Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Selasa, 22 September 2020

Sunset di Tanjung Toda


Aku tak sanggup beranjak dalam takjub, malam bergerak dengan ditutup pertunjukan senja yang memukau. Awan jingga menyaput biru kelam langit. Sebuah pelepasan yang begitu manis meski segelas kopi panas tak ada dalam genggaman tanganku, sudah tandas beberapa menit yang lalu. Ah senja dan kopi tidak selalu bersama ternyata.

Dua Jam 'Tanpa Arah'

Tak ada niatan sama sekali ke tempat ini, waktu itu cuma terpikirkan mau jalan saja. Terus mikir mau ngajak siapa yang bisa diajak jalan 'dadakan' tanpa perlu direncanakan dulu. Jalan seperti ini memang biasa bagiku karena beberapa kali perjalanan yang direncanakan malah berakhir batal atau tertunda lama. Apalagi kalau merencanakan perjalanan dengan teman yang tidak biasa jalan, duh dari awal emang harus siap untuk batal. 

Berdua sama temanku, Sani - orang Yogya yang hobinya juga jalan gak jelas- kami berdua berboncengan ke arah Timur. Kemana? Masih belum jelas. Ada beberapa rencana tempat seperti ke Fatuleu, atau ke Lelogama, atau sekedar ke Bendungan Raknamo. Entah, semua ide bersliweran tapi seperti gak 'nyantol' sampai selepas Oelamasi baru kepikiran untuk coba menjelajahi wilayah Sulamu.

Aku sendiri lupa-lupa ingat apakah pernah pergi ke Sulamu atau tidak, karena kalaupun pernah mungkin itu tahun 2000-an dimana kondisi jalannya masih ampun-ampunan. Sekarang sih sudah jauh lumayan bagus. Jadi aku bisa sampai ke sebuah kawasan yang penduduknya sangat padat yang berada di ujung utara teluk Kupang. Sebuah dermaga rakyat dengan mercusuar menjadi penanda kawasan itu. Tempat ini mengingatkanku pada kampung orang Bajo atau Buton cenderung rumahnya berdiri rapat.

Di depan dermaga tampak sebuah pulau kecil yang diberi nama pulau Tikus. Kalian mungkin sudah tahu kenapa pulau itu diberi nama pulau Tikus, ya karena jika dilihat dari atas tampak seperti tikus dengan ekor putih. Ekor putih itu sebenarnya adalah pasir putih, cuma itu adalah gosong pasir. Gosong pasir adalah istilah daratan berpasir yang hanya muncul saat laut surut. Pulau Tikus itu sebenarnya menarik perhatianku, bahkan seorang nelayan tua menawarkan untuk mengantarkanku ke pulau itu. Tapi dari kejauhan aku melihat pasir putih yang merupakan ekor pulau Tikus sedang tidak ada, yang artinya air sedang tidak surut. Dan satu lagi yang mengganggu, sepanjang pantai sampai ke pulau itu banyak botol mengambang yang artinya ada tanaman rumput laut. Artinya untuk pulau itu harus memutar perahu dulu tidak bisa tembak lurus langsung dari dermaga.

Karena tidak ada tempat yang tepat untuk melihat matahari terbenam, aku dan Sani meneruskan perjalanan ke arah barat melewati jalan kecil diapit rumah-rumah yang bersesakan. Membingungkan, aku bahkan harus bertanya beberapa kali untuk keluar dari kampung kecil ini. Jalan terakhir melewati jalan tanah di pinggir pantai, itu pun harus melewati lorong antar rumah yang sebenarnya bukan untuk motor.

Tanjung di Kecamatan Sulamu

Tanjung Toda, itu nama yang disebutkan oleh John. Pria berbadan kecil yang lebih sering menghabiskan hari-harinya di tempat ini mengurus rumput lautnya. Sebuah rumah beratap alang-alang pendek adalah tempatnya bermalam selama tinggal di sini. Kebetulan hari ini cukup banyak masyarakat yang berprofesi sebagai petani pembudidaya rumput laut yang memilih bermalam disini, bekerja sekaligus bersantai di hari libur.

Tanjung Toda ini namanya belum ada dalam pencairan google maps mungkin karena tak dianggap sebagai tempat wisata. Memang mungkin kurang cocok untuk menjadi tempat wisata karena sepanjang pinggir pantainya berupa batu karang. Ada pasir putih, hanya tidak lebar dan sebagian besar hanya muncul saat laut sedang surut saja seperti sekarang. Saat itu, pantai dapat digunakan untuk untuk mandi dan bersantai.

Di sepanjang jalur pantai Tanjung Toda banyak bangunan kecil beratap alang-alang yang digunakan oleh petani pembudidaya rumput laut, salah satunya John. Benar, sepanjang pinggir laut Tanjung Toda memang dipenuhi benda plastik minuman botol yang digunakan masyarakat untuk mengikat tali-tali yang dipasang rumput laut agar tetap mengambang di permukaan.

Sepanjang sore itu, beberapa pria dewasa tampak berjalan hilir mudik di laut yang airnya setinggi dada mereka. Mereka tampak menarik-narik sesuatu dari tali yang digunakan untuk mengikat rumput laut. Mungkin mereka sedang membersihkan rumput laut dari gulma/tanaman pengganggu. Sementara anak-anak yang kecil lebih banyak bermain di pinggir laut.

Rumput laut memang tampaknya telah menjadi mata pencaharian masyarakat Sulamu. Tanaman ini dibudidayakan di sepanjang pantai mulai dari dermaga perikanan Sulamu sampai ke Tanjung Toda ini. Alhasil, pemandangan botol-botol plastik mengambang menjadi pemandangan setiap hari di sini.

Sebuah Tempat Dimana Matahari Mengucapkan Selamat Malam

Ada daerah yang memiliki pantai dengan pasir putih yang tidak berada jauh dari tanjung Toda, tapi aku memilih tidak melihat sunset dari sana karena matahari tidak tenggelam di horison laut. Beda dengan tanjung Toda, karena matahari benar-benar tenggelam di horison laut. Di tanjung Toda ini, matahari selalu jatuh di horison laut apapun bulannya.

Siapa yang menyangka, tempat ini adalah tempat dimana matahari terbenam di laut yang akan selalu menyapamu. Tak banyak hiruk pikuk, karena hanya mereka petani rumput laut dan keluarganya yang menyapamu. Tak ada wisatawan yang suka memenuhi laut untuk menikmati senja yang kadang berisik dengan musik berdentam-dentam, dengan suara bass yang nyaris bikin copot jantungmu. Tidak, semua keriuhan semacam itu tidak ada saat ini. Hanya pekik teriakan anak-anak yang disahut oleh lengkingan balik burung-burung laut.


Kadang tempat yang tidak memiliki pasir pantai bisa begitu menyenangkan apalagi dengan begitu aku tak akan dipusingkan bahwa tempat ini akan didatangi banyak orang. Kupikir tidak, tempat ini tidak terlalu menarik untuk didatangi apalagi untuk wisata. Tapi bagi kalian yang ingin menikmati sunset, tempat ini bolehlah kalian kunjungi. Jangan lupa membawa kopi.

Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 07 Juli 2020

Bukit Pandang Oemasi

Beberapa tanaman perdu mengering berubah menjadi berwarna putih


When traveling for an extended period of time, desirable changes - increased openness to experience, emotional stability, agreeableness, and creativity - emerge. Jaime Kurtz, The Happy Traveler

Bukit Pandang Oemasi, mungkin nama itu cocok aku sematkan  untuk nama tempat ini. Karena memang saat ini di Google Maps belum ada nama untuk tempat ini. Titik pandang ini adalah salah satu titik puncak perbukitan yang lebih dari dari perbukitan yang ada di kawasan ini. Kontur dari tempat ini mengingatkanku pada Ikan Foti yang juga tidak berada jauh dari tempat ini, mungkin saja keduanya berada di jalur yang sama.

Setelah jam setelah melewati pertigaan, ada sebuah jalan kecil berbelok ke sebuah tempat yang lebih tinggi daripada yang lain. Ada jajaran pohon cemara yang beberapa dahannya ditumbuhi tanaman parasit sejenis tanduk rusa. Beberapa batuan besar tampak mencuat ditutupi sekelilingnya oleh rerumputan yang pendek dan tampak rapi. Dari tempat ini, angin terasa sejuk walaupun matahari sedang garang-garangnya bersinar tanpa terhalang awan. Entah karena pengaruh bulan Juni, atau hawa di bukit kecil memang seperti ini. Hawa seperti ini memang racun. Angin yang berdesau seperti nyanyian Nina Bobo paling indah, lalu bisikan-bisikan untuk meletakkan sebentar kepala di rerumputan. Sesapan kopi hitam bahkan tak mampu melawan jika sudah di posisi seperti ini. Namun bunyi angin keras yang menabrak pepohonan cemara membuyarkan kantuk, suara seperti deru mobil truk terdengar keras memantul di bawah bukit. Ah iya, masih musim angin di bulan ini.

Y

ang sedikit mengganggu dari pemandangan di sini adalah batu-batu besar yang ada di tempat ini sudah dicoret-coret dengan cat biru oleh mahluk 'brengsek yang pengen eksis tapi tidak tahu cara yang benar'. Bahkan beberapa pohon cemara juga tidak luput aksi vandalisme mereka. Sekarang aku lagi berpikir cara untuk membuat mereka kapok melakukan vandalisme semacam itu, ada saran?

Karena siang ini adalah hari Sabtu, tidak ada seorangpun yang datang ke tempat ini. Hanya lalu lalang beberapa kendaraan roda dua dan pickup yang mereka sebut 'bis kampung' yang mengangkut penumpang dari desa sebelah ke Baun (ibukota Kecamatan Amarasi Barat). Tapi kedatangan mereka kadang-kadang tidak tidak terdengar, kalah dengan suara deru angin yang mirip suara truk tadi.

Bonusnya pada bulan begini adalah rerumputannya sering kali tidak hanya berwarna hijau tapi mulai kecoklatan (coklat terang agak kekuningan). Beberapa gerumbul tanaman liar juga mulai berubah warna memutih yang menjadikan bukit tampak berbeda.

Ada insiden yang cukup menyedihkan di lokasi ini, aku kehilangan lensa "Fujinon FX 50mm f2.0" yang belum lama aku beli. Ini gara-gara aku salah tidak memberitahu temenku Sani cara membawa tas kamera. Karena tas kameraku berbentuk slingbag, seharusnya cuma ada satu arah untuk membawanya, tapi Sani dengan enteng memutar dari depan ke belakang. Alhasil, resleting kamera jadi menghadap ke belakang. Entah resleting kurang kuat atau memang lupa tidak ditutup tapi itu yang mengbuat lensa terjatuh dan hilang dari tas tanpa kita sadari. Hiks, kalau memang rezeki anak soleh InsyaAllah itu lensa akan kembali lebih banyak.. hahaha...  ngarep. Boleh dong ah, daripada sedih bikin gak asyik.

Pas hari Minggu setelah kita jalan-jalan, aku sempat kembali ke tempat ini bareng istriku dan berharap masih akan menemukan lensa itu walaupun dengan harapan tipis. Apa daya waktu kembali ke sana ternyata tempat ini ramai waktu Minggu menjelang sore. Akhirnya aku tahu kalau tempat ini tidak sesepi yang aku kira. Rupanya banyak orang yang telah menjadikan tempat ini untuk berlibur terutama sih untuk mengambil foto walaupun belum ada nama tempat untuk bukit ini. Akhirnya aku coba mendaftarkan nama tempat ini ke Google Maps dengan nama "Bukit Pandang Oemasi", walaupun sampai dengan saat ini belum disetujui oleh Google.

Perjalanan Pertama Selama "Pandemi Corona"
Hari-hari ini akan menjadi kenangan yang tidak pernah hilang dari banyak benak orang. Ketika hari-hari tidak sama seperti yang sebelumnya kita alami. Dari yang biasa tiap malam pasti keluar walau cuma satu jam dua jam untuk belanja sekalian dengan cuci mata. Tiba-tiba tiap malam kita cuma bisa di rumah, karena jam malam tiba-tiba diberlakukan. Lampu-lampu kota yang biasanya menyala dimatikan, jam-jam tertentu mobile polisi dengan lampu biru berputar-putar patroli tiap beberapa jam. Beberapa tempat nongkrong di pinggir jalan langsung dibubarkan begitu tampak beberapa orang berkumpul. Tidak boleh, katanya.

Nama 'Corona' begitu menghebohkan dunia, virus yang konon katanya bermula dari sebuah pasar di Wuhan yang menjual daging kelelawar. Banyak kematian yang disebabkan olehnya, suatu saat hari-hari ini akan dikenang orang karena telah mengubah banyak wajah dunia.
Namun setidaknya kita harus bisa berdamai dengannya, begitu pesan pakde Jokowi padaku tempo hari. Tidak buatku sendiri sih, kamu juga.. kamu juga, kamu yang disana juga iya.
Stress juga kan kalau tiap hari terus kuatir memikirkan virus yang namanya sama dengan bentuknya ini. Udah bikin ekonomi jeblok ditambah lagi bahaya stress akut. Cukuplah petugas kesehatan rumah sakit yang kewalahan dipenuhi pasien Corona, jangan rumah sakit jiwa ikut penuh. Iya nggak gaess?? Salah satu obatnya ya jalan-jalan, tapi tetap dengan protokol kesehatan ya.

Catatan Kecil
Sebenarnya bukit pandang ini bukannya tempat tujuan, hanyalah sebuah rest area atau tempat singgah sementara dari kepenatan pantat dalam perjalanan dari Kupang menuju Pantai Nimtuka, yang mungkin akan aku ceritakan lain kali.

Tidak ada google maps sementara ini karena sampai saat ini tidak ada penanda lokasi. Aku sudah coba menambahkan tempat ini sebagai missing place namun sampai dengan saat ini masuk dalam status "review". Baru kali ini aku mendapatkan sebuah review yang cukup lama, rupanya efek corona sampai mempengaruhi di kecepatan google menambahkan lokasi baru.
Jika permintaanku menambah tempat ini sudah disetujui google maps akan langsung aku update lokasinya disini.
*update: Yeay... akhirnya google menyetujui penambahan lokasi ini.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 08 Juni 2020

Gunung Fatuleu, Nyaris Vertikal

Senja di gunung Fatuleu
Menatap langit senja dari puncak gunung Fatule'u
Jam lima, kami baru mencapai dua pertiga perjalanan. Bisa dibilang, dua pertiga perjalanan menuju puncak Gunung Fatule'u ini kami tempuh dalam waktu satu jam. Aku bisa melihat sorot mata penuh kegamangan dua orang temanku yang menatap dinding nyaris vertikal di depannya. "Nanti gimana turunnya?" Pertanyaan ini terlontar dari bibir Adis, satu-satunya cewek yang ikut di rombongan kami. Dan jawaban bahwa tempat kita naik inilah tempat kita turun nantinya membuat kami belum beranjak juga. Puncak Fatule'u dengan angkuhnya berdiri tegak seakan menantang nyali kami, akankah kami lanjutkan atau kembali dan membawa cerita gunung ini sampai di titik ini.

Istirahat di gunung Fatuleu
Istirahat di pemberhentian pertama gunung Fatule'u
Belakangan ini cerita tentang gunung Fatule'u menjadi hal umum di kalangan anak muda Kupang. Sampai-sampai muncul sebuah jargon "Jangan ngaku sudah pernah ke Kupang kalau belum ke Fatule'u". Beberapa teman yang lebih dulu kesana pun memposting foto-foto mereka, dari yang cuma memposting selfie berlatar gunung Fatule'u sampai yang berselfie berdiri di pucuk tertinggi. Untuk yang terakhir itu bagiku sangat konyol. Kalau kalian mau berpose di tempat berbahaya, coba minta orang lain yang memotret kalian jangan selfie karena posisi memotret selfie itu sangat tidak nyaman dan tidak aman. Jangan tambah potret-potret kekonyolan para selfiers yang berakhir di depan malaikat maut.

Entah gerangan apa yang membuat Fatule'u menjadi tempat anak muda menantang jiwa muda mereka sampai kemudian aku membuktikannya. Gunung itu indah, iya memang gunung itu indah dan bukan cuma gunung itu sendiri yang indah demikian pemandangan yang akan kamu lihat saat di atasnya. Dan gunung Fatule'u bukan cuma indah tapi begitu angkuh menantang nyali para pendakinya dengan dinding yang nyaris vertikal. Ketinggian puncak gunung sekitar 1.100 mdl, artinya sekitar 300 meter dari titik start pendakian bukan berarti itu sebuah perjalanan naik sederhana. Tidak ada start awal menanjak landai baru pelahan-lahan menanjak terjal sebagaimana kalau kita naik gunung. 

Dari awal perjalanan, kami langsung disuguhi perjalanan cukup ekstrim. Setelah kita berjalan sekitar dua ratus meter ke dalam pepohonan, maka kita akan langsung berhadapan dengan tebing batu yang harus didaki. Aku bisa melihat kegamangan di sinar mata kedua temanku yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Mereka bukan takut untuk menaikinya namun gamang bagaimana nanti mereka turunnya. Mungkin karena efek awal jalur yang langsung memanjat tebing membuat mereka dengan segera merasakan capek yang luar biasa.Di sini, aku melihat seorang Imam yang bisa tampil menjadi penyemangat. Dia dengan sabar mengajak Adis dan Rei istirahat dulu dan tidak memaksakan diri. 

Menuju puncak gunung Fatuleu
Berhenti di setengah pendakian menuju puncak
Setelah mendaki satu kali lagi barulah kami memasuki hutan. Lebih landai memang tapi tetap menanjak dan beberapa titik tetap harus dipanjat. Jadi walaupun tampak dari kejauhan agak landai, jalan sesungguhnya tetap naik turun karena nyaris seluruh gunung ini adalah dari batuan karang. Untungnya memang batuan di sini tidak mudah bergeser sehingga meski ada tonjolan kecil kami berani jadikan pegangan kala mendaki.

Hengki, seorang anak muda yang umurnya mungkin tidak lebih dari 17 tahun menjadi guide kami dengan cekatan memanjat terlebih dahulu dengan sendal jepitnya. Jalur yang dilalui di banyak titik tidak memiliki jalur jelas untuk dilewati. Beberapa kali kami kecele waktu melihat jalur yang landai tapi diperingatkan oleh Hengki pada di ujung jalan itu justru menunggu jurang. Jadi memang peran Hengki untuk menjadi guide kami sangat berarti, aku bahkan belum berani kesini lagi tanpa guide. Karena Rei sudah kepayahan akhirnya Hengki yang membawakan tas milik Rei sekaligus tas tripod-ku. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang telah selesai dan hendak turun ke bawah. Dengan jalur tunggal seperti ini, mereka mengalah menunggu kami semua selesai naik ke atas baru gantian mereka. Inilah kesulitan berikutnya jika gunung Fatule'u didaki ramai-ramai, bisa-bisa antriannya ngalahin kemacetan Jakarta.

Puncak pertama gunung Fatuleu
Akhirnya sampai di puncak pertama
Akhirnya sampailah aku pada titik dimana orang-orang muda suka menyombongkan diri jika sudah berhasil mencapai ke atas. Tebing tegak dengan kemiringan antara 70º sampai dengan 80º setinggi 200 meter berdiri di depan kami membuat kami terhenti. Ada kegamangan akankah kami berhenti disini atau melanjutkan perjalanan menuju puncaknya yang tampak angkuh menantang siapapun yang ingin menggapainya. Aku juga sempat memberikan pilihan jika mau berhenti di sini saja karena perhitunganku pastilah perjalanan kembali akan sampai malam hari. "Kita naik saja pak, sudah tanggung nih," kata Rei. Aku salut dengan mereka berdua yang tetap bertekad untuk tetap menyelesaikan pendakian ini sampai ke puncak. 

Dan dimulailah pendakian yang sungguh menegangkan. Hengki meminta kami merambat naik melalui patahan-patahan dinding batu. Pelan-pelan kami naik ke atas. Hengki yang terlebih dahulu naik terus membimbing Rei dan Adis, sementara Imam naik dari sisi lain sambil mengamati mereka berdua. Aku sendiri naik paling terakhir untuk mengabadikan perjalanan ini dalam rana kamera. Setelah aku mengemasi kamera, aku mulai ikut naik menyusul mereka. Namun karena aku terganggu dengan sendalku, akhirnya aku memutuskan melepas sendal dan mendaki dengan kaki kosong. Justru dengan cara ini aku dengan mudah bisa menapak di dindingnya dengan cepat. Beberapa orang yang mau turun heran melihat aku yang justru naik tanpa sendal. Hehehe, mereka belum tahu kalau kakiku ini masih kaki orang kampung paling udik yang lebih nyaman jalan nyeker daripada pakai sendal. Ini kulit kaki tebelnya aja ngalahin kulit badak (untung mukanya kagak muka badak).

Bersantai menikmati senja dari puncak kedua
Pelahan tapi pasti akhirnya satu demi satu kami berhasil mencapai puncak pertama. Di atas telah menunggu rombongan terakhir yang mau turun. Jadilah saat ini kami menjadi rombongan terakhir di puncak. Dan terbayarkan perjuangan di puncak dengan pemandangan sekitar yang memukau kami, apalagi kami di puncak tepat saat matahari tidak terik karena telah menjelang tenggelam di ufuk barat. Dari puncak pertama, kami bisa melihat laut Kupang di kejauhan dan beberapa bukit lain yang menantang untuk kami datangi lain waktu. Angin dingin langsung menerpa wajahku. Maklum dengan ketinggian sekitar 1.100 mdl yang artinya lebih tinggi dari SoE, makin mendekati malam tentu akan semakin dingin. Dua botol minuman kopi panas yang disiapkan istriku terasa nikmat sekali saat diminum di suasana seperti ini. Mungkin lain kali aku bisa membawa kompor gas ke atas sini. Masak mie instan sepertinya akan menjadi kenikamatan yang tiada duanya.

Tak seperti yang kami duga, ternyata di puncak tak ada tempat landai yang datar. Walau dari bawah, penampakan gunung bagian atas seperti rata ternyata itu merupakan tonjolan-tonjolan batuan yang formasinya sekilas seperti batu utuh. Akhirnya kami duduk seadanya di puncak di batu yang miring. Ada beberapa puncak yang untuk dicapai satu sama lain tetap harus berjuang menelusuri, seperti di bagian utara tampak bendera merah putih dan bendera lain seperti bendera pramuka terpasang. Juga di sebelah timur-nya ada bendera BRI yang juga terpasang. Sayang kami tidak membawa bendera supaya bisa ikutan nampang.


Berpose dengan latar belakang gunung Fatule'u


Tapi ada satu kejadian yang membuat aku sempat marah karena salah satu temanku tanpa babibu tiba-tiba membuang begitu saja botol bekas minuman. Saat aku marah dan memberitahunya justru Hengki membuat pernyataan yang mengejutkan. "Oh tidak apa-apa pak, pengunjung lain juga udah biasa kok membuang sampah ke bawah." Gantian aku yang langsung menceramahi Hengki supaya sebagai guide dia justru harus memperingatkan pengunjung lain supaya tidak membuang sampah sembarangan, jangan justru membiarkan seperti itu. 

Aku sengaja menceritakan kelakuan temanku bukan untuk mengolok, tapi biarkan ini menjadi kesalahan pertama dan terakhir dia. Aku berharap kejadian ini diingatnya, dan bahkan bisa ikut terlibat untuk memberikan kesadaran ke orang lain agar tidak sembarangan membuang sampah. Jika setiap orang yang naik ke atas gunung Fatule'u ini kita biarkan membuang sampah begitu saja, maka dalam 5 tahun ke depan mungkin gunung Fatule'u bukan hanya menjadi gunung batu tapi juga gunung sampah. 

View gunung Fatuleu
Hengki berlatar view gunung Fatule'u dari jalan masuk
Apakah saat pengunjung dipungut 5ribu per motor (2.500 rupiah per kepala), terus pengunjung punya hak untuk membuang seenaknya dan menjadi penanggung jawab petugas di sini sepenuhnya? Ingatlah, gunung, bukit, danau dan tempat wisata lain bukanlah tempat sampah, bawalah sampah yang anda buat, syukur-syukur kalau mau ikutan membawa sampah yang dibuang orang goblok lain.

Perjalanan kembali lebih menegangkan daripada saat naik, karena kami kembali jam tujuh kurang seperempat. Dari puncak memang warna langit masih tampak tapi di bawah sudah mulai tampak gelap. Rei sempat mengalami kram kaki mungkin karena secara mental dia kurang siap. Aku harus membantunya pelan-pelan melewati puncak vertikal itu untuk turun ke bawah dibantu Imam. Aku meminjamkan senter kepala pada Rei supaya dia bisa melihat jelas, untungnya selain senter kepala aku juga membawa senter tangan 2 buah lagi. Hengki sendiri sepertinya tidak kesulitan berjalan diantara bebatuan menembus gelap. 

Berpose di atas gunung Fatuleu
Berpose sebelum melanjutkan perjalanan naik vertikal
Kami bergerak turun pelan, apabila melihat mereka kecapekan maka kami minta mereka istirahat dulu. Kami tidak mempedulikan lagi waktu yang penting semuanya dapat selamat. Mungkin kecapean, Adis sempat tergelincir dua kali. Untungnya dia tergelincir saat berjalan di jalan tanah menurun bukan saat menuruni tebing. Malam ini angin sangat membantu kami, sepanjang perjalanan turun kami tidak merasakan hembusan angin yang kuat, padahal hal yang berbeda kami rasakan saat berada di puncak. Aku hari berhati-hati saat berdiri di tebing karena hembusan angin bisa membuatku tergelincir.

Jam delapan malam akhirnya kami sampai turun di bawah. Bapak penjaga helm terpaksa tidak bisa pulang karena menunggu kami kembali. Untungnya ada sebuah warung yang pemiliknya tinggal disitu jadi kami bisa memesan kopi. Sekitar jam setengah jam setengah sembilan barulah kami mulai berangkat kembali, menelusuri jalan yang terus menurun. 



Catatan: Naik gunung ini bukan lagi sekedar mendaki tapi sudah kategori rock climbing (memanjat tebing) sehingga disarankan untuk benar-benar berhati-hati. Jangan menantang teman kecuali mereka memang berniat untuk menaikinya. Walaupun bukan lokasi yang sulit dipanjat tapi kesalahan kecil yang diabaikan bisa berakibat fatal, persiapkan fisik dengan benar. Jangan sampai anda berangkat utuh, pulang tinggal nama. Jika lokasi ini dikelola betul, saya yakin tidak akan dibolehkan orang naik tanpa pengaman/tali. Tapi bukan karena tidak ada pengaman/tali artinya tempat itu bisa sembarangan didaki.
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 01 April 2020

Memecah Keheningan Candi Sumberawan

Kicauan burung bersahutan saat aku menapaki jalan setapak menuju candi. Barisan pohon pinus masih lebat tersisa di sini. Setelah meniti jembatan yang melintang di atas sebuah kali kecil tibalah aku di gerbang Candi. Bau harum bunga melati tercium sama ketika aku memasuki gerbangnya. Aneh aku tidak melihat Bunga Melati ataupun dupa disini. Jadi wangi ini dari mana asalnya?


Aku melewati pos pengurus candi yang ada di dalam komplek Candi ini. Dari sini terlihat tumpukan batu-batu dan stupa Candi di kejauhan. Batu reruntuhan candi yang satu tertumpuk dan yang lain tersusun seperti tempat semedi/meditasi berikut cupu untuk dupa.

Sesosok pria memakai jaket berwarna merah dan putih menancapkan dupa di sebuah cupu. Seketika aroma dupa menebar aura mistik. Dia duduk bersilang kaki dengan kedua telapak tangan, ujung jari jempol dan jari telunjuk saling bersentuhan, dan jemari yang lain saling merangkai. Matanya terpejam. Gerakan menghirup udara dari hidung dan melepaskannya perlahan kurang lebih lima belas menit untuk mengheningkan cipta. Tenang dan damai terpancar dari wajahnya. Suasana Candi di pagi hari yang sepi menambah kekhusyukannya.

Agar tidak menggangu meditasinya aku bergegas naik ke stupa Candi. Stupanya mirip dengan stupa tertinggi Borobudur. Stupa polos tanpa relief pahatan pada dinding candi melambangkan "suwung", kosong, hening, puncak dari semedi/meditasi. Memang candi ini biasa digunakan untuk bertapa semedi. Sayang bagian ujung stupanya tidak ada. Mungkin hilang atau telah lapuk dimakan usia.

Di seberang stupa ada sebuah sendhang atau kolam yang mata airnya keluar dari dalam tanah. Pohon-pohon yang rindang dengan dahan ranting yang bergelayutan mengelilingi sendhang itu. Menambah kesan wingit area ini.


Ada sudut yang menarik perhatianku. Seperti ada tarikan energi dibalik pagar tembok itu. Benar saja ternyata ada sumber air yang disucikan di tempat ini. Ketika aku mau masuk, seekor kupu-kupu putih terbang mengitariku. Mungkinkah ucapan selamat datang dari makhluk kecil itu?

Mata air jernih yang menyembul dari sela-sela batu membuatku ingin membasuh wajah dan mencicipi airnya. Tak lupa sebelum menyentuh atau mengambil airnya kita berdoa dan meminta ijin pada Yang Maha Kuasa.


Konon Candi Sumberawan adalah petilasan dan tempat moksa Mpu Purwa, ayah dari Ratu Ken Dedes dari Kerajaan Tumapel/Singosari. Moksa adalah meleburnya raga dan roh kepada elemen alam semesta untuk bersatu dengan pemilik hidup, Tuhan Yang Maha Esa.



Candi Sumberawan ini berlokasi di Desa Toyomarto  Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur. Diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Singosari oleh Raja Kertanegara. Kemudian dipugar oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit yang datang berziarah, sebagaimana disebutkan dalam Negarakertagama 1359 M. Dalam Negarakertagama disebutkan tempat yang bernama "Kasuranggan"  yang berarti taman tempat para dewi/bidadari. Hhhmm pantas aku mencium semerbak bunga melati ketika masuk gerbang candi, ternyata itu wangi dari para bidadari. Baik Raja Kertanegara dan Raja Hayam Wuruk adalah keturunan Ratu Ken Dedes yang juga keturunan Mpu Purwa.

Foto dan tulisan: Arum Mangkudisastro Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 29 Maret 2020

Segelas Kopi dan Alunan "La Valse d'Amélie"

Injak gas, motor hidup sebentar lalu mati, injak lagi hidup sebentar mati lagi. Setelah beberapa kali dan tahan gas motor barulah motor bisa hidup. Lagi-lagi begini nih motor yang diseting hemat keparat, dibanyakin anginnya kurangi bensinnya akhirnya motor lebih sering kentut.
Kali ini aku tetap ingin menjadi yang membonceng saja, apalagi kalau bukan karena helm pinjaman punya aroma yang tidak mengenakkan.. maaf ya saya terlalu jujur untuk ini. Kalau rambutku gondrong mungkin cuma bau di rambut tinggal disampo habis perkara, tapi karena kepalaku botak bisa-bisa terpaksa cuci pake sabu deterjen untuk kasih hilang baunya hahahaha. 
Golongan darah B memang dikaruniai lebih tahan makan daging, tapi mungkin itu pula pemilik darah B kadang agak emosional. Tidak heran kalau begitu motor hidup Kadek maunya lari saja. Agak malas mendebat kali ini, aku biarkan saja dia sama kelakuannya. Untungnya kita segolongan walaupun beda tampang. Kadek tampan, kalo aku? parah hahahahaha....... (parah pangkal pandai)
Rencana hari ini mengunjungi pohon rindang satu biji di tengah padang lapang sabana di jalur jalan Mbay-Ende. Bukan mau bakar kemenyan buat minta rejeki tapi mau moto, apa lagi. Pohon itu lumayan bertuah, terbukti cukup banyak menyelamatkan orang dari panasnya Mbay seperti sekarang ini.
Sayangnya kondisi perbukitan lagi aneh, banyak rumput kering berwarna kuning pucat tapi sebagian masih nongol warna hijau. Asli, sebenarnya aku maunya cuma rumput berwarna kuning pucat seperti minggu kemarin, rasanya rumput-rumput hijau ini malah menggangu saja.Tak apa lah, masih ada kesempatan berikutnya. Rumput di sabana ini luar biasa, biar dikeringin sampai hitam, tapi begitu ada hujan dengan ajaib bakalan hijau kembali.Pasti gara-gara hujan kemarin.


Roda motor "Megapro" menggilas batuan yang berserakan di beberapa ruas jalur Aeramo. Ini berasal dari tumpukan batu-batu dan pasir yang banyak ditimbun di pinggir sepanjang jalan. Jalur jalan yang diapit kiri kanan dengan kawasan persawahan terluas di Nusa Tenggara Timur ini rupanya sedang direhabilitasi untuk pelebaran jalan. Suasana persawahan yang sebagian besar masih menghijau ini tampak asri, tampak rumah-rumah dibangun tidak di pinggir jalan tapi agak menjorok ke dalam. Jalan kecil menuju rumah berdiri berjajar pohon kelapa kiri-kanan selang seling.  Tempat menarik yang sepertinya sudah kumasukkan dalam memori untuk nanti aku jelajahi. selain areal persawahan yang asri, Kadek yang menjadi tulang ojek kali ini menunjukkan tempat-tempat lapang yang ditumbuhi pohon-pohon asam yang rindang, dia terkesan tempat ini untuk menjadi tempat foto prewedding atau model. 
Setengah jam berikutnya aku sudah sampai di pinggir pantai Marapokot. Bingung mau kemana, akhirnya motor aku arahkan masuk kembali ke daerah pantai melewati kawasan perkampungan nelayan sebelah dermaga TPI Marapokot. Di perjalanan aku bertemu dengan orang-orang yang mondar-mandir di suatu jalan. Berbincang-bincang dengan orang tua yang sedang bertelanjang dada dan membawa handuk berjalan ke timur aku mendapatkan informasi bahwa di pinggir pantai ini terdapat sumber air panas. Dan orang tua ini mau ke sumber air panas untuk mandi.
Tertarik untuk tahu seperti apa sumber air panas disini aku mengikuti bapak tua itu. Sekitar 200 meter setelah melewati sebuah muara kecil akhirnya aku sampai disebuah kubangan air dikelilingi pohon bakau. Bau lumpur dan belerang langsung menyergap hidung. Sayang sekali sumber air panas di sini berada di rawa lumpur tidak seperti di Pantai Hading di Flores Timur yang ada di pasir sehingga warnanya bening dan tidak berbau lumpur.
Walaupun airnya berbau lumpur tapi kalau sore atau pagi hari rupanya tempat ini ramai orang yang datang untuk mandi, sepertinya mereka tidak terganggu dengan aroma lumpur campur belerang ini. Beberapa orang sempat menanyakan kalau aku hendak mandi, tapi aku mengeleng dan menolak halus. Sempat aku mencelupkan tanganku untuk memastikan bahwa air disini panas. Wah, aku lupa khasiat air panas disini, siapa tahu bisa untuk pengganti luluran lumpur hehehe.
Dari pantai Marapokot, aku dan Kadek langsung mau pulang tapi ternyata tertahan karena beberapa kali mata Kadek terkena serangga-serangga yang biasanya beterbangan menjelang malam. Aku lupa kalau daerah ini daerah persawahan yang tentu saja bukan waktu baik untuk berjalan senja menjelang malam begini. Aku masih lumayan, setidaknya serangga tidak mungkin langsung mengenai mataku karena aku berkaca mata (kadang berkaca mata harus disyukuri juga).
Akhirnya Kadek membelokkan motor ke arah pelabuhan Marapokot sesuai arahanku. Pemilik warung seorang bapak tua berambut putih yang ditutupi peci menyapaku dengan ramah menawarkan minuman. Ini kali kedua aku mengunjungi warung ini, jika kemarin aku mendapatkan ubi goreng yang enak, kali ini di atas meja yang terhidang adalah mangga. Nagekeo memang lagi musim mangga, saking banyaknya mangga bahkan minta satu mangga bisa dapat satu tas besar mangga, manis-manis pula lagi. Jadi acara kali ini no mangga
Tak lama kemudian secangkir kopi jahe panas mampir ke meja dan semangkuk mie rebus. Kadek tidak makan mie waktu aku tawari, kemungkinan dia takut rambutnya yang sudah seperti sarang burung akan tumbuh seperti mie goreng kalau terlalu banyak makan mie. Seandainya alasannya itu tentu aku memaklumi walaupun agak tidak masuk akal. (lagi berpikir bikin penelitian hubungan rambut keriting dan mie instan)
Beberapa orang tertarik dengan gaya penampilan aku yang mirip wartawan "Comberan", hanya karena melihat rompi dan tentengan kamera yang seperti orang mau transmigrasi. Walaupun setengah ngotot akhirnya mereka percaya kalau aku bukan wartawan. Akhirnya acara di warung menjadi ramai setelah mereka ingin mencoba kamera DSLR yang aku punya. Ramai karena aku pastikan hasil fotonya gagal semua karena kamera aku masih set manual semua yang tentu saja tidak bisa dibuat moto begitu saja layaknya kamera poket (pelajaran hari ini: ternyata kamera poket lebih enak dan gampang). Sepertinya setelah ini mereka bakalan berpikir bahwa orang yang menggunakan kamera DSLR kurang kerjaan dan cuma buat menghabiskan uang saja. Seorang lagi yang kebetulan sering menyopiri mobil rental untuk mengantar tamu-tamu berwisata di Flores juga menambah suasana makin ramai. Ada satu cerita lokasi yang tampaknya membuat Kadek tertarik untuk melihatnya. Lewat senja baru aku dan Kadek kembali ke hotel.


Besoknya acara hunting foto kembali di mulai, apalagi setelah seorang teman dari NPC yang merupakan musisi handal Eddy Kribo eh bukan Eddy Due Woi protes gara-gara ke hotel tidak menemukan kami. Tentu saja tidak ketemu, kita sedang bahagia terdampar di Marapokot.
Kembali ke tempat yang sama di sabana Mbay, kali ini kita mencoba naik lebih tinggi. Di jam tanganku ketinggian tempat ini menunjuk ke angka 220 meter. 


Ternyata dari tempat ini saat ini adalah spot terbaik untuk menikmati perbukitan Mbay, perbukitan tampak bertumpuk-tumpuk dengan dibatasi warna kabut yang turun menjelang malam. Sayangnya matahari lebih dulu menghilang sebelum sampai ke tempat ini, spot terbaik namun belum menjadi momen senja terbaik.


Di balik punggungku ternyata bulan pucat sedang menggantung tertutup awan tipis putih. Aku baru menyadarinya benar-benar setelah mengemasi peralatan dan berbalik untuk mencari Kadek dan Eddy yang sudah menghilang entah kemana. Beberapa saat dua pertunjukan senja berlatar tumpukan perbukitan yang dipenuhi kabut-kabut tipis dan purnama yang muncul dari balik awan membuat kita duduk terpesona dengan suasana ini.
Otak cerdas dari rambut mirip mie dengan sigap memutarkan sebuah musik orkestra lembut yang menggambarkan suasana perjalanan hati yang sendiri.   "La Valse d'Amélie" seolah melontarkan imajinasi masing-masing menikmati spot terbaik di sabana ini. Semua yang direncanakan menjadi tidak terencana. Seolah-olah kita disini karena dilontarkan waktu untuk menikmati rumput-rumput berwarna putih kekuningan yang makin memucat disinari cahaya bulan purnama yang juga pucat. Nyamuk-nyamuk sukses berpesta menggigiti kaki dengan antusias tapi tidak berhasil menarik kita untuk pulang. Rasa gatal di kaki terlalu kecil dibanding  menikmati alunan langsung  "La Valse d'Amélie" dari sabana ini. Awan kelabu dan awan terang bergantian datang, kadang diam kadang bergerak cepat.
Ternyata lewat jam 9 malam barulah kita sadar kalau kita lapar, bahkan kita lupa ancaman pulang dengan tahi-tahi kerbau yang tampak sore hari, entahlah apakah kita akan sukses melewatinya saat malam begini. Orkestra "La Valse d'Amélie" terus mengalun mengiringi langkah-langkah kaki yang hati-hati melangkah menyusuri sabana yang diterangi bulan purnama. Ada jiwa yang sama yang mendendangkannya, begitu halus namun terasakan, seperti jarum yang begitu halus pelan menghujam. 


Mbay, 11 November 2011 (saat orang-orang demen pada nikah dan orok-orok pada dipaksa lahir lewat caesar, sungguh kasihan)
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 09 Maret 2020

Seplawan yang Menawan



Semut di seberang lautan kelihatan sedangkan gajah dipelupuk mata tak nampak. Begitu penggambaran diriku yang seringnya menulis kampung orang, sampai kampung sendiri terlupakan. Kebetulan tahun 2020 ini ditetapkan oleh Bupati Purworejo sebagai Tahun Kunjungan Wisata atau lebih dikenal dengan "Visit Purworejo Year 2020". Aku memilih menulis tentang Goa Seplawan yang dari dulu sering diceritakan Bapakku tercinta.


Tiga kali mencoba ke Goa Seplawan. Pertama kali ketika aku masih sekolah menengah pertama dengan naik sepeda.Aku bersama tiga kakak dan bapakku. Perjalanan dari rumah menjelang siang, baru setengah perjalanan hari sudah menginjak sore. Kami pun batal melanjutkan ke goa dan kembali ke rumah. 

Kedua kali dengan adik dan keponakanku mengendarai motor. Kami bertiga naik satu motor, keponakanku waktu itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar jadi muat boncengan bertiga. Jalan yang curam membuat motor yang kami kendarai tidak kuat menanjak. Kami batal lagi ke goa seplawan.

Ketiga kalinya aku bersama kakak dan dua keponakanku mengendarai motor. Medan perjalanan yang naik turun, menanjak curam disarankan memakai motor kopling bukan matic. Dan bila berkendara dengan mobil pastikan ahli dan terampil. Mengapa aku bilang begitu? Well, sepanjang perjalanan aku lihat kerumunan orang dan anggota kepolisian karena kecelakaan yang menyebabkan satu truk terguling, satu mobil tergelincir dan dua motor jatuh. Meskipun di kanan kiri jalan dipasang papan peringatan untuk hati-hati berkendara.

Akhirnya aku sampai di Goa Seplawan. Sepasang patung besar perwujudan Dewa Siwa dan istrinya Dewi Parwati berwarna kuning emas berdiri dipinggir jalan setapak menuju goa. Patung ini sebagai maskot goa. Patung yang sama juga ada di bundaran taman goa Seplawan.

Ada dua tangga untuk memasuki goa.Tangga itu terbuat dari besi yang melingkar. Aku memilih tangga pertama sebagai pintu masuk dan keluar lewat tangga kedua. Begitu aku masuk mulut goa, tetesan air dari atas bebatuan staglatit menyentuh wajahku. Setelah melewati lorong yang gelap akhirnya disisi kiriku ada penerangan lampu. Di tempat itu dulu ditemukan Golek Kencono, sepasang arca emas berbentuk Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Konon bau harum semerbak ketika dua arca emas itu diangkat. Dewa Siwa dan Dewi Parwati dianggap sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Aku pernah melihat dua arca emas itu di Museum Nasional Jakarta.

Aku melanjutkan ke lorong lain goa. Goa ini terbagi dua. Ruang Pertama tempat ditemukan arca, Ruang Kedua di bagian belakang. Ruang pertama dan kedua dipisahkan dengan tangga kecil menuju atas. Untuk naik pengunjung melewati kolam genangan air yang berasal dari bebatuan staglatit. Beberapa pasang sepatu dan sandal pengunjung diletakkan dipinggir kolam. Mereka melepas sepatu dan sandalnya untuk menuju ruang kedua. Ruang kedua ini lebih luas. Seperti layaknya ruang pertemuan. Di ruangan yang luas ini sempat menjadi lokasi shooting program televisi Mister Tukul Jalan-jalan. Dari penelusuran Flashback Retrocognition-nya tim mereka, Goa Seplawan ini masuk dalam Kerajaan Galuh Wati/Galuh Purba.

Selepas dari goa hawa kantuk menyerang. Apakah karena aku lelah dari perjalanan ke Blitar, Malang dan Yogya? Atau mungkin hawa kantuk ini akibat aku kekurangan oksigen juga karena musim hujan kondisi goa dingin dan lembab yang membuatku ingin segera berendam di kasur hehehe.

Hampir lupa mengunjungi gardu pandangnya. Di dekat taman goa dibangun gardu pandang. Ternyata lokasi Goa Seplawan ada di perbukitan Menoreh yang berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo. Dari sini tampak laut Selatan jawa, hutan bukit yang menghijau, dan kota Purworejo dikejauhan. View-nya keren banget! Para leluhur tepat sekali memilih tempat ini yang berada di ketinggian untuk semedi bermeditasi guna mendekatkan diri pada Illahi. 



Goa Seplawan berlokasi di Katerban Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Goa Seplawan dikaitkan dengan "Parahiyangan" (alam tinggi para dewa) yang disebutkan dalam Prasasti Kayu Ara Hiwang yang ditemukan di Desa Boro Wetan di tepi Sungai Bogowonto ( Prasasti Kayu Ara Hiwang sekarang berada di Museum Nasional Jakarta). Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Maharaja Medang/Mataram kuno yang bernama Dyah Balitung Rakai Watukuro melalui pejabatnya yang ditunjuk.

Dalam Prasasti tersebut diungkapkan telah diadakan upacara besar pada Bulan Asuji Tahun Saka 823, Hari ke-5, Paro Peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva (tanggal 5 Oktober 901 M). Pematokan tanah perdikan/Sima atau tanah yang dibebaskan dari pajak karena daerah tersebut ada bangunan suci tempat "Parahiyangan".

Foto dan tulisan : Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya