Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Senin, 26 April 2010

Potensi Terlupakan: Air Terjun Ogi

Beberapa waktu kemarin saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa situs yang memuat tentang tempat wisata di Nusa Tenggara Timur. Beberapa situs memberikan informasi yang cukup bagus namun lebih banyak yang penulisannya agak kacau kalau tidak boleh saya bilang kopas (kopi-paste) dari sana-sini tanpa memperhatikan keterkaitan antar kalimatnya.
Yang agak menyedihkan justru foto-foto yang ditampilkan. Sebenarnya saya sangat mengharapkan foto-foto yang ditampilkan mampu secara visual menarik perhatian pengunjungnya. Dari kunjungan ini saya berharap ada keinginan kuat dari pemilik situs selain keindahan dalam menampilkan pesona wisata NTT melalui tulisan juga membangkitkan minat melalui bahasa gambar.

Tiba-tiba saya teringat satu tempat yang pernah saya datangi bersama seorang teman yang bekerja di Pemkab Ngada yang sering menjadi guide orang-orang yang menginap di Bajawa.
Air terjun Ogi namanya, jauhnya sekitar 11 km dari kota Bajawa. Tidak terlalu jauh sebenarnya namun kondisi jalan ke tempat itu memang lumayan sulit, disamping kondisi jalan yang rusak dan curam serta berbelok-belok tajam masih ditambah satu kesulitan tambahan: tidak ada papan penunjuk satupun yang menunjukkan lokasi air terjun Ogi ini.
Bahkan saya harus rela melalui pematang sawah sejauh satu kilometer untuk menuju lokasi. Sungguh memprihatinkan!

Padahal begitu sampai ke tempat itu, saya disuguhi pemandangan air terjun yang sangat kencang. Dengan kondisi yang terletak di celah perbukitan, air terjun Ogi yang terkurung bukit itu tampak begitu gagah di mata saya.

Dari kondisinya sepertinya benar bahwa tempat ini digunakan olah PLN untuk menjadi pembangkit listrik, walaupun saat ini saya kurang tahu apakah masih digunakan atau tidak. Namun di tempat ini masih terlihat bangunan yang waktu itu kosong. Di sisi samping air terjun juga terdapat anak tangga dari besi yang tampak usianya sudah lama.

Sebenarnya dulu tempat ini ada jalan yang sampai ke lokasi, dan tempat ini juga sering dijadikan tempat wisata penduduk dari Bajawa tiap akhir pekan. Namun mungkin kondisi itu sudah lama sekali, terbukti waktu saya bertanya tentang air terjun ini ke penduduk Bajawa banyak yang malah tidak tahu.

Ini adalah satu-satunya foto paling layak (masih kurang sebenarnya) saya tampilkan karena terus terang saya kurang siap dengan kondisi lingkungan waktu itu. Bahkan tripod yang saya ganjal dengan kayu tetap saja goyang.
Saya masih berharap bisa mengunjungi lagi tempat ini dan menghasilkan karya yang jauh lebih baik dari ini. Semoga.
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 16 Maret 2010

Senja di Kawaliwu (Sunset on Kawaliwu)

Sudah hampir empat minggu atau sebulan saya berada di kota Larantuka, dalam rangka tugas kantor tentunya. Ibukota dari Flores Timur memang terasa kecil dibanding kota-kota lain di Jawa, bukan hanya kota-kota di Jawa bahkan dengan kota-kota di Nusa Tenggara Timur, Larantuka masih terasa sebagai kota kecil.
Tapi bukan itu yang menjadi sedikit kegundahan saya selama di sini. Tapi pertanyaan sederhana ini rasanya agak sulit dijawab oleh orang-orang disini "Dimana tempat wisata yang bagus disini?" Rasanya pertanyaan yang wajar, namun mungkin (saya tidak tahu persisnya) karena membandingkan dengan tempat wisata di tempat lain di pulau Flores, rasanya terasa tidak ada tempat yang istimewa dari Flores Timur ini.
Jika ada yang membuat Flores Timur ini terkenal, maka keberadaannya sebagai salah satu tempat orang merayakan Paskah adalah daya tariknya.
Memang di Flores Timur sebagaimana kota lain di Flores yang memiliki laut, mungkin di Flores Timur inilah yang setiap saya singgah di laut yang saya temui adalah pasir berwarna hitam. Ada memang beberapa tempat yang pasirnya tidak berwarna hitam, tapi itu hanya sebaris pantai saja dan sisa lainnya adalah pasir hitam.
Di hari terakhir waktu tugas saya, saya teringat cerita seseorang yang memiliki hotel di Larantuka tentang Pantai Hading yang letaknya berada di pesisir barat Flores Timur. Sedikit gambaran, Flores Timur berada di ujung pulau Flores artinya sebagian besar tempatnya menghadap ke timur atau tenggara. Kepala pulau Flores ini ada di Kabupaten Flores Timur, artinya ada bagian teluk di sisi barat Flores Timur, daerah yang diberi nama Kawaliwu. Nah disinilah pantai Hading berada.
Berawal dari informasi ini, saya coba konfirmasikan kembali kemungkinan untuk bisa mencapai daerah ini. Bukan apa-apa, pengalaman sebelumnya saat saya dan teman-teman mencoba menuju ke pantai Hading dari arah kepala justru malah jauh sekali karena harus melewati Tanjung Bunga. Tanjung Bunga ini ada dibagian kepala dari pulau Flores, jadi kami harus memutari kepala pulau Flores untuk sampai ke teluk ini... wah..
Namun saya diberitahukan jalur lain yang lebih mudah untuk mencapai Kawaliwu yaitu melalui desa Oka, ada jalur lain yang lebih dekat tapi karena harus melewati sisi lereng gunung Ile Napo (entah benar apa salah) jadi medannya agak berat.
Berbekal informasi ini kami bertiga, saya dan dua teman memulai petualangan kecil kami. Kami menyebut petualangan karena diantara kami bertiga tidak ada yang benar-benar pernah ke Kawaliwu, jadi niat dari awal memang siap untuk tersesat.
Untungnya di sepanjang jalan yang ada kami mendapatkan informasi yang cukup, penduduk dengan ramah menunjukkan arah jalan yang harus kami lalui.
Perjalanan dari desa Oka yang hanya beberapa belas menit dari Larantuka yang mulus berganti menjadi sedikit bergelombang setelah membelok ke arah barat, tapi sebenarnya masih lumayan bisa dinikmati asal kita mengendarai dengan hati-hati.
Perjalanan yang kami lalui terasa menyenangkan karena alam Flores Timur yang subur terbentang di depan mata kami, deretan pohon kelapa seolah mengajak kami berdendang. Beberapa dusun yang kami lewati juga juga terasa suasana yang menyenangkan, apalagi keberadaan dusun-dusun ini di perbukitan yang hijau.
Setelah sekitar setengah jam kami melalui perjalanan akhirnya sebuah papan penunjuk berwarna putih "SDN Kawaliwu" memberi tahu kami bahwa kami telah sampai di Kawaliwu.
Jam sudah menunjukkan hampir jam lima sore saat kami sampai. Pasir hitam yang sama, begitu pikir kami saat kami tida di pantainya, pantai Hading begitulah masayarakat disini menamainya.
Namun kesan biasa-biasa saja mulai hilang saat kami memandangi latar belakang gunung dan perbukitan yang ada di Kawaliwu. Rasanya cantik sekali melihat paduan antara pantai dan perbukitan yang terentang di sepanjang perjalanan kami tampak dari pantai ini.
Pantainya sendiri tidaklah memberi kesan wow dari kami jika dibandingkan laut lain di Flores yang memiliki pasir putih dan taman laut yang indah, namun kami dikejutkan oleh beberapa orang yang mencuci dan mendi di pinggir laut.
Kami merasa aneh saat itu karena tidak biasa melihat orang mencuci baju di pinggir laut. Tapi kami terkejut saat mendekati mereka dan mendapati batu-batu hitam yang kami pijak dengan kaki kosong terasa panas menyengat. Saya pikir ini karena sisa panas dari sinar matahari, ternyata tidak, panas di batu ini ternyata berasal dari air panas yang mengalir di celah-celah batu. Wah ternyata mereka sedang mandi dan mencuci dengan membuat kubangan air untuk menampung sumber air panas.
Wah, keren sekali... saya bisa mandi di laut lalu membilas badan dengan sumber air panas.
Akhirnya seperti diingatkan bahwa kami ingin melihat matahari terbenam di Kawaliwu, mata kami mencoba mencari tempat yang menarik untuk menatap saat terakhir sang matahari menutup hari ini.
Akhirnya kami melangkah ke bebatuan yang menjorok ke pantai. Air laut sore itu sedang tenang sekali, suasananya sungguh menenangkan. Airnya yang bening membuat mata kami dapat menembus sampai ke permukaan airnya. Beberapa orang masih asyik dengan kegiatan mencuci dan mandi, sementara beberapa orang lain ada yang memancing ikan.
Kami sampai di ujung bebatuan karang, tempat yang sangat strategis. Disinilah kami duduk-duduk menikmati senja yang begitu menyenangkan. Kami tidak perlu berpikir untuk beberapa lama kecuali membiarkan pikiran kami mengembara bersama sisa sinar yang semakin redup. Langit memerah, salah satu teman kami seperti dibuai angannya. Asyik sekali dia duduk sendiri di salah satu batu karang memandangi satu bintang yang muncul pertama kali, namanya Alpha Centaury katanya.
Setelah gelap kami mulai beranjak, senter kepala saya menjadi penuntun karena saat itu memang sulit untuk kembali kepinggir melewati bebatuan tanpa bantuan cahaya.
Sebelum pulang kami sempatkan menyapa orang-orang yang masih mandi, yah kalo airnya panas jam berapapun tentu tak masalah mandi... kami iri, mungkin lain kali kami harus mencobanya.
Diakhir perjalanan kami beberapa ekor kunang-kunang menunjukkan diri, memamerkan sinar kecil yang keluar dari bawah perutnya. Binatang yang sudah sangat sulit saya temui di kota kami.
Peristiwa hari ini, pemandangan yang kami nikmati saat ini, senja yang begitu sempurna kami hampiri, membuat janji di hati kami untuk kembali kesini.... menyapa waktu dan alam di sini dan menikmati SENJA DI KAWALIWU...


Kawaliwu, Maret 13, 2010


Personal dalam foto ini:
  1. Aryo Fajar Gunarso (suka dipanggil Ayok)
  2. Maria ... (biasa dipanggil Maya)
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya