Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Kamis, 31 Maret 2016

Terpesona di Teluk Nangalok

Menikmati teluk Nanga Lok
Menikmati view teluk Nangalok dari atas bebatuan
Beberapa orang sedang sibuk mengeluarkan perbekalan makan sore yang terlalu awal. Saat ini sedang jam 4, masih terlalu awal untuk mengeluarkan makanan. Bau ikan bakar yang baru disiapkan tidak terlalu menarik perhatianku. Tarikan mataku  tetap terbetot pada view di depanku: teluk Nangaloh. Mengikuti kata hati, aku hanya menyahut "Sebentar" saat mereka meneriaki untuk makan sore dulu sebelum turun ke teluknya.


View teluk Nanga Lok
View teluk Nangalok ke arah ujung teluk
Dari bebatuan di sisi barat, aku berdiri di batu paling ujung terpana dengan pemandangan teluk yang begitu eksotis di mataku. Untuk sebuah teluk, baru kali ini aku melihat teluk yang begitu cantik terbingkai oleh perbukitan savana yang mengelilinginya. Pemandangan pepohonan bakau yang memenuhi bagian pinggir pantai justru membuat paduan alam yang menyempurnakan. Saat ini rumput sedang menghijau walau belum memenuhi seluruh perbukitan. Warna biru kehijauan air laut saat ini menunjukkan bahwa pantai ini masih sangat bersih.

Teluk Nangalok berada di perbatasan antara desa Nanga Mbaur kecamatan Sambi Rampas dan desa Golo Lijun kecamatan Elar. Walaupun secara administratif masuk dalam pemerintahan kabupaten Manggarai Timur tetapi saat ini Borong bukanlah jalur paling dekat untuk mencapai daerah itu karena saat ini jalur dari Borong langsung ke Pota (ibukota kecamatan Sambi Rampas) kondisi rusak parah. Jadi jalur paling masuk akal justru dari Ruteng (kabupaten Manggarai) masuk ke arah Reo baru ke Pota

-----------------------------------

Perjalanan ke Sambi Rampas sebenarnya berkaitan dengan pekerjaan dimana ada dua lokasi pekerjaan irigasi yang harus aku cek yang kebetulan kedua-duanya ada di daerah Sambi Rampas. Sambil menyelam minum air, aku mencoba mencari tahu obyek apa yang aku nantinya bisa mampir selepas pekerjaanku kelar. Pencarianku di internet sempat memunculkan nama Pantai Watu Pajung. Aku tidak terlalu yakin tapi juga tidak mau terlalu memusingkan. Bukanlah yang penting perjalanan itu sendiri kalau ada lokasi yang bagus ya itu bonus bukan? 

Jadi teluk ini memang bukan daerah yang aku incar untuk didatangi karena memang tidak ada yang menginformasikan keberadaan lokasi ini sebelumnya. Hanya ada satu orang bilang ada pantai yang bagus di sana yang sudah diincar oleh wisatawan asing. Tapi mereka tidak mengatakan kalau itu teluk?!? Entah sebenarnya mereka maksudkan teluk ini atau memang ada pantai yang lain.

Senja di Reo
View senja dari salah satu lokasi di daerah Reo
Karena pertimbangan waktu tempuh yang lama, start perjalanan sudah dimulai sejak setengah delapan pagi dari Borong. Ingat, jika di daerah seperti NTT yang paling penting untuk ke lokasi itu waktu tempuh bukan jarak tempuh. Bisa jadi jarak 100 km bisa ditempuh dalam waktu tak lebih dari 2 jam. Tapi sangat mungkin juga jarak 15 km bisa ditempuh dalam waktu lebih dari 2 jam. Juga penting untuk mengetahui seberapa sulit medan yang harus didatangi karena bisa jadi sebuah perjalanan batal hanya karena medan yang cuma 1 km panjangnya tapi kerusakan jalannya parah sekali sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Dari Borong ke Ruteng jelas jalannya sudah mulus walaupun banyak tikungan tajam tapi bisa dijangkau tak lebih dari satu setengah jam.
Perjalanan dari Ruteng menuju Reo kondisi liukan jalannya lebih parah dibanding Borong-Ruteng atau malah bisa kubilang tidak ada jalan lurus lebih dari seratus meter. Cuma sekarang jalannya lebih sempit serta banyak ruas yang sudah mulai rusak jadi memang harus lebih hati-hati.
Perjalanan mulai lebih sulit lagi dari Reo menuju Pota. Bayangkan jalan meliuk-liuk dengan lebar tak lebih dari 3,5 meter tapi kita tidak tahu apakah ada bahu jalan atau tidak karena bahu jalan dan sebagian badan jalan tertutup pepohonan. Saat ini memang masih masuk bulan hujan sehingga daerah-daerah pesisir pun tetumbuhan liar tumbuh dengan suburnya.


Suara berisik terdengar dari sokbreker Ford Escapes yang menghantam bodi mobil. Frans - sang driver, bilang mobil emang sudah bilang sebelumnya kalau sokbrekernya memang sudah tidak bagus. Pantesan saja, jika menghamtam jalan yang batuannya menonjol agak keluar dengan kecepatan sedang langsung terasa ayunannya. Bila tidak diturunkan kecepatannya maka ayunan akan makin kuat dan terakhir akan terasa ban yang menghantam body mobil.

Persawahan di kawasan Sambi Rampas
Persawahan di kawasan Sambi Rampas
Jam setengah satu baru lah memasuki Pota, kota kecamatan Sambi Rampas. Daerah Pota ternyata sudah cukup ramai. Setidaknya sudah ada satu pom bensin di daerah ini termasuk sudah ada juga dermaga barang. Yang terbaru katanya juga sudah dibangun dermaga penumpang yang memungkinkan kapal penumpang bersandar. Daerah Pota ini penduduknya cukup heterogen, akses mereka justru banyak yang langsung ke Makasar mungkin karena jalur laut lebih lancar dibanding jalur darat yang seperti di atas kondisinya.

Tambahan informasi saja, daerah Pota ini ternyata daerah yang subur. Ada ratusan hektar sawah yang memiliki pengairan irigasi di daerah ini. Pantas saja di daerah ini walaupun kecamatan yang jauh dari ibukota kabupaten tapi tetap hidup suasananya.
 
Selepas pekerjaanku, rekan dari masyarakat lokal Sambi Rampas mengajakku makan sore sebelum kembali dengan pertimbangan di perjalanan belum tentu kami menemukan rumah makan. Dari ide itulah akhirnya mereka memperkenalkan teluk Nangalok ini.
Dari Pota menyusuri jalan ke arah timur, kami sempat melewati pantai Waju Pajung yang sepertinya sedang dipersiapkan oleh pemerintah daerah untuk menjadi salah satu destinasi wisata.


Sekitar seperempat jam melewati pantai Watu Pajung barulah kita mendapatkan view teluk Nangalok ini. Jalan yang kami lewati sepertinya baru dibuat (mungkin perbaikan dan pelebaran dari jalan sebelumnya) dan menurut mereka akan menghubungkan seluruh kabupaten di Flores melalui trans utara. Berarti jika jalan ini sudah benar-benar terhubung, daerah-daerah wisata yang keren di sisi Utara pulau Flores akan lebih mudah dieksplorasi.

---------------------------------------

Kejernihan air laut di teluk Nanga Lok
Kejernihan air laut di teluk Nangalok
Karena merupakan perairan tertutup, kondisi perairan teluk sangat tenang. Walaupun matahari teriknya saat itu lebih dari biasanya namun angin yang bertiup dari perbukitan terasa menyejukkan. Suasana masih begitu tenang di sini. Kalau pun ada suasana ramai, tentu mereka yang sekarang sedang asyik dengan makan sore ikan bakar dan entah apalagi di pinggir jalan sana.

Aku hanya sebentar menyantap makan siang ikan bakar. Mungkin jika waktunya pas menyantap ikan bakar segar di waktu seperti ini akan terasa nikmat sekali apalagi berada di alam terbuka yang begitu menawan. Sayang pikiranku sedang ke teluk itu sehingga sebentar kemudian aku menyudahi makan sore dan balik ke teluk di seberang jalan itu.

Rerumputan menghijau di teluk Nanga Lok
Rumput menghijau menghiasi view sekitar teluk
Ada beberap perkampungan di sekitar teluk ini. Pak Feliks menunjukkan sebuah kampung yang berada di ujung dalam teluk yang legendanya merupakan penjaga teluk ini. Dia bercerita bahwa kawasan ini di jaga oleh orang tua di kampung itu, aku sendiri lupa nama kampungnya. Dulu sudah beberapa kali ada kegiatan AMD (ABRI Masuk Desa) di daerah ini.
Ceritanya, pada saat itu ada kunjungan damdim ke lokasi ini. Para tentara ingin menyuguhkan daging rusa untuk pimpinannya. Dulu di daerah ini masih banyak ditemukan rusa (entah sekarang). Karena butuh banyak maka para tentara itu minta orang tua itu menyediakan rusa untuk mereka. Orang tua itu menyanggupi tapi harus menghabiskan rusa yang dia bawa. Para tentara itu menyanggupi, maka orang tua itu pamit ke hutan. Tak lama kemudian dia membawa rusa besar untuk mereka yang langsung menjadi santapan nikmat para tentara. Namun ternyata mereka tak sanggup menghabiskan dan pagi hari di tempat mereka maka bukan sisa rusa yang mereka dapat tapi sisa batang kayu.


Dia juga menunjuk satu tempat di ujung teluk satunya yang tampah ada bagian pasir putihnya. Katanya, di sana ada tempat yang dibangun bule. Menurutku lokasi di sana memang strategis sekali. Bayangkan saja, teluk yang begitu aduhai dan memiliki pasir putih dan perbukitan ala teletubbies dengan posisi menghadap ke barat untuk menikmati sunset. Untuk urusan lokasi strategis seperti itu entah kenapa bule-bule bisa cepet sampai duluan sebelum kita ya.

Tambahan:
Di daerah Sambi Rampas juga ada sebuah danau yang dikenal dengan nama Rana Tonjong karena di danau itu ada bunga Tonjong (Teratai) yang tumbuh subur menutupi seluruh danau. Sebenarnya aku mau diajak makan di sana namun karena pertimbangan bahwa di danau itu saat ini baru tumbuh belum sampai musim berbunga sehingga aku disarankan lain kali saja ke sana. Kata pak Feliks musim berbunga puncaknya di bulan Mei-Juni. Itu waktu terbaik untuk mendapatkan danau dipenuhi dengan bungai Tonjong (Teratai).

2 komentar:

  1. Manggarai ini alam nya juara bangetyaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betool banget om Cumi, aku jadi pengen tour de Flores pake motor kayak om Tekno Bolang.. kalau om Cumi tour de Flores pake Terios ya... :D

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya