Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Kamis, 26 Mei 2016

Kolam Air Asin di Gua Kristal

Kolam air asin di gua Kristal Kupang
Warna kebiruan toska air kolam yang terkena sinar matahari
Kucoba membuka mataku ke dalam air saat menyelam bebas agar bisa menatap bebatuan di bagian bawah namun tetap saja tidak jelas.Anehnya, saat aku muncul ke permukaan aku tidak merasakan perih di mata sebagaimana kalau membuka mata di air laut. Mungkin kalian masih ragu, apa mungkin air yang rasanya masih tetap asin itu tidak perih di mata? Aku tidak tahu, tapi aku bahkan berani bilang kalau air tawar di kolam renang saja masih lebih perih dibanding air di dalam gua ini. Masih gak percaya juga? Aku tunggu kapan mau tes air di gua Kristal...

Lokasi yang Tak Terduga 
Letak gua Kristal tidak jauh dari kota Kupang, sekitar setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat ini. Tapi ada yang berubah dari informasi awal yang kudengar. Tidak ada petunjuk jelas gua Kristal karena jalan masuk tidak ada tanda sedangkan sekitar gua Kristal masih daerah yang dipenuhi pepohonan. Tapi tidak, ternyata di tempat kami parkir motor sedang berdiri puluhan rumah yang masih dalam proses pembangunan: perumahan. Imam yang jadi pemandu sempat kebingungan karena memang perjalanan ke tempat ini sebelumnya tidak dijumpai perumahan melainkan masih pepohonan. Untung ada sepotong tulisan penanda ala kadarnya "Gua Kristal 100 meter" yang membantu meyakinkan bahwa kita sudah di lokasi yang benar.

Bertujuh di dalam Gua Kristal Kupang
Cuaca bulan ini memang terasa terik, apalagi di sekitar tidak ada pepohonan besar. Tapi beberapa pohon yang tidak terlalu besar cukuplah menjadi tempat parkir yang dikelola oleh seorang anak muda yang mungkin tinggal disekitar tempat ini. Belakangan waktu pulang aku baru tahu kalau anak muda itu tidak cuma mengenakan harga parkir tapi juga ongkos masuk ke dalam, dan untuk itu kami harus membayar 5.000 rupiah per motor. Yah, setidaknya motor kami aman kami parkirkan di sini.

Lucunya papan penanda itu tidak menunjuk jalan apapun karena memang tidak ada jalan. Jadi kami ikut saja menerobos batu karang menjadi tempat yang kami bisa berjalan. Entah sebenarnya kami yang memang asal jalan atau memang jalan itu ada tapi kami tidak tahu. Waktu pulang kami baru tahu jalan itu ada tapi memang tidak terlalu jelas.

Cahaya dari mulut gua Kristal Kupang
Jangan bayangkan gua Kristal itu seperti gua-gua pada umumnya yang lubangnya besar tinggi. Gua Kristal dari luar tak ubahnya sebuah bongkahan batu yang berlubang. Sampai dengan titik tujuan memang tak tampak ada gua, karena memang gua Kristal ini lubang menurun ke bawah menuju sebuah kolam air asin.

Satu yang aneh lagi yaitu adanya toilet sekaligus kamar ganti yang dibuat persis di mulut gua.  Penempata itu saja sudah parah, ditambah dengan bahan untuk toilet dari tripleks yang menambah bentuk depan gua Kristal itu tampak acakadut gak jelas. Setelah masuk memang ruang gua kelihatan lebih besar. Mungkin itulah kenapa cahaya matahari tidak bisa masuk sepenuhnya ke dalam gua. 

Berada di dalam gua yang lubang masuknya tidak terlalu besar dan jalan yang menurun ke bawah, aku yakin kolam air asin di dalam gua Kristal ini terus tersembunyi dari matahari. Hanya pada siang hari saja matahari mampu menerobos ke dalam gua melalui satu-satunya lubang gua untuk keluar dan masuk. Itu pun sinarnya hanya sampai menembus sepertiga bagian gua. Untungnya sepertiga cahaya yang masuk ini memantul ke seluruh dinding gua sehingga setengah air yang lebih sering bersembunyi dalam bayangan gelap berubah lebih terang ke warna kebiruan yang pekat.

Seiring naiknya sinar matahari yang menerobos dari lubang masuk gua, warna air yang biru akan menjadi biru lebih terang, kadang-kadang tampak seperti biru toska. Entah apakah masih pas menyebut gua ini dengan nama gua kristal sementara aku tidak melihat warna berkilauan bebatuan yang tertimpa sinar matahari. Mungkin kilauan-kilauan yang muncul laksana kristal yang pernah mereka ceritakan telah hilang seiring warna bebatuan yang menjadi kusam. Tapi di sisi dalam, stalagtit dan stalagmit yang tidak terlalu besar masih tampak berkilauan dan basah. Mungkin jika sinar matahari sampai menembus ke stalagtit dan stalagmit yang di dalam aku akan melihat kilauan kristal.

Aku menghela napas panjang melihat tulisan-tulisan dari cat berwarna-warni di dinding batuan dalam gua. Kampret!! Mahluk-mahluk keparat ini memang tidak pernah tau keindahan. Tangan-tangan mereka sepertinya akan gatal seumur hidup jika lupa tidak membuat tanda-tanda graviti seperti ini. Dengan graviti yang ditulis sporadis memang jadi sulit untuk mencari tempat yang tidak menampakkan graviti mereka.

Kolam Air Asin yang Jernih
Air kolam di ujung gua memang tidak terlalu besar, pun tidak banyak tempat datar yang dapat digunakan untuk duduk menikmati pemandangan. Mungkin kolam ini masih jika dinikmati jika yang masuk ke dalamnya tidak lebih dari sepuluh orang.

Kolam air asin di dalam gua Kristal Kupang
Anakku lah yang teriak-teriak di air waktu aku masih asyik mengabadikan gambar gua. "Ayah.. ayah.. Shiva tadi matanya masuk air tapi gak perih lho. Tapi airnya dingin", katanya senang sekali waktu berenang di dalam airnya. Aku sendiri memang berniat berenang setelah menuntaskan memotret lokasi ini. Jadi Shiva ditemani pakde Dibyo dan pak Achmadi yang turun lebih dulu.

Tak dapat berlama-lama, akhirnya aku menyusul mereka memasukkan badan ke dalam air. Bener-bener air di gua ini segar. Dan seperti yang aku bilang di awal, walau airnya asin tapi tidak perih di mata. Hanya sesekali aku menggunakan kecamata untuk menyelam ke dalam air. Karena tidak terlalu banyak orang, aku jadi bisa menikmati nikmatnya berendam air di sini.
Kedalaman kolam sekitar tiga meteran aku rasa, tapi di bagian sisi batas gua ke bawah masih tampak bayangan hitam pertanda kalau di sisi itu lebih dalam dari tempat lain. Akun menduga di sisi itulah yang menghubungkan kolam ini dengan laut. Mungkin juga air di sini pasang surut seperti kondisi di laut, aku tidak terlalu yakin karena dari gua ini ke laut jaraknya lebih dari 100 meter.


Menunggu di depan mulut gua Kristal Kupang
Ada satu batu yang agak menjorong ke kolam. Tempat itu sering digunakan orang untuk meloncat ke dalam air karena memang air di bawahnya langsung dalam jadi aman. Namun hati-hati, jangan terlalu semangat meloncat. Jika kamu orang yang tinggi dan sembarangan meloncat bisa-bisa kepalamu terbentuk dinding atas gua yang tidak terlalu jauh tingginya dari batu itu.

Tidak seperti di bagian luar gua yang berupa batu karang hitam terjal dan kasar, bagian dalam gua batuannya berwarna putih kekuningan. Batu-batu itu terasa rapuh namun untungnya kesat sehingga tidak licin waktu diinjak. Hanya memang waktu untuk turun harus lebih hati-hati karena dari luar yang terang, maka di dalam gua tampak sangat gelap. Agak lama untuk membiasakan mata agar dapat melihat ke dalam gua lebih baik. Sayang tepat di tengah-tengah pintu gua ada batu besar yang menghalangi sinar matahari masuk lebih banyak.

Untuk amannya, jika ada yang mau ke sini bukan saat siang hari sebaiknya selalu bersiap-siap dengan senter atau lampu karena kemungkinan gua akan terlihat sangat gelap dan jelas akan mengecewakan perjalananmu ke tempat ini.

Hari Minggu itu Waktu yang Salah
Kami bertujuh mencari tempat duduk persis di belakang batu besar yang menutup pintu gua. Kami masih harus membiasakan mata karena di dalam gua selain warna biru air selebihnya adalah gelap. Memang terdengar celotehan pengunjung yang sedang mandi atau berenang di dalam kolam gua. Setelah agak lama dan mulai bisa melihat lebih jelas ke dalam gua, ternyata sudah ada beberapa anak muda yang berenang di dalam kolam, beberapa tidak berenang tapi seperti biasa sibuk mengabadikan diri. Istilah selfi sekarang memang kekinian dan tidak bisa ditolak.

Shiva di depan mulut gua Kristal Kupang
Jumlah anak-anak muda yang di dasar gua yang sudah puluhan jelas sudah tidak bisa ditambah sehingga aku dan teman-teman memilih mengalah. Itu pun dari belakang kami masih berdatangan beberapa anak lebih kecil yang turun dengan cepat ke dalam gua. Aku berpikir mereka anak-anak di sekitar sini yang sudah terbiasa dengan suasana gua.

Untungnya acara mandi mereka tidak terlalu lama. Setelah aku lihat yang berenang hanya tinggal tiga orang, maka kami mulai ikut turun ke bawah. Awalnya kami benar-benar harus hati-hati karena batuan di bawah yang basah tampak licin. Ngeri juga membayangkan stalagmit menyambut kami jika sampai tergelincir. Ternyata aku salah, batu-batu itu tidak licin walau terkena air dari anak-anak muda yang naik balik ke atas dalam keadaan basah.

Sialnya selepas siang, rombongan yang datang lebih banyak. Jelas itu waktunya kami berbenah untuk pergi. Dengan kedatangan rombongan baru sebanyak itu jelas berada di dalam gua tidak lagi menyenangkan. Benar seperti perkiraanku semula, mengunjungi tempat wisata hari Minggu adalah pilihan yang salah. Masih untung kami sempat merasakan saat kolam sepi, namun di banyak waktu lain, Minggu berarti siap-siap kecewa.

Bagaimana Menuju Kesana?
Sebenarnya lokasi ini tidak susah di jangkau. Bisa menggunakan kendaraan umum dengan setidaknya 2 kali ganti angkutan kota. Tapi menurut saya lebih enak menggunakan kendaraan pribadi (motor kalau saya). Rute perjalanan sebagai berikut:
  1. Dari kota Kupang arahkan kendaraan menuju arah Namosain, ikuti jalan sampai bertemu pertigaan Namosain yang ada tugu "Imperial Estate". Sebenarnya dua arah itu semuanya bertemu lagi di jalan yang sama pertigaan Bolok. Namun saya lebih menyarakan ikut jalur ke kiri menuju ke atas.
  2. Ikuti jalan terus sampai ke pertigaan Bolok (belok kanan ke pelabuhan Tenau), tetap terus sampai melewati jembatan. Setelah jembatan ada pertigaan belok ke kiri lagi (lurus sampai ke pelabuhan perikanan)
  3. Terus lurus melewati sampai ke pelabuhan Bolok tetap lurus, nanti sekitar satu km dari pelabuhan ASDP Bolok akan bertemu pertigaan yang menuju ke kantor DIT POLAIR POLDA NTT belok kanan.
  4. Berhenti di depan perumahan (100 meter sebelum kantor Polisi Perairan), parkirkan kendaraan di sekitar situ dan cari papan petunjuk menuju Gua Kristal.  
Terima kasih buat temen-temen yang ikut bersama ke gua Kristal: pakde Kushandoyo, pakde Dibyo, pak bos Sulih, pak Ahmadi, Imam 'Boncel' .

24 komentar:

  1. Gilaaaak :D Goa kristalnya epic. Epiiiic parah mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal waktu datang mikir dapet view bagus gak ya karena udah terlanjur siang, ternyata emang yang bener waktunya emang harus siang..

      Hapus
  2. wahhh air di goanya nyambung ama laut ya mas?? duuh, seandainya aja bisa berenang ato bisa bernapas dlm air, pgn deh tau ujung dari goanya yg tersambung dgn laut berakhir di mana :)..

    ikutan sebel ama tangan2 jahil yg ga bisa ngeliat tempat wisata bersih ya.. hobi kok nyoret2 -__- . bingung aku ama org2 yg bgitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren kayaknya kalo bisa menelusuri aliran air sampai ke laut walau risikonya itu yang sulit dibayangi

      Hapus
  3. foto2mu ini keren bang Baktiar.. luar biasa
    dan, saya masih butuh besar keberanian untuk mandi didalam gua bang. entahlah, bagiku setiap kali masuk gua selalu kayak ada hawa hawa gimana gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sih, rata-rata gua apalagi yang berair emang hawanya gitu tapi cuekin aja toh kita gak ganggu

      Hapus
  4. selalu sukak liat foto2nya jepretannya om tiar.. :D
    gue sebenarnya pemberani om tiar, tpi entah kenapa kalo soal goa, hmmm gue kudu punya keberanian lebih untuk memasukin goa.. *malah curcol* xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Agus takutnya masuk ke gua itu sendiri atau juga kalau rame-rame tuh? Kalau sendiri juga aku kadang keder juga :D

      Hapus
  5. Pernah ke sana tapi sudah jelang sore jadi nggak dapat sorotan cahaya yang keren seperti punya mas Baktiar hiks. Dulu sempet ragu dengan lokasi Gua Kristral sesuai yang ditunjukkan GPS, akhirnya nyerah minta tolong diantar anak kecil penduduk desa buat menerobos hamparan karang hehehe. Oh ya, di Pulau Semau juga ada goa serupa kan? ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya berarti beneran dulu tempatnya susah dicari ya, GPS dulu susah karena yang kasih alamat juga sering gak akurat.. Eh beneran di Semau ada? didaerah mana?..

      Hapus
  6. pernah lihat foto foto goa kristal ini di komputer temen..
    bening banget yaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bening banget udah gitu airnya gak perih di mata...

      Hapus
  7. Air nya bening banget
    Tahun ini aku rencana mau ke kupang, yg ini masukin list

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bareng rombongannya om cumi yang itu kah hahahaha

      Hapus
    2. Liburan manja bareng groupies cumilebay, nanti meet up yesss hahaha

      Hapus
  8. Baru pertama kali kesini, top mas foto-fotonya ajib beneeeeer!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Shudai udah mampir dimari

      Hapus
  9. ini beneran ada di Indonesia? gila keren bangeeeetttt



    Cari rumah di Jakarta? Langsung aja klik ini gan.

    Perumahan terbesar dan sudah dihuni oleh 3 generasi
    www.citragardencity.com

    BalasHapus
  10. sadeeeeeeeeeeeeeeeeees!!! Udah lama gak ke Idonesia Timur. next destination setelah Eropa mau jajal ke sini ah. Thanks foto2nya, tsakep tsakep! Tapi kalo boleh ngasih saran, fotonya mending dibikin extra large atau minimal large lah, sayang udah bagus2 tp negliatnya kecil :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibuat large/extra large takutnya keberatan buat dibuka btw thanks buat masukannya.. ditunggu kapan mau nyasar ke sini..

      Hapus
  11. Salah satu tempat yang paling mengesankan memang di Goa kristal ini.
    Ah iya mas, setuju sama komennya takdos diatas. Apakah ga bisa digedein ya, mungkin pake lightbox kalo di wordpress, dimana kalo kita klik gambarnya, muncul pop up yang besar. Tenang aja, ga bakal bikin web berat koq, karena untuk ukuran large (versi web) bisa dibikin jadi 120kb koq. Untuk melindunginya lagi, tinggal kasih watermark saja.

    Salam kenal ya mas. Kita udh pernah kenalan belum ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pemandangan susah untuk dibukan ukuran 120kb udah pernah coba berkali-kali pake kompresi gak kena ukuran segitu. Coba nanti aku lihat lightbox moga2 bisa bikin ukuran gambar yang lebih gede, thanks inputnya mas Bobby

      Hapus
  12. Balasan
    1. Biru tosca tepatnya karena saking beningnya

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya