Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Kamis, 17 Oktober 2013

Seri Rote: Pantai Sebelah Kali (Antara Dermaga-Mokdale)

Langit bergelora di atas pantai sebelah kali
Sore itu di hari ketiga penugasanku di Rote, langit yang biasanya cerah tanpa awan tebal tiba-tiba diselimuti mendung yang cukup tebal. Bukan cuaca yang normal pada bulan September seperti ini. Memang ada sekali waktunya hujan di bulan-bulan kering yang orang Kupang menyebutnya sebagai hujan bunga mangga, maksudnya hujan ini sekali datang pas pohon mangga sedang berbunga dan biasanya setelah itu diikuti panas terik musim kemarau. Entah yang hari ini, tapi aku tidak berharap awan kali ini akan berbuah hujan kencang, setidaknya untuk dua minggu penugasanku di sini. Mencoba peruntungan, aku membawa peralatan kameraku sore itu mau memotret di pinggir pantai di belakang hotel. Hotel Grace yang terletak persis di pinggir pantai memang menjadi tempat strategis untuk memantau suasana pantai. Dari teras belakang kita bisa apakah air sedang pasang atau surut, termasuk melihat matahari turun di balik bukit dari pantai Tiang Bendera.

Saat turun tangga aku bertemu dengan orang tua yang juga sedang menenteng kamera juga, dia memperkenalkan diri dengan nama Made. Pak Made ini baru sekali ke Rote, kebetulan dia sedang ada penugasan uji kelayakan pembangunan perpanjangan landas pacu. Dimana tempat yang bagus untuk memotret? tanyanya. Aku bingung juga, banyak tempat yang bagus untuk memotret di sini tapi tidak dengan situasi saat ini. Aku ingat sebuah tempat di dekat sini yang punya suasana pantainya cukup nyaman, termasuk juga banyak kegiatan dari masyarakat sekitar baik para orang tua dengan perahu-perahu penangkap ikannya juga anak-anak dengan permainan di pantainya. Seperti lokasi ini cocok dengan hobi pak Made yang suka memotret orang (ada yang mengistilahkan HI: Human Interest). Aku kurang tau sebutan untuk pantai ini, tapi lain waktu saat kutanya Sonny, dia bilang orang di sini menyebutkan pantai sebelah kali.
Sambil berjalan menuju lokasi, pak Made menjepretkan kameranya berulang kali di sekitar pertokoan yang sering menjadi pasar ikan dadakan terutama pagi hari. Aku sendiri tidak memotret karena di tanganku hanya ada satu kamera dengan lensa 11-16mm yang jika memotret orang harus dalam jarak dekat. Setidaknya tidak tepat untuk saat seperti ini. 
Setelah jalan ke atas sedikit dari dermaga, aku dan pak Made melewati jembatan yang melintasi kali Nah kali inilah yang membuat pantai di dekat situ dikenal dengan sebutan pantai sebelah kali. Kali ini cukup bersih bahkan seringkali digunakan untuk sopir angkutan ataupun truk mampir untuk mencuci kendaraannya.


Letaknya pantai ini memang di sebelah kali setelah dermaga namun sebelum pantai Mokdale yang pernah aku ceritakan sebelumnya waktu berjalan-jalan menuju Pantai Tiang Bendera. Beberapa perahu bersandar di pantai karena sekarang baru puncak surut. Sangat surut hingga aku bisa berjalan di atas pasir beberapa ratus meter ke depan. Sebenarnya aku berencana mau berjalan sampai ke pantai Tiang Bendera karena dengan kondisi surut seperti ini jarak dari Ba'a ke pantai Tulandale pasti tak lebih dari lima belas menit. Sayang kondisi matahari yang tak tampak membuat aku salah kira kalau matahari sudah di batas hingga aku membatalkan ke sana karena waktu yang aku rasa tidak cukup.
Langit sepertinya terlalu kelam, langit yang dipenuhi warna abu-abu gelap menipiskan harapan akan munculnya matahari di ujung horison. Tapi sepertinya cuaca sedang berpihak, walau tak mampu menyinari seluruh langgit, di akhir-akhir senja matahari ternyata mau menampakkan diri tepat di ujung horison. Namun sayang saat hilangnya matahari ada di balik pantai Tiang Bendera.
Karena surut sangat jauh, beberapa anak-anak bisa bermain sampai ke tengah laut. Beberapa orang anak perempuan menjadi kerang dan ikan yang terjebak di kubangan-kubangan pasir.
Dan lagi-lagi aku harus berkutat dengan masalah error di kameraku (atau lensa?)
Pak Made sendiri lebih asyik memotret aktivitas orang-orang di sekitar pantai. Beberapa anak yang sedang bermain ban motor bekas menjadi obyek pak Made. Pak Made cepat akrab dengan orang-orang di sekitar sementara aku di belakang sekedar mengikuti.
Untungnya hari ini tidak jatuh hujan. Memotret di kala mendung seperti ini memang sangat butuh keberuntungan, walaupun aku tidak beruntung dengan kondisi kameraku.

Walaupun bukan tempat wisata, tak ada salahnya jika ke Rote mampir ke tempat ini. Tempatnya lumayan enak lah buat sekedar duduk-duduk sambil memandangi aktivitas penduduk di sekitar pada senja hari. Walau hanya pada bulan-bulan antara April-Agustus kemungkinan bisa melihat matahari tenggelam di pantai ini, tapi warna langit dan suasana pantai yang masih natural masih nyaman dinikmati terutama karena tidak banyak sampah seperti di beberapa pantai yang aku kunjungi di tempat lain.
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya