Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Senin, 25 November 2013

Seri Alor: Menelusuri Sisi Timur dan Utara

Pantai Maimol siang hari yang sedang berawan
Lagi-lagi hal yang sama, tiket sudah di tangan hari Minggu namun tidak ada kegiatan lagi di hari Sabtu. Padahal awalnya aku kira jam kerja sampai hari Sabtu, ternyata mereka sudah menggunakan standar jam kerja lima hari saja. Untungnya semua kerjaan sudah selesai. Ngomong sama Arif, akhirnya kita sepakat daripada molor mendingan kita jalan-jalan. 
Dengan motor pinjaman, akhirnya kita milih untuk melengkapi jejak jalan kita mengelilingi kepala Alor. Jika kalian lihat Alor di peta, di pulau Alor ada bagian besar yang disebut badan dan bagian kecil di sisi atas yang disebut kepala. Di kepala bagian bawahnya itulah terletak kota Kalabahi, terletak ke dalam teluk (bagian leher pulau Alor) yang disebut dengan nama teluk Mutiara. Karena sebelumnya kita sudah melakukan perjalanan ke arah barat ke Alor kecil, hari itu aku dan Arif memutuskan mengelilingi dari sisi Timur sampai ke bagian atas kepala Alor. Di bagian ujung atas (bagian utara) menurut informasi terdapat sebuah pantai berpasir putih yang disebut dengan Pantai Batu Putih, ini juga sekaligus nama dari desa di daerah itu.
Sekitar jam dua siang, aku membonceng di belakang motor yang dikendarai Arif, sebuah motor Supra Fit. Motor nyaris celaka saat di pertigaan sebuah kendaraan dinas model bak terbuka mau memaksa masuk ke kiri padahal motor kami ada disisi itu. Untung Arif sedikit lebih cepat sebelum bagian belakang tersenggol mobil itu.
Suasana pagi di pantai Kadelang
Setelah melewati bagian leher Alor (ada sebuah pasar di bagian itu yang disebut dengan nama Kadelang), kami menyisir bagian timur ke arah Mali. Kadelang sendiri sebenarnya selain pasar juga menjadi terminal. Aktivitas pasar paling ramai ya di Kadelang ini. Letaknya yang berada tepat di bagian leher pulau Alor punya view pagi yang menarik. Beberapa kali kalau ke Alor dan tidak sempat kemana-mana sering aku sempatkan jalan pagi di pasar Kadelang menikmati suasana pagi yang masih sepi. Perahu-perahu nelayan tertambat tenang, air lautnya tenang sekali nyaris tanpa gelombang namun berwarna coklat tanah. Pantai di Kadelang memang berlumpur sehingga tidak digunakan masyarakat untuk aktivitas harian. Kadang-kadang kabut pagi dari seberang pantai menimbulkan suasana tersendiri.
Di daerah Maimol, kami sempat berhenti sebentar untuk mampir di pantai yang merupakan kawasan nelayan. Walaupun kawasan nelayan, pantai Maimol biasa menjadi salah satu tujuan masyarakat Alor menghabiskan akhir minggu. Namun sekarang pantai itu masih sepi karena bukan hari libur. Sambil makan jagung rebus (jagung pulut) yang masih muda dan rasanya manis, kami duduk-duduk di sebuah tempat bersantai dari bambu perpenopang kayu yang dibangun di pinggir pantai. Suasananya cukup dingin karena di sekeliling lokasi dipenuhi pepohonan yang rindang. Pantai Maimol ini menghadap timur jadi lebih pas untuk melihat matahari terbit.
Percakapan pagi di depan pasar Kadelang
Aku sempat menawar mangga  oleh ibu-ibu yang menjual mangga Kelapa di sebelah penjual jagung rebus tapi batal karena ukuran mangganya tidak sebesar yang ditawarkan di depan bandara. Alor punya mangga yang telah dikenal banyak orang untuk oleh-oleh, yaitu mangga kelapa. Disebut begitu karena bentuknya yang bulat besar hampir sebesar tempurung kelapa, rasanya tidak asam walaupun masih muda. Tapi tahun belakangan ini aku perhatikan ukuran mangga kelapa makin mengecil. Sepertinya perlu dikembangkan bibit mangga kelapa unggulan yang buahnya besar namun dengan rasa yang tetap sama. Setelah masing-masing menghabiskan dua tongkol jagung, aku dan Arif kembali melarikan kendaraan.
Pagi membawa di pantai Mali
Sampai di Mali, kami memutuskan tidak berhenti. Sebenarnya di pantai Mali ini juga ada pantai yang secara resmi telah dijadikan pemerintah sebagai lokasi wisata. Tempatnya sendiri masih dalam renovasi. Sama seperti pantai Maimol, pantai Mali juga berpasir putih. Bedanya di depan pantai beberapa meter telah dipasangi balok-balok beton pemecah gelombang. Balok beton pemecah gelombang ini salah satu yang membuat kurang nyaman view di pantai Mali, seharusnya pemecah gelombang di pantai ini bisa dibuat dengan beton-beton berkaki tiga kecil yang disebar di sepanjang pantai. Beton semacam ini selain tidak mengganggu pemandangan pantai tapi tetap efektif memecahkan gelombang.
Di percabangan depan arah masuk bandara, Arif membelokkan kendaraan ke arah kiri yang langsung disambut dengan jalan menanjak ke atas bukit. Dari atas ini tampak jelas landasan bandara Mali yang sedang direnovasi dan ditambahkan panjangnya.
Jalanan yang sampai Mali mulus berubah menjadi jalan yang agak kurang mulus setelah melewati belokan tadi. Memang masih berupa jalan aspal, namun sebagian telah terkelupas meyisakan jalan berbatu dan sebagian lagi membentuk lubang-lubang kecil. Namun kondisi ini masih cukup baik untuk di lewati. Kami sampai di pantai Deere, pantai yang dulu sekali pernah aku kunjungi. Sayang sampai di depan sekolah dimana terdapat pantai berpasir putih telah dihalangi viewnya dengan beton memanjang. Sepertinya beton ini juga digunakan untuk penahan abrasi pantai, efeknya pantai Deere jadi tampak pendek karena terpotong memanjang seperti itu. Lagi-lagi aku menemukan bagaimana proyek-proyek pemerintah yang terkesan dibangun begitu saja tanpa perencanaan jelas. Padahal jelas pantai Deere ini sangat bagus, berpasir putih dan sangat halus. Jika tanpa penghalang seperti ini dan ditata, pasir putih di pantai ini akan terlihat sangat panjang dan lapang.

Suasana siang hari di pantai Deere
Aku dan Arif memilih menghentikan kendaraan di pantai Deere yang bentuknya menjorok ke tengah seperti tanjung.Pepohonan bakau yang tumbuh di sekitar tanjung kecil ini ada beberapa jenis. Daerah ini sepertinya terbentuk dari timbunan terumbu karang yang telah hancur. Apakah dahulunya pantai disini sering di rusak nelayan dengan bom ikan? Bisa jadi, karena dengan kondisi pantai seperti ini seharusnya terumbu karang juga banyak di tempat ini. Apalagi daerah ini ombaknya sangat tenang, tempat yang tepat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman laut yang cantik sebagaimana aku temui waktu berenang di perairan pulau Kepa. Beberapa bakau yang tumbuh seperti sebuah bonsai, sangat menarik berpadu dengan warna tosca muda air laut yang menunjukkan kalau perairan disini sangat dangkal. Aku menelusuri sampai ke ujung tanjung dimana pemandangan di depan mata terhampar air laut yang gelombangnya lebih terasa dibanding tempat semula.
Setelah beberapa saat menelusuri pantai ini, aku dan Arief kembali mengendarai kendaraan ke arah barat dari sisi utara. 
Pohon bakau di kawasan tanjung Deere
Perjalanan kali ini sedikit lebih lama, setelah melewati dua kampung akhirnya kami sampai di kampung yang dibatasi dengan tebing-tebing tinggi yang nyaris tegak lurus. Itulah ujung perjalanan kami, sebuah desa berwarna batu putih sehingga pantai di sini disebut dengan nama Pantai Batu Putih. Sebutan itu rupanya berasal dari tebing-tebing batu yang berwarna putih. Tebing-tebing inilah alasan kenapa bagian kepala Alor tidak bisa dikelilingi. Jadi jalan yang kami lewati adalah satu-satunya jalan keluar dan masuk ke daerah Batu Putih ini. Seperti di sebagian besar di daerah pesisir pantai Alor, sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam. Komunitasi muslim di sini cukup banyak dan sebagian besar menghuni daerah-daerah pesisir. Sebatang pohon pisang roboh menghalangi jalan kami, sepertinya akibat hujan yang datang beberapa hari ini. Begitu kami sampai di pantai, mata kami langsung disambut dengan pasir pantai berbatu yang dipenuhi batu koral dan kerang. Pantai ini juga sebenarnya bagian yang hendak dikelola oleh pemerintah sebagai daerah destinasi wisata. Namun seperti destinasi wisata lainnya, semuanya berakhir dengan proyek-proyek yang nyaris tak pernah berkelanjutan.
Pantai Batu Putih dengan pepohonan yang menguning 
Perbedaan utama antara pantai di sini adalah pantainya yang tidak landai seperti dua pantai yang aku ceritakan sebelumnya. Begitu melewati batas batu koral, pasir pantai langsung miring sampai ke batas pantai sehingga dalam beberapa meter ke depan warna laut langsung bergradasi ke gelap. Di luar dari penataan yang masih setengah hati, pantai Batu Putih ini sebenarnya menawarkan view pantai yang indah. Posisi matahari yang terhalangi bukit menjadikan suasana sore di pantai ini rindang. Posisi pantai ini berlekuk ke dalam cenderung ke utara. Tebing-tebing ini mungkin akan berwarna hijau pada musim setelah penghujan, tapi pada waktu seperti ini cenderung dipenuhi warna coklat dari rumput-rumput yang telah mengering. Daerah ini sepertinya masih belum terlalu dijamah sehingga kondisi pantainya masih cukup apik.
Nah kegiatan sore di pantai ini adalah mencari kulit kerang. Jika Arif lebih sering mencari kulit kerang/keong yang berbentuk memanjang, maka aku lebih tertarik mengumpulkan tutup kerang jenis moluska yang berbentuk seperti parabola tapi padat.Mungkin karena perairan di daerah ini bersih sehingga warna-warna kulit kerang dan moluska masih tampak bagus dan tidak kusam.
Karena sejak datang sudah mendekati senja, aku dan Arief memutuskan untuk pulang setelah gelap. Beberapa penduduk kampung pria sempat aku lihat bermain voli dari kejauhan.
Sebenarnya ceritaku ini adalah perjalanan kedua, karena di hari pertama justru aku melakukan perjalanan 

10 komentar:

  1. Foto "Pagi membawa di Pantai Mali" bagus mas :)
    tahun depan saya mau ke Alor,hehe

    BalasHapus
  2. Sebenarnya judulnya "Pagi Membara di Pantai Mali" salah tulis r jadi w hehehee.. kapan mas Wisnu? Moga2 bisa pas, tahun depan awal-awal mungkin saya kesana lagi

    BalasHapus
  3. saya akhir januari mas,,kayanya cuacanya pas ga bagus ya :(
    terus mau ke flores jg,,mas baktiar stay nya dmn?di nage?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Januari emang cuaca kurang bagus, biasanya kalo di ntt Januari-Februari sering hujan juga badai... Aku di Kupangnya

      Hapus
  4. Nah jalan-jalan ke alor seharusnya sekalian diving tuh mas bek...hehe...#belum pernah ke alor hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada acara snorkling-nya der tapi cuma pake kacamata renang karena alat snorkle-ku rusak.. lagian acara snorkling gak bisa direkam karena gak punya kamera bawah air

      Hapus
    2. ayooo beli kamera bawah air...eh recommended ngak ne kalo aku beli kamera air...

      Hapus
    3. Recomend banget der, kan di daerah gili rata2 keren tuh pemandangan bawah airnya... kalau mau sip ambil tuh Olympus TG2, aperture-nya F/2.0 asyik kalo buat moto kurang sinar kayak bawah air

      Hapus
  5. Pagi di Pantai Mali nya bagus banget :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener-bener keberuntungan om cumilebay... waktu itu dipandu sama salah satu temen yang dah lama kerja disini

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya