Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Minggu, 22 September 2013

Seri Rote: Batu Termanu

Menikmati malam di Batu Termanu
Sudah lama aku ingin jalan ke Batu Termanu karena dari daftar tempat yang cukup dekat dari kota Ba’a tapi malah belum pernah aku kunjungi selama beberapa kali penugasan ke Rote Ndao. Sedikit informasi, Rote Ndao berasal dua kata: Rote dan Ndao, nama dua pulau besar yang disatukan menjadi nama kabupaten. Rote Ndao sendiri merupakan kabupaten yang berada di paling selatan Indonesia, dan pulau terluarnya adalah pulau Ndana.
Sonny dan Try duduk melototi bintang
Makanya waktu kali ketiga kesini aku usahain supaya bisa mampir kesana. Pucuk dicinta ulam tiba, walaupun aku sudah niat jalan kaki ke sana namun ternyata ada teman yang bersedia yang punya motor mau menemani aku kesana. Sonny Saban, teman yang selama ini hanya bertemu lewat sosmed facebook karena kesamaan hobi sama-sama menyukai fotografi bergenre landscape. Jadi perjalanan ke batu termanu menjadi perjalanan dan perkenalan langsung pertama aku dengan Sonny. Eh salah, sebenarnya malah justru ke Nemberala yang pertama ding. Sebelumnya aku pernah coba jalan kaki tapi ternyata hanya sampai daerah PPI Tulandale yang jaraknya hanya separo dari Ba'a ke Batu Termanu.
Pertama kali datang ke hotel cukup kaget juga sih, ternyata orangnya jauh lebih kurus daripada fotonya di facebook beda jauh banget sama kang Eddy yang badannya kayak kingkong hehehehe *sorry pren, just kidding...* Tapi yang pasti sih orangnya bersahabat banget. Hari pertama dan kedua aku tidak langsung ke Batu Termanu karena pertemuan pertama waktu sudah terlalu sore. Batu Termanu baru aku utarain ke dia setelah perjalanan ke Nemberala hari Minggu.
Senin sore, sehari setelah sebelumnya ke Nemberala akhirnya aku, Sonny dan Try menggunakan dua motor memutuskan ke Batu Termanu. Jaraknya gak jauh, paling sekitar sepuluh menit sudah sampai di sana. Batu Termanu arahnya ke timur dari Ba’a setelah melewati Tulandale yang menjadi PPI di Rote dan pantai Leli yang dipenuhi tonjolan batu-batu karang di laut seperti di pantai Tiang Bendera.
Model dan fotografer
Sendiri merajut mimpi
Untuk menuju bukit terdekat di Batu Termanu, disebuah jalan kami berbelok ke arah jalan tanah menuju ke arah gerbang hotel Tiberias. Sebenarnya ini jalan umum tapi disisi kiri kanan terdapat pagar yang mengelilingi sehingga sepertinya jalan itu privat milik hotel. Ada dua tempat penginapan di sini, satu hotel Tiberias satunya lagi ada di sebelahnya aku lupa namanya. Tapi kalau penugasan kurang enak nginep disini karena jauh dari keramaian, mau makan jadi repot harus balik ke Ba’a lagi.
View Batu Termanu dari depan hotel Tiberias
Batu Termanu ini sebenarnya sebenarnya mirip sebuah tanjung yang berupa batu besar dengan tegak berdiri pipih memanjang. Karena bentuk batunya yang seperti itu jadi mudah dikenali jika melewati daerah ini. Dari atas jalan tinggi di perbukitan sebelum sampai disini, bentuk Batu Termanu sudah bisa terlihat jelas.
Sampai di atas ternyata udah terlalu sore, kami gak dapat lagi matahari karena sudah menghilang di balik awan. Perbukitan yang rumput-rumputnya telah rata tinggal menyisakan warna kuning semakin menguning oleh senja. 
Setelah menyandarkan motor di bawah, kami naik ke atas bukit yang dipenuhi banyak tai sapi. Sepertinya bukit-bukit di NTT dijadikan tempat gembala makanya banyak tainya. Kami bertiga duduk di atas batu, harus hati-hati memilih tempat duduk. Salah memilih bisa-bisa tai kering kita kira batu dan kita duduki begitu saja.
Dari atas bukit, kami bisa melihat ke seluruh penjuru arah. Dari bukit tempat kami berdiri, Batu Termanu tampak di sisi Utara. Berbeda dengan tempat kami berdiri yang tampak kering, Batu Termanu walau batu yang mencuat ke atas hanya batu keras saja namun di bagian bawah tampak pepohonan masih tumbuh berdiri menghijau walaupun ada juga yang telah mengering. Di sebelah dari Batu Termanu ada bukit yang di atas tampak terpancang sebuah salib kecil di puncaknya. Sementara di sisi Timur dari bukit, tampak beberapa bangunan peneduh dibangun di pesisir pantai yang pasirnya juga berwarna putih. Bangunan ini sepertinya disiapkan oleh pemda untuk menjadi lokasi wisata alternatif karena letaknya yang terhalang bukit dan pepohonan bakau dan di bagian depan ada sebuah pulau yang katanya adalah batu betina (pasangan dari Batu Termanu). Untungnya kami datang sore menjelang gelap seperti ini. Seandainya saja kami datang siang hari tentu hawanya akan terasa terik sekali.
Soul of traveller
Daerah ini masih tampak sepi, beberapa ratus meter dari daerah kami berdiri tidak tampak bangunan kecuali dua hotel tadi, dan beberapa rumah yang agak jauh dari sini. Saat mulai gelap, hanya tampak cahaya dari dua bangunan jauh di bawah itu, itu pun tidak berpengaruh dari sini kecuali bagai kerlip saja. Sayangnya angin yang bertiup terasa keras. Angin bulan ini memang terasa sangat keras, apalagi kami yang sedang berdiri di atas bukit. Tapi menurutku masih jauh lebih keras saat kami di Pantai Tiang Bendera. Bahkan kami selepas perjalanan ke Tiang Bendera harus merasakan akibatnya: perut kembung seharian.
Warna yang semula kuning semakin memerah dan disambung warna biru yang terus menggelap. Aku dan Sonny tentu saja tetap mencoba angle-angle yang mungkin. Aku sendiri sedang mengalami kesulitan menghandle lensa Tokina 11-16mm yang selalu nangkring di kameraku. Entah sejak kapan, tapi dalam kondisi yang aku kurang tau persis sering sekali mengalami error (disebut di kamera dengan istilah "ERR 001": terjadi masalah kontak antara kamera dengan lensa). Belakangan baru aku ketahui kalau error ini selalu menimpa saat aku menggunakan fokal lensa di 13mm ke bawah, jika menggunakan di atas itu ternyata tidak bermasalah dengan error itu. Itu pun aku masih harus menghadapi lensa yang bermasalah shutter speednya.
Bukit Termanu senja hari
Karena memang tidak memungkinkan untuk memotret senja lagi akhirnya kita memutuskan untuk menunggu malam. Sebenarnya sih memang aku mau mencoba memotret langit karena pada saat ini jika telah mulai gelap maka dengan mudah kita akan melihat sebentuk gumpalan tipis memanjang seperti awan dari utara ke selatan yang kita kenal sebagai galaksi Bima Sakti (Milky Way). Namun memang ada sepenggal bulan berbentuk bulan sabit yang akan menyulitkan kita mengambil foto galaksi. Walaupun secara mata kita masih bisa melihatnya, namun saat difoto maka cahaya sekecil apapun dengan mudah mempengaruhi penampakan sang Bima Sakti.
Saat gelap bukit Termanu makin terlihat angker berdiri dengan batu besarnya yang berubah menggelap. Saat itu memang cahaya bulan yang cuma sabit kecilpun masih harus dihalangi oleh awan-awan yang bergerak cukup cepat. Angin yang dari sore berhembus lumayan kencang masih juga terasa, walaupun sedikit menurun. Saran saya, kalau ke tempat-tempat terbuka seperti ini memang sebaiknya jangan pas musim angin. Dan satu lagi, bawa senter! Walaupun saat ini sebagian tai sapi yang ada sudah kering pastilah sebelumnya masih basah. Tentu tidak ingin kan anda pulang dengan menginjak tai sapi yang masih basah *tutup hidung*... Try saja nyaris salah ambil, waktu balik mau ambil jaket dia liat seonggok benda lumayan besar yang dikira jaketnya. Waktu mau diangkat baru sadar kalau itu tai kering. (ups, sorry Try buka rahasia :D)
Semakin larut, suasana semakin tenang. Jelas, tinggal kami bertigalah yang berdiri di bukit ini yang masuk kategori manusia. 
Sayangnya kami tidak membawa amunisi makanan dan minuman, pasti sangat menyenangkan duduk-duduk disini melihat bintang sambil ngobrol dan minum minuman panas (seandainya saja aku bawa termos yang biasa aku bawa kemana-mana). Aku dan Sonny berbagi banyak cerita dengan hobi kami memotret, sebuah kesempatan yang menyenangkan bertemu dan berbincang dengan teman-teman yang tidak hanya suka memotret tapi menyukai berjalan-jalan.
Sekitar jam setengah delapan kami memutuskan kembali ke hotel.

Thanks udah nemeni jalan-jalan kesini Sonny Saban yang udah rela tidak tugas demi menemani kita jalan-jalan plus pinjaman motor Mega Pro-nya yang masih ciamik (rajin ngerawat ya mas karena gak ada yang lagi yang dirawat disana hehehe) dan Try Sutrisno Sianipar yang sudah mau jadi obyek diam (gile juga padahal angin kenceng, susah tuh bisa diem begitu 1 menit)

6 komentar:

  1. wow keren abissss!!! cocok buat foto prewed ya kayaknya tempatnya hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Meutia... asyik buat prewed asal pas gak siang hari.. puanasnya itu lho :D

      Hapus
  2. Ajarin aku moto dong kakak ???? Sumpah bikin iri, keren bener. Btw aku suka banget foto yg 1. Gw perna ngerasain tidur di dermaga pulau biawak, di temanin bintang bertaburan dan itu rasa nya JLEB banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha om cumi... siap lensanya error ya, ini gara2 hobi moto malem lensa mulai error nih :D ... di tempat yang gak ada polusi, menikmati malam bisa menjadi romansa traveller yang JLEB emang :D

      Hapus
  3. wah mas B, keren banget. aku agak ogah motret malem berhubung cuma punya kamera DSLR tua..begitu pake shutter speed 10 detik bunyi processornya kayak tenggorokan mau batuk,,was-was jadinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo 20 detik masih bisa? kayaknya 20 detik dah cukup, cuma gak tau di ISO 3200 noisenya masih bisa handle gak?

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya