Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Senin, 03 Oktober 2011

Rote Ndao - Pantai Tulandale (Bagian 2)


Gawat, kameraku tampaknya error. Layar display dan viewfinder pada saat kutekan remote shutter setengah menunjukkan indikator speed shutter yang berbeda. Dan seperti dugaanku, beberapa hasil foto menjadi gelap. Kupegang body kamera yang ternyata terasa panas. Duh pantas saja ini terjadi, kenekatanku memotret siang hari.
Aku segera meringkasi peralatan foto dan berjalan cepat menuju ke belakang hotel. Sambil duduk di lantai tiga aku merasa keningku yang terasa perih, tampaknya jidatku terbakar lagi. Inilah akibat aku tidak segera mencari topi pengganti, untung aku sudah terbiasa begini.

Beberapa malam ini aku juga punya kebiasaan naik ke lantai paling atas yang terbuka. Suasananya yang gelap pas sekali untuk melihat bintang. Beruntung beberapa hari ini baru saja memasuki bulan baru sehingga tak ada gangguan sinar bulan, begitu jam sembilan tampak sebuah kabut memanjang melintang miring dari utara ke selatan yang biasa dikenal orang sebagai galaksi Bima Sakti (Milky Way)
Hari Minggu pagi aku tidak merencanakan apapun karena rencana hari ini mau jalan ke Nemberala. Pagi-pagi aku hanya turun sebentar mengikuti seorang bapak tua yang menggendong keranjang mencari ikan dengan jala jika laut surut.
Namun rencana yang gagal kembali terjadi, pemilik kendaraan tidak datang sesuai janjinya. Entahlah kali ini apa lagi alasannya. 
Untungnya sewaktu mengikuti bapak tua penjala aku jadi melihat sebuah tanjung karang yang kutahu kemudian namanya Tulandale.
Jam empat sore aku mempersiapkan sesuatunya, aku memutuskan untuk jalan kaki menyusuri pantai untuk sampai ke Tulandale. Aku tidak tahu persis jarak dari Ba'a ke Tulandale tapi untuk amannya aku membawa dua botol minuman.
Kawasan pantai sepanjang perjalanan cukup menarik, pasir putih kekuningan membentang sepanjang pinggir pantai. Beberapa anak yang bertemu denganku menyapa, beberapa memancing perhatianku dengan tingkahnya. Tapi ada juga yang justru diam dengan tatapan heran melihatku walaupun aku sudah memamerkan gigiku, mungkin penampilanku dengan segala bawaan membuat mereka merasa aneh hehehe.
Begitu sampai ke tanjung karang itu baru aku tahu kalau di sana telah dibangun menjadi PPI (Pelabuhan Pendaratan Ikan). Break water (pemecah gelombang) yang dibangun tampaknya akan sampai disini.
Dermaga PPI tampak kesibukan perahu-perahu nelayan dan lalu lintas beberapa motor yang membawa keranjang-keranjang untuk memuat ikan. Ada tiga perahu ikan yang datang dan segera menurunkan ikan-ikan hasil tangkapan. Aku sempat melihat transaksi ini, melihat ikan-ikan yang dijual ingin beli juga sayang pasti tidak ada yang memasakkan.
Matahari sudah mendekati cakrawala, cahaya sudah berubah menjadi kuning keemasan. Aku segera berjalan menuju mendekat ke arah tanjung karang itu. Ternyata dua tanjung karang ini mengapit sebuah cerukan. Di bagian atas aku melihat beberapa perahu yang rusak dan sudah lama tidak dipakai. Besar dugaanku tempat ini dulu digunakan para nelayan untuk menyimpan perahu saat gelombang besar sebelum dermaga PPI ini dibangun. Bentuknya yang ceruk cukup membantu menghalau gelombang yang pada bulan-bulan tertentu bisa sangat kencang.
Tempatnya menarik walau airnya agak berlumpur. Tonjolan karang-karang yang khas menarik perhatianku. Tempat ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata apalagi kontur tanah bagian atasnya yang juga datar.
Karena sudah terlalu sore hanya beberapa jepretan yang bisa aku hasilkan, cahaya kuning dalam waktu tak lama berubah menjadi merah pusat keunguan dan tak lama kemudian langit sudah menjadi biru gelap.
Setelah menghabiskan satu botol minuman aku mengemas kembali peralatan fotoku. Kali ini aku memutuskan berjalan kaki lewat jalan karena malam agak sulit untuk jalan melalui pantai. Tadi sore aku menandai beberapa tempat yang berbatu dan licin yang agak sulit untuk jalan jika malam hari, aku tak mau bertaruh kehilangan kamera karena terjatuh.
Perjalanan pulang jadi sedikit lebih jauh karena kontur jalan yang lebih naik turun tapi perjalanan pulang lebih cepat, hanya sekitar setengah jam aku sudah sampai Ba'a.



Baca keseluruhan artikel...

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menikmati Rote Ndao (Bagian 1)

Tarian awan senja hari berlatar Pelabuhan Ba'a
Masih terlalu untuk Pelabuhan Tenau, gerbang masuk penumpang masih terkunci saat mobil Avanza yang aku tumpangi masuk ke Pelabuhan. Untung 15 menit kemudian seorang petugas pintu masuk dan petugas karcis membuka gerbang masuk. Setelah mendapatkan tiket kapal feri cepat Kupan-Ba'a aku masuk ke ruang tunggu dengan beberapa penumpang yang juga datang awal pagi ini.


View pantai dari lantai atas hotel Grace
Kurang dari jam 9 aku sudah masuk ke dalam feri setelah menunggu orang-orang yang berdesakan masuk feri mereda. Setelah mendapatkan tempat duduk dan menaruk tas-tas di belakang aku berniat untuk menikmati perjalanan ini di luar sehingga kuputuskan kembali ke bagian belakang. Di belakang aku menemui sedikit keributan karena feri agak terlambat berangkat, ternyata ada masalah dengan sebuah motor yang dinaikkan ke dalam feri namun belum selesai diurus surat ijinnya. Untunglah insiden itu tidak berlangsung lama, jam 9 lewat sedikit feri sudah menarik sauhnya. Sebelum kapal feri aku tersenyum menikmati obrolan beberapa pedagang yang keluar dari kapal.
Anak-anak bermain-main berlatar senja
Beberapa saat aku menikmati laut di buritan kapal kuputuskan masuk saja kembali ke dalam karena angin kali ini terasa sangat keras, dalam beberapa saat saja mukaku terasa menebal. Di samping itu buritan juga menjadi tempat orang-orang merokok.
Mendekati jam 12 feri mendarat di Pelabuhan Ba'a. Pelabuhan ini pendek karena sisi kanan dermaga telah hancur tinggal menyisakan tiang-tiang saja, beberapa tahun yang laut ombak yang besar tidak sanggup ditahan beton-beton ini. 
Pagi hari di Pelabuhan Ba'a
Panas menyengat langsung menyergapku begitu keluar dari feri. Ini adalah kali ketiga aku mengunjungi Ba'a, ibukota Kabupaten Rote Ndao, semuanya dalam rangka tugas. Aku langsung meminta sopir mengantar ke hotel Grace yang terletak di pinggir pantai.
Aku sengaja memilih tempat ini, karena dari hotel ini aku bisa menikmati senja berlatar Pelabuhan Ba'a walaupun tentu saja lebih nikmat jika menikmati langsung dari pinggir pantai.
Saat ini di sepanjang pantai baru ada pekerjaan pemasangan beton-beton pemecah gelombang juga tembok penahan gelombang karena memang pada bulan-bulan tertentu ombak di pantai ini bisa sedemikian kerasnya.
Beton-beton pemecah gelombang
Beberapa kendaraan macam excavator dan dump truk beberapa hari ini terdengar meraung-meraung menumpahkan dan meratakan batu pasir di saat laut sedang surut.
Kebetulan pula posisi bulan sedang bulan baru sehingga pagi dan sore hari pasti laut surut, jadi walaupun agak terganggu dengan suara berisik besi-besi bermesin itu aku masih sempatkan turun ke bawah menikmati suasana senja yang sering ramai dengan anak-anak yang bermain atau orang-orang yang mencari kerang dan ikan.
(bersambung .......................)

Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 27 September 2011

Catatan Jakarta

Gelap merambat, bundaran Hotel Indonesia selain tampak lenggang, hanya beberapa orang yang tampak bergerombol sambil duduk main gitar. Mungkin saja mereka anak-anak muda yang lagi istirahat setelah lelah mengamen. Air mancur yang biasanya menampilkan atraksi meliuk-liuk mengikuti irama musik dan cahaya warna-warni juga tidak ada, sekarang pertunjukan air mancur hanya ada saat malam minggu saja. Tapi di jalan seperti biasa masih disesaki kendaraan, gambaran Jakarta yang tak pernah mati hanya sedikit masih lebih lega dibanding sebelum ini. 
Cahaya terang benderang dan hiruk pikuk juga masih mewarnai gedung-gedung di seberang walaupun sudah jauh berkurang, hanya pecinta malam yang masih sanggup bertahan meski jam telah menunjukkan waktu di atas jam 11 malam. Satu-satunya yang masih bertahan bekerja dengan urutan yang tidak berubah dan bergeser adalah beberapa pasang lampu lalu lintas merah-kuning-hijau. Jika di kota-kota kecil macam kotaku lampu-lampu ini telah berganti warna kuning tapi disini warna hijau dan merah tetap dipaksa melek bekerja tanpa henti, atau akan muncul kesemrawutan yang lebih bikin mereka stress. Tapi rupanya kelenggangan tidak beranjak lama, beberapa pasang muda mudi mulai datang memenuhi tempat ini. Ada yang sedang memotret, mungkin mereka dari luar kota yang ingin menjadikan foto kenangan. Wanita-wanita dengan baju bertali tanpa lengan seperti menantang dingin duduk bercengkerama dengan taburan asap-asap disela kata-kata yang mereka keluarkan.
Jakarta memang bersolek luar biasa, rasanya tak cukup gedung hari ini, besok lusa ada saja gedung yang berdiri. Bahkan berapapun watt listrik ditambah tak pernah cukup memuaskan kemegahan Jakarta. Dan seperti sebuah cahaya bagi kunang-kunang, Jakarta telah menjadi magnet bagi banyak orang untuk mengadu nasib di kota yang katanya sangat keras ini. Yang menang dan maka akan tersedia kubus-kubus terang bercahaya warna-warni. Yang kalah? entah kalah ataukah baru memulai, tapi bisa kau layangkan pandangan di pinggir-pinggir jembatan, seperti ada refleksi berkebalikan yang sempurna. 
Aku teringat pemain Gambang Kromong yang beberapa hari ini beraksi di lobby hotel bintang empat di kawasan Kebon Sirih yang aku tempati beberapa hari ini. Memainkan musik pengiring lalu lalangnya orang keluar masuk. Mata-mata tua yang bermain musik ini, apakah dibenaknya dengan semua tempat ini? Para penghibur ini hanya mengais sedikit dari yang dapat mereka ambil. Aku tak tahu dimana dia tinggal, mungkin masih di sini atau bisa juga sudah di pinggiran kota.

Mengaca pada lantai pualam dan dinding-dinding kaca
aku terpatri pada kemegahan dan gemerlap cahaya ribuan watt
            aku menatapmu dari balik kaca stasiun busway yang sesak

Kotak-kotak kaca saling bertumpuk laksana kubus dan semuanya cepat
saling berderap, saling menderu, saling berpacu serba bergairah untuk
yang bernama uang dan sedikit kesenangan
          aku berdiri memunggungimu sembari meremas uang seribu yang telah lecek

Ratusan menu terhidang harum tersebar, membakar selera siapa saya yang lapar
dahaga pun tersiap puluhan minuman serba warna, semuanya ada di tempat sama: hotel dan restoran
         aku masih menikmati nasi uduk teh Neni waktu semua itu menyapaku

Aku melihat kolong jembatan dan pencakar langit, aku melihat kursi-kursi di etalase dan di pinggir jembatan
aku melihat yang membuang makanan lezat dan yang mengais sampah makanan basi
        refleksimu sungguh membuatku ragu, inikah atau itukah

Aku tak hendak mengerti dirimu, tidak sama sekali... karena aku hanya singgah disini
       aku bisa mencintai siapa saja tapi bukan dirimu yang sungguh tak kumengerti
       engkau adalah pergulatan zaman yang terburuk namun diperebutkan

Maka biarkan aku menyingkir, dan melihatmu hanya sesekali

(Djakarta, September 21, 2011)

Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 18 September 2011

Tanjung Bastian, Menyusuri Laut Utara Timor

Tanjung Bastian sesaat setelah matahari terbenam berlatar perbukitan
Berada di pantai utara pulau Timor, Tanjung Bastian yang masuk dalam wilayah Wini merupakan salah satu tempat wisata yang mulai dikembangkan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara. Tak banyak tempat wisata yang diandalkan bagi daerah ini, maka melihat lokasinya Tanjung Bastian ini memang punya kans yang lebih besar bagi daerah ini bagi pemasukan kas daerah sekaligus mengembangkan potensi wisatanya. Dari kota kecamatan Wini, lokasi Tanjung Bastian ini berjarak sekitar 5 kilometer ke arah Timur. 

Foto bersama tentara perbatasan di areal perbatasan TTU - Oecussi
Sekedar informasi bagi yang belum familiar, Wini ini adalah kecamatan dari Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan langsung dengan distrik Oecussi yang merupakan daerah kantung yang menjadi salah satu provinsi negara Timor Leste. 

Keberadaan distrik Oecussi yang terpisah dari daerah Timor Leste lain jelas merupakan keuntungan tersendiri bagi Wini yang menjadi tempat keluar masuknya arus lalu lintas orang dan barang dari dan ke Oecussi. Beberapa kali sebenarnya aku pernah di tugaskan ke Timor Tengah Utara ini, hanya baru sekitar setahun lalu aku sempat singgah melihat Tanjung Bastian. Itupun sebenarnya hanya singgah sementara di antara waktu tugas sehingga hanya sempat duduk untuk makan siang. Baru pada kesempatan kedua minggu lalu aku bersama seorang teman sempat mengunjungi secara khusus Tanjung Bastian. 

Perbukitan di daerah Wini
Dengan menggunakan sebuah motor, kami berangkat dari Kefamenanu sekitar jam tiga sore dengan perkiraan jalan yang kami tempuh akan memakan waktu satu jam untuk sampai ke Tanjung Bastian sesuai dengan informasi yang kami terima dari orang-orang yang pernah kesini. Namun ternyata jauhnya perjalanan tidak seperti yang kami harapkan, lokasi jalan yang melewati banyak perbukitan sehingga jalan banyak berlika-liku dan ruas jalan yang tergolong sempit mengakibatkan kami tak bisa melajukan motor apalagi jika berpapasan dengan kendaraan roda empat. 

Lahan perbukitan yang dibakar warga
Perjalanan kami juga kadang terganggu oleh asap-asap yang bertiup ke arah kami dari perbukitan-perbukitan yang mulai dibakar warga. Bulan-bulan kering begini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat membakar lahan-lahan. Sebagai masyarakat yang banyak mengandalkan dari peternakan, pembakaran lahan ini dimaksudkan agar rumput-rumput kering bersih sehingga nanti waktu musim hujan akan menumbuhkan lebih cepat rumput-rumput baru yang hijau. 
Awalnya aku pikir pembakaran lahan ini seperti di daerah Jawa atau Sumatera yang biasanya untuk kebutuhan pembukaan lahan baru (berladang). 

Walaupun entah disadari atau tidak pembakaran lahan yang sudah menjadi kebiasaan ini mengakibatkan perbukitan tidak pernah menjadi hijau sehingga tanah kurang dapat menahan air hujan. Kondisi yang nyaris sama ditemui di banyak tempat di pulau Timor ini menguatkan stereotif daerah Timor sebagai daerah yang sulit air.

Di daerah mulai mendekat ke Wini, kami melihat daerah perbukitan berbatu yang terjal yang mengapit jalan dan perkampungan kami melintas. Menurut penduduk, perbukitan sisi barat berbatasan dengan Timor Leste. Perbukitan-perbukitan yang menjulang di sepanjang jalan ini memberi hiburan setelah kami berpanas-panas di perbukitan yang kering dan terbakar.
Ternyata aku mulai memasuki daerah Wini lebih kurang satu setengah jam, cukup terlambat namun tidak cukup terlambat untuk mendapatkan matahari terbenam dari Tanjung Bastian.

Lokasi pacuan kuda Tanjung Bastian
Dengan keberadaanya sebagai tanjung, matahari terbenam dan metahari terbenam bisa dilihat langsung dari tempat.

Memasuki pintu masuk Tanjung Bastian yang sepi kami melihat sebuah lintasan besar melingkar yang dipagari kayu bercat putih. 

Di sebelah selatan pacuan terdapat sebuah panggung untuk penonton. Lintasan ini adalah arena pacuan kuda (Tanjung Bastian Horse Racing Track) yang telah rutin digunakan sebagai lokasi kejuaraan pacuan kuda. 

Setidaknya setahun ada tiga sampai empat lomba pacuan kuda yang diadakan di tempat ini. Dari informasi staf daerah, pacuan kuda terakhir yang diadakan sekitas bulan Juli kemarin.

Sayang aku datang tidak tepat saat pacuan kuda berlangsung. Lintasan pacuan kuda yang sepi ini sekarang hanya dihuni beberapa ekor sapi warga yang merumput.
Pantai yang berpasir putih kekuningan ini banyak ditumbuhi tanaman perdu berduri dan pohon asam. Tampatnya cukup rindang karena pohon peneduh ini tumbuh cukup banyak. Beberapa bangunan semacam cottage telah dibangun di sepanjang jalur pantai, walaupun lebih sering terisi saat ada acara semacam lomba pacuan kuda saja.



Dari Tanjung Bastian kontur perbukitan yang kami temui dari perjalanan itu tampak dari sini, sebuah gabungan pemandangan yang cukup menarik mata. Disepanjang tanjung pantai ini banyak tumbuh pohon bakau. Berlatar senja, puluhan bangau putih tampak turun memenuhi karang-karang sepanjang bakau. Sore itu laut sedang surut, aku baru menyadari saat melihat sesaat setelah matahari terbenam, bulan yang nyaris bulat juga muncul dari ufuk timur.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 29 Agustus 2011

Menjejakkan Kaki di Riung

Gugusan karang dan hamparan pasir putih di Pulau Tiga
Menjejakkan kaki ke Riung ini seperti menjadi impian, karena semenjak aku tinggal di Kupang dan telah berkeliling ke seluruh pelosok Nusa Tenggara justru Riung yang belum aku jelajahi (pulau Komodo juga). Alasan utama karena walaupun bagian dari Kabupaten Ngada tapi dari Bajawa, ibukota Ngada ke Riung jarak yang ditempuh serta kondisi medannya jauh lebih sulit dibanding kalau kita ke Ende. Keinginan itu menguat aku mulai menyukai snorkling berawal dari pengalaman pertama snorkling di pulau Bidadari, Manggarai Barat.

Perjalanan dari Bajawa ke Riung seingatku sekitar empat setengah jam naik turun perbukitan dengan jalan seperti jalan ular, itu masih ditambah dengan ruas jalan yang sempit. Di beberapa ruas jalan sempit dan sisi sebelah menghadang jurang yang sangat dalam, sehingga saat berpapasan dengan kendaraan yang dari arah berlawanan maka salah satu kendaraan harus berhenti dulu. Jurang-jurang di sepanjang perjalanan Bajawa-Riung tampak menganga dalam siap menelan kendaraan yang tidak dikemudikan hati-hati. 

Salah satu sudut perkampungan nelayan di Riung

Aku memilih perjalanan dari Bajawa siang hari karena untuk ke tempat Taman Laut 17 Pulau sebaiknya di pagi hari dimana kondisi laut masih tenang, jika sudah menjelang sore maka air laut sudah bergelombang keras sehingga kegiatan menjadi kurang bisa dinikmati.

Perjalanan kedua yang aku lakukan Februari kemarin lebih enak karena aku mengambil jalan dari Nagekeo yang lebih dekat jaraknya ke Riung. Yang menjadi masalah memang sekitar 5 km jalan ada yang kondisinya rusak lumayan parah, dan jalan parah ini bisa memakan setengah waktu sendiri, apalagi kalau sudah masuk musim hujan entah bisa dilewati atau tidak, kecuali anda menggunakan kendaraan four wheel drive dan beroda besar macam kendaraan yang didesain untuk off-road.

Perkampungan di Riung banyak ditemukan home stay milik penduduk setempat, cocok untuk traveler yang ingin menghemat pengeluaran dan tidak mempermasalahkan kenyamanan. Tapi jika kenyamanan menjadi masalah maka bisa memilih beberapa hotel yang juga sudah berdiri di sini.

Aku bersama teman-teman masuk ke Riung saat jam sudah menunjukkan pukul delapan, agak terlambat sebenarnya mengingat rencana kami bisa naik perahu pagi-pagi. Itupun masih terganjal masalah utama, perut kami tidak terisi dari pagi karena kami sejak subuh telah di atas kendaraan. Memang pilihan untuk menginap lebih bijaksana jika ingin benar-benar menikmati perjalanan di Riung. Setelah sempat berputar-putar mencari makan akhirnya ada sebuah toko yang pemiliknya bersedia memasakkan mi instan ke kami, lumayan untuk menjadi pengganjal perut. Seorang nelayan yang sudah setengah umur menawarkan perahu kepada kami, dengan harga lokal yang kami sepakati sebesar tiga ratus lima puluh ribu maka perahu yang bisa muat sampai delapan orang ini kami sewa. 

Ribuan kalong bergelantungan di pohon bakau di pulau Ontoloe
Jam setengah sembilan perahu kami mulai yang sudah bersandar dari pagi mulai melaju ke arah utara ke arah pulau Ontoloe, sebuah pulau yang banyak dihuni kelelawar, elang laut dan monyet. Keberadaan kelelawar pemakan buah ini sangat mencolok karena pada waktu begini mereka sedang tidur bergelantungan. Dari kejauhan pohon-pohon tampak bagai pohon kering kehitaman dan setelah dekat baru tampak bahwa ribuan kelelawar telah bergelantungan tidur di dahan-dahan pohon bakau yang telah habis daunnya. Di pinggir pulau pemilik perahu berteriak-teriak dengan suara memekik yang tidak bisa kami tirukan, kontan ribuan kelelawar berterbangan kesana kemari hiruk pikuk.

Dalam catatanku ada beberapa pulau yang biasanya menjadi persinggahan wisatawan, seperti: Pulau Batang Kolong, Pulau Meja atau Pulau Tembaga, Pulau Sui, Bampa Timur atau Pulau Tiga, Pulau Ruton atau Tangil, Pulau Wire, Pulau Wongkoroe dan beberapa kawasan lain yang menjadi surga bawah laut.

Sebenarnya sedikit lebih jauh dari pulau Ontoloe ada pulau terluar yang cukup bagus taman lautnya, yaitu pulau Ruton. Namun karena sudah terlalu siang dan arus mulai naik, akhirnya kami langsung saja menuju ke pulau Tiga.

Saat perahu sudah mulai mendekati pulau pada jarak beberapa ratus meter terhampar kawasan terumbu yang sayangnya telah yang banyak mati. Menurut pemilik perahu, kerusakan itu terjadi dulu akibat pengobaman maupun peracunan oleh nelayan-nelayan di sekitar sini sebelum Riung ditetapkan sebagai taman nasional. Sekarang setelah ditetapkan menjadi kawasan taman nasional masyarakat sudah tidak melakukan lagi illegal fishing di daerah ini.

Sekitar setengah jam kami snorkling di daerah ini sambil melihat-lihat beberapa spot yang mulai tumbuh karang-karang baru.

Akhirnya sebuah hamparan pasir putih yang membentang mengelilingi pulau ini menyambut kami. Beberapa lopo tampak berdiri namun sayangnya sebagian besar telah rusak. Tampak ada 2 perahu yang telah datang mendahului kami dan semuanya perahu yang disewa oleh orang asing.
Beberapa saat kami bermain kembali snorkling di daerah ini. Ternyata tingkat kerusakan di pulau ini cukup parah, namun pasir putih dan airnya yang sangat bening menghibur kami. Bintang laut dan duri laut adalah binatang yang paling banyak ditemui disini.



Sekitar jam satu kami memutuskan kembali karena matahari sudah sedemikian terik, bahkan kulit kami juga sudah berubah warna menjadi gosong.
Perlu beberapa kali kunjungan untuk mencoba keberadaan pulau-pulau lain di Riung karena kami memperoleh informasi bahwa ada beberapa spot yang menarik di tiap pulau dan tanjung, juga daerah barrier reef.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 28 Agustus 2011

Senja Hari di Pantai Nunsui

Senja di Pantai Nunsui berlatar pohon Bakau dan bebatuan
Puasa kali ini nyaris tanpa kegiatan atau mungkin lebih tepatnya sangat sedikit kegiatan. Kegiatan jangan dibaca kerjaan ya, kegiatan itu bagiku acara jalan-jalan ke tempat-tempat yang baru atau sekedar ulangan. Untungnya pekerjaan yang lebih sering di luar kota membuat hiburan tersendiri setidaknya dari balik kaca kendaraan yang melintasi dari satu kabupaten ke kabupaten lain aku masih bisa melihat view laut dan gunung.
Belakangan ini beberapa temen yang suka fotografi membicarakan pantai Nunsui yang katanya bagus untuk foto. Dan lokasi tempat ini juga diperkuat dengan foto-foto teman yang menunjukkan bagusnya lokasi ini untuk alternatif lain tempat wisata. Dengan informasi akhirnya dengan penjelasan teman yang pernah kesana dan Google Earth akhirnya aku bisa menemukan lokasi tepatnya.
Lokasi pantai Nunsui ini bisa dicari via Google Maps dengan posisi  -10.136589,123.656321 atau posisi dengan Google Earth pada 10° 8' 12.97" S  123° 39' 23.59" E. Pantai ini masih berdekatan dengan pantai Lasiana yang sudah di kelola lama sebagai tempat wisata oleh pemerintah daerah. Jadi pantai Nunsui dan pantai Manikin posisinya menjepit pantai Lasiana.
Setelah beberapa hari rencana mau ke pantai Nunsui batal karena berbentrokan dengan jadwal dan ketatnya deadline laporan akhirnya pada  Jum'at sore punya kesempatan untuk menuju ke tempat itu. Jam setengah lima persis setelah aku mempersiapkan kamera dan peralatan foto lainnya aku mulai jalan. Tentu saja aku tidak melupakan sebotol minuman dan kue, karena perhitunganku aku pasti akan berbuka puasa di sana. Perjalanan dari rumah sampai tempat ini sekitar 15 menit.
Batu-batu berserakan di sepanjang pantai kala surut
Menuju pinggir pantai di Nunsui aku menemukan beberapa tempat makan dan bersantai sudah didirikan di tempat ini dan untungnya mengambil jarak dari pantai. Dari jalan ke pantai terdapat ruang beberapa puluh meter yang berdiri pepohonan kelapa dan jenis pohon pantai lain yang cukup rindang milik warga sekitar pantai.
Di pantai ini memiliki ciri sama dengan beberapa pantai di sekitar Kupang termasuk pantai Lasiana yaitu sangat landai. Jadi pada saat surut jauhnya pantai bisa beberapa ratus meter, dan itulah yang terjadi saat aku kesini. Laut baru selesai di puncak surutnya sekitar jam 4 sore tadi sehingga saat aku sampai surutnya masih jauh.


Anak-anak mencari ikan di pantai Nunsui saat laut surut
Dengan pasirnya yang berwarna putih kekuningan yang sangat halus, saat surut pasir-pasir ini meninggalkan urat-urat gelombang. Pasirnya yang panjang sendiri bisa menawarkan alternatif tempat wisata, walau tidak menawarkan pemandangan yang lebih dibanding dengan tempat lain. Pasir yang benar-benar putih di Kupang ini dan punya potensi lebih menarik aku lebih memilih di pantai Tablolong walaupun kekurangan tidak landai. Namun jika dikelola profesional tidak mustahil penataan dan pembersihan pantai bisa menghasilkan landscape pantai yang menarik wisatawan.
Ada sebuah pohon Bakau dan itu satu-satunya yang tumbuh menyendiri di pantai Nunsui, itu menjadi salah satu penanda jika anda telah berada di lokasi yang tepat. Pohon bakau yang tumbuh sendiri ini adalah view favorit untuk pengambilan foto Nunsui.
Dari pantai ini, mata bisa langsung melihat matahari tenggelam dengan bayangan bagan-bagan apung yang banyak tumbuh di sekitar pantai Kupang. Jika matahari telah tenggelam maka agak ke sebelah kiri akan bermunculan kerlip cahaya-cahaya malam yang berasal dari kota Kupang.
Di Kupang, lokasi-lokasi yang dulunya diabaikan telah menarik minat untuk dikembangkan sehingga tak heran di sepanjang jalur pantai sekarang tumbuh restoran-retoran atau tempat makan yang menawarkan suasana pantai. Celakanya pembangunan ini kadang tidak memandang ekosistem yang ada, beberapa tempat yang jelas-jelas dulu terpasang papan pengumuman sebagai jalur hijau yang artinya tidak boleh ada bangunan permanen faktanya sekarang subur rumah makan, restoran dan hotel. Bahkan jalur hijau yang lautnya kaya akan biota dan terumbu karang sekarang juga sudah akan dibangun kawasan perumahan mewah. Melihat hal ini, aku berharap semoga pembangunan ini tidak akan terjadi di pantai Nunsui atau pantai lain. Semoga pembangunan yang akan datang di pantai ini memperhatikan ekosistem serta keberadaan masyarakat pesisir.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya