Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Rabu, 02 Maret 2011

Saat Hijau Menyiram Bumi

Terus terang menuliskan suatu tempat yang kita kunjungi bukanlah hal yang gampang bagiku. Aku tidak bisa begitu saja menuliskan sebelum memperoleh secara lengkap persyaratan utama sebuah tulisan aku naikkan ke blog ini: (a) ada cukup foto-foto yang mewakili keberadaannya (b) ada informasi yang nyambung dengan lokasi, ini yang kadang-kadang sulit seperti tulisan tentang Waewini dan Legenda Sebuah Kampung yang Hilang yang meskipun mendapatkan bahan cerita tapi harus melengkapi nilai filosofis dan reason yang dapat diterima, (c) ada suasana batin yang mewakili sehingga saat orang mencapai lokasi ini dapat merasakan apa yang ada di foto.



Akhirnya kadang tulisan gak naik tampil hanya kadang-kadang faktor tertentu yang mungkin gak lebih dari 10%, karena yang sedikit itu kadang bisa membuat berantakan yang 90%-nya.
Seperti tulisan Menikmati Sawah dan Perbukitan merupakan tulisan yang masih ada di 90% yang aku paksa naik karena seperti wartawan aku pun dikejar target (pribadi) untuk bisa menulis minimal 1 tulisan tiap bulan. Padahal seharusnya di tulisan itu aku bisa lebih mengeksplore dangau-dangau dan gua-gua buatan jepang tapi rasanya kalau itu menjadi pelengkap maka Nagekeo gak pernah bisa aku tuliskan. Toh sampai saat ini aku juga belum bisa mengambil foto seperti itu (pembelaan ceritanya)


Tulisan ini adalah pelengkap tulisan Nagekeo yang sebenarnya sampai saat ini pun masih belum bisa dilengkapi. Belum lengkap karena rasanya aku belum mendapatkan daerah-daerah yang menarik yang biasanya justru kurang tereksplore karena sulitnya medan atau justru karena kurang diperhatikan.
Foto-foto ini terekam dari perjalanan selama dua minggu di Kabupaten Nagekeo. Cuaca sebenarnya kurang bagus, maklum bulan-bulan begini hampir tiap hari mendung enggan beranjak. Sekali-kalinya cerah juga tak selalu bisa diharapkan karena kadang cuaca berubah sedemikian cepat.

Rerumputan di arah jalan ke Maukaro
Seperti pernah saya rekam di tulisan sebelumnya, Nagekeo memiliki hamparan persawahan yang luas yang menjadikannya salah satu daerah penyangga pangan di Nusa Tenggara Timur. Nagekeo pun memiliki kawasan perbukitan yang banyak berupa padang savannah tapi dengan kontur yang kadang-kadang cukup terjal. Nah, sebenarnya mulai bulan-bulan Januari sampai saat-saat seperti ini perbukitan savannah di Nagekeo mulai tumbuh rumput yang bentuknya berjajar seperti ditanam karena tumbuh di sela-sela tanah keras berbatu.
Jika ditanya view apa yang menarik di Nagekeo, salah satunya adalah menikmati senja di atas perbukitan savannah. Kadang jika kita beruntung, puluhan bahkan ratusan ternak kambing atau sapi melintas pulang. Angin berdesau yang meniup rumput-rumput hijau yang meninggi, sementara di langit senja membentuk gradasi warna yang tak pernah bisa diperkirakan dan memang seharusnya tidak perlu diperkirakan.
Lenguhan-lenguhan sapi dan embikan kambing serta bunyi serangga pengiring malam seperti simponi senja menjelang malam. Burung-burung seperti burung walet, sri-gunting atau beberapa spesies lain mencuit melintas menuju sarang. Kadang pula bunyi tokek bisa terdengar begitu nyaring di kejauhan.
Jangan pedulikan bunyi raungan motor atau mobil yang kadang terdengar begitu mengganggu, mereka mahluk-mahluk yang jarang menampakkan suaranya di atas padang-padang ini walaupun sekalinya melintas membuyarkan semua suara yang ada.
Ada kalanya aku merutuk mendengar si mesin bising itu dan berharap di tempat dan waktu seperti ini mahluk-mahluk seperti itu ditidurkan sejenak. Biarlah ada rotasi suasana tapi siapa bisa memaksakan teknologi.

Senja di ambil dari belakang rujab Bupati
 Dari arah mulai masuk Nagekeo, mata sudah disuguhi deretan perbukitan savannah yang terhampar hijau. Dan deretan perbukitan hijau sendiri bukan hanya di arah masuk Nagekeo. Perjalanan yang pernah kulakukan menuju ke Maukaro juga banyak melintasi perbukitan savannah. Bahkan dari perbukitan di kawasan Maukaro ini langsung bisa dilihat laut.
Sedikit pemandangan berbeda aku temui saat kita melakukan perjalanan menuju ke Riung. Riung adalah tempat wisata 17 pulau yang masih masuk kabupaten Ngada namun memang lebih dekat ke Riung melalui jalur Nagekeo daripada dari Bajawa (ibukota Ngada).
Perjalanan ke Riung dengan kondisi sekarang aku tempuh sekitar dua jam, itu pun lebih karena faktor kondisi jalan yang tergolong rusak berat. Kira-kira separuh jalan dari Mbay menuju ke perbatasan Nagekeo-Ngada kondisinya cukup memprihatinkan, ruas-ruas jalan banyak ditemui lubang seperti kubangan kerbau. Perjalanan menuju sisi laut utara Flores ini juga banyak ditemui kawasan perbukitan savannah tapi entah kenapa banyak yang rumputnya belum cukup tinggi, besar dugaan di daerah ini karena dekat dengan laut jadi curah hujan kurang dibanding perbukitan di jalan masuk menuju Nagekeo.
Namun ada sebuah perbukitan yang dari jauh bentuk terjal dan unik dan setelah kita sampai di bawahnya juga memiliki pemandangan yang cukup unik. Menurut informasi, perbukitan ini ada di daerah Beke. Jika dibukit-bukit sebelah jalan banyak tumbuh padang savannah maka di bagian landai bukit ini di beberapa spot tumbuh tanaman liat berbunga kuning yang tumbuh di sepanjang mata memandang. Aku sendiri kurang tahu persis tumbuhan ini, namun karena tumbuh merata bukit ini jadi tampak istimewa.

Bunga-bunga kuning di perbukitan Beke (perbatasan Riung-Nagekeo)

Lala eh Kadek in action....... (parental guidance)
Aku tidak tahu persis apa nama tempat dan bukit ini selain bahwa daerah Beke, namun karena warna hijau dan kuning yang begitu dominan serta bentuk yang begitu menarik maka kami sepakati menyebut bukit ini dengan dengan bukit Teletubbies hehehe... Kami berangkat berempat persis dengan jumlah Teletubbies sehingga tiba-tiba kami saling menjuluki sesuai umur kami, jika aku menjadi Twingkie-Wingki karena aku yang paling tua, berarti si Nyoman menjadi Gipsie, Sukoco rela menjadi Poo dan Kadek harus mau dipanggil Lala.
Ah.. hahahaha.... rasanya jadi aneh tapi menyenangkan juga. Setelah berpenat diri berhari-hari bisa melepaskan diri dan bercanda tanpa beban pikiran membuat pikiran menjadi segar.
Membiarkan alam masa kecil bermain, berfoto gila-gilaan... dan berimajinasi seolah-olah seorang Sun Go Kong ada di balik bukit ini dan berlatih menjadi kera yang paling sakti, atau tiba-tiba ingin memahat bukit-bukti ini menjadi wajah-wajah kita....
Ah, ternyata memang setiap pria menyimpan jiwa anak-anak dan di saat tertentu akan muncul kembali.
Bagaimana Riung sendiri? Ah, ternyata aku masih di angka 80% ... entah perjalanan ke berapa bisa menjadi 100%....
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 27 Februari 2011

Waewini: Legenda Sebuah Kampung Yang Hilang


Nenek Wini Tange, begitulah nama perempuan tua itu. Penduduk biasa memanggilnya nene' Wini tapi beberapa perempuan lebih suka menyebutnya nene' Tange. Nenek Wini sama seperti penduduk kampungnya yang hampir seluruh hidupnya mengandalkan dari usaha berkebun dan bertani. Nene Wini juga memiliki beberapa ekor ternak peninggalan suaminya seperti ayam, babi dan kambing. 

Seperti halnya rumah-rumah di kampung ini yang berbentuk panggung, kandang ternak-ternaknya ada di bawah lantai rumah. Selain untuk kandang ternak, bagian bawah rumah juga digunakan untuk menyimpan kayu bakar dan peralatan-peralatan berkebun.

Mencari kayu bakar di hutan adalah kegiatan lain yang juga umum dilakukan penduduk kampung, demikian juga nenek Wini apalagi setelah suami yang dicintainya meninggalkannya sendiri.  Suaminya meninggalkannya saat umur nenek Wini belum tua dan hanya meninggalkan seorang anak perempuan. Karena ditinggal mati suaminya dalam umur yang belum tua, beberapa lelaki mencoba mendekatinya untuk menjadikannya istri. Namun kecintaannya pada suaminya tak pernah luntur di hati nenek Wini hingga ia memutuskan untuk tetap menjanda dan mengurus sendiri anak perempuan semata wayangnya. Hingga suatu ketika anak perempuannya menikah dan mengikuti suaminya, maka tinggallah nenek Winni sendiri di gubuknya.

Sepeninggal suaminya, nenek Wini mencurahkan kasih sayangnya pada seekor babi yang juga menjadi kesayangan suaminya. Kecintaannya pada sang babi karena nenek Wini percaya bahwa ruh suaminya tetap menjaga melalui babi yang dipeliharanya ini.

Namun ada seorang penduduk kampung yang mendendam kepada nenek Wini karena merasa keinginannya untuk memperistri nenek Wini dulu tidak kesampaian. Rupanya rasa malunya tidak tertanggungkan karena sebagai orang yang tergolong kaya di kampung ini rasanya pamali jika tidak bisa mengambil wanita yang disukainya. Hingga suatu hari saat nenek Wini pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, datanglah beberapa penduduk kampung suruhan orang yang memendam kebencian kepada nenek Wini dan mengambil babi nenek Wini. Orang ini merasa karena babi nenek Wini-lah yang menyebabkan nenek Wini rela menjanda dan justru mengasihi babinya serta menolak untuk dia peristri.
Setelah menangkap dan mengambil babi nenek, laki-laki ini memutuskan membunuh babi ini dan dia sengaja membagi-bagikan daging babi ini ke seluruh penduduk kampung.

Singkat kata, saat senja nenek Wini pulang dan mendapati di kandang babinya tidak ada lagi babi kesayangannya. Dengan kaki tuanya nenek Wini mencoba bertanya ke tetangganya, namun tidak ada satupun penduduk kampung yang bisa memberitahukannya. Sebenarnya waktu kedatangan nenek Wini yang mencari tahu babinya yang hilang muncul syak wasangka bahwa daging pemberian yang mereka terima adalah babi nenek Wini namun karena mereka tidak berani memberitahu karena mereka terlanjur telah memasak dan memakannya.

Takut jika babi kesayangannya hilang membuat nenek Wini tetap mencari tahu kesana-kemari ke hutan dan penduduk sekitar namun semua menggelengkan kepala dan tidak ikut membantu mencarinya karena merasa bersalah telah ikut memakan daging babi nenek Wini.

Hingga menjelang tengah malam nenek Wini sampai di ujung rumah nenek Kawena yang merupakan temannya. Dan nenek Kawena bercerita bahwa dia kedatangan salah satu laki-laki yang memberikannya daging babi yang dari laki-laki yang dia tahu memiliki kebencian dengan nenek Wini. Karena merasa sesuatu, nenek Kawena menolak pemberian daging itu. Dengan menahan perasaan yang tak karuan nenek Wini pergi menuju ke rumah lelaki yang dulu pernah memintanya menjadi istri selepas ditinggal suaminya.

Namun seperti diduga, lelaki itu menolak kedatangan nenek Wini dan bahkan dengan kasar mengusirnya. Nenek Wini pergi ke belakang pekarangan rumah lelaki itu dan menemukan tulang-tulang yang dengan perasaan kuat hatinya dia bisa merasakan bahwa tulang-tulang itu adalah dari babi kesayangannya.
Dengan hati remuk redam dan cucuran air mata kesedihan nenek Wini membawa tulang-tulang itu ke gubuknya dan menguburkannya di samping rumahnya.

Setelah peristiwa itu nenek Wini menghilang menyepi ke tempat sepi karena rasa hatinya yang gundah gulana. Dalam penyepiannya itulah nenek Wini kedatangan seorang marapu yang menanyakan keberadaannya. Setelah diceritakan kesedihannya itu akhirnya sang marapu menyanggupi untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Maka berpesanlah sang Marapu: "Besok sebelum matahari keluar dari peraduannya, keluarlah kamu dari kampungmu. Bawalah bekal sekedarnya dan ingatlah, sekali engkau meninggalkan kampung ini jangan sekali-kali menoleh ke belakang apapun yang terjadi."
Nenek Wini kembali ke kampungnya dan dalam perjalanan dia ingat akan keberadaan nenek Kawena, maka didatangilah nenek Kawena dan diceritakanlah pertemuaannya dengan seorang marapu. Nenek Wini mengajak nenek Kawena untuk ikut dengannya. 

Akhirnya. pagi-pagi buta nenek Wini telah siap dengan bekalnya dan menuju ke nenek Kawena agar bersama-sama pergi meninggalkan kampung ini. Namun ternyata nenek Kawena salah memasak bekal, ternyata waktu sampai di rumah nenek Kawena bakal bekal berupa ubi hutan yang sangat keras belumlah masak. 

Matahari hampir muncul saat bekal itu selesai dan mereka buru-buru berjalan meninggalkan kampung mereka. Baru beberapa waktu mereka berjalan, sang surya mulai menampakkan cahaya paginya dan bersamaan dengan itu terdengarlah suara gemuruh dari arah belakang mereka. Karena getaran dan suara yang sedemikian keras tanpa sadar nenek Kawena menoleh ke belakang untuk mencari tahu apa yang terjadi. Maka pada saat itu berubahlah nenek Kawena menjadi sebuah batu. Menyadari hal itu betapa sedih hati nenek Wini namun dengan berat hati tetap dilangkahkan kakinya menjauh dari kampungnya.
Maka kampung nenek Wini tenggelam ke dalam tanah dan menjadi sebuah danau, dan sebuah batu berdiri menjulang di atas tanah yang agak tinggi, itulah yang disebut sebagai batu Kawena.



Demikian tutur yang aku dapatkan dari perjalananku ke sebuah danau Waewini. Sebuah danau yang berair payau yang tidak berada jauh dari pantai. Uniknya danau ini bukannya berasal dari sungai namun demikian air di danau ini tidak pernah kering.
Danau yang walau berair agak payau namun bening ini dikelilingi pepohonan besar yang membuat suasana di danau ini terasa rindang. Danau ini juga digunakan penduduk sekitar untuk diambil airnya bagi keperluan rumah tangga sehari-hari.
Ternak seperti sapi, kerbau atau kuda juga sering kemari untuk minum atau kadang dimandikan pemiliknya di danau ini.
Saya mohon maaf jika ada perbedaan cerita dari kisah ini, karena namanya legenda tentu dapat berbeda antara satu penutur dengan penutur lainnya. Tapi dari balik cerita ini kita bisa menemukan bahwa di banyak tempat kita bisa menggali kekayaan cerita yang dapat memperkaya batin kita.

Jika anda singgah di kabupaten Sumba Barat Daya, anda dapat menyinggahinya karena lokasi danau ini tidak jauh dari kota hanya memang kondisi jalannya masih buruk.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya