Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Kamis, 08 Oktober 2015

Watu Parunu: di Ujung Timur Sumba

Sunset di pantai Watu Parunu
Menyapa senja dari ujung timur selatan pulau Sumba - Pantai Watu Parunu
Tiga jam perjalanan terbayar sudah walau senja lebih dulu menghilang. Langit tinggal menyisakan warna jingga memucat tapi lekuk bebatuan di ujung samudera masih tampak elok seperti gadis yang tetap bersinar dalam lampu temaram... Watuparunu begitu khas, siapa pun yang pernah menginjak kaki di sini tak akan pernah lupa bentuknya. Lekuk-lekuk yang memberi tanda bahwa hanya dia yang memilikinya.


Tanaman laut dijual masyarakat pantai Watu Parunu
Tanaman laut untuk dijual yang dikumpulkan masyarakat
Selembar kertas leaflet yang berukuran setengah halaman koran dari Dinas Pariwisata ini membantuku memberikan informasi bahwa Sumba Timur ternyata tak kalah keren dengan kabupaten lain di wilayah Sumba ini. Leaflet yang harus dilipat enam lipatan supaya masih tampak seperti leaflet (aku teringat peta yang biasa dibawa para pelancong asing kalau mulai cari-cari arah) ini tak sengaja aku dapatkan saat berkunjung ke Dinas. Sebenarnya aku lebih suka kalau leaflet ini dibuat bentuk buku yang pasti lebih memudahkan orang membuka-buka isinya tanpa harus di-jembreng (apa istilah Indonesia untuk dibuka lebar-lebar semua lipatan biar kelihatan semuanya) dulu untuk membacanya. Apalagi dengan ukuran font yang cukup kecil jadi sangat kontras dengan luasnya kertas. Ah biarlah urusan leaflet urusan mereka.
Dari semua informasi itu, aku sebenarnya tertarik dengan pantai Tarimbang dan danau Laputi, sayangnya kedua tempat ini sepertinya belum bisa aku datangi saat ini. Menurut mereka, jalan menuju ke Tarimbang sedang dalam perbaikan. Posisi terakhir, baru saja dipasangi batu telford, jadi kondisi bebatuannya masih mudah lepas. Mereka menyarankan menggunakan mobil  dobel gardan kalau tetap mau kesana, padahal aku berencana kemana-mana dengan motor saja.

Akhirnya memang beberapa hari aku lebih banyak nongkrongin pantai di sekitar kota Waingapu. Palinng sering sih pantai Purukambera, dan terakhir pantai Walakiri. Kalau pantai Londa Lima cuma sempat aku datangi tapi batal aku nikmati senja di sana karena melihat kondisi pantai yang dipenuhi sampah. Selalu saja setiap tempat yang menjadi andalan wisatawan lokal dipenuhi sampah, artinya wisatawan lokal memang banyak yang belum punya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Menyedihkan!
Untung satu hari sebelum Ayu selesai penugasan, dia berhasil aku kompori untuk cari pinjaman kendaraan. Walhasil setelah selesai solat Jum'at, sebuah mobil putih sudah tersedia di depan hotel. Berempat: aku, Trysu, Ayu dan Intan, setelah diskusi akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi pantai Watu Parunu. Walaupun dari informasi pantai ini terletak cukup jauh (sekitar 135 km) namun jalur jalan menuju ke pantai itu cukup bagus.
Kami mulai jalan jam dua siang lewat. Perjalanan cukup mulus apalagi kondisi jalan yang cukup lebar (banyak ruas jalan yang luasnya sudah standar jalan negara). Kendaraan terus melaju menyisir sisi utara dan berlanjut ke sisi timur pulau Sumba sampai ke daerah Melolo. Mulai dari sana kami harus sering bertanya ke masyarakat karena lagi-lagi papan informasi jalan yang mulai minim. Tidak semua pertigaan jelas mengarah kemana, apalagi ditambah jawaban penduduk yang selalu bilang "masih jauh".. Lha dekat sajaa kadang-kadang masih jauh setelah dijalani apalagi ini dibilang masih jauh. Sampai warna kuning membayang di langit yang artinya jam sudah menunjukkan jam lima lewat tetap saja tak ada kepastian apakah pantai Watu Parunu dapat kami jangkau sebelum malam. Ada wajah-wajah yang mulai putus asa membayangkan bahwa perjalanan ini akan sia-sia. 

Lubang pantai Watu Parunu
Kondisi dalam lubang batu
Namun akhir dari perjalanan mulai tampak saat di tikungan terakhir seorang bapak tua menunjukkan arah jalan ke Pantai Watu Parunu dan kata-kata sakti "Sudah dekat"... mak nyess rasanya apalagi jam sudah mau berkejaran ke angka setengah enam. Sempat salah mengarahkan kendaraan yang seharusnya mulai belok kiri padahal seharusnya ke kanan, untung bertemu dengan seorang bapak-bapak dan anak perempuannya yang memberitahu kalau kami salah jalan.
Akhirnya setelah kami kehabisan wajah memelas kami, pantai Watu Parunu menyambut kami. Kalau bisa kugambarkan, mungkin pantai ini wajahnya tertawa terkekeh-kekeh melihat raut bodoh kami yang berangkat terlalu sore. Seharusnya memang kami sedari jam satu siang sudah jalan duluan.

Pantai Watu Parunu ini begitu khas, di ujung pantai terdapat bukit batu menjulang dengan gurat-gurat unik batuan yang sepertinya terukir oleh laut. Dibagian bukit menjulang itulah ada batu-batu yang membentuk lubang. Sayang matahari sudah hilang di balik bukit di belakang pantai. Seharusnya kalau ingin melihat matahari di cakrawala, waktu yang paling tepat adalah pagi hari. Itu yang sebenarnya kurencanakan makanya aku dari awal sudah membawa sleeping bag, demikian juga Trysu. Mungkin lain kali aku harus menginap di sini, apalagi aku mendapat informasi bahwa sebelum dan sesudah lokasi ini masih banyak tempat bagus yang bisa dikunjungi seperti Pantai Kalala, ada juga pantai Katundu dan pantai Waihungu yang bisa dijangkau selepas pantai Watu Parunu.
Bayangan senja di pantai Watu Parunu
Yang menjengkelkan adalah adanya rombongan anak-anak muda yang menggunakan motor dan langsung membawa motornya ke pasir sampai ke ujung batu bolong itu. Mereka pikir cara itu keren (kecuali kalau motor mereka jatuh mungkin baru gak keren), padahal seharusnya mereka memarkirkan kendaraan mereka di pinggir pantai. Yang pasti aku juga ikut kesulitan untuk memotret supaya motor-motor tak punya etika ini tidak masuk dalam frame. Tapi mungkin berbeda dengan mereka, berpose dengan motor persis di depan batu bolong akan memperlihatkan eksistensi mereka, apalagi ujung-ujungnya motor-motor itu digunakan untuk ber-selfie ria. Jiwa muda, kadang-kadang memang lebih dipenuhi emosi menunjukkan diri, sekarang saat jamannya medsos dan travelling mereka menjadi saling pongah menunjukkan diri. Katanya setelah sampai: yang penting selfie atau goupie dulu.
Belum dikelola, memang begitulah pantai ini, walaupun menurutku pantai ini bisa dikembangkan dengan potensinya yang ada. Mungkin lagi-lagi masalah jarak yang cukup jauh dari pusat kota Waingapu yang menjadikan pantai ini belum dikelola.
Masalah lain adalah tidak adanya warung makan ataupun penjual makanan dari masyarakat lokal jadi mutlak jika melakukan perjalanan ke tempat-tempat seperti ini siapkan bekal sendiri yang mencukupi. Kelaparan di tempat ini gak keren banget. Untung masalah satu ini sudah aku antisipasi. Menjelang malam, kami beristirahat sebentar di bawah pepohonan sambil memasak makanan. Tentu saja ritual ngopi senja tidak akan aku lewatkan. Ritual minum kopi panas sambil menikmati langit yang menarikan warna kuning, merah, biru, kamu akan merasakan suasana yang tidak ada harganya.. "Coffee and sunset is like love and passion"

Sunset di Pantai Watu Parunu
Batu-batu bukit kala surut
Ada satu hal yang gak aku ceritakan kepada mereka. Saat mereka duduk sambil minum, aku ke kembali ke arah batu bolong untuk memotret galaksi bima sakti yang tampak jelas malam ini.  Di ujung bukit ada cahaya lampu kuat yang dipasang masyarakat untuk menerangi tanaman yang mereka jemur. Sepertinya mereka masih bekerja. Tapi menjelang mendekati ke arah batu bolong itu aku merasakan penolakan yang terasa makin kuat semakin aku mendekatinya. Semakin aku nekad maju semakin halangan itu kuat. Aku mencoba berkomunikasi bahwa aku hanya memotret sebentar tidak untuk mengganggu, tapi rupanya halangan itu tidak berhenti yang artinya tetap saja kehadiranku mengganggu. Aku coba abaikan, aku maju pelahan sambil mataku tetap menatap di layar LCD. Langkahku tiba-tiba terhenti saat tiba-tiba di layar kamera ada warna merah berkedip-kedip. Deg, sialan aku tidak memperhitungkan kejadian ini. Akhirnya aku balik badan dan menjauh pergi kembali menemui teman-teman. "Udah dapet fotonya mas Bek?" tanya Trysu. "Sialan, baterainya abis," jawabanku kesal dengan kondisi tadi, warna merah berkedip-kedip di layar tanda baterai harus diganti emang suka bikin orang keki. 

Btw, aku udah usulkan sama Kepala Dinas Pariwisata supaya wilayah Sumba Timur ini cepat dikenal coba jangan cuma terpatok pada media-media resmi untuk beriklan. Aku mengusulkan untuk menggunakan kekuatan viral dari para blogger, travelblogger, photoblogger. Coba sekali-kali membuat acara yang mengundang para blogger dan sejenisnya ini ke Sumba Timur dan difasilitasi untuk melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi yang aje gile cakepnya ini. Mereka ini punya kekuatan bercerita yang ampuh terutama kekuatan viral dari cerita-cerita mereka melalui medsos. Moga-moga usulku ini diterima supaya kalian-kalian bisa menunjukkan taji kekuatan para blogger dalam beriklan tidak langsung dari cerita-cerita kalian. Suer, aku gak bilang kok kalau kalian itu gak usah dikasi fasilitas mewah asal dibayari tiket sama tiker buat bobo aman... Suer aku gak ngomong gitu, tapi kalau keterlepasan omong begitu sih mungkin aja.....

25 komentar:

  1. Watu Parunu ini kelewat begitu saja setelah mendengar medannya yang katanya jauh dari Waingapu. Cuma sempat mlipir ke Purukambera dan Londa Lima yang bener banget sampah ada di mana-mana hehehe. Mas Baktiar sekarang domisili di Sumba kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak pak, domisili di Kupang tapi emang sering kali keluar kota jadi disempetin untuk mengunjungi tempat-tempat itu

      Hapus
  2. Dari dulu aku selalu speechless mas kalo lihat fotomu. Tapi, tulisane mbok dikasih paragraf tho, biar ada jedanya hehehe :)


    *ngefans, ..... sama fotonya* :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheehe.. kirain keliatan paragrafnya, kurang jauh ya? Oke deh aku coba bikin jarak biar enak dibacanya hehehehe.. sorry

      Hapus
    2. Wis tak jadi jarak antar paragraf mase, makasih masukannya :D

      Hapus
  3. Tertarik sama foto yang ke 5, sepertinya gak asing ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Modelnya atau batu bolongnya :D

      Hapus
  4. cantik! ingin sekali ke sumba suatu hari nanti....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nanti tercapai ke sini ya

      Hapus
  5. Indahnya, jadi pengen libuan pantai watu parunu

    BalasHapus
  6. Cakep banget komposisi warna nya, orange biru dengan batu bolong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba kalau om cumi kesini foto siluet pake kancrut pasti lebih top

      Hapus
  7. byuuuh ademnya om.. suatu saat semoga saya bisa kesana, doain yah om..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku doain bisa keliling NTT deh..

      Hapus
  8. tempatnya bagus buat berselfi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang jamannya selfi ya kemana-mana musti selfi

      Hapus
  9. Pantai Watu Parunu ya? *cateet, masukin ke list pantai yang harus dikunjungi nanti* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gitu harus nyatet semua pantai di Sumba, rata-rata pantainya keren abis lho

      Hapus
  10. Waw amazing Kang Baktiar. kalau sedang pasang surut tinggi gak bisa lewati lubang batu itu Kang. Pokoknya amazing deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitu ya, sayang kemarin gak jadi nginep di sini... kalo nenda disini pasti bisa dapet pas lagi pasang tinggi

      Hapus
  11. cakep banget batu bolong nya...
    kaya batu bolong yang di Bali, tapi ini lebih Wokeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah malah jadi pengen nyobain batu bolong yang di Bali...

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya