Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Kamis, 03 Agustus 2017

'Rumah Besar' Balla Lompoa

"Silahkan masuk!" ujar Pak Andi, pengurus Balla Lompoa sambil membuka pintu ruang pusaka dan mundur selangkah  memberi aku jalan masuk. Wow.. lady first, aku merasa tersanjung. Ruang pusaka yang juga ruang pribadi raja memang sehari-hari selalu terkunci dan hanya dibuka untuk tamu-tamu tertentu.


Di bagian depan museum Balla Lompoa
Menapaki karpet merah memasuki ruang pusaka. Salakoa, sebuah mahkota Raja Gowa yang pertama kali menarik perhatianku seakan menyambut. Salokoa diletakkan di tengah ruangan sebagai pusaka utama. Mahkota emas seberat 1.768 gram berbentuk kuncup bunga teratai berkelopak lima helai daun yang dihiasi batu-batu permata.

Menurut penuturan Pak Andi, konon mahkota tersebut pertama kali dipakai oleh Ratu Tumanurunga, seorang perempuan berparas cantik yang turun dari langit sebagai Raja Gowa pertama. Ratu Tumanurunga menikahi Karaeng Bajo dan menurunkan Raja-raja Gowa selanjutnya. Oleh karena itu setiap penobatan raja selalu ada ritual pemakaian Mahkota Salokoa. Setiap tahun diadakan pencucian mahkota dengan darah kerbau penanda kesakralannya.

Dibelakang Salokoa, terlihat kursi, lukisan dan patung Sultan Hasannudin. Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional melawan kolonial Belanda.

Disisi lain ruang pribadi raja terdapat perhiasan Kolara/Rantai Manila, sebuah kalung rantai emas hadiah dari Kerajaan Sulu (Negara Philipina) dan Tatarampang yaitu keris emas bertahtahkan permata hadiah dari Kerajaan Demak (Pulau Jawa). Disimpan juga Ponto Janga-jangaya (Gelang emas dua kepala naga), Sudanga (senjata sakti atribut raja yang berkuasa), Bangkarak Ta'roe (anting-anting emas), Gaukang (kancing emas). Ada juga Al Quran yang ditulis dengan tangan.

 

Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti Rumah Besar. Balla Lompoa ini merupakan bangunan rekonstuksi dari Istana Kerajaan Gowa yang sekarang telah menjadi museum. Lokasi berada di Jalan Wahid Hasyim Nomor 39, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Berjarak 10 km dari Kota Makassar. Dibangun pada masa Raja Gowa ke-13 bernama I Mangngi-mangngi Daeng Matutu. Bangunan terbuat dari Kayu Ulin atau Kayu Besi yang besar dan kuat. Beratapkan Sirap, lembaran kayu yang dibentuk menjadi atap. Di atas atap diletakkan Kepala Kerbau. Bangunan terdiri dari Teras, Ruang Utama, Ruang Dalam. Kita harus melepas sepatu/sendal dan mengisi buku tamu sebelum masuk.


Ruang utama berfungsi sebagai balairung, ruang pertemuan atau ruang menerima tamu. Ada singgasana dan lukisan Raja Gowa di apit payung kebesaran. Meja-meja panjang di sisi kanan kiri. Bernuansa warna merah dan kuning emas.

Di sisi kanan terdapat sebuah pigura yang menggambarkan silsilah raja-raja Gowa dari raja pertama Tumanurunga yang dari pernikahannya dengan Karaeng Bajo melahirkan raja Tumassalangga Baraja sampai raja terakhir Sultan Mochammad Abdulkadir Aididdin Andi Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruang utama ini diletakkan panji-panji kerajaan juga meriam besi beserta pelurunya.


Di ruang dalam terbagi menjadi dua ruang, ruang kerajaan dan ruang pusaka/ruang pribadi raja. Di ruang pusaka/pribadi tersimpan koleksi baju tradisional, kipas kerajaan, alat-alat untuk upacara kerajaan berupa cupu, mangkok, piring keramik, lilin. Terdapat juga senjata-senjata yang dipajang seperti parang (Lasippo), badik, tombak rotan ekor kuda (Panyanggaya Barongan). Foto tiga tokoh pemimpin kerajaan Gowa, Bone, Wajo juga dipajang dalam ruang dalam.

Di teras rumah dipajang buku-buku yang menceritakan sejarah Sulawesi Selatan beserta adat istiadatnya yang dijual untuk umum. Pengunjung yang berminat bisa membelinya sebagai cenderamata/souvenir. Selain itu juga ada boneka yang mengenakan pakaian tradisional, kaos, kopiah khas Makassar, sarung, gelang dan batu-batu permata juga bisa dibawa pulang (tentu saja setelah kita membayarnya hehehe).

Foto dan Tulisan : Arum Mangkudisastro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya