Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Selasa, 02 Mei 2017

Menjadi Putri di Istana Maimoon


Mau merasakan sensasi menjadi putri sehari? Coba datang berkunjung ke Istana Maimoon di Medan. Nanti ada ibu yang dengan senang hati memakaikan kebaya panjang, kain dan selendang berwarna keemasan ditambah mahkota di atas kepala (khusus untuk wanita, yang pria jangan coba-coba minta ya). Kemudian kita duduk di kursi singgasana ...sim salabim... jadilah Putri Kesultanan Melayu Deli. Jangan lupa setelah berpakaian putri lanjut berfoto-foto di sekitar istana untuk menambah aura keputrian anda. Anggap saja kita sedang bermain cosplay hehehe.

Menjadi ratu Maimoon selama satu jam hehehe
Istana Maimoon ini dibangun di Medan pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Beliau adalah Sultan ke-9 Kesultanan Melayu Deli. Pembangunan Istana Maimoon selesai dan diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1888. Dahulu istana berada di daerah Labuhan. Pendiri Kesultanan Deli adalah Panglima Muhammad Dalik yang bergelar Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan yang saat itu masih dibawah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1632. Sultan Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam sebagai Sultan Deli masa kini yang dinobatkan menjadi sultan ke-14 sejak tahun 2005.

Lokasi Istana Maimoon mudah dijangkau karena berada di pusat kota Medan tepatnya di Jl. Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Berdekatan dengan Masjid Raya Al Mansun atau lebih dikenal sebagai Masjid Raya Medan. 

Bangunan istana begitu megah dengan posisi menghadap timur. Arsitekturnya perpaduan Moghul India, Timur Tengah, Belanda dan Melayu. Warna kuning keemasan mendominasi bangunan sebagai ciri khas Kesultanan Melayu Deli. Menurut Tengku Lukman Sinar, dalam buku "Riwayat Hamparan Perak" (www.melayuonline.com) Kapten TH Van Erp seorang tentara KNIL (Koninklitje Nederlandsche Indische Leger) adalah arsitek Istana Maimoon tersebut. 

Luas bangunan istana sekitar 2.772 m2 dengan luas halaman mencapai empat hektar. Bangunan istana berlantai dua ditopang kayu dan batu. Bangunan terdiri tiga bagian. Bangunan utama atau induk, Bangunan Sayap Kanan dan Bangunan Sayap Kiri.

Aku menapaki tangga menuju pintu bangunan utama. Didalamnya terdapat kursi kerajaan, perabot dan foto-foto keluarga sultan. Disana banyak wisatawan yang berfoto dengan memakai baju khas Melayu Deli. Sekarang Istana lebih banyak digunakan untuk acara-acara kerajaan, seperti pelantikan sultan, pernikahan, pertunjukan musik tradisional dan perayaan silahturahmi antar keluarga sultan.

Bangunan lokasi Meriam Puntung
Di samping kiri istana ada Meriam Puntung. Puntung berarti potong atau patah. Sayang saat aku ke sana, bangunan tempat Meriam Puntung berada sedang terkunci. Aku hanya bisa mengintip saja di sela-sela lubang dinding. Ketika aku sedang memotret bangunan sekitar, seperti ada yang memperhatikanku dari arah dalam Meriam Puntung. Tiba-tiba entah mengapa aku merasa sedih. Hhmm.. mungkin hanya perasaanku saja.

Berdasar tulisan di tugu dekat meriam disebutkan Mambang Khayali seorang putri, adik Putri Hijau yang merubah dirinya menjadi meriam demi menyelamatkan Putri Hijau dari serangan Raja Aceh. Namun ada legenda lain mengenai asal mula Meriam Puntung. Konon Putri kerajaan yang bernama Putri Hijau dilamar Raja Aceh. Tetapi kedua kakak sang putri, Pangeran Mambang Yasid dan Pangeran Mambang Khayali menolak lamaran tersebut. Raja Aceh pun menjadi marah dan menyerang istana. Ketika peperangan berlangsung pasukan istana terdesak. Pangeran Mambang Yasid merubah dirinya menjadi Naga untuk menyelamatkan Putri Hijau dan Pangeran Mambang Khayali merubah dirinya menjadi Meriam untuk menyerang Prajurit Aceh. Demikian banyaknya peluru yang dilontarkan meriam, menyebabkan meriam patah terbelah dan terpental jauh. Gugurlah Sang Pangeran.



Sebagai pelengkap perjalanan wisata, kita bisa membeli buah tangan/souvenir berupa sarung, selendang, gantungan kunci dan kaos dari kios yang berada di Istana Maimoon. 

Foto & teks: Arum Mangkudisastro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya