihak Belanda. Pada tahun 1830 dengan taktik licik Belanda mengajak Pangeran Diponegoro berunding di Magelang, tetapi kemudian menangkapnya dan mengasingkannya ke Manado dan Makassar. Beliau pun wafat dalam pengasingan di Makassar 8 Januari tahun 1855.

Ketertarikan aku dengan kisah Pangeran Diponegoro berawal dari mimpi yang aku alami berturut-turut saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Saat aku tinggal bersama orang tua menempati rumah peninggalan mbah buyut di Purworejo, Jawa Tengah. Dalam mimpi itu beberapa orang berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala kain hitam, berbadan tegap, gagah dengan kumis tipis layaknya pendekar silat datang menghampiriku. Mereka mengucap "Assalamualaikum!" dengan membungkukkan badannya padaku sambil memberi hormat. Mereka pun mengatakan beberapa hal yang tidak kumengerti. Setelah itu mereka pamit, mengucap salam dan membungkukkan badannya lagi, kemudian menghilang dari pandanganku. Dan esok malamnya mimpi itu terulang kembali. Siapakah mereka? Lalu siapakah aku? Pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikiranku. 

Di malam-malam tertentu aku kadang mendengar suara derap langkah pasukan yang berbaris layaknya defile pasukan diselingi suara ringkik kuda dan gemerincing senjata logam seperti persiapan upacara atau hendak pergi berperang. Suara itu kadang samar terdengar bersama angin malam dari arah persawahan yang terletak di depan rumah. Waktu aku ceritakan mimpiku dan pendengaranku di malam hari itu kepada Mbah, beliau hanya bilang mungkin itu adalah Pasukan Pangeran Diponegoro yang makamnya ada dibelakang rumahku. Ternyata residual energy perang masih tersisa di sini.


Sejak itulah aku mulai mencari tahu kisah tentang Pangeran Diponegoro dan Pasukannya. Dimulai dengan membeli Buku Strategi menjinakkan Diponegoro karya Saleh A. Djamhari. Aku pun mengunjungi Benteng Rotterdam dan sempat ziarah ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan. Entah mengapa aku menangis terharu saat mengunjungi makamnya. Mungkinkah aku sebagai pembawa pesan dari pasukan itu kepada Pangeran Diponegoro sebagai salam terakhir? 

Foto dan tulisan oleh: Arum Mangkudisastro

jalan-jalan ga pake ribet klik aja http://befreetour.com/id?reff=X3KRF
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 26 Februari 2019

Matahari Terbit dari Fulan Fehan

Sunrise di Fulan Fehan
Bentang alam di depanku terlihat samar dalam kegelapan yang makin memudar. Cahaya kuning di langit timur mencoba menyibak awan dan kabut dingin yang melingkupi perbukitan Fulan Fehan. Bukit-bukit bertumpuk membagikan pemandangan siluet yang begitu mengagumkan. Tak ada pembicaraan pagi ini, dunia pagi ini milik burung-burung yang mencicit tanpa henti tanpa jeda. Sesekali angin yang bertiup di sela-sela dinding bebatuan menciptakan siulan panjang. 

"We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness. God is the friend of silence. See how nature - trees, flowers, grass- grows in silence; see the stars, the moon and the sun, how they move in silence... We need silence to be able to touch souls" -- Mother Teresa

Matahari Terbit dari Perbukitan Timor Leste
Pagi-pagi buta tiba-tiba aku merasakan urusan bagian tengah tak tertahan. Dengan mata masih berat oleh kantuk aku keluar tenda. Beberapa meter aku mencari area terbuka untuk menuntaskan hasrat pagi. Setelah agak lega barulah aku mulai memperhatikan di sekeliling. Untung tidak terlalu gelap, bulan masih tersisa di ufuk barat. Bagian atas tenda sudah basah kuyup oleh embun, termasuk tripodku yang aku tinggal semalaman di luar tenda. Aku masuk ke dalam tenda mencari termos air panas. Sambil duduk di atas batu, aku menyesap air panas yang sudah berkurang panasnya. Lumayan membantu menghangatkan badan sambil menunggu pagi.

Al dan Imam masih asik tidur, hawa pagi yang dingin membuat mereka makin menggulung badan ke dalam sleeping bag yang jauh lebih hangat. Percayalah, kalau tidak karena keinginan melihat matahari pagi tentu saja aku juga akan lebih suka bergulung di dalam sleeping bag. Lihat saja Imam, begitu aku mengosongkan tempatku langsung badan dia mengambil alih.


Selesai mengemasi peralatan kamera aku mulai beranjak keluar ke arah tebing untuk memotret pagi sebelum matahari terbit. Di pertengahan jalan aku baru teringat kalau filter kameraku masih tertinggal di tenda. Sementara warna kuning di langit timur mulai jelas. Galau.. antara kembali yang mungkin saja membuatku kehilangan momen matahari terbit ataukah nekat lanjut terus dengan mengandalkan filter yang sudah terpasang di kameraku. Duh sial, pilihan seperti ini selalu dilematis. 

Akhirnya aku memilih berbalik arah kembali ke tenda hijau yang dipasang di balik gundukan bukit, setengah berlari. Itu pun harus sambil berhati-hati, beberapa batang pohon kaktus dengan durinya yang kecil tapi tajam akan jadi malapetaka jika mengenai kulitmu. Aku merasakan saat lenganku terkena duri pohon kaktus, duh itu durinya nyusup kecil-kecil banyak. Itu duri sebagian masuk ke dalam kulit dan sulit diambil, rasanya itu gak karuan.. gak sakit tapi mengganggu.

Sunrise di Fulan FehanAkhirnya cuma aku dan Al yang balik ke ujung timur bukit Fulan Fehan. Untunglah sampai disana matahari baru juga naik ke atas. Belum terlalu tinggi lah, cahaya kuningnya juga masih tertangkap jelas. Sambil berjalan menuruni bebatuan tanganku sigap membuka tuas-tuas pengait tripod. Momen pagi seringkali berlalu sebentar saja, telat kita mempersiapkan alat.. ya sudah.. duduk ngopi saja sambil liat matahari pagi bermain-main cahaya ke arah perbukitan.


Sambil memotret, mataku sekali-kali melirik ke sebelah kiri. Tiba-tiba saat keasyikan mencari angle foto tiba-tiba kakiku sudah nyaris masuk menginjak batas area hutan. Ada sebuah hutan kecil di pinggir tebing, tapi disekelilingnya ada tulisan "pamali". Hutan itu katanya adalah Benteng Kikit Gewen, tempat dimana raja timor disemayamkan. Ukurannya tidak terlalu luas seperti sebuah hutan kecil di antara luasnya sabana Fulan Fehan. Antara hutan dan padang di batasi lapisan batu-batu karang yang disusun tidak terlalu tinggi menjadi semacam pagar pembatas.


Mataku mencoba menelisik ke dalam hutan yang masih agak gelap. Angin dingin yang bertiup dari arah hutan membuat bulu kudukku meremang, dingin. Satu sisi aku ingin masuk dan melihat hutan ini, namun aku tahu tidak bisa sembarang orang yang boleh masuk begitu saja ke tempat yang sangat disakralkan itu. Butuh seorang pemandu yang merupakan juru kunci tempat ini juga bisa masuk, itu pun dengan beberapa persyaratan. Al sendiri memilih berdiri agak menjauhi hutan itu.

Akhirnya matahari keluar juga dari lanskap pegunungan yang merupakan batas antara Indonesia dan Timor Leste. Rona jingga-nya mewarnai awan tipis yang menyelimuti langit pagi itu, membuat matahari tampak redup sehingga bentuk bulatnya tergambar jelas.

Lagi-lagi Al menjadi keisenganku, aku meminta dia menjadi obyek tambahan dengan syarat tidak memakai baju. Padahal saat itu hawanya masih terasa dingin. Biar kerasa laki, biar dingin-dingin tetap berani gak pake baju. Sayang perutnya dia gak six-pack terpaksa harus dipotret dari belakang hahahaha.

Kuda-Kudang yang Merumput
Saat kembali dari memotret Fulan Fehan, beberapa ekor kuda tampak di punggungan bukit membuat aku bertanya-tanya dalam hati kapan mereka kesini karena sepagian aku tidak melihat seorang pun yang datang mengembalakan kuda kesini.

Tak berapa lama, ada sekitar tiga ekor kuda lagi yang keluar dari gerumbulan pepohonan di belakang tempatku memasang tenda. Oh rupanya kuda-kuda ini memang tidak digembalakan tapi dilepaskan begitu saja. Jadi saat malam mereka masuk ke dalam hutan kecil dan keluar lagi di padang saat pagi hari.

Sayangnya agak sulit mendekati kuda-kuda ini tanpa ada pemiliknya. Setiap aku mendekat mereka akan berjalan menjauh. Karena beberapa kali gagal mendapatkan gambar kuda-kuda ini dari dekat, ya jalan termudahnya aku mengganti lensaku dengan lensa panjang sehingga membuat kuda-kuda bisa dipotret tanpa merasa terganggu.

Tak berapa lama dari balik hutan kecil itu muncul lagi tiga ekor ekor dengan seekor kuda yang masih kecil mengikuti salah kuda yang lebih besar, kemungkinan besar itu induknya. Entah ada berapa kuda lagi yang bermalam di dalam hutan kecil itu. Merekalah sejatinya pemilik tempat ini, karena merekalah yang menjaganya. Kitalah yang sibuk mengklaimnya.



Sayang, kegembiraan memotret kuda-kuda harus dihentikan karena urusan perut bawah. Waktunya memasak untuk mengisi perut. Dan tentu saja segelas kopi di pagi seperti ini adalah keharusan.

Temen ngopi dan nenda: Al-Buchori dan Imam 'Boncel'
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya