Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Senin, 24 Agustus 2015

Menikmati Kembali Air Terjun Ogi

River and waterfall of Ogi
Pemandangan air terju Ogi dari aliran sungai saat senja hari.
Gemuruh air terjun baru terdengar saat kami mulai dekat ke arah air terjun tanda kalau air terjun Ogi saat ini sedang berkurang banyak debitnya. Walau begitu, pemandangan yang ditampakkan tetaplah menawan walau sudah ada bangunan tembok penahan.

Ogi waterfall
Bebatuan dan rerumputan membentuk pemandangan yang menawan
Air terjun ini masih menyimpan keindahan sama sebagaimana memory yang terekam dalam ingatanku saat mengunjungi air terjun ini 5 tahun yang lalu. Kenangan yang masih terekam di memory otakku selain keindahannya juga tingkat kesulitannya menuju kesana. Air terjun ini pernah aku tulis di sini, saat itu hanya ada satu foto yang aku bisa pajang dan berjanji suatu ketika akan datang lagi untuk memotret tempat ini kembali.
Lokasi air terjun ini tidak jauh dari kota Bajawa mungkin sekitar 6 km, tepatnya ada di desa Faobata. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh ditempuh tapi jarang dikenal dibanding misalnya sumber air panas Mengeruda atau kamput adat Bena misalnya. Mungkin karena lokasi-lokasi yang aku sebut tadi memang sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata. Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang ingin memotret langsung air terjun ini malah mengalami naas. Tulang kakinya retak gara-gara terpeleset saat berjalan menyusuri parit saluran air menuju air terjun. Kasihan juga saat dia tunjukkan hasil rontgen kakinya. Aku pun pernah nyaris mengalami masalah yang sama, cuma untungnya saat itu aku terpeleset di parit yang masih berupa tanah bukan parit yang dari pasangan batu. Waktunya pun sama, saat bulan-bulan hujan. Kenapa aku dan temenku memilih jalan parit bukan jalan biasa? Karena tidak ada jalan lain menuju kesana selain melalui jalan itu. 
Dulunya memang ada jalan yang sempat mengalami perkerasan di sisi pinggir tebing yang mengitari air terjun, tapi aku hanya pernah melihat sisanya tak lebih beberapa meter dari jalan. Saat itu banyak sekali longsoran, dan longsoran yang aku lihat itu bukan longsoran pertama. Artinya, jalan itu mungkin telah hilang terkena longsoran berulang kali sehingga tidak bersisa sama sekali. Mungkin, aku hanya bisa mereka-reka sendiri.

View from west of Ogi waterfall
View air terjun Ogi dari sudut barat, uap air sampai ke sini
Bulan Agustus ini aku berkesempatan mengunjungi air terjun. Tapi bulan Agustus juga menjadi bulan simalakama, satu sisi lokasi air terjun enak didatangi karena bukan bulan hujan sehingga kondisi lokasi pasti lebih nyaman dijangkau tapi yang menjadi masalah justru kota Bajawa tempat aku menginap. Jika pada hari Selasa (18 Agustus) saat kedatangan saja suhu pada saat mulai malam turun sampai 19°C, maka pada hari Rabu aku harus merasakan dinginnya Bajawa yang menembus suhu 15°C pada malam hari dan turun sampai 12-13°C saat dini hari (seingatku jam 3 pagi). Aku harus rela memasukkan kepalaku ke dalam topi rajut yang hanya menyisakan mulut saja. Walhasil, paginya aku harus melihat wajahku penuh dengan motif rajutan.. Bajawa pada bulan-bulan seperti ini memang bukan pilihan terutama buat kalian yang tidak terlalu suka suhu dingin. Aku juga biasanya menghindari penugasan ke tempat seperti ini pada bulan-bulan begini namun memang lagi rejeki, aku harus menikmati pekerjaan di Bajawa justru saat puncak dingin seperti ini.
Siksaan ini makin bertambah saat berkendara dengan motor pada pagi hari menuju air terjun. Stang motor kurasakan seperti es kering yang membuat tanganku terasa nyeri kaku.
Berulang-ulang aku harus mengibaskan atau meniup tangan untuk menghilangkan rasa beku. Rasanya kebas sekali. Tapi perjalanan pagi ini aku lakukan untuk membuktikan apakah ada kabut pagi hari ini di air terjun. Aku berharap bisa menemukannya pagi ini.

Rainbow over the Ogi waterfall
Pelangi di atas air terjun Ogi
Perjalanan banyak terbantu karena sepanjang 3 km perjalanan ke arah Faobata telah mulus rata. Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di pinggir kampung yang dipenuhi lahan persawahan. Persawahan di sini memanfaatkan aliran air terjun. Penduduk menyarankan aku untuk terus masuk dengan motor terus ke dalam mengikuti jalan kecil dari tanah, katanya sekarang jalan itu bisa terus dilalui motor sampai dekat air terjun. Motor sewaan yang aku sewa 120ribu untuk kemarin sore dan pagi ini akhirnya aku bawa ke dalam. Walaupun jalannya masih berupa jalan tanah namun karena kering jadi mudah dilewati. Melihat kondisi ini, sepertinya jalan ini akan tetap tak bisa dilewati jika musim hujan karena tanahnya yang berupa tanah liat akan menjadi lunak dan jalan berubah menjadi kubangan. Setelah melewati beberapa ratus meter dengan pemandangan persawahan di sebelah kiri maka pada titik akhir kita akan melihar sebuah rumah penjaga bangunan pembangkit listrik. Ya, di sini memang telah lama berdiri PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) walaupun sampai saat ini belum beroperasi. Di belakangnya terdapat sebuah tangga naik yang memiliki kemiringan cukup ekstrem yang sepertinya digunakan untuk petugas PLN memasang alat di bagian atas air terjun. Beberapa meter setelah menyusuri parit saluran air barulah sampai di tampak air terjun yang dikelilingi bukit tegak lurus. 
tangga ke atas air terjun Ogi
Tangga terjal menuju bagian atas Ogi
Dengan ketinggian sekitar 30 meter, air yang masih cukup deras meluncur akan menciptakan kabut air yang naik seperti uap beberapa meter. Uap air yang naik ini bahkan bisa sampai lebih jauh tergantung arah angin. Di sebelah air terjun terdapat sebuah bukit dengan batu-batuan yang dikelilingin tanaman rumput dan perdu, mungkin karena tempat ini selalu basah sehingga menjadi lokasi yang subur bagi tanaman-tanaman itu. Keberadaan bukit itu menjadikan view air terjun Ogi semakin menawan, namun tidak untuk mengambil foto dari lokasi itu. Aku harus berpikir cara mendapatkan angle yang bagus dari lokasi itu karena harus berhadapan dengan uap air yang tentu menjadikan kamera tidak tajam yang bahkan tampak di hasil foto. Setelah melewati bebatuan sungai untuk menyeberang, aku berjalan mengikuti jejak sisa menuju ke bukit kecil itu, batu-batuan itu cukup mudah untuk dinaiki namun tetaplah hati-hati karena beberapa perdu yang hijau ternyata dibawahnya berupa tanah lembut yang dengan mudah akan membuat anda terpeleset.
Walaupun tangga yang ada di samping air terjun dapat dinaiki, tapi aku tetap menyarankan untuk berhati-hati karena di beberapa titik, pegangan yang ada telah rusak. Kata bapak penjaga, kadang-kadang mereka yang kesini suka iseng menjatuhkan batu-batu dari atas, atau mereka sengaja turun melalui rail pegangan. Akibatnya bisa diduga, dari kaca bangunan gardu pembangkit listrik yang pecah, rail pegangan tangga yang patah atau justru mereka sendiri yang celaka. Itulah kenapa bapak penjaga suka melarang anak-anak muda naik ke tangga itu karena kelakuan mereka kadang agak sulit dikendalikan. Masa remaja memang masa mereka saling menyombongkan diri kan. Lihat saja aksi vandalisme yang mereka lakukan, mencoret-coret nama mereka dimana saja, di pohon, di bebatuan. Mereka bisa menggunakan pisau, cat, atau menulis dengan menggunakan semen (yang satu ini tampaknya memang niat banget).
rainbow over the Ogi waterfall
Pelangi di atas air terjun
Kalau kalian mau melihat pelangi di atas air terjun cobalah datang pada sekitar jam 7 pagi saat matahari sudah menyinari tempat ini. Kabut air yang deras akan menciptakan bayangan pelangi. Terus terang pemandangan ini asyik dinikmati mata tapi agak sulit untuk direkam dalam kamera. Entah aku yang masih bodoh cara mengambil foto situasi seperti ini. Bahkan jika mau naik ke atas bukit maka pelangi yang tampak akan berbentuk nyaris sepenuh lingkaran. Tapi itu tergantung seberapa kencang kabut terjadi dan sudut cahaya matahari. Kalian tidak akan melihat pelangi ini saat sore hari karena matahari akan tertutup perbukitan yang melingkupi bukit ini.
Kalau kalian mau kesini, jangan lupa untuk bertanya kepada penduduk setempat ya karena tidak ada papan petunjuk bahkan di pinggir jalan menuju ke sana. Mungkin karena air terjun Ogi ini belum menjadi lokasi wisata. Ya untungnya, karena belum menjadi lokasi wisata jadi tidak ada pungutan. Tapi dengar-dengar dengan bapak penjaga, mungkin sebentar lagi ada kerjasama dengan pariwisata untuk pembangunan lokasi ini. Menjadikan lokasi ini tempat wisata? Bagus sih, asal direncanakan dengan benar dan tidak asal proyek jalan saja. Tidak membuat bangunan yang justru membuat lokasi ini jadi tampak aneh.
Dan yang pasti, tempat ini bukanlah tempat kalian bebas membuang sampah. Selalu jaga kebersihan, jika tidak ada tempat sampah tak ada salahnya kalian bawa dan buang nanti di tempat yang ada sampahnya. Tidak terlalu merepotkan kan hanya membawa sampah yang kalian buat sendiri, syukur-syukur ikut membawa sebagian sampah orang lain yang tidak bertanggung jawab disini. Karena hal yang paling menjengkelkan saat sebuat tempat wisata telah dikelola justru malah membuat pengunjung makin gak bertanggung jawab. Merasa telah membayar jadi bisa seenak jidatnya membuang sampah.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 16 Agustus 2015

Akhirnya Liburan Bareng Anak-Anak (1)

senja, SoE
Mampir menikmati pemandangan sore di jalan tanjakan baru menuju ke SoE
Libur lebaran tahun ini rencananya ke Jakarta, maklum anak-anakku terutama di kecil gembul belum pernah jalan ke Jakarta. Kebetulan neneknya juga udah kangen liat cucunya udah segede apa. Sayang tiket yang udah dibeli dari tiga bulan sebelumnya kandas hanya karena tepat hari Hyang bersamaan dengan hari raya Idul Fitri semua penerbangan dari dan ke atau lewat Surabaya dibatalkan. Apa lagi kalau bukan karena gunung Raung yang semula cuma meler-meler ingusan sama sekali-kali bersin akhirnya meletus. Pembatalan penerbangan ini memang sudah aku ketahui malamnya saat mencoba check-in secara online dan selalu gagal.
Pagi-pagi aku bareng bini coba ke bandara untuk memastikan perubahan jadwal. Aku memang tidka berminat membatalkan penerbangan karena ribetnya proses kembali uang (pengalaman dulu bisa dua bulan baru kembali). Itu pun dari awal, pihak maskapai menyatakan kalau pengembalian bukan langsung kepada pembeli tiket tapi kepada agen tepat aku membeli tiket. Padahal aku pesen tiket juga lewat online. Karena memang ketersediaan tiket pengganti agak jauh mendekati batas akhir cuti bersama, akhirnya aku memilih memindahkan waktu yang lebih longgar, kasihan kalau anak-anak liburannya hanya sebentar saja.
air terjun oehala
Karena dingin pagi, air terjun malah jadi terasa hangat
Sekarang masalahnya karena memang udah niat mau lebaran di Jakarta jadi tidak menyiapkan makanan sama sekali. Sementara kalau tetap tinggal di rumah siap-siap saja ketemu dengan tuyul-tuyul kecil yang akan menyambangi rumah untuk ikut berhari raya. Lewat pertimbangan singkat akhirnya aku dan istri memutuskan akan berlebaran di Atambua, kota kelahiran ibunya.
Gak mudah, karena pengalaman sebelumnya anak-anak mabuk berat waktu naik kendaraan bareng Abah Aswar (bapak besar-nya). Jarak tempuh Kupang-Atambua yang sekitar 300km dengan beberapa medan naik dan turun SoE yang penuh tanjakan dan kelokan tentu bukan jarak yang menyenangkan untuk dijalani anak-anak. Tapi perjalanan ini harus aku lakukan lagi terutama untuk membiasakan anak-anak, tapi penting juga membuat mereka nyaman dengan perjalanan darat. Dan hari itu aku harus bisa membuktikan ke anak-anak bahwa perjalanan darat itu tetap bisa menyenangkan. Sebenarnya abah Aswar menawarkan jalan bareng besoknya, tapi anakku yang cewe udah kasih pesan duluan, jangan jalan bareng abah ya ayah. Rupanya dia masih trauma dengan mabuk berat dulu itu.
sisi lain air terjun oehala
Sisi lain air terjun Oehala
Setelah packing-packing kayak orang pindahan (pindah rumah tiga hari), sekitar jam satu siang mobil merah "Baleno"-ku akhirnya meluncur ke arah SoE. Aku memilih jalan santai, di beberapa tempat aku memilih berhenti terutama jika anak-anak merasa jenuh atau agak pusing. Walhasil, jam lima seperempat sore mobilku baru sampai ditanjakan jalan baru SoE. Lumayan buat istirahat sekaligus menikmati senja. Ada beberapa mobil dan motor yang juga berhenti disana menikmati senja. Terutama tentu saja beberapa anak muda yang siap pose salam dua jari kepala miring. Jaman selfie dan medsos sekarang menjadikan setiap tempat yang menarik dengan cepat menjadi magnet para nyamuk-nyamuk muda ini untuk berkerumun dan berselfie ria.. bedo karo jamanku (jamanku kamera muahaaall, medos juga gak ada yang kenal).
Ternyata penginapan di sekitar SoE banyak yang sudah penuh, ini semua di luar perkiraanku. Setelah cek-cek hotel, akhirnya baru dapat di hotel Blessing. Hotel yang masih tergolong baru terletak di dekat pom bensin pertigaan masuk menuju Kota SoE. Cuaca SoE bulan Juli memang terasa dingin daripada bulan-bulan biasa sehingga aku dan bini memutuskan untuk tidak keluar kamar. Untung persiapan makanan komplit jadi cukup makan di kamar saja. Kebetulan pula aku mendapatkan kamar di lantai 2 yang berhadapan dengan restoran jadi bisa ambil air minum kapan saja 24jam.
Pagi-pagi setelah makan pagi, aku ajak anak-anakku mampir ke air terjun Oehala. Dengan jarak yang tidak lebih dari 15 km, aku tidak perlu bergegas meninggalkan hotel. Seperti biasa aku harus ekstra mengawasi Deva, karena si bungsu ini semangat eksplore-nya tinggi kalau melihat tempat baru. Aku harus sedikit menebalkan telinga saat mendengar teriakan-teriakan ibunya yang ibunya yang sibuk memperingatkan si bungsu.


Border gate Indonesia-Timor Leste
Menuju gerbang masuk ke Timor Leste
Kakaknya juga semangat sekali, dia turun lebih cepat mendahului ibunya untuk sampai ke air terjun. Dia juga yang pertama kali memasukkan kakinya dan berteriak kalau airnya hangat, padahal itu hanya efek karena cuaca SoE pagi hari yang dingin. Aku saja tidak perlu menghidupkan AC mobil sepanjang perjalanan kesini. Kakaknya yang menyelupkan kaki duluan, tapi adiknya yang semangat mandi sampai lepas baju semua alias bugil.
Baru menjelang siang aku kembali melanjutkan perjalanan ke Atambua. Perjalanan dari SoE menuju Kefamenanu memang berupa turunan tapi aku tetap berkendara lambat karena banyaknya tikungan yang cukup berbahaya. Yang agak lumayan cepat setelah melewati kota Kefamenanu karena jalur disitu tidak banyak tikungan tajam. Aku sampai di Atambua sebelum Maghrib. Walaupun kadang-kadang anak-anak minta berhenti sebentar karena sedikit pusing, namun untungnya selama perjalanan ini mereka tidak pernah mengalami mabuk. Perjalanan pun terasa lebih menyenangkan, walaupun Deva justru mulai pengen pulang saat perjalanan mulai terasa jenuh. Kota yang pernah menjadi lokasi film dari Riri Reza "Atambua 39° Celsius" menjadi kota jarak tempuh terlama yang pernah dijalani anak-anak via jalur darat.
Perjalanan berbahaya justru dirasakan anak-anak saat kembali dari berlibur ke pantai di daerah Atapupu. Perjalanan kembali melalui jalur Haliwen yang melewati bukit-bukit terjal berbeda jauh dengan perjalanan berangkat melalui daerah pantai. Beberapa titik jalan ternyata banyak yang sudah rusak parah bahkan banyak yang telah longsor. Yang paling menegangkan tentu saat melewati bukit yang jalannya telah longsor menyisakan jalan penuh bebatuan besar dan patahan-patahan. Sedan yang memang tidak dirancang untuk kondisi jalan seperti ini terang saja menjadi kesulitan melintasinya. Beberapa kali istriku harus turun untuk membantu mengawasi saat aku harus melewati daerah jalan yang patah dan longsor. Bahkan bisa kulihat Shiva terdiam di dalam mobil dengan kondisi tegang. Saat berhenti sebentar di stadion Haliwen melihat pertandingan grass track motor, aku bisa merasakan dinginnya tangan anakku yang cewek saat aku genggam.
Meski dengan banyak kejadian, sepertinya aku berhasil membuat anak-anak mulai menikmati perjalanan liburan kali ini melalui perjalanan darat yang lumayan jauh. Lumayan juga saat di perbatasan bisa masuk ke dalam melewati perbatasan Timor Leste sehingga dua krat minuman kaleng yang gak ada di Indonesia. Sebenarnya kalau orang bisa masuk sampai ke dalam seperti ini biasanya yang diincer minuman kerasnya, mau black label sampai red label ada semua. Itu semua karena jasa pacar ponakan yang ternyata masih berdarah Timor Leste, bahkan om-nya pun masih bekerja di pabeanan Timor Leste sehingga dia lancar saja waktu minta masuk walau tak satupun dari kita yang memegang paspor. 

Danau Supul di Kabupaten TImor Tengah Selatan
Danau Supul saat siang hari
Kondisi berbeda saat perjalanan kembali, mungkin karena lebih santai aku jadi bisa melajukan kendaraan lebih cepat. Ada dua tempat yang aku singgahi, satu untuk makan siang dan makan sore. Satu tempat untuk makan siang ada di antara Atambua-Kefamenanu hanya seperti 1/4 jalan menuju Kefamenanu. Di pinggir jalan dengan daerah berbukit, di sana ada satu tempat lapang yang nyaman untuk duduk-duduk. Sepertinya banyak yang melakukan hal seperti aku. Dari mana aku tahu? Dari jejak sampah minuman kaleng, boks bungkus nasi, dan plastik-plastik pembungkus snack yang bertebaran. Sial, selalu aku menemukan kampret-kampret seperti ini yang cuma bisa ikut liburan tapi tidak bisa menjaga kebersihan.
Aku juga berhenti di danau Supul untuk menikmati sore sekaligus makan malam di tempat itu. Bekal lengkap dari ibunya anak-anak memang jos, kita jadi gak perlu mampir-mampir di tempat makan. Danau Supul ini terletak setelah kita melewati Niki-Niki dari Kefamenanu. Danau yang terletak di pinggir jalan ini cukup luas untuk sebuah danau, sayangnya memang masih tanpa penataan dan satu lagi: sampah-sampah sisa makanan. 
Selepas dari dua tempat itu, anak-anak nyaris terus menikmati tidur di dalam mobil. Bahkan istriku sampai tangannya mati rasa karena dijadikan bantal untuk tidur sama anak-anak.

Semoga perjalanan ini bisa menjadi bekal anak-anak untuk melewati perjalanan liburan ke Jawa tak lama lagi. Sepertinya aku harus lebih sering mengajak anak-anak melakukan perjalanan seperti ini.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya