Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Senin, 09 Maret 2020

Seplawan yang Menawan



Semut di seberang lautan kelihatan sedangkan gajah dipelupuk mata tak nampak. Begitu penggambaran diriku yang seringnya menulis kampung orang, sampai kampung sendiri terlupakan. Kebetulan tahun 2020 ini ditetapkan oleh Bupati Purworejo sebagai Tahun Kunjungan Wisata atau lebih dikenal dengan "Visit Purworejo Year 2020". Aku memilih menulis tentang Goa Seplawan yang dari dulu sering diceritakan Bapakku tercinta.


Tiga kali mencoba ke Goa Seplawan. Pertama kali ketika aku masih sekolah menengah pertama dengan naik sepeda.Aku bersama tiga kakak dan bapakku. Perjalanan dari rumah menjelang siang, baru setengah perjalanan hari sudah menginjak sore. Kami pun batal melanjutkan ke goa dan kembali ke rumah. 

Kedua kali dengan adik dan keponakanku mengendarai motor. Kami bertiga naik satu motor, keponakanku waktu itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar jadi muat boncengan bertiga. Jalan yang curam membuat motor yang kami kendarai tidak kuat menanjak. Kami batal lagi ke goa seplawan.

Ketiga kalinya aku bersama kakak dan dua keponakanku mengendarai motor. Medan perjalanan yang naik turun, menanjak curam disarankan memakai motor kopling bukan matic. Dan bila berkendara dengan mobil pastikan ahli dan terampil. Mengapa aku bilang begitu? Well, sepanjang perjalanan aku lihat kerumunan orang dan anggota kepolisian karena kecelakaan yang menyebabkan satu truk terguling, satu mobil tergelincir dan dua motor jatuh. Meskipun di kanan kiri jalan dipasang papan peringatan untuk hati-hati berkendara.

Akhirnya aku sampai di Goa Seplawan. Sepasang patung besar perwujudan Dewa Siwa dan istrinya Dewi Parwati berwarna kuning emas berdiri dipinggir jalan setapak menuju goa. Patung ini sebagai maskot goa. Patung yang sama juga ada di bundaran taman goa Seplawan.

Ada dua tangga untuk memasuki goa.Tangga itu terbuat dari besi yang melingkar. Aku memilih tangga pertama sebagai pintu masuk dan keluar lewat tangga kedua. Begitu aku masuk mulut goa, tetesan air dari atas bebatuan staglatit menyentuh wajahku. Setelah melewati lorong yang gelap akhirnya disisi kiriku ada penerangan lampu. Di tempat itu dulu ditemukan Golek Kencono, sepasang arca emas berbentuk Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Konon bau harum semerbak ketika dua arca emas itu diangkat. Dewa Siwa dan Dewi Parwati dianggap sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Aku pernah melihat dua arca emas itu di Museum Nasional Jakarta.

Aku melanjutkan ke lorong lain goa. Goa ini terbagi dua. Ruang Pertama tempat ditemukan arca, Ruang Kedua di bagian belakang. Ruang pertama dan kedua dipisahkan dengan tangga kecil menuju atas. Untuk naik pengunjung melewati kolam genangan air yang berasal dari bebatuan staglatit. Beberapa pasang sepatu dan sandal pengunjung diletakkan dipinggir kolam. Mereka melepas sepatu dan sandalnya untuk menuju ruang kedua. Ruang kedua ini lebih luas. Seperti layaknya ruang pertemuan. Di ruangan yang luas ini sempat menjadi lokasi shooting program televisi Mister Tukul Jalan-jalan. Dari penelusuran Flashback Retrocognition-nya tim mereka, Goa Seplawan ini masuk dalam Kerajaan Galuh Wati/Galuh Purba.

Selepas dari goa hawa kantuk menyerang. Apakah karena aku lelah dari perjalanan ke Blitar, Malang dan Yogya? Atau mungkin hawa kantuk ini akibat aku kekurangan oksigen juga karena musim hujan kondisi goa dingin dan lembab yang membuatku ingin segera berendam di kasur hehehe.

Hampir lupa mengunjungi gardu pandangnya. Di dekat taman goa dibangun gardu pandang. Ternyata lokasi Goa Seplawan ada di perbukitan Menoreh yang berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo. Dari sini tampak laut Selatan jawa, hutan bukit yang menghijau, dan kota Purworejo dikejauhan. View-nya keren banget! Para leluhur tepat sekali memilih tempat ini yang berada di ketinggian untuk semedi bermeditasi guna mendekatkan diri pada Illahi. 



Goa Seplawan berlokasi di Katerban Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Goa Seplawan dikaitkan dengan "Parahiyangan" (alam tinggi para dewa) yang disebutkan dalam Prasasti Kayu Ara Hiwang yang ditemukan di Desa Boro Wetan di tepi Sungai Bogowonto ( Prasasti Kayu Ara Hiwang sekarang berada di Museum Nasional Jakarta). Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Maharaja Medang/Mataram kuno yang bernama Dyah Balitung Rakai Watukuro melalui pejabatnya yang ditunjuk.

Dalam Prasasti tersebut diungkapkan telah diadakan upacara besar pada Bulan Asuji Tahun Saka 823, Hari ke-5, Paro Peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva (tanggal 5 Oktober 901 M). Pematokan tanah perdikan/Sima atau tanah yang dibebaskan dari pajak karena daerah tersebut ada bangunan suci tempat "Parahiyangan".

Foto dan tulisan : Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 17 Desember 2019

Piknik Tipis-tipis Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor
"Eh itu Eri!" sambil tanganku menunjukkan kepada kakakku yang berjalan keluar stasiun. Aku baru saja tiba di Stasiun Bogor setelah naik kereta commuter line yang menempuh waktu perjalanan kurang lebih sejam dari Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Stasiun Bogor sebagai meeting point kami sebelum beranjak ke Kebun Raya Bogor. Demi mempersingkat waktu kami tidak naik angkutan umum karena jalannya hanya satu arah. Daripada kendaraannya memutar lebih jauh lebih baik kami berjalan kaki ke Kebun Raya Bogor.
Berawal dari iklan promo epic sale dari sebuah online travel agent dan juga provokasi temanku, akhirnya tergoda mengambil promo diskon hotel di Bogor.


Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor
Aku dapat promo hotel di daerah Jl. Pajajaran. Kebetulan daerah tersebut dikenal sebagai pusat kuliner. Dari situlah aku berpikir untuk piknik ke kebun raya. Aku memang sengaja memilih Bogor yang tidak jauh dari Jakarta untuk berpiknik akhir pekan di samping murah meriah pastinya. Hemat beib!



Kebun Raya Bogor
Gedung megah dengan relief Ganesha dan patung singa di kanan-kiri pintu masuk sebagai tempat aku membeli tiket seharga Rp.15.000. Dari situ aku berjalan belok kanan, lanjut belok kiri terus lurus. Sampai di pertigaan jalan, bila kita terus lurus akan ada Bunga Bangkai, Amorphophilus Titanium, maskot Kebun Raya Bogor. Tidak jauh dari Bunga Bangkai juga ada makam Keramat seorang permaisuri Kerajaan Pajajaran, Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi. Disebrang makam ada Jembatan Merah yang bernuansa mistis. Konon kalau ada sepasang kekasih melewati jembatan itu, hubungan mereka akan putus.

Kebun Raya BogorDari pertigaan aku memilih belok kanan melewati jembatan warna putih yang menuju taman yang luas. Tidak jauh dari Kafe yang berdiri ditengah-tengah kebun. Di bawah pohon rindang, samping kolam tempat yang tepat untuk aku menggelar kain sebagai alas duduk. Aku membawa bekal cemilan krupuk kulit, kuaci bunga matahari, tahu baso, kopi-coklat sachet, termos air panas, gelas, sendok garpu, nasi berikut makanan terenak di dunia, Rendang buatanku hehehe.


Ternyata berjalan kaki dari stasiun sampai dalam taman kebun raya cukup menguras energi. Kebetulan juga sudah masuk jam makan siang. Segera aku buka bekal makanan tadi. Menyantap makananku sambil memperhatikan sekelilingku. Di sisi kiriku spot kemah dome dipenuhi orang-orang berkaos merah biru yang sedang ada acara company gathering.

Semilir angin diantara dedaunan seperti kipas angin alami membuatku sedikit mengantuk. Mungkin juga efek kekenyangan ;) Biar mata melek segera kuseduh serbuk minuman coklat hangat. Aroma coklat yang semerbak sungguh menyegarkan. 

Kebun Raya Bogor Di samping kanan, tempat aku duduk, berdiri kokoh sebuah tugu. Tugu prasasti peringatan dua abad atau 200 tahun berdirinya Kebun Raya Bogor, Bicentenary Monument of Bogor Botanic Garden ( 18 Mei 1817 - 18 Mei 2017). Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 18 Mei 2017. Tugu tersebut berbentuk Rafflesia Padma sebagai logo dua abad yang diciptakan oleh Taja Sukarya.

Aku beranjak ke lokasi lain, danau kolam gunting yang terkenal dengan view belakang Istana Bogor. Bila dari pintu masuk kita berjalan belok ke kiri, belok ke kanan, dan lurus. Di kanan jalan terdapat monumen untuk mengenang Olivia Raffles, isteri dari Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles tahun 1814, saat Indonesia dalam peralihan kolonial Inggris dan Belanda.

Sebuah bingkai kayu membentuk gerbang dengan tulisan "Kebun Raya Bogor" menarik pandangan mataku. Sebuah dermaga kayu telah dibangun untuk spot foto kekinian dengan latar belakang kolam gunting. Jalan setapak dibentuk dari batuan kecil yang disusun sedemikian rupa berfungsi sebagai terapi telapak kaki. Hhhmm Kebun raya sudah banyak yang berubah. Terakhir aku kesini tahun 2009. Berarti sepuluh tahun yang lalu.


Kebun Raya Bogor
Aku terus berjalan menuju Danau kolam gunting dengan view belakang Istana Kepresidenan. Beberapa remaja sibuk berpose dengan kamera ponselnya. Ini memang spot favorit pengunjung. Di perbatasan antara gerbang belakang istana dan Kebun Raya dibangun tugu monumen kecil relief wajah Reinwardt untuk mengenang Prof. Casper George Carl Reinwardt yang turut berjasa membangun Kebun Raya Bogor.

Tampak seorang tentara sedang berjaga. Duduk sambil memperhatikan layar telepon selulernya. Beberapa kemah tentara didirikan dekat kolam. Sejak Istana Bogor ditempati presiden, Kebun Raya Bogor masuk dalam ring satu penjagaan. Oh ya aku datang tinggal 19 Oktober 2019, sehari sebelum pelantikkannya Presiden terpilih.

Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor merupakan Kebun botani besar yang terletak di kota Bogor. Berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No.13, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat. Luasnya mencapai 87 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan. Saat ini dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Prasasti Batu Tulis Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari Samida (hutan buatan/Taman buatan) yang telah ada sejak Pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi (1474-1513). Hutan buatan ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan dan sebagai tempat memelihara benih kayu yang langka. Samida serupa juga dibuat di perbatasan Cianjur - Bogor, yang disebut Hutan Ciung Wanara. Hutan ini tidak terawat setelah Kerajaan Sunda takluk kepada Kesultanan Banten.

 
Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip Van Der Capellen kemudian membangun rumah peristirahatan di salah satu sudut hutan Samida dan mulai meresmikan kebun botani pada 18 Mei 1817 dengan bantuan Prof. Caspar George Carl Reinwardt.  Pada masa peralihan kolonial Inggris- Belanda, Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles dari Inggris pernah mendiami istana dan merubah halaman tamannya menjadi seperti taman bergaya Inggris klasik.

Foto dan tulisan: Arum Mangkudisastro


http://befreetour.com/id?reff=X3KRF Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 31 Oktober 2019

Berburu Bunga Konji (Sakura Sumba)

Sumba memang menawarkan berjuta pesona wisata yang sedang digandrungi banyak orang. Alam nan elok dan budayanya yang masih kental menciptakan perpaduan magis untuk dikunjungi. Lupakan padang-padang berumputnya yang seakan membawamu kembali ke dunia para, atau pantai-pantainya yang selalu menawarkan sensasi pasir putih. Mari kita menengok dunia kecil yang ternyata juga sedang mulai digandrungi wisatawan karena dianggap unik, yaitu: Pohon Konji.



Pohon Konji, orang yang akrab dengannya menyebutnya dengan nama Sakura Sumba. Disebut begitu, karena saat puncak musim berbunga yang biasanya jatuh di bulan Oktober-Desember seluruh batang pohonnya bisa dipenuhi dengan bunga. Saat itu serasa pohon ini seolah tinggal pohon dengan bunga saja. Sangat cantik. Bunganya juga punya wangi seperti melati namun jauh lebih lembut.

Tidak hanya menyebut sebagai Sakura Sumba, pohon Konji ini bahkan dianggap sama dengan pohon Sakura yang ada di Jepang. Bahkan diklaim, ada orang yang pernah tinggal di Jepang dan tahu bunga Sakura jika harumnya bunga Sakura dan bunga Konji sama. Bahkan konon katanya ikut meramaikan keindahan bunga Konji ini. Seorang pejabat di pemerintahan salah satu kabupaten di Sumba membuat cerita yang berasal entah dari mana. "Konon, Tentara Jepang menyebarkan biji sakura di pesisir pantai utara, jalur yang mereka lewati ketika memasuki Pulau Sumba". 

Apakah hal itu benar? Walaupun cerita ini kadang dibenarkan beberapa orang yang ditanya tentang asal usul bunga ini namun jawabannya tentu saja tidak. Secara ilmiah, nama latin bunga Sakura adalah Prunus Serrulataini, masuk dalam keluarga Rosaceae dengan genus Prunus. Bandingkan dengan bunga Konji yang akrab disebut sebagai sakura Sumba memiliki nama latin Cassia Javanica,  masuk dalam keluarga Fabaceae dengan genus Cassia.


Lucunya saat aku mencoba bertanya kepada masyarakat yang tanahnya ada pohon ini, justru berkata jika dirinya tidak tahu nama pohon itu. Waktu aku tanya bagaimana cara menanamnya, dia bilang pohon itu tidak bisa ditanam. Kalau ditanam terus saja mati, justru yang tidak ditanam malah hidup subur. Nah lho! 

Apakah pohon ini hanya secara spesifik di Sumba? Tentu saja tidak. Tumbuhan ini telah banyak dikenal di dunia dengan berbagai nama. Pohon Konji juga dikenal dengan nama pink shower, apple blossom tree and rainbow shower tree. Di Jawa tanaman ini dikenal dengan nama Trengguli Wanggang atau Bebondelan oleh masyarakat Sunda.

Tumbuhan ini asal usulnya dari Asia Tenggara, namun sebab bunganya yang cantik kini lalu pohon ini dikembangkan dan ditanam secara meluas di berbagai wilayah tropis. Pohon-pohon ini cukup populer sebagai tanaman hias dan pohon peneduh di negara-negara tropis Amerika Tengah dan Amerika Latin. Pohon ini ditemukan hidup secara alami mulai dari India, Burma, Indocina, Cina selatan, Thailand, dan seluruh wilayah biogeografi Malesia. Variasi anak-anak jenisnya ditemukan hanya di wilayah Malesia tersebut. Bahkan pohon ini bunganya menjadi identitas provinsi Chainat di Thailand. Ironisnya justru pohon ini sekarang sudah jarang ditemukan di Indonesia.

Ciri-ciri
Pohon Konji, Cassia Javanica, Tengguli Wanggang, Bebondelan dan banyak nama lainnya ini pohonnya tidak terlalu besar dengan tinggi antara 3-20 meter. Batang dan cabang tanaman muda kadang-kadang dengan banyak duri bekas cabang. Tanaman ini bertahan hidup dengan menggugurkan daunnya, utama pada musim kemarau.

Daun-daun majemuk menyirip genap, demgan anak daun 5-15 pasang, bundar telur, jorong atau lonjong, pangkal membundar lebar, berujung runcing, tumpul, atau membundar. Perbungaan berupa tandan atau malai, terminal (di ujung ranting) atau lateral (di sisi), hingga 16 cm panjangnya, berbunga banyak.

Bunga dengan kelopak yang berbagi. Daun mahkota berukuran 2,5-3,5 cm panjangnya, merah pucat hingga merah tua. Tiga tangkai sari yang terbawah berbentuk S, di atas belokan menggembung berbentuk gelendong yang tebal. Buah polong menggantung, bulat torak, ukuran 20-60 cm dengan ketebalan 1-1,5 cm, hitam dan tidak memecah ketika tua, dalamnya terbagi oleh sekat-sekat melintang dijadikan ruang-ruang berbiji, sekat serupa gabus.

Manfaat
Pohon Konji, Cassia Javanica, Tengguli Wanggang, Bebondelan banyak ditanam karena kegunaannya dalam pengobatan, selain karena bunganya yang indah. Buah dan biji yang sudah matang digunakan sebagai pencahar tradisional (laksativa). Kulit dan biji digunakan sebagai antipiretik dalam pengobatan demam. Hati-hati dalam penggunaannya karena dapat menyebabkan emesis.

Air rebusan akarnya digunakan untuk membersihkan luka dan bisul. Pepagannya digunakan di Jawa dan India untuk mengatasi penyakit kulit, sementara daun-daunnya di Filipina dipakai untuk menyembuhkan sakit kulit akibat jamur. Di India, akarnya dipakai untuk mengobati demam. Pohon ini juga dimanfaatkan di Panama untuk mengobati kencing manis.

Dalam pengobatan modern, daging buahnya yang kehitam-hitaman kadang kala dipakai sebagai laksativa menengah. Simplisia (bahan obat dasar) dari buah tengguli ini dikenal sebagai Fistulae Fructus (Buah Trengguli), dan setidaknya pada masa lalu, dimasukkan sebagai salah satu simplisia yang wajib tersedia di apotik. Daging buah ini terutama mengandung hidroksimetil antrakinon, yang berkhasiat sebagai pencahar; dan juga gula, pektin, lendir, minyak atsiri yang berbau seperti madu.

Gelam (kulit batang) pohon ini juga menghasilkan zat penyamak (tanin), yang dalam penggunaannya di perusahaan penyamakan kulit biasanya dicampur dengan gelam pilang (Acacia leucophloea). Tanin dan bahan-bahan lain dari gelam dapat membentuk asam, sehingga dapat menyamak dengan cepat. Hasilnya adalah kulit dengan mutu yang baik berwarna kuning muda; sebagai bahan pembuatan sepatu, atau pakaian kuda.

 
Penutup
Ada pula upaya pemerintah untuk mengembangkan tanaman ini untuk tujuan wisata. "Ada ratusan anakan pohon sakura yang sedang kami perbanyak melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk siap dikembangkan secara besar-besaran mulai tahun 2019 ini," kata Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora kepada Antara.

Aku sepakat, padang-padang sabana di Sumba akan sangat cantik apabila bisa ditanami pohon Konji ini. Mungkin suatu saat, orang-orang akan berbondong-bondong datang ke Sumba pas jatuh musim kemarau saat bunga Konji mekar.

Sumber penulisan:
http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Cassia+javanica
https://dody94.wordpress.com/2017/11/17/jenis-jenis-pohon-terbaik-untuk-peneduh-jalan/2/
http://pohon-kayu.dy.web.id/id1/1377-1267/Trengguli-Wanggang_104580_pohon-kayu-dy.html
https://www.antaranews.com/berita/784079/sumba-timur-siap-kembangkan-wisata-bunga-sakura
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 10 Oktober 2019

Menangkap Matahari Senja di Wairinding

Lapisan demi lapisan perbukitan yang tampak seperti kue lapis yang terpanggang kuning matahari. Pemandangan senja yang mengurai ribuan cerita bagi penikmatnya: lapis demi lapis. Tak peduli tarian langit saat gelap atau terang, keindahan senja di tempat ini seperti tidak berkurang. Romantisme tempat ini telah terekam dalam ratusan foto dan video yang dipajang di media sosial. Memancing orang yang melihatnya, menyukainya, dan menjadi keinginan untuk ikut menjadi "aku juga pernah".


Media sosial adalah racun yang jauh lebih dahsyat. Foto instagram seorang perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai berkain etnik dengan rambut terurai terbang tertiup angin berdiri di atas sebuah padang tandus dengan langit lembayung dan lapisan-lapisan perbukitan di latarnya. Buumm... ribuan like langsung membanjiri fotonya. Tak lama kemudian, Wairinding menjadi lokasi impian yang masuk dalam 'wishlist' daftar wajib untuk dikunjungi. Bahkan, beberapa orang telah menjadikan Wairinding tujuan eksotik untuk merayakan mimpi bersama kekasih di bawah rindu merah matahari terbenam. Mereka menyebutnya foto pre-wedding.

Faktanya potensi Wairinding sendiri juga dimunculkan dari kehadiran film-film dengan menggunakan Sumba sebagai latarnya seperti "Marlina, Kisah Pembunuh Empat Babak"(2017), "Pendekar Tongkat Emas" (2014), "Susah Sinyal" (2017) yang berhasil menangkap eksotika keindahan perbukitan savana. Semua menjadi satu kesatuan untuk menyuarakan keindahan Sumba. Sebuah pulau yang pernah dengan gagahnya sebuah "Pulau Terindah di Dunia" (Sumba gehrt zu den 33 schnsten Inseln der Welt) yang disematkan oleh 'FOCUS' sebuah majalah bergengsi internasional dari Jerman.

Ada terbersit perasaan protes saat pengunjung yang datang Warinding hanya sekedar untuk mengabadikan dirinya dengan latar yang 'kekinian'itu. Keindahan Wairinding seolah hanyalah potret perbukitan dalam naungan senja sebagai latar belakang. Kata 'menikmati'senja seolah cukup kata yang dimunculkan dalam frame foto yang diunggah dalam IG atau facebook. Tidak punya arti, kecuali bagi penikmat senja dan para pejalan.

"Nikmati saja," kata temanku yang pandangan matanya tak lepas dari dua sosok wanita bercelana pendek menampakkan kaki putih panjang. Dulu sih katanya kalau mau cuci mata harus ke mall, bukan untuk belanja tapi melihat perempuan-perempuan cantik. "Ah iya, nikmati saja," dan aku kembali melihat ke layar kamera menunggu para wanita itu berdiri tempat di titik sebelum aku memencet rombol rana. Mencuri momen... jangan-jangan aku juga sama dengan para pemburu tempat indah itu. Sekedar memasukkan keindahan dalam sebuah "foto" dan tidak mempedulikan rasa dan nuansa-nya.

Lokasinya masuk desa Pambota Jara, kecamatan Pandawai. Wairinding mudah diakses karena berada di pinggir jalan besar Waingapu-Waikabubak, sekitar 30 km dari kota Waingapu ke arah Timur. Tempat ini masih dikelola sendiri oleh pemilik tanah. Tidak ada tarif berapa yang harus dibayar, hanya cukup menuliskan nama di buku tamu dan uang untuk sumbangan. Satu-satunya yang jelas adalah tarif parkir untuk mobil yaitu 10ribu. Dari parkir cukup naik beberapa meter ke atas dan pemandangan perbukitan yang indah langsung akan menyergap mata.


Tapi di atas itu semua, jangan lupakan satu: nikmati keindahan itu seutuhnya. Wairinding bukan sekedar sebuah padang sabana dengan lembayung senja dan kontur perbukitan berlapisnya. Wairinding adalah kehidupan bagi ternak-ternak dilepas-gembalakan. Pusat cerita bagi  kelincahan anak-anak Sumba di atas pelana. Tempat bertumbuh-tangguhnya masyarakat Sumba merangkul alam yang panas dan kering.

BTW, Wairinding ini pernah menjadi salah satu destinasi yang aku lewatkan saat perjalananku seminggu ke Sumba di cerita ini, ini dan ini. Kok bisa aku melewatkan tempat sekeren ini? Ya karena lokasinya yang mudah dijangkau jadi aku fikir bisa aku datangi lain waktu saat santai atau kalau ada kesempatan kunjungan singkat ke Waingapu. Dengan waktu seminggu kala itu, aku memang sengaja memilih untuk mendatangi lokasi-lokasi yang lebih jauh dan lebih susah dijangkau.

Temen jalan: Daniel ig: @danielkusdhana, Sugeng @sym_siyogamarsa
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 22 September 2019

Matahari Terbit di Puncak Kelimutu

Sunrise dari puncak KelimutuCahaya kekuningan tengah menghiasi langit timur, tapi matahari tak juga menunjukkan diri. Matahari dan kabut tipis di pagi ini seakan sedang bermain-main dengan harapan puluhan pasang yang sedang menanti detik-detik keajaiban pagi dari sang surya. Beberapa detik kemudian... momen itu terjadi. Sepotong cahaya bulat kuning muncul dari balik horison langit timur. Pendaran kuning cahaya matahari berpadu harmoni dengan warna biru hijau danau Kelimutu di depanku. Segelas kopi panas di tangan tertahan diseruput, sepasang bule saling mempererat genggaman tangan dengan senyum merekah, dan seorang jomblo yang duduk terdiam di atas tugu dengan sebotol air ditangannya. Tak lama kemudian kesunyian sesaat ini dipecahkan dengan bunyi klik.. klik.. kamera yang dijepretkan, pertunjukan sesaat telah selesai.


"Matahari pagi adalah keajaiban yang mengingatkan kita bahwa hari ini kita telah diberikan keberkahan satu hari lagi untuk menghirup segarnya udara dan kidung alam yang indah"


Segelas kopi instan panas diserahkan kepadaku oleh seorang bapak tua penjual minuman. Aku menarik kerah jaket lebih tinggi menghindari rasa dingin dari angin yang berhembus. Duduk sebentar setelah beberapa waktu berjongkok menghadap layar kamera di depan pagar untuk memotret, ada kelegaan setiap kali momen seperti ini. Sesuatu yang tak bosan kulakukan berulang kali dimanapun.

Cahaya kuning sesaat mulai berubah lebih terang, bayangan pepohonan yang menghitam sudah berubah menjadi hijau. Bambang dan Adhyt yang sebelumnya bareng aku sudah berjalan entah kemana. Masing-masing kita bercanda dengan benaknya sendiri. Aku sendiri masih sibuk berbagi dengan segelas kopi panas dan kabel shutter yang terhubung di kamera Fuji di atas tripod kecil.

Perjalanan Tengah Malam Buta
Jam setengah dua dini hari aku sudah membangunkan Adhyt dan Bambang, rencana untuk dapat menikmati matahari terbit di Kelimutu tidak boleh gagal. Mereka masih setengah mengantuk sebenarnya, maklum rombonganku baru sampai kemarin. Sekitar jam dua aku sudah meluncur dari Ende ke arah Timur menggunakan mobil mas Tommy. Pemilik hotel Satarmese ini asli baik banget, makanya kalau aku ke Ende selalu nginep di sana. Bukan promo lho, kalian bisa buktikan sendiri kalau kebetulan bermalam di Ende.

Jalan malam hari dari Ende ke Moni memang harus hati-hati karena kondisi jalannya berkelak-kelok menyusuri punggungan bukit. Sebelah kanan didominasi oleh jurang sementara sebagian besar jalan belum ada penerangan jalan yang memadai. Adhyt sendiri sudah njiper (baca: kecut) untuk menyetir dengan kondisi seperti itu di malam hari, plus ini baru pertama kalinya dia ke Kelimutu. Jadi perjanjiannya, untuk berangkat aku yang nyetir sedangkan pulangnya gantian Adhyt yang nyetir.

Dalam perjalanan dari Ende ke Kelimutu ini ada pemandangan unik yaitu di pasar Nduaria yang berada di sepanjang pinggir jalan. Malam itu pasar tentu tutup dan tidak ada yang menjual. Namun mereka membiarkan sayur-sayuran, buah-buahan dan barang-barang jualan lainnya di atas meja terbuka begitu saja. Kok tidak takut diambil orang? Hal itu menggambarkan bahwa di daerah ini masih sangat aman. Kalau di tempat lain, haduh jangan-jangan besok tinggal meja kosong.


Jam setengah empat pagi aku sudah sampai di Moni, tentu saja masih terlalu sepi. Tak lebih dari setengah jam kemudian aku sudah sampai di depan gerbang masuk Kelimutu. Angin terasa dingin menusuk tulang. Bambang yang lupa tidak membawa jaket tenang saja menggulung badannya dengan selimut yang dia bawa dari hotel.

Ternyata palang pintu masih terpasang dan tak ada petugas, di samping gerbang ada sebuah papan petunjuk yang menjelaskan jika jam buka Danau Kelimutu 05.00 - 17.00 WITA. Fix, kita harus nunggu setengah jam lebih. Untung di samping gerbang ada sabuah warung yang memang buka 24 jam. Dih kebayang kayak apa rasanya buka warung di tempat seperti ini. Lumayan sambil menunggu palang dibuka kami dapat menikmati minum kopi dan mie instan.

Sunrise di Puncak Kelimutu
Beberapa rombongan telah berangkat naik terlebih dahulu mendahuluiku, karena aku masih sholat Subuh dulu di salah satu ruangan kantor yang jagawana yang ada di area parkiran. Bulan Mei memang mulai memasuki musim dingin di Nusa Tenggara Timur, ditambah Kelimutu sendiri berada di ketinggian.

Dalam remang kegelapan kami berjalan masuk ke jalan setapak di dalam yang cukup lebat menuju ke puncak Kelimutu. Saat itu sedang bulan purnama, cahaya bulan yang menyinari balik pepohonan cemara cukup membantu terutama di area yang tidak ada penerangan.

Karena masih gelap, aku memutuskan untuk langsung menuju tugu yang merupakan titik pandang tertinggi untuk bisa melihat ketiga danau dengan leluasa sekaligus merupakan titik terbaik untuk melihat matahari terbit.


Dari pengalamanku selama ini memang yang lebih niat datang pagi-pagi buta untuk melihat matahari terbit biasanya para bule. Wisatawan lokal sering kali datang ke Kelimutu setelah terang. Namun kali ini aku melihat beberapa rombongan yang datang justru turis dari negeri China. Ada rombongan bis segala yang didominasi golongan tua. Ada juga beberapa muda-mudi yang memisahkan diri dari rombongan tua, entah mereka rombongan yang sama atau mereka datang sendiri.

Selain turis dari China, ada pemandangan unik lain saat itu. Danau Kelimutu yang berdiri sendiri yang disebut "Tiwu Ata Mbupu" tidak tampak airnya karena dipenuhi kabut di bagian dalamnya. Ini berbeda dengan kedua danau lainnya: "Tiwu Ata Polo" dan "Tiwu Koo Fai Nua Muri" yang letaknya berdekatan justru cerah tanpa kabut. Tulisan tentang cerita perjalananku ke Kelimutu sebelumnya sudah kutuliskan di sini.

Mampir di Air Terjun Murundao
Aku turun sekitar jam setengah tujuh kurang dan sempat mampir sebentar ke dua danau yang saling berdekatan "Tiwu Ata Polo" dan "Tiwu Koo Fai Nua Muri" yang saat itu berwarna biru tosca dan hijau. Tak lain untuk memenuhi permintaan Adhyt yang ingin melihat lebih dekat kedua danau. Di depan titik pandang yang telah dibangun pembatas itu telah ramai rombongan anak sekolah yang mungkin sedang ada acara Darma Wisata.

Karena hanya makan mie tadi pagi tentu saja kami kelaparan dan memutuskan mencari tempat makan di sekitar Moni. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan, nyaris tidak ada tempat makan yang sudah buka sepagi ini. Untunglah setelah menyusuri kawasan Moni akhirnya menemukan sebuah tempat makan yang letaknya dekat dengans sebuah air terjun. Namanya air terjun Murundao. Dari pinggir jalan ada jalan turun sekitar seratus meteran tangga menurun sudah akan melihat air terjun itu. Pemandangannya? Yah so-so gitulah. Lagian kalau ada pemandangan air terjun sebagus itu di pinggir jalan besar pasti sudah ramai dikunjungi orang dari dulu.


Tips-tips untuk yang ingin ke Danau Kelimutu:
  1. Patuhi larangan-larangan yang ada di kawasan Danau Kelimutu seperti dilarang membuang sampah, dilarang mengambil pohon-pohon yang dilindungi, dilarang berdiri di luar pagar (terutama yang ada di dekat dua danau berdekatan).
  2. Jika ingin melihat matahari terbit disarankan menginap di daerah Moni. Namun jika menginap di Ende, usahakan sudah berangkat sebelum jam 3 pagi karena jalur Ende-Kelimutu merupakan jalan Trans Flores yang seringkali dilewati truk-truk besar.
  3. Bawa senter, karena jalur perjalanan menuju puncak Kelimutu melewati hutan yang penerangannya kurang memadai. Mungkin sekarang bawa hape sudah bisa menggantikan senter, tapi lebih nyaman jika menggunakan senter tersendiri.
  4. Bawa pakaian hangat termasuk jaket karena Danau Kelimutu berada di ketinggian yang tentu saja udaranya dingin. Apalagi saat naik ke atas saat pagi buta tentu akan terasa lebih dingin. Akan lebih bagus jika memakai topi yang bisa menutup telinga, kaos tangan dan kaos kaki.
  5. Jika perjalanan bersama teman, pertimbangan waktu yang dibutuhkan untuk naik. Walaupun jalur perjalanan ke atas Kelimutu tidak terlalu sulit mungkin beberapa orang akan merasa kecapean terutama saat menaiki anak tangga menuju tugu tertinggi.
Teman perjalanan kali ini: Adhyt dan Bambang
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 12 September 2019

Singgah ke Sade

Gerbang masuk Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat

"Terimakasih atas kunjungannya!", ucap Pak Mesah usai mengantar kami keliling dusun. Aku bergegas menuju Bandar udara untuk kembali ke Jakarta.

Mengunjungi Lombok rasanya tidak lengkap bila tidak ke Dusun Sade. Sade adalah salah satu Dusun di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Berlokasi di pinggir jalan raya yang hanya berjarak 13 km atau sekitar 30 menit ke arah Bandar Udara Praya. Dusun ini masih mempertahankan Adat Suku Sasak. Mereka memegang teguh tradisi sejak pemerintahan Kerajaan Pejanggik di Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Diperkirakan dusun ini ada sejak tahun 1907, dihuni kurang lebih 150 kepala keluarga dan telah 15 generasi berlangsung.


Rumha Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat
Setelah mengisi buku tamu, kami diajak keliling dusun mengunjungi salah satu rumah penduduk. Bangunan rumah mirip dengan Joglo, rumah Adat Khas Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Rumah adat ini bernama Dalam Bale Tani.Rumah perpaduan bilik dinding bambu dan pintu dari kayu yang menyangga rumah. Pintunya terlihat pendek dan kecil. Menurut penuturannya, ketika kita masuk rumah dengan menundukkan kepala untuk menghormati tuan rumah. 


Dalam rumah di Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat
Ruangan depan/ Bale Luar sebagai tempat menerima tamu dan tempat tidur laki-laki. Bale dalam diperuntukkan sebagai tempat tidur perempuan dan juga tempat melahirkan. Menuju Bale dalam kita akan menaiki tiga anak tangga yang mencerminkan tahapan-tahapan kehidupan. Tangga pertama, kelahiran. Tangga kedua, berkembang sebagai manusia. Tangga ketiga, tahap akhir atau kematian.

Atapnya terbuat dari alang-alang kering yang tersusun padat dan rapi. Tiap lima atau limabelas tahun sekali alang-alang keringnya diganti. Lantai dari tanah liat. Seminggu sekali lantai tanah dibersihkan dengan kotoran kerbau sebagai upaya mencegah nyamuk/serangga dan menjaga rumah agar tetap hangat.

Berpose Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Masjid yang bersedia hanya digunakan untuk tiga waktu sholat, karena penduduk Dusun Sade menganut "wetu tilu". Ada delapan bentuk bangunan di dusun ini, yaitu Bale Tani, Jajar Sekeran, Benter, Beleq, Berugak, Tajuk, Bencingah, Lumbung.


Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara BaratLumbung padi berbentuk lengkung terbuat dari kayu atau anyaman bambu. Disangga tiang kayu beratap alang-alang. Ada jendela kecil diatas yang berfungsi sebagai pintu masuk lumbung. Lumbung terbagi menjadi dua bagian. Bagian Atas tempat penyimpanan padi/gabah. Bagian bawah sebagai bale tempat duduk dan berkumpul. Lumbung padi hanya boleh dimasuki oleh orang yang telah kawin, menikah. 

Di kanan-kiri jalan setapak berjajar rumah-rumah penduduk yang juga menjual bermacam cenderamata, kerajinan khas Lombok, berupa kain tenun, syal, ikat kepala, topi anyaman, gelang, kalung dengan warna-warna yang cerah. Ibu-ibu sibuk menenun benang-benang agar menjadi kain.

Sejak usia sembilan tahun seorang gadis harus belajar menenun. Seorang gadis tidak boleh menikah kalau tidak bisa menenun, karena hasil tenunannya akan diberikan kepada suaminya kelak. Di sudut jalan depan rumah, tampak seorang nenek sedang menumbuk biji-biji kopi dengan alu. Hhmm harum wangi kopi menyegarkan. Aku jadi ingin membeli kopi khas Sasak ini.

Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat
Salah satu keunikkan Dusun Sade yaitu tradisi kawin culik. Kawin culik adalah tradisi pernikahan yang dilakukan pihak laki-laki dengan menculik perempuan calon istrinya tanpa sepengetahuan keluarga pihak perempuan. Setelah pihak laki-laki mengungkapkan isi hatinya kepada keluarga pihak perempuan, maka diadakan pernikahan dengan membawa calon pengantin perempuan kembali ke rumahnya.

Prosesi arak-arakkan pengantin disebut "Nyongkolan". Setelah acara Nyongkolan mereka akan menempati sebuah rumah kecil yang disebut Bale kodong sebagai tempat bulan madu. Kebetulan aku sempat melihat acara Adat Nyongkolan di jalan arah ke Sukarara. Wah meriah banget!

"Ini adalah pohon janji!" ujar Pak Mesah sambil menunjukkan sebuah pohon yang meranggas dan hanya tersisa batang, cabang ranting tanpa dedaunan. Biasanya pohon ini digunakan sepasang kekasih yang berjanji bertemu saat tradisi kawin culik. So sweet, aku rela diculik aahhaayyy!

Foto dan tulisan oleh Arum Mangkudisastro

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya