Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Sabtu, 28 September 2013

Seri Rote: Nemberala, We Call It Beach

Punya laut yang indah? Kamu dapat membandingkannya dengan Nemberala. Ini yang kita sebut pantai...
Tempat kedua yang aku datangi di Rote adalah Nemberala. Kalau aku bilang, Nemberala sekarang ini sudah mirip kampung bule. It’s not a joke, dude! Kalau kamu berkunjung ke pantai Nemberala suatu hari nanti kamu akan tahu persis apa yang kurasakan saat disana. Di sepanjang pantai Nemberala, kalau kamu menemui bangunan dengan penataan yang bagus maka kemungkinan itu milik bule. Beneran? Yup, gak salah lagi. Di sepanjang pantai yang membentang di sisi barat dari pantai Nemberala hingga ke pantai Boa satu demi satu bule mulai membangun di tempat ini. Gak perlu ditanya alasanya lah, gelombang tinggi, pasir putih menghampar dan pohon kelapa adalah paduan khas tentang surganya para pecinta surfing. 
Aku pernah ke tempat ini sekitar tahun 2008 (persisnya ntar aku cek lagi di album foto facebook, lupa sih hihihi). Sudah lima tahun lalu lamanya dan setelah itu nyaris tidak pernah mendatangi Rote lagi. Waktu itu tempat ini masih tempat ini kondisinya jalannya tidak semuanya beraspal, bahkan untuk sampai ke pantai Boa waktu itu kami harus melewati jalan yang masih berupa tanah berpasir putih. Keren kan? Sekarang jalan beraspal telah membentang di sini walau tetap saja tidak semuanya mulus dilewati karena belum jalan besar.

Salah satu pantai di sisi utara Nemberala
Sekitar hari Minggu aku berdua dengan Sonny naik motor ke Nemberala. Tujuan awal kami justru bukan Nemberala karena aku dan teman-teman lain berencana mampir ke Nemberala lain waktu sehingga perjalanan kali ini sebenarnya kami mau ke pantai Oeseli yang berada di sisi selatan pulau Rote. Tapi karena perhitungan waktu saat itu akhirnya tujuan kami belokkan ke arah Nemberala yang lebih dekat.
Sonny menjemputku dengan motornya jam tiga sehingga aku dan dia baru bisa berangkat setengah empat sore. Menuju ke arah barat, satu jam pertama perjalanan berjalan nyaman karena kondisi jalan cukup bagus. Kami melewati daerah Busalangga, disini ada pasar Busalangga yang buka pada hari-hari tertentu, kalau tidak salah hari Sabtu. Yang aku ingat dulunya sangat terkenal ramai pada saat buka, dan disana menjadi tempat tujuan pelancong yang ingin menjadi makanan khas Rote dengan harga murah: gula Rote (gula dari pohon Lontar) baik yang padat berbentuk lempengan bulat pipih atau yang masih berupa air gula, kain rote yang berasal langsung dari pembuatnya, susu goreng dan beberapa hasil kebun. Aku ingat dulu beli bawang merah disini. Kalau umumnya bawang merah dijual di pasar sudah tinggal bijinya maka di pasar Busalangga bawang merah dijual dengan tangkai daunnya sebagai alat pengikat.

Kelapa berbatang tinggi yang banyak ada di sini
Aku juga sempat mampir dulu di Danau Tua yang terletak di pertengahan jalan. Aku gak tahu kenapa disebut danau tua, tapi di pinggir-pinggir danau banyak tumbuh pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi tapi batangnya besar berurat yang menunjukkan bahwa batang-batang pohon itu sudah berusia lama. Mungkin beberapa pohon telah berusia ratusan tahun lebih. Sayangnya danau ini sudah mengalami pendangkalan. Aku tidak terlalu lama disini karena waktu makin mepet.
Sayangnya beberapa kilometer menuju Nemberala justru jalanan masih jelek, kondisi jalan yang aspalnya sudah mengelupas disana-sini. Ada beberapa ruas yang justru tinggal batu-batu saja. Dan itu justru memakan waktu seperempat jam lebih untuk dilewatinya. Sebuah gerbang selamat datang membentang di antara jalan yang menunjukkan kita telah sampai di pantai Nemberala. Tepat dipertigaan di pinggir pantai, kami memilih berbelok ke kanan arah ke utara karena arah itu yang belum pernah aku lewati. Menurut Sonny, ke arah sana kita menuju ke perkampungan dimana banyak perahu disandarkan. Disepanjang jalan itulah banyak aku temui bangunan-bangunan berpagar batu rapi yang menghalangi pemandangan langsung ke pantai yang adalah rumah-rumah para bule. Pagar-pagar batu menjadi pemandangan khas di Rote, namun jika umumnya masyarakat membuat pagar batu dari batu karang hanya selapis sehingga masih tampak berongga tidak rapat maka umumnya bangunan-bangunan yang bagus membuat pagar batu beberapa lapis sehingga tidak berongga. 

Rumput laut yang gagal panen karena kena gelombang
Di salah satu pantai, Sonny memarkir motor di bawah pohon Jambu mete lalu turun diantara karang-karang hingga bertemu pantai di sisi lekukan dalam karang yang berpasir putih. Beberapa perahu nelayan bersandar. Di kejauhan tampak seseorang sedang memunguti sesuatu, yang setelah aku dekati ternyata rumput laut. Beberapa hari ini memang cuaca sedang tidak bagus, kalau gak salah hampir lima hari pelayaran kapal cepat terpaksa bersandar di Kupang tidak bisa ke Rote karena cuaca yang buruk sehingga BMKG melarang pelayaran. Ternyata akibat cuaca buruk ini tidak hanya berimbas ke pelayaran tapi juga ke nelayan dan petani rumput laut. Rupanya rumput laut yang dikumpulkan ini adalah rumput laut laut yang mereka tanami dan berantakan akibat hempasan gelombang yang tidak bersahabat.
Selain itu, gelombang juga membuat rumput-rumput laut yang masih terpasang di ikatan dipenuhi sejenis lumut hijau panjang. Saat aku memotret seorang ibu yang sedang membersihkan rumput lautnya yang masih bisa diselamatkan, masih bisa bercanda “Anak, mama ini capek sekali pinggang bersih-bersih rumput laut, tapi anak foto mama nih, mama langsung segar memang,” yang disambut tawa rekan-rekannya sesama ibu. Ah, semoga masih banyak yang bisa diselamatkan setidaknya masih layak lah hasil yang bisa dibawa pulang ke rumah. Sekarang di sepanjang pantai lebih banyak tumbuh kelapa-kelapa yang pohonnya pendek. Hanya di titik-titik tertentu aku masih menemukan kelapa berbatang tinggi dan itu terasa eksotis sekali. Salah satunya ada di kanan dari Nemberala Resort.


Salah satu rumah punya bule, sepanjang pantai inilah viewnya
Saat matahari mendekati cakrawala, beberapa perahu yang mengangkut bule-bule yang habis berselancar merapat ke pantai. Jadi kalau lihat bule cantik jalan cuma pake two piece bawa papan selancar jangan langsung melotot ya gan, ente diculek ntar.... hahahaha... Dan juga jangan heran kalau melihat bule tua namun masih perkasa dengan papan seluncurnya. Kegilaan mereka dengan berselancar sepertinya tidak bisa dibendung. Coba saja seandainya mereka dibolehkan membeli tanah atau menjadi warga Indonesia pasti mereka sudah berbondong ganti kewarganegaraan. Untung peraturan kita tidak membolehkan tanah dibeli warga asing, sehingga walaupun warga asing berdiam disini tetap saja mereka tidak memiliki nama atas sertifikat itu. Sebagian lagi ada yang berkeluarga dengan penduduk lokal dan tentu saja sertifikat-sertifikat tanah itu atas nama pasangannya.
Beberapa hari kemudian aku habis dari liat sekolahan, pas makan juga mampir di Nemberala lagi. Awalnya sih udah mau ke Oeseli tapi eh ternyata jalan potongnya lagi ada pekerjaan penambahan sirtu (pasir batu), keruan aja gak bisa dilewati. Karena perut sudah bernyanyi keroncongan jadi akhirnya mampir yang paling deket. Jadinya ya ke Nemberala lagi. Lumayan juga, makan siang di bawah pohon kelapa sambil memandangi laut yang berwarna biru kehijauan.

Melepas hari dengan sebotol bir dan sunset yang indah
Minggu depannya akhirnya aku bisa berangkat berempat bareng Sonny, Try, dan Rey karena beban kerjaan sudah tidak terlalu banyak. Aku berangkat sudah masih siang sekitar jam setengah tiga. Jadi sebelum nanti ke Nemberala, kami mau ke pantai Boa. 
Rey sempat bingung bagaimana mereka berselancar karena dia melihat di sepanjang pinggir pantai lebih banyak dipenuhi karang dan tanaman rumput laut yang dibudidayakan. Aku menunjuk di kejauhan dimana ombak tampak bergulung-gulung besar. Jadi disini jika ingin surfing bukan langsung nyemplung dan mendapatkan ombak di pinggir pantai melainkan harus berenang jauh ke tengah dimana karang sudah tidak ada. Jadi jangan takut walaupun ombak Nemberala jika pada musimnya terkenal besar tapi itu hanya di kejauhan karena di pinggir pantai terhalang karang. Itu lah kenapa walaupun terkenal dengan ombaknya, tapi Nemberala juga banyak petani rumput laut.
Kami kembali dari pantai Boa sudah sore, matahari sudah tenggelam dalam warna kuning memerah. Saat warna kemerahan mulai menarik diri oleh warna biru gelap, sekelompok bule duduk-duduk di lopo depan sambil  ngobrol. Denting gitar mengalun menyanyikan lagu reggae. Pantai indah berpasir putih dan jajaran pohon kelapa berpadu sempurna dengan lagu-lagu dari Bob Marley... thar’s beautiful moment dude... siapa yang menyalahkan para bule tua ini menikmati keindahan surga Indonesia di pantai Nemberala.

Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 22 September 2013

Seri Rote: Batu Termanu

Menikmati malam di Batu Termanu
Sudah lama aku ingin jalan ke Batu Termanu karena dari daftar tempat yang cukup dekat dari kota Ba’a tapi malah belum pernah aku kunjungi selama beberapa kali penugasan ke Rote Ndao. Sedikit informasi, Rote Ndao berasal dua kata: Rote dan Ndao, nama dua pulau besar yang disatukan menjadi nama kabupaten. Rote Ndao sendiri merupakan kabupaten yang berada di paling selatan Indonesia, dan pulau terluarnya adalah pulau Ndana.
Sonny dan Try duduk melototi bintang
Makanya waktu kali ketiga kesini aku usahain supaya bisa mampir kesana. Pucuk dicinta ulam tiba, walaupun aku sudah niat jalan kaki ke sana namun ternyata ada teman yang bersedia yang punya motor mau menemani aku kesana. Sonny Saban, teman yang selama ini hanya bertemu lewat sosmed facebook karena kesamaan hobi sama-sama menyukai fotografi bergenre landscape. Jadi perjalanan ke batu termanu menjadi perjalanan dan perkenalan langsung pertama aku dengan Sonny. Eh salah, sebenarnya malah justru ke Nemberala yang pertama ding. Sebelumnya aku pernah coba jalan kaki tapi ternyata hanya sampai daerah PPI Tulandale yang jaraknya hanya separo dari Ba'a ke Batu Termanu.
Pertama kali datang ke hotel cukup kaget juga sih, ternyata orangnya jauh lebih kurus daripada fotonya di facebook beda jauh banget sama kang Eddy yang badannya kayak kingkong hehehehe *sorry pren, just kidding...* Tapi yang pasti sih orangnya bersahabat banget. Hari pertama dan kedua aku tidak langsung ke Batu Termanu karena pertemuan pertama waktu sudah terlalu sore. Batu Termanu baru aku utarain ke dia setelah perjalanan ke Nemberala hari Minggu.
Senin sore, sehari setelah sebelumnya ke Nemberala akhirnya aku, Sonny dan Try menggunakan dua motor memutuskan ke Batu Termanu. Jaraknya gak jauh, paling sekitar sepuluh menit sudah sampai di sana. Batu Termanu arahnya ke timur dari Ba’a setelah melewati Tulandale yang menjadi PPI di Rote dan pantai Leli yang dipenuhi tonjolan batu-batu karang di laut seperti di pantai Tiang Bendera.
Model dan fotografer
Sendiri merajut mimpi
Untuk menuju bukit terdekat di Batu Termanu, disebuah jalan kami berbelok ke arah jalan tanah menuju ke arah gerbang hotel Tiberias. Sebenarnya ini jalan umum tapi disisi kiri kanan terdapat pagar yang mengelilingi sehingga sepertinya jalan itu privat milik hotel. Ada dua tempat penginapan di sini, satu hotel Tiberias satunya lagi ada di sebelahnya aku lupa namanya. Tapi kalau penugasan kurang enak nginep disini karena jauh dari keramaian, mau makan jadi repot harus balik ke Ba’a lagi.
View Batu Termanu dari depan hotel Tiberias
Batu Termanu ini sebenarnya sebenarnya mirip sebuah tanjung yang berupa batu besar dengan tegak berdiri pipih memanjang. Karena bentuk batunya yang seperti itu jadi mudah dikenali jika melewati daerah ini. Dari atas jalan tinggi di perbukitan sebelum sampai disini, bentuk Batu Termanu sudah bisa terlihat jelas.
Sampai di atas ternyata udah terlalu sore, kami gak dapat lagi matahari karena sudah menghilang di balik awan. Perbukitan yang rumput-rumputnya telah rata tinggal menyisakan warna kuning semakin menguning oleh senja. 
Setelah menyandarkan motor di bawah, kami naik ke atas bukit yang dipenuhi banyak tai sapi. Sepertinya bukit-bukit di NTT dijadikan tempat gembala makanya banyak tainya. Kami bertiga duduk di atas batu, harus hati-hati memilih tempat duduk. Salah memilih bisa-bisa tai kering kita kira batu dan kita duduki begitu saja.
Dari atas bukit, kami bisa melihat ke seluruh penjuru arah. Dari bukit tempat kami berdiri, Batu Termanu tampak di sisi Utara. Berbeda dengan tempat kami berdiri yang tampak kering, Batu Termanu walau batu yang mencuat ke atas hanya batu keras saja namun di bagian bawah tampak pepohonan masih tumbuh berdiri menghijau walaupun ada juga yang telah mengering. Di sebelah dari Batu Termanu ada bukit yang di atas tampak terpancang sebuah salib kecil di puncaknya. Sementara di sisi Timur dari bukit, tampak beberapa bangunan peneduh dibangun di pesisir pantai yang pasirnya juga berwarna putih. Bangunan ini sepertinya disiapkan oleh pemda untuk menjadi lokasi wisata alternatif karena letaknya yang terhalang bukit dan pepohonan bakau dan di bagian depan ada sebuah pulau yang katanya adalah batu betina (pasangan dari Batu Termanu). Untungnya kami datang sore menjelang gelap seperti ini. Seandainya saja kami datang siang hari tentu hawanya akan terasa terik sekali.
Soul of traveller
Daerah ini masih tampak sepi, beberapa ratus meter dari daerah kami berdiri tidak tampak bangunan kecuali dua hotel tadi, dan beberapa rumah yang agak jauh dari sini. Saat mulai gelap, hanya tampak cahaya dari dua bangunan jauh di bawah itu, itu pun tidak berpengaruh dari sini kecuali bagai kerlip saja. Sayangnya angin yang bertiup terasa keras. Angin bulan ini memang terasa sangat keras, apalagi kami yang sedang berdiri di atas bukit. Tapi menurutku masih jauh lebih keras saat kami di Pantai Tiang Bendera. Bahkan kami selepas perjalanan ke Tiang Bendera harus merasakan akibatnya: perut kembung seharian.
Warna yang semula kuning semakin memerah dan disambung warna biru yang terus menggelap. Aku dan Sonny tentu saja tetap mencoba angle-angle yang mungkin. Aku sendiri sedang mengalami kesulitan menghandle lensa Tokina 11-16mm yang selalu nangkring di kameraku. Entah sejak kapan, tapi dalam kondisi yang aku kurang tau persis sering sekali mengalami error (disebut di kamera dengan istilah "ERR 001": terjadi masalah kontak antara kamera dengan lensa). Belakangan baru aku ketahui kalau error ini selalu menimpa saat aku menggunakan fokal lensa di 13mm ke bawah, jika menggunakan di atas itu ternyata tidak bermasalah dengan error itu. Itu pun aku masih harus menghadapi lensa yang bermasalah shutter speednya.
Bukit Termanu senja hari
Karena memang tidak memungkinkan untuk memotret senja lagi akhirnya kita memutuskan untuk menunggu malam. Sebenarnya sih memang aku mau mencoba memotret langit karena pada saat ini jika telah mulai gelap maka dengan mudah kita akan melihat sebentuk gumpalan tipis memanjang seperti awan dari utara ke selatan yang kita kenal sebagai galaksi Bima Sakti (Milky Way). Namun memang ada sepenggal bulan berbentuk bulan sabit yang akan menyulitkan kita mengambil foto galaksi. Walaupun secara mata kita masih bisa melihatnya, namun saat difoto maka cahaya sekecil apapun dengan mudah mempengaruhi penampakan sang Bima Sakti.
Saat gelap bukit Termanu makin terlihat angker berdiri dengan batu besarnya yang berubah menggelap. Saat itu memang cahaya bulan yang cuma sabit kecilpun masih harus dihalangi oleh awan-awan yang bergerak cukup cepat. Angin yang dari sore berhembus lumayan kencang masih juga terasa, walaupun sedikit menurun. Saran saya, kalau ke tempat-tempat terbuka seperti ini memang sebaiknya jangan pas musim angin. Dan satu lagi, bawa senter! Walaupun saat ini sebagian tai sapi yang ada sudah kering pastilah sebelumnya masih basah. Tentu tidak ingin kan anda pulang dengan menginjak tai sapi yang masih basah *tutup hidung*... Try saja nyaris salah ambil, waktu balik mau ambil jaket dia liat seonggok benda lumayan besar yang dikira jaketnya. Waktu mau diangkat baru sadar kalau itu tai kering. (ups, sorry Try buka rahasia :D)
Semakin larut, suasana semakin tenang. Jelas, tinggal kami bertigalah yang berdiri di bukit ini yang masuk kategori manusia. 
Sayangnya kami tidak membawa amunisi makanan dan minuman, pasti sangat menyenangkan duduk-duduk disini melihat bintang sambil ngobrol dan minum minuman panas (seandainya saja aku bawa termos yang biasa aku bawa kemana-mana). Aku dan Sonny berbagi banyak cerita dengan hobi kami memotret, sebuah kesempatan yang menyenangkan bertemu dan berbincang dengan teman-teman yang tidak hanya suka memotret tapi menyukai berjalan-jalan.
Sekitar jam setengah delapan kami memutuskan kembali ke hotel.

Thanks udah nemeni jalan-jalan kesini Sonny Saban yang udah rela tidak tugas demi menemani kita jalan-jalan plus pinjaman motor Mega Pro-nya yang masih ciamik (rajin ngerawat ya mas karena gak ada yang lagi yang dirawat disana hehehe) dan Try Sutrisno Sianipar yang sudah mau jadi obyek diam (gile juga padahal angin kenceng, susah tuh bisa diem begitu 1 menit)

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya