Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Selasa, 29 Januari 2013

Melihat Kembali Gasing "Mainan Yang Nyaris Hilang"

Seorang anak melemparkan gasing ke arah gasing yang ada, yang terlempar dan berhenti kalah.
Bulan November kemarin aku mengunjungi kembali kota Waikabubak, ibukota dari kabupaten Sumba Barat. Sebenarnya tujuan tugasku kali ini adalah ke Waibakul, kota dari kabupaten Sumba Tengah. Sayang di Sumba Tengah baru ada satu tempat menginap yaitu wisma pemda yang saat itu baru penuh karena sedang digunakan untuk acara diklat. Akhirnya aku harus mencari hotel di Waikabubak. Untungnya jarak ke dua tempat itu tak terlalu jauh hanya setengah jam perjalanan dengan kendaraan. Jalannya pun tak banyak tikungan tajam.
Cuaca seminggu ini juga kurang mendukung, nyaris mendung tiap hari menyelimuti kota Waikabubak praktis aku tidak bisa keluar berjalan-jalan seperti biasa. Alasan utama kenapa dua bulan ini mandek menulis.
Tapi dua hari terakhir tampaknya awan tidak semendung biasanya jadi aku mencoba berjalan sedikit jauh ke arah luar kota. Tapi lagi-lagi cuaca memang tidak bisa diduga. Keruan saja aku harus kembali balik ke hotel saat tiba-tiba rintik-rintik hujan turun begitu saja padahal awan tidak terlalu tebal.
Dalam perjalanan balik aku memutuskan untuk singgah sebentar ke arah kampung Tarung, karena hujan mulai berhenti lagi. Kampung Tarung sendiri juga cukup rimbun dengan pohon-pohon besar di sekeliling kampung jadi mudah bagiku untuk berteduh sekiranya hujan datang lagi. Kali ini aku sengaja berjalan tidak masuk ke dalam perkampungan tapi berjalan mengitari kampung. Berbeda dengan jalan masuk ke kampung yang tidak boleh dilewati sembarangan, jalan melingkar mengitari kampung masuk jalan umum. Setahuku kemarin saat pertama kesini, jalan melingkar ini tembus ke arah pasar Waikabubak. Jalan ini menanjak naik. Sekedar informasi, kampung-kampung adat asli Sumba dibangun di atas bukit sementara sawah-sawah dan gembalaanlah yang ada di padang-padang datar.

Di sebuah jalan setengah perjalanan aku berhenti, dari tempat aku berdiri tampak pemandangan persawahan di bawah sampai dengan di kejauhan. Cukup luas juga sawah di Waikabubak. Sayang matahari senja masih senang bersembunyi di balik gumpalan awan-awan berwarna kelabu.
Beberapa kerbau tampak digiring masuk pemiliknya masuk ke atas kampung Tarung. Sepertinya hendak dimasukkan kandang. Kerbau-kerbau bertanduk besar merupakan ternak kebanggaan bagi orang Sumba. Upacara-upacara penting seperti perkawinan, kematian, acara bangun rumah adalah acara-acara yang akan melibatkan kerbau baik sebagai daging untuk dimakan atau dipersembahkan sebagai alat tukar (belis dalam adat perkawinan Sumba). Dari ukuran tanduk-tanduk yang besar menjulanglah dapat dihitung kira-kira berapa nilai jual kerbau itu.
Beberapa puluh meter terdengar keramaian anak-anak. Saat aku naik ke atas kampung tampak beberapa anak berkumpul di tengah lapangan kampung. Tampak benda berwarna kuning kayu berputar di tengah mereka. Lalu seorang anak yang memegang sebuah benda berbentuk kerucut di bawah dan sebuah lekukan untuk menggulung tali melemparkan benda itu sambil menarik ujung tali sehingga benda itu berputar cepat meluncur ke arah benda berputar diam. Sayang lemparan itu hanya nyaris mengenai sehingga sekarang di arena tampak tiga buah benda berputar.
Inilah permainan "gasing", sebuah permainan yang nyaris tidak akan ditemui lagi di kota-kota besar. Namun di sini, gasing masih menjadi permainan yang sering dimainkan anak-anak. Gasing di sini berbahan kayu yang rata-rata dibuat oleh mereka sendiri. Setelah memilih kayu dengan ukuran yang sesuai mereka akan meruncingkan ujung kayu hingga berbentuk kerucut dengan membuat lekukan ke dalam untuk tempat memutar tali. Tali yang sebagian dibuat dari tali nilon dan sebagian dibuat sendiri dengan akar kayu digunakan sebagai alat yang akan membuat gasing ini berputar.
Mereka makin semangat waktu aku mengabadikan permainan mereka. Masing-masing mencoba menunjukkan kemampuannya untuk membuat gasing lawan terpental. Ada seorang anak yang tidak berbaju yang tampaknya paling jago, gerakan tangannya cepat sehingga membuat gasing yang terlempar berputar sangat  cepat sehingga saat gasing dengan telak menghantam gasing lawan langsung membuat gasing lawan terlempar dan berhenti berputar.
Aku menikmati momen melihat mereka asyik bermain gasing. Sebuah permainan yang juga pernah kumainkan waktu kecil. Sepertinya tahun 95-an permainan ini sudah sulit di temui terutama di daerah Jawa kecuali mungkin di desa-desa yang masih jauh dari kota.
Suatu ketika nanti mungkin permainan gasing juga akan hilang disini, mungkin generasi berikutnya akan lebih suka bermain yang lebih berteknologi dan gasing tiba-tiba saja menjadi benda aneh.
Ah, tiba-tiba saja aku ingin bernostalgia ke kampungku dulu.

6 komentar:

  1. Gasing sepertinya terdapat di berbagai daerah lain, seperti kalimantan dan sumatera. Anak2 sekarang mungkin sudah merasa aneh dengan permainan2 tradisional kita. hhhmmm... semoga warisan budaya kita tidak luntur dengan kemajuan jaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, permainan ini masih bisa ditemui di daerah-daerah tapi juga sudah jarang... sepertinya ke depan permainan seperti ini akan lebih sulita lagi ditemui.

      Hapus
  2. Gasing? wah jadi ingat masa kecil. Susah juga sekarang mencari penjual gasing dan umumnya gasing dijual dengan harga yang tak masuk di akal. Masak hanya dari bambu dihargai nyaris dua puluhan ribu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, harga dolanan lebih mahal karena masih dikerjakan pake orang (handmade)... dimana2 handmade kan lebih mahal :)

      Hapus
  3. Di taman margasatawa ragunan kalau agustusan sering ada festival gasing hanya pesertanya semakin tahun makin dikir. too bad ;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Permainan ini memang makin lama makin hilang.. masih bersyukur ada upaya seperti festival gasing di Ragunan. Tapi daya tariknya kurang mungkin makanya peserta makin sedikit..

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya