Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Selasa, 19 Mei 2015

Telaga Warna dalam Selimut Pagi

telaga warna pagi hari
Suasana di Telaga Warna yang terasa tenang saat pagi hari
Pagi di telaga yang begitu tenang kalau tidak ingin kukatakan sunyi. Selain aku dan penjaga yang malas buka gerbang, cuma tinggal dua mahluk sepasang yang ikut nimbrung (atau aku yang dibilang nimbrung). Itulah kenapa aku suka mendatangi telaga di pagi hari, di saat tubuh yang menggigil mendambakan selimut untuk melanjutkan lelap, dimana tubuh enggan beranjak dari tempat tidur. Apalagi di tempat dimana jaket saja belum tentu bisa menahan dingin? Ah masa, lah itu  di salah satu tempat duduk kayu duduk sepasang mahluk beda jenis yang cewe pake baju full open gitu gak kedinginan tuh. Kasian juga sih, cowonya pake jaket tapi ceweknya dibiarin bolong disana-sini.


telaga warna pagi hari
Matahari mulai menyinari kabut tipis yang turun
Sebenarnya perjalananku ke tempat ini karena kebetulan ada tugas dari kantor dan ada waktu luang aku coba manfaatin untuk mengunjungi tempat-tempat yang bisa dijangkau. Aku melemparkan pertanyaan ini di status facebookku yang mungkin memiliki referensi tertentu tentang tempat yang menarik di seputaran Ciawi. Dan rasanya referensi bu Erna Gunawan yang paling menarik perhatianku untuk mencoba ke Telaga Warna. Jadinya rekomendasi moto dari masjid di Puncak Pass deket rumah makan Rindu Alam aku batalin. Yah, kadang kita feeling aja mana yang sepertinya menarik untuk didatangi.  Dan jangan tanya apakah aku akan kecewa seandainya tempat tujuan itu tidak menarik seperti yang aku duga. "For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel's sake. The great affair is to move." tuh kata dari kang Robert Louis Stevenson. Jadi salah satu alasan kenapa aku gak mudah ngajak jalan orang lain, karena banyak kita yang terpatok pada lokasi tujuan sedangkan aku sendiri lebih kepada jalannya, tujuan cuma alasan untuk berhenti sesaat.


rakit tua di telaga warna
Sebuah perahu bambu yang tidak terpakai dipenuhi tanaman
Sendiri, aku memilih berangkat pagi karena belum mengenal lokasinya seperti apa. Umumnya jika sebuah danau/telaga di daerah perbukitan yang agak terbuka atau tidak ada bukit tinggi yang menutupinya biasanya jika mulai siang sampai sore airnya menjadi bergelombang, namun jika pagi airnya akan tetap tenang. Jadi dengan pagi aku sudah hampir memastikan bahwa aku akan mendapatkan suasana telaga yang tenang apapun kondisi telaganya.
Berangkat selepas Subuh, aku memilih berjalan kaki dari penginapan di Ciawi karena pagi buta begini belum ada belum ada ojek yang nampang di depan penginapan.

Bayangan pagi di Telaga Warna
Ketenangan seperti ini hanya dapat ditemui saat pagi
Baru dari pertigaan Danamon aku bisa mendapatkan mobil angkutan ke arah puncak berbekal informasi mamang yang juga jadi sopir angkutan. Katanya sih kalau di Telaga Warna itu dingin banget jadi harus pakai jaket, mungkin dia kasian liat aku yang cuma bawa kaos dalem sama rompi yang tentu gak bisa menahan hawa adem pegunungan. Tapi mamangnya bilang jangan kuatir, di atas pasti ada yang udah buka jualan sweater atau jaket. Aku berhenti di Tugu sesuai arahan dan berganti kendaraan ke arah Cisarua, patokannya angkutan yang berwarna kuning. Kenapa musti ganti karena Telaga Warna itu sudah masuk kabupaten Cianjur jadi angkutan kota tidak bisa melewati batas. Sebenarnya ada cara paling mudah yaitu naik bis kota yang menuju Bandung atau Cianjur yang melewati Puncak Pass. Cuma karena terlalu pagi kemungkinan bisa kelamaan cuma buat nunggu bis. Tapi kalau kita browsing kok nemunya Telaga Warna, Cisarua Kabupaten Bogor ya.. jadi bingung yang bener itu masuk Kabupaten Cianjur atau Kabupaten Bogor sih?!?


View Telaga Warna dari takit tua
View dari dalam perahu yang telah tak terpakai
Setelah melewati perkebunan teh milik Argo Gunung Mas yang juga banyak dijadikan tempat wisata alam akhirnya angkutan berhenti di sebuah lokasi yang dipenuhi para pedagang. Di belakang bangunan tampak sebuah masjid kecil dan disampingnya ada pintu gebang yang menunjukkan arah menuju Telaga Warna. Gak jauh jalannya kok cuma beberapa meter nanti ketemu gerbang masuk Telaga Warna. Penjaga gerbang ogah-ogahan waktu kita mau masuk, alesannya belum buka tapi saat disodorin uang 7rebu tanpa tiket langsung ijo cepet-cepet bukain gerbang... beuhh.. kalau urusannya duit aja dimana-mana sama.


View Telaga Warna pagi hari
Persahabatan bagai kepompong, semuanya pake kepompong
Telaga Warna ini ternyata berada di sekeliling bukit yang cukup tinggi di sisi Timur dan Selatan. Ini artinya kalau pagi sampai mungkin jam 8 suasana telaga pasti masih redup. Walaupun tetap enak untuk dinikmati namun di bawah jam 8 bisa dibilang bukan momen terbaik untuk mengambil foto. Kalau mau bersabar tunggulah sampai jam 8 ke atas karena di saat itu cahaya matahari sudah mulai memasuki celah-celah pepohonan membuat panorama Telaga Warna indah terpampang. Karena sepi asyik juga mondar-mandir disini sambil cari angle-angle yang bagus tapi asli cewe satu yang ditinggalin cowoknya sendiri dan asyik foto selfie ini agak mengganggu mata. Lah masak moto selfi bukan ke arah telaga tapi kearah dimana pahanya bisa ngangkang ke arahku.. Mau gak mau aku jadi perhatiin paha segede pentungan Mr Flintstone itu, belum lagi puser sama perutnya meluber kemana-mana akibat maksa pakai baju ukuran waktu SMP (ciri-ciri perempuan yang hemat). Duh kenapa mau moto pemandangan jadi banyak gini ya hehehe......

Kabut pagi di antara kebun teh yang baru dipangkas
Tak berapa lama kemudian beberapa pengunjung mulai berdatangan, hanya beberapa sih.. dua keluarga plus sodara sama buyut cicitnya :D. Penjual sekoteng baik hati ikutan datang jadi perut yang masih belum terisi dapat diganjel sama sekoteng panas seharga 8rebu, mahal ya? Gak lah, coba kamu bikin sendiri bawa kemari aku beli 10rebu juga gak papa..
Kalau menurut catatan di depan, Telaga Warna ini masuk kawasan cagar alam yang dikelola pemerintah. Makanya saat pagi-pagi banyak terdengar bunyi burung-burung dan teriakan seperti monyet dikejauhan. Aku masih bisa melihat seekor burung kecil berbulu biru dengan paruh panjang besar terbang melintasi telaga. 
Aku memutuskan kembali sekitar jam 8.19.. cieeh, kok hapal banget sih jamnya sampai menit begitu.. Sampai di jalan ternyata kendaraan arah ke Bogor antri memanjang, sepertinya ada buka-tutup jalan. Buka-tutup jalan di wilayah ini sudah biasa terjadi apalagi saat ada liburan seperti ini. Tau sendiri kan, orang Jakarta kalau libur bawaannya pengen melarikan diri aja dari Jakarta. Jadilah Bogor, Bandung dan Puncak jadi pelampiasan mereka.

Perkebunan teh di Puncak Pass
 Aku memutuskan jalan kaki sampai ke Tugu, tapi karena perut lapar aku mampir ke salah satu warung untuk makan. Di warung itulah aku mengenal salah lagi jenis lalapan namanya daun pohpohan. Rasanya harum-harum sengir kayak daun kemangi gitu.. sayang lagi gak pengen makan sambel banyak jadi gak bisa makan lalap sepuasnya, padahal pete yang digantung deket teteh berdiri dari tadi sudah melambai-lambai minta dicicipi. Petenya lho ya bukan tetehnya... pikiran jangan jorok nape!!! :D
Setelah selesai makan dan buang air kecil di kamar mandi masjid mulailah perjalanan dengan jalan kaki menuju Ciawi. Btw tentang kencing, entah cuacanya atau karena bawaan pengen minum, sepanjang jalan aku hitung sudah 6 kali masuk ke toilet 2rebu buat kencing.. dihitung-hitung abis 15rebu cuma buat kencing (karena yang terakhir uang 5rebu gak punya kembalian jadi dikasih aja semuanya). Ternyata jalan kaki lebih cepet daripada naik mobil. Itu mobil saking lama dapat giliran buka sampai banyak yang matiin mobil lalu istirahat sambil makan atau minum di pinggir jala. Kalau sering lama-lama ditutup gitu para pedagang di pinggir jalan jadi kecipratan rejeki. Yah, ternyata dibalik kesulitan tertentu ada kemudahan. 
Para ibu-ibu pekerja sedang memanen daun teh
Entah berapa jauh jarak dari Telaga Warna sampai dengan Ciawi yang pasti sampai dengan jam satu siang lebih aku baru sampai di daerah Cimory, berarti aku telah berjalan kaki 5 jam. Yah mungkin juga karena aku beberapa kali masuk ke dalam perbukitan kebun teh jika aku melihat view-view menarik. Namun berjalan menurun saat jam buka-tutup seperti ini harus berhati-hati karena jalur yang jadi sempit jadi kadang saat bis-bis yang berukuran besar lewat aku memilih minggir di tepi. Namun beberapa motor yang kadang mendesak ingin mendahului juga jadi fokus aku. Beberapa kali aku harus naik sampai ke pinggir jalan untuk menghindari motor yang mencoba melewati bis dari sisi dalam. Untungnya lagi suasana puncak yang lagi banyak awan sehingga tidak terlalu terasa menyengat walaupun berjalan dengan matahari yang telah di atas kepala.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya