Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Rabu, 11 Desember 2013

Pecicilan di Kawah Putih

Danau yang berasal dari kawah berwarna kuning kehijauan: Kawah Putih
Gerimis mulai turun saat aku keluar dari gerbang Situ Patengang, kumasukkan tanganku ke saku sweater hijau kutarik lebih dalam sambil melangkah lebih cepat. Dari tadi tak satu pun ada angkutan yang berjalan balik ke arah Ciwedey. Jika sial, berarti aku harus berjalan kaki tak kurang dari lima km untuk sampai ke Kawah Putih. Sebenarnya ke dua tempat, Kawah Putih dan Situ Patengang, sempat membuatku bimbang. Dimanakah di antara keduanya yang ingin kunikmati saat kabut pagi masih tebal. Akhirnya aku memang memilih Situ Patengang karena lebih mudah dijangkau dengan angkutan umum, sedangkan ke Kawah Putih hanya bisa dijangkau dengan angkutan dari pengelola yang pasti belum ada pagi-pagi begini. Dengan jarak tempuh sekitar lima km, paling sedikit aku membutuhkan waktu setengah jam dan bisa jadi aku kehilangan momen kabut pagi.

Tangga menurun menuju Kawah Putih
Untung sampai di pertigaan ada seorang pengendara motor melintas. Karena arah yang sama mau ke Kawah Putih akhirnya aku ikut dengannya. Melintasi jalan sepanjang jalur Situ Patengang sampai ke Kawah Putih ternyata cukup membuat aku kedinginan. Apalagi di daerah Rancawalini sempat ada kabut berair yang membuat sweater-ku basah sehingga terasa lembab. Untung juga aku tak membawa dua lensa, sehingga tak iseng gonta ganti lensa yang dalam situasi seperti ini punya kans buat kamera cepet almarhum. Perjalanan seperti ini memang biasanya aku lebih suka membawa satu lensa Tamron 17-55mm f/2.8 supaya aku tidak ribet dengan alat-alat fotografi. Termasuk tripod yang biasanya selalu aku bawa, kali ini absen. Bukan karena aku gak mau, tapi karena hilang hehehe. Wal hasil aku memang harus menghindari penggunaan kecepatan rendah.
Dibelakang view ini terdapat gua Belanda
Sekitar sepuluh menit kemudian aku sampai ke area Kawah Putih. Tak ingin terburu-buru jalan, aku memilih mampir dulu ke sebuah warung yang ada disekitaran gerbang masuk Kawah Putih. Warung masih tampak sepi, mungkin belum lama buka sehingga permintaan semangkuk soto ayam dan teh panas segera tersaji beberapa menit kemudian. Sambil makan, aku mengamati suasana sekitar
Suasana sudah tampak ramai, beberapa bis wisata mulai masuk ke area. Ada juga rombongan motor yang datang, kalau gak salah sih motor Honda CBR. Sebenarnya aku salah tas ransel, seharusnya aku membawa tas ransel yang lebih kecil. Namun entah kenapa, kemarin aku justru memilih tas ransel yang agak besar untuk kubawa dan menitipkan tas yang lebih kecil ke Rey untuk dibawa pulang. Padahal aku hanya membawa sedikit barang.
Batang pohon santigi yang mati mengering
Tiga puluh ribu rupiah, itu biaya yang harus dibayar per orang untuk masuk ke Kawah Putih. Gak mahal lho, karena itu sudah termasuk harga ontang-anting (angkutan khusus untuk mengangkut pengunjung ke dan dari Kawah Putih). Tapi bagi yang hendak foto pre-wedding disini, tercantum biaya sebesar 500ribu rupiah, cukup mahal atau sangat mahal?
Aturan di sini, selain mobil pribadi semua pengunjung harus menggunakan jasa ontang-anting untuk naik ke atas termasuk juga bis-bis wisata harus menggunakan jasa ini. Ontang-anting ini sepertinya angkutan dengan tiga lajur tempat duduk plus satu penumpang di bagian depan. Masing-masing lajur punya bisa diisi sampai dengan tiga orang, jadi jumlah penumpang penuhnya sekitar 10 orang. Yang berbeda, ontang-anting ini tidak punya pintu seperti halnya bajaj kecuali untuk penumpang yang di depan (sebelah sopir).
Rupanya naik ontang-anting menjadi sensasi tersendiri, dengan kondisi jalan yang naik turun berliuk-liuk justru sopir sering dengan sengaja melarikan kencang sehingga di beberapa tikungan dan turunan yang tiba-tiba beberapa penumpang menjerit, antara ketakutan dan senang. Tapi jangan tanya penumpang yang duduk di persis pintu, mereka akan mencengkeram kuat besi pegangan bahkan saat ontang-anting melaju di tempat yang lurus. Saranku bagi yang takut, sebaiknya jangan duduk di ujung pintu. Bisa-bisa perjalanan menyenangkan itu malah menjadi trauma. Jaraknya memang tidak jauh, seperti lain kali aku bisa memilih untuk berjalan kaki.
Kumpulan pohon santigi di dekat Kawah Putih yang mati terbakar
Akhirnya ontang-anting sampai di pelataran luas, ujung dari perjalanan naik ke Kawah Putih. Pengunjung sudah sangat banyak sehingga aku cukup mengikuti arah jalan mereka. Papan penunjuk sebenarnya cukup jelas terbaca tapi kadang kita malas membacanya. Padahal sebenarnya itu diperlukan sekali, apalagi di tempat-tempat yang punya potensi bahaya seperti disini. Aku lihat ada papan petunjuk bertuliskan arah "Evakuasi", papan ini menjadi urgen sekali untuk diketahui karena memang ada kondisi tertentu dimana kawasan Kawah Putih menjadi sangat berbahaya terutama jika ada aktivitas berlebihan dari kawah Gunung Patuha ini. Yang paling umum adalah naiknya kandungan kadar belerang di udara yang dapat menyebabkan rasa pusing, mual bahkan jika dalam kandungan berlebihan dan tidak segera ditangani bisa mengakibatkan kematian. Sebaiknya baca papan petunjuk jalur evakuasi, ini akan bermanfaat jika tiba-tiba Kawah Putih iseng menjadi tidak bersahabat sehingga bisa menolong diri sendiri atau orang-orang disekitarnya.
Hanya beberapa meter setelah melewati tangga menurun, telaga kawah berwarna kuning pucat kehijauan menyapaku. Itulah warna dari telaga Kawah Putih ini. Tidak ada warna putih saat itu, warnanya lebih ke warna belerang, sementara warna kebiruan lebih karena pantulan warna langit. Bau belerang telah muncul saat mulai turun tangga. Banyak orang telah datang ke tempat ini, dengan lokasi yang mudah dicapai seperti ini tentu banyak orang yang ingin mengujungi tempat ini.
Selain pohon-pohon mengering, longsor juga rawan terjadi
Aku memilih berbelok ke kiri setelah melewati ujung tangga karena memang tidak banyak orang yang menuju ke arah itu. Beberapa pohon santigi yang dekat telaga telah menjadi onggokan batang kering. Batang-batang kering ini bahkan bukan hanya di tempat yang dekat dengan kawah, bahkan di tanah-tanah tinggi beberapa meter dari telaga juga tidak luput dari sergapan belerang sehingga juga menjadi mati meninggalkan kayu kering yang menghitam. Hanya ada dua rombongan lain yang mengikuti arah kesini, sementara banyakan yang lain lebih memilih berada di kawasan di dekat tangga turun, setidaknya mereka cepat untuk dievakuasi. Mungkin hanya aku pejalan sendirian disini, sementara yang lain berombongan atau paling tidak berpasangan. Beberapa pakis baru tumbuh di areal bekas pohon-pohon santigi yang terbakar, pertanda beberapa waktu tidak ada aktivitas kawah yang terlalu berbahaya. 
Sayangnya selain kabut yang sudah tidak ada lagi, matahari juga lebih sering bersembunyi di balik awan kelabu. Ini lah risiko datang di bulan-bulan saat hujan mulai datang. Sepertinya memang datang ke tempat ini pagi hari menjadi pilihan tepat, tentunya jika menggunakan kendaraan pribadi atau kalau rela mau berjalan kaki. Karena menurut informasi, kawasan wisata Kawah Putih mulai dibuka setelah jam tujuh, kadang juga lebih. Tentu saja belum ada ontang-anting yang bisa kita gunakan, entah kalau kita sewa.

Narsis menjadi hal yang tidak pernah dilupakan para pelancong
Satu jam kemudian aku kembali ke arah tangga turun dan coba melihat ke sisi kanan tangga. Beberapa meter baru melangkah aku melihat gua belanda, begitu yang tertulis di papan petunjuk. Bau menyengat belerang keluar dari gua itu, sangat menyengat. Pantas saja di depan gua terdapat petunjuk agar tidak berlama-lama di depan gua. Sebenarnya dari areal ini dapat melakukan trekking hutan namun aku memutuskan menunda untuk kesempatan lain karena berburu dengan waktu.
Keindahan danau Kawah Putih memang tidak diragukan, pantas saja walau biaya untuk foto prewedding di tempat ini cukup mahal namun banyak yang menginginkan bisa foto prewedding di tempat ini. Kalau kata teman, bahkan sang calon mempelai wanita bisa berpose dengan baju dengan bahu terbuka dipagi hari. Padahal yang menggunakan jaket dengan dua lapisa baju di dalamnya saja masih merasa kedinginan. Untung foto, kalau video pasti ketahuan kalau setelah pemotretan mereka bakalan menggigil ketakutan.
Kembali dari Kawah Putih, aku sempetin beli buah strawberry yang ada di tempat ini, katanya lebih manis walau ukurannya lebih kecil. Tapi setelah mencoba, menurutku strawberry yang pernah aku beli di SoE, NTT jauh lebih manis.

Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 28 November 2013

Ciwedey dan Situ Patenggang

Situ Patenggang yang lenggang pagi itu, hanya kesibukan kru-kru film
Sore itu aku ditemani segelas teh panas, setongkol jagung bakar, dan kesendirian. Kulipat satu kakiku sementara kaki satunya bergantung diatas kursi panjang dari bambu. Rancaupas meremang, bayangan pohon-pohon tinggi memudar seiring warna langit yang menggelap. Kabut tipis pelahan-lahan turun menyelimuti tanah urang Sunda ini. Beberapa kali aku harus merapatkan sweater yang aku pakai untuk mengusir dingin. Dengan ketinggian 1.703 mdpl pastilah dingin di Ciwedey menjadi hawa yang sudah biasa dinikmati warga disini. Di depan warung, pemilik warung, teh Rina sibuk mengipasi bara api dari potongan kayu untuk membakar jagung pesanan sepasang muda-mudi yang baru datang, tampaknya dari Jakarta. Teh Rina melakukannya sambil mengendong anaknya yang baru berumur dua tahun karena adiknya yang paling bungsu - Lita sedang disuruh ke warung membeli mie instan yang telah habis.
Suasana pagi di Bandung: berselimut kabut
Suhu makin dingin, bahkan teh pun dengan segera kehilangan panasnya tapi aku masih enggan beranjak dari tempatku duduk. Dingin namun masih banyak suasana yang bisa kunikmati. Tidak ada suara tivi, tidak juga radio, hanya celoteh Sunda kental dari beberapa orang yang saling bertegur sapa, suara-suara yang mengingatkan pada tanah lama yang begitu bersahaja. Dua orang bapak-bapak datang, mereka duduk ngobrol dan memesan kopi di warung sebelah saat aku memutuskan masuk ke kamar istirahat melepas lelah, mengurangi beban dingin yang makin tak tertahankan. Rasa capek akhirnya membawa saya pulas melupakan rasa dingin di luar.

Sweater Baru dari Ciwidey
Aku belum memutuskan hendak kemana saat selesai mengantar Rey ke Bandara Husein Sastranegara. Perjalanan ke Bandung untuk tugas menyisakan gerutu yang belum habis sampai sekarang. Hari ini, aku dan Rey harus check out dari hotel karena ternyata dari kantor pusat mengatakan kalau jadwal kami hanya dua hari. Preet, tanpa pemberitahuan yang jelas kami harus kehilangan sehari dan itu harus ditanggung kami sendiri. Rey lebih beruntung karena waktu reschedule tiket pesawat ternyata masih ada, sayangnya masih tersisa satu saja.
Selesai dari ATM mengambil uang secukupnya aku memutuskan berjalan kaki keluar dari bandara. Masih belum jelas mau kemana hari ini, apakah mau muter semalaman di kota Bandung dilanjutkan tidur dimana saja ataukah ada tempat yang bisa aku tuju. Untung aku sudah menitipkan tas komputer ke Rey sehingga aku cuma bawa tas ransel satu tipis saja, satu tas kamera yang ukurannya kecil hanya cukup satu body + lensa.
Cemara di daerah Rancawalini (perkebunan teh)
Satu dua tawaran ojek aku tolak sambil terus berjalan. Saat seorang tukang ojeg menawarkan jasa hendak mengantar, tiba-tiba aku iseng tanya kalau mau ke Kawah Putih lewat mana? Mang ojeg tadi bilang kalau kesana berarti harus ke Ciwedey, dan itu bisa naik travel yang biasanya lewat di Kalapa atau terminal Leuy Panjang. Kalau turun ke Kalapa dia tawari dengan biaya 40rebu. Namun dia menyarankan menggunakan jasanya sekalian sampai ke Ciwedey dengan biaya 150rebu dengan alasan saat ini hari Sabtu pasti jalur ke Ciwedey sibuk banget sehingga bisa dipastikan untuk sampai kesana butuh waktu bisa sampai 3 jam lebih. Setelah kupikir-pikir dengan waktu sekarang yang sudah mendekati jam empat sore, akhirnya aku setuju naik ojek sampai ke Ciwedey.
Ternyata benar, perjalanan ke Ciwedey udah dipenuhi dengan antrian kemacetan di beberapa titik. Untungnya dengan motor kami mudah saja masuk dari celah-celah kendaraan lain sebagaimana motor-motor lainnya. Memang kadang-kadang agak ngeri saat masuk di celah kendaraan-kendaraan berat macam truk atau bis besar, rasanya kayak kena gencet aja.
Ternyata untuk ke Ciwedey harus masuk ke Kabupaten Bandung. Setelah masuk ke Soreang, perjalanan mulai terasa menanjak dan berbelok-belok. Walaupun jalanan ke arah Ciwedey seperti itu dan bukan jalan besar namun bis-bis yang lewat daerah sini adalah bis-bis pariwisata yang berukuran besar.
Perkebunan teh di Situ Patenggang
Aku minta mang ojeg berhenti di sebuah toko baju apapun selewat daerah Soreang karena aku mulai merasakan dingin sementara jam tanganku menunjukkan ketinggian 700 mdpl. Rupanya Ciwedey berada di ketinggian makanya suhu udara semakin terasa dingin sementara aku cuma memakai rompi yang tentu saja tak bisa menahan dingin. Di sebuah toko, aku berhasil mendapatkan sebuah sweater dengan harga 80rebu warna hijau. Lumayan setelah aku memakai sweater ini, perjalanan dengan motor tidak terlalu terasa dingin. Sekitar satu jam lebih sedikit, akhirnya kami memasuki daerah Ciwedey. 
Aku berhenti di depan pintu masuk kawasan wisata Kawah Putih. Begitu turun dari ojek, beberapa orang langsung datang menawarkan jasa penginapan. Ternyata pada hari Sabtu seperti ini, kamar-kamar hotel, villa dan penginapan rata-rata harganya naik dua kali lipat lebih. Dengan harga setidaknya  menguras kantorng 400rebu, itu pun banyak yang hampir penuh. Aku memutuskan mampir di warung memesan kopi dan jagung bakar supaya punya waktu menimbang-nimbang apakah perjalanan sekali ataukah menginap di sini.
Perahu melintasi bukit Cinta di Situ Patenggang
Dari pemilik warung, ternyata ada beberapa tempat wisata yang cukup menarik perhatianku untuk aku datangi. Kalau untuk ke Kawah Putih, aku disarankan besok pagi saja karena biasanya kawasan itu sudah tutup jam lima sore. Lagian kalau sudah sore sering kali sudah tertutup kabut. Segelas kopi panas dan sweater hijau ini lumayan membantuku berfikir dari otak yang membeku akibat suhu di tempat ini. Setelah cari-cari informasi penginapan murah (camping aku coret karena jelas aku gak punya tenda), akhirnya aku ikut seorang tukang ojeg yang menawarkan tempat tidur disebuah warung. Aku dibawa tukang ojeg ke kawasan warung di depan kawasan wisata hutan Cimanggu. 
Setelah tawar menawar, akhirnya aku sepakat dengan harga 175rebu semalam. Sebenarnya kalau hari-hari biasa sih dengan 100rebu udah pasti dapet, tapi karena hari libur begini harga segitu sudah susah untuk ditawar lagi. Warung ini tidak punya kamar sendiri, jadi kalau kita mau nginep mereka baru siapkan bagian belakang menjadi tempat menginap. Yah hanya sebuah tempat tidur dan selimut panas sih, tapi lumayan lah, toh kita juga cuma numpang tidur doang.
Dinginnya Ciwedey baru terasa saat malam, walaupun selimut sudah aku gulung ke seluruh tubuh plus sweater yang tetep membalut tutup dari sore tadi tetep saja aku berjuang untuk melawan dingin supaya bisa tidur. Untungnya aku bisa tertidur beberapa jam, namun mulai terbangun lagi saat tengah malam karena keramaian di luar. 
Akhirnya aku keluar lagi ke teras warung. Sambil duduk santati aku memesan secangkir kecil kopi panas ke teh Rina (inilah kesalahan yang aku sesali belakangan, karena gara-gara kopi itu akhirnya aku tidak bisa tidur lagi semalaman). Teh Rina masih sibuk bakar jagung, karena beberapa orang dari Jakarta malah justru baru sampai. Kata teh Rina, kalau hari Sabtu-Minggu begini memang biasa buka sampai pagi.
Di depan kawasan wisata Cimanggu malahan beberapa bis baru masuk ke dalam selain juga motor. Kata orang di sini, mereka ke Cimanggu untuk mandi air panas (rupanya selain hutan wisata juga ada sumber air panas). Waduh, malam-malam begini mandi air panas. Enak sih enak, cuma sepertinya bukan hal baru yang ingin aku lakukan. Masih aneh saja mandi air panas di tengah malam seperti ini. Tapi siapa peduli, mereka jauh-jauh dari Jakarta untuk menikmati tempat ini kan.
Segelas kopi panas pun dengan segera menjadi dingin, ampun dah. Mau nambah lagi tapi aku malah takut gak bisa tidur. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi, walaupun akhirnya cuma bolak-balik doang gak bisa tidur lagi.

Situ Patenggang, Pagi yang Sunyi
Jam setengah lima aku bangun. Asli aku gak ingin mandi sama sekali walaupun tadi sore pun belum mandi. Air di bak dingin sekali, sehingga aku cuma bisa sikat gigi dan cuci muka. Selesai beres-beres, aku rencana langsung mau jalan sekalian bawa tas ransel jadi gak perlu bolak-balik sini.
Para kru film telah mempersiapkan properti
Ternyata pagi masih terasa sepi, sementara suhu pagi terasa dingin menggigit jari-jari. Dengan jarak sekitar lima kilometer dari sini, aku mencoba berjalan turun ke bawah sambil menunggu siapa tahu ada ojeg atau mobil angkutan yang lewat.
Beberapa ratus meter aku berjalan sampai di Rancawalini, ada sebuah mobil angkutan warna kuning yang lewat. Aku cegat dan naik, walaupun menurut akang yang nyetir hanya sampai di pintu masuk saja tidak sampai ke dalam. Aku sih oke-oke saja, lumayan menghemat waktuku karena hari ini aku selain ke Situ Patenggang juga harus bis sampai ke Kawah Putih.
Setelah tak berapa lama angkutan kuning ini meliuk-liuk melintasi kawasan perkebunan teh akhirnya sampai aku di depan gerbang masuk Situ Patenggang. 
Ternyata Situ Patenggang kalau di papan petunjuk aslinya bernama Situ Patengan, yang asal katanya dari pateangan-teangan yang artinya mencari-cari. Kalau mau tahu asal muasal dan dongeng cinta yang melingkupi situ itu silahkan goggling sendiri aja ya.
Ternyata petugas jaga tempat ini tidak ada, karena rupanya mereka baru mulai berjaga di atas jam setengah delapan. Lumayan lah, bisa menghemat lima ribu rupiah. Yee, sebenarnya bukan karena ingin berhemat sih, tapi karena pengalamanku memotret danau biasanya paling mengambil saat pagi sekali atau sore sekalian karena ada kemungkinan mendapatkan view yang tidak biasa dilihat oleh pengunjung biasa yang seringnya datang jika sudah siang.
Ternyata masuk ke dalam kawasan situ, di kanan kiri jalan dipenuhi perkebunan teh milik PTP Nusantara, perusahaan BUMN di Indonesia.
Pagi yang sepi dan tenang di Situ Patenggang
Hijau teh yang sekarang keluar pucuknya, hawa dingin, dan kabut tipis yang sesekali turun ke bawah menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan. Dada dipenuhi kelegaan menghirup udara yang masih sangat segar ini.
Alih-alih lewat jalan masuk, aku memilih masuk ke situ Patenggang lewat jalan-jalan sela yang dibuat para petani teh. Cukup licin sebenarnya dan karenanya aku beberapa kali tergelincir olah daun-daun kering yang membasah oleh embun. Untung batang-batang teh masih sanggup menahan berat tubuhku sehingga tidak tergelincir jauh turun ke bawah. 
Situ Patenggang masih sepi, hanya ada beberapa orang yang datang itu pun tampaknya karena mereka ada pembuatan film, entah film apa (aku jarang nonton sinetron Indonesia sih). Semoga saja mereka tidak sedang membuat film horor seronok ya hehehe.
Keberadaan mereka sebenarnya keuntungan tersendiri bagiku. Saat mereka menyewa perahu-perahu itu aku punya kesempatan untuk mengabadikan momen itu. Selebihnya aku lebih membiarkan kakiku melangkah kemana aku suka, menyusuri pinggir situ, meliuk diantara batang-batang cemara yang enggan merunduk.
View salah satu sudut Situ: jajaran cemara
Banyak warung yang ada disekitar situ, namun pagi itu sebagian masih tutup. Hanya ada beberapa warung yang sigap menjemput rejeki sehingga pagi-pagi buta begini sudah mulai buka. Perahu-perahu teronggok tanpa ada pemiliknya, mungkin sedang lelap dibuai hangat kain sarung dan selimut tebal.
Siapapun yang datang pada pagi ini tak akan menemukan keramaian khas tempat wisata, namun menemukan lebih daripada itu. Rasa tenang, sunyi yang begitu melegakan. Air situ pun seperti malas beriak, membiarkan bayangan-bayangan pepohonan menjadi sempurna tergambar di airnya. Kabut tipis bergerak pelan di atas permukaan air seperti membentuk uap tipis di permukaan.
Satu demi satu orang mulai berdatangan, di tengah ada beberapa pulau kecil yang biasa ditawarkan pemilik perahu untuk didatangi. Saat jam sudah menunjuk angka setengah delapan aku bergegas naik kembali ke atas. Sekarang saatnya mereka yang ingin berwisata dengan segala keriuhannya.
Aku memilih naik dari kebun teh seperti sebelumnya tanpa perlu melihat apakah ada angkutan kuning yang bisa aku tumpangi. Di depan gerbang mulai ada dua petugas jaga, aku pura-pura gak tau dan lewat begitu saja. 
Setelah ini waktunya mengunjungi Kawah Putih.
Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 27 November 2013

Seri Alor: Kalabahi dan Sisi Barat

Anak-anak yang ikut kami berenang di pulau Kepa berpose sebelum pulang
Begitu tiga buku di tangan mereka, kerumunan anak-anak itu langsung berpencar dalam kelompok-kelompok kecil mencari tempat. Antusias sekali mereka, buku-buku cerita bergambar ini dieja dengan jelas sekali terdengar di telingaku. Ah, mereka haus dengan bacaan tetapi dengan kondisi seperti ini sepertinya bacaan bukan hal yang mudah mereka dapatkan. Beberapa anak yang sedang asyik mandi di laut ikutan berkerumun. 
Pak Sueb bersama anak2 yang baca buku sumbangannya
Itu buku-buku terakhir yang dibagikan pak Sueb, kepala kantorku yang kebetulan lagi bareng tugas di Alor. Beberapa buku sebelumnya dibagikan di jalan tiap kali lihat anak-anak kecil berjalan di pinggir jalan. Tidak semua menerima sih, ada beberapa yang malah takut gak mau dikasih. Semua buku yang dibagikan memang buku cerita bergambar, karena pak Sueb berpendapat jika ingin mengubah manusia di sebuah tempat ubahlah lebih dahulu dari anak-anaknya.
Aku gak nyangka juga idenya, coba kalau aku tahu mungkin aku bisa ikut nyumbangin buku untuk mereka. Masalahnya bukuku udah jarang yang buku anak-anak. Koleksi buku cerita Tintin dan Donald Bebek udah raib entah kemana. Kan gak mungkin aku kasih buku "Pemikiran Kirim di Indonesia" atau novel macam "Da Vinci Code", bisa-bisa buku-buku itu jadi tambahan untuk masak air. Aku lupa di desa mana saja buku-buku itu dibagikan, tapi perkiraanku ini masih di pertengahan antara Kalabahi dan Alor Kecil. 
Begitu melihat antusiasme anak-anak seperti ini, beberapa buku yang dibawa jadi terasa tampak kurang. Pak Sueb sendiri bersemangat untuk lain kali membawa lebih banyak buku-buku seperti ini. Semangat pak! Kalau perlu nanti bawa satu kardus, aku bagian bawain aja deh hahaha..... 

Alor Kecil: Al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara
Hari ini Jum'at, pak Sueb sudah bilang dari kemarin kalau kita hari ini mau sholat Jum'at di Alor Kecil sekaligus mau membuktikan tentang keberadaan Al-Qur'an tua dari kulit kayu yang masih tersimpan rapi di sini. Karena jarak dari Kalabahi tidak terlalu jauh, baru sekitar jam setengah sebelas kita berangkat. Langit terbilang cerah, walau gumpalan-gumpalan awan masih juga berserakan di langit. Semoga hari ini tidak hujan seperti dua hari kemarin.


(1) Mushab Al-Qur'an tua dari kulit kayu yang masih utuh tersimpan
(2) Gambar perahu layar Tuma Ninah di salah satu lembar Al-Qur'an
Beberapa meter setelah dermaga rakyat di Alor Kecil ada sebuah masjid yang tampaknya baru dipugar, belum selesai sehingga sebagian besar masih berwarna semen. Namanya masjid jami Babussholah, masjid berlantai dua ini tampak kontras dengan kondisi di sekeliling masjid.
Kami masuk ke jalam samping masjid dan memarkirkan kendaraan persis di belakang masjid. Jalanan disini terbilang kecil sehingga jika kendaraan roda empat saling melintas harus mengurangi kecepatan, jadi tidak bijaksana memarkirkan kendaraan di pinggir jalan.
Di seberang samping masjid terdapat sebuah rumah kecil dan di depannya ada sebuah kamar kecil, disitulah tempat diletakkan sebuah Al-Qur'an tua itu.
Empunya rumah keluar dan menyambut kami. Setelah kami berbasa basi sejenak, pak Sueb menyatakan tujuannya. Empunya rumah masuk ke bilik kecil itu dan tak lama kemudian membawa sebuah Al-Qur'an yang telah terbuka. Di bawahnya ada sebuah kotak kayu yang menjadi tempat untuk menaruh Al-Qur'an. Al-Qur'an ini terbuat dari kulit kayu berwarna putih kekuningan.
Menurut cerita, pada tahun 1523 lima orang bersaudara dari Ternate pada masa Kesultanan Babbullah bernama Iang Gogo, Ilyas Gogo, Djou Gogo, Boi Gogo dan Kimales Gogo disertai seorang mubaligh lainnya bernama Abdullah. Mereka memiliki misi yang sama dengan Mukhtar Likur, yaitu menyebarkan ajaran Islam di kepulauan Alor. 
Masjid jami masyarakat Alor Kecil
Mereka menyinggahi daratan Alor untuk pertama kalinya di Vetelei (Tanjung Bota, Desa Alila). Setelah itu mereka meneruskan perjalanan kembali dan singgah di suatu tempat bernama Tangtang (sekarang bernama desa Aimoli) yang kemudian bertemu dengan raja Baololong I (Raja Bungabali). Dalam pertemuan ini mereka saling bertukar cinderamata yaitu kelima Gogo memberikan sebuah Nekara dan Raja Baololong I memberikan pisau khitas kepada kelimanya. Dari Tangtang, mereka berpisah dengan janji akan bertemu kembali di Pusung Rebong (pusat kerajaan Bungabali). Saat di Bungabali terjadi kesepakatan bahwa salah satu satu dari kelima Gogo bersaudara tersebut harus tetap tinggal di Bungabali untuk menyebarkan agama Islam, yang kemudian dilaksanakan oleh Iang Gogo dengan bekal sebuah Al-Qur'an dari kulit kayu dan pisau khitan. Iang Gogo menikah dengan seorang puteri bangsawan kerajaan Bungabali bernama Bui Haki.
Keempat Gogo lainnya berlayar kembali dan menunaikan tugas penyebaran Islam di beberapa tempat, yaitu: Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Djou Gogo menetap di Baranusa, Boi Gogo menetap di Solor, dan Kimales Gogo menetap di Kui, Lerabaing. 
Menurut cerita, ada gambar perahu di dalam Al-Qur'an yang merupakan perahu layar yang mereka tumpangi untuk berlayar yang mereka namai Tuma Ninah yang berarti "Singgah/Berhenti Sebentar".
Aku sempat menanyakan adanya sedikit warna gelap (agak gosong) di beberapa halaman awat dan pinggiran Al-Qur'an. Menurut empunya sekarang, tahun 1982 pernah terjadi kebakaran yang memusnahkan seluruh pondok dan isi rumah termasuk seluruh benda-benda peninggalan Iang Gogo yang dibawa dari Ternate (Maluku Utara), tetapi anehnya Al-Qur'an tua ini tidak terbakar dan utuh. 
Katanya ini Al-Qur'an tertua di Indonesia bahkan di Asia Tenggara karena diperkirakan usia Al-Qur'an ini sudah sekitar 800 tahun. Cukup awet juga mengingat penyimpanan barang ini tidak seperti penyimpanan di perpustakaan yang untuk benda-benda berharga seperti ini.

Menatap Senja di Alor Kecil
Candra tertawa denganku, tangannya mengacungkan huruf V saat aku memotret rombongan yang sedang mengangkat peti mati menuju perahu. Candra Saleh, nama lengkapnya dan sekarang dia sudah kelas satu di SMP dekat sini. Dia bersama Andika dan Saleh menemaniku menikmati senja di pinggir dermaga. 
Sore itu tidak banyak aktivitas perahu, hanya ada satu rombongan beberapa orang yang mengangkut peti mati itu. Katanya mereka mau membawanya ke pulau Pantar. Cuma Andika yang masih kelas empat SD, namun dialah yang paling semangat bercerita. Orang tua Andika tinggal di samping dermaga yang membuka warung untuk para penumpang yang akan dan ke pulau Pantar dan pulau Pura.
Candra, Andika dan Saleh: anak-anak Alor Kecil
Dari pinggir dermaga yang saat ini sedang surut, tampak bayangan pulau Pantar di seberang, mungkin hanya beberapa ratus meter dari sini. Dibelakang pulau Pantar tampak bukit tinggi yang awalnya kukira juga bagian dari pulau Pantar namun tertanya adalah pulau lain, yaitu Pulau Pura. Pulau Pantar sendiri letaknya paling jauh, masih tampak dari sini namun hanya tampak seperti bayangan gelap saja.
Ada beberapa pulau lain yang dengan fasih disebutkan oleh Andika yang aku sendiri sudah susah mengingatnya. Andika juga bercerita tentang bagaimana pulau-pulau ini membentuk bagian-bagian tubuh naga. Ada satu pulau Ternate yang ditunjuk oleh Andika. Nama ini berbeda dengan nama Ternate yang kita kenal, namun punya sejarah yang berhubungan dengan orang-orang yang menemukan pulau ini. Asyik juga bercerita dengan mereka. Anak-anak yang masih polos ini bercerita banyak hal tentang kampung mereka, tentang cita-cita dan keinginan mereka suatu waktu nanti saat mereka besar.
View pulau Kepa senja hari, bukit di belakang adalah Pulau Pura
Sebenarnya aku kemari sehari sebelum pak Sueb kemari. Waktu itu rombongan kantorku baru akan datang esok harinya. Karena tidak ada aktivitas siang itu akhirnya aku sendiri ke Alor Kecil ini sementara Arif yang menemaniku masih tertidur nyenyak. Aku sendiri gak enak mau membangunkannya. Langit sedang mendung berat saat itu dan ada kemungkinan hujan seperti hari kemarin. Aku sih nekat saja, berharap justru dengan situasi seperti ini aku bisa mendapatkan foto yang lebih dramatis walaupun punya risiko kehujanan.
Rumah dan warung Andika di samping dermaga
Candra menawarkan perahu milik pamannya kalau ingin mengunjungi pulau Kepa yang ada di seberang itu. Aku mengiyakan tapi tidak untuk kali ini, karena menurutku sudah terlalu sore. Di samping itu, aku juga lupa tidak membawa celana dan kacamata renang.
Di bawah dermaga tampak air yang berwarna bening berkecipak, namun di pinggir dinding dermaga banyak sekali mahluk laut berwarna hitam dengan duri-duri panjang yang menyeruak memenuhi seluruh badan mereka. Mahluk laut inilah yang biasa disebut Bulu Babi. Jangan meremehkan mahluk itu, jika sampai kalian tertusuk maka sangat mungkin kamu akan merasakan rasa pegal dan kebas beberapa hari. Mungkin ada semacam racun tertentu yang mengakibatkan rasa itu, sangat berbeda dari sekedar tertusuk benda runcing. Banyaknya binatang seperti ini juga pertanda kalau terumbu karang di daerah itu sudah banyak mengalami kerusakan.
Namun Candra dan Andika menyakinkanku, kalau masih banyak tempat yang memiliki terumbu karang yang bagus. Salah satunya pulau Kepa di depan kami. Bahkan tak jauh-jauh, di seberang kanan dermaga ini juga masih banyak terumbu karangnya.

Berenang di Pulau Kepa Dengan Mereka
Pak Darto berhati-hati menaiki perahu yang masih suka oleng kecil kekiri kanan dihempas riak-riak kecil. Jangan tanya dengan Danu, Candra dan beberapa anak lain yang dengan lincah meloncat ke atas perahu. Perjalanan ke pulau Kepa bukan cuma kami sendiri. Selain kami berempat, anak-anak dari pulau Kepa juga turut. Tak kurang dari tujuh anak ikut, termasuk Candra dan Danu. Suasa perahu menjadi ramai oleh anak-anak. Sayang Andika dan Saleh tidak bisa ikut, padahal kemarin rencananya mereka juga mau ikut. Perahu yang aku gunakan ini milik ayah Candra yang kami sewa dua ratus ribu untuk pulang balik. Sebenarnya kalau mau menawar masih bisa mendapatkan harga seratus sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.

Anak-anak di atas perahu yang sudah rusak
Selesai sholat Jumat kami memang tidak langsung berangkat karena dirasakan masih terlalu panas. Untuk membuang waktu, mobil yang kami tumpangi sempat berkeliling menelusuri sisi Barat dari kepala Alor. Walaupun sebagian besar dari tempat ini berpasir putih, ada beberapa tempat yang walaupun memiliki pasir putih, namun ada batuan berwarna hitam.
Perjalanan tak lebih dari sepuluh menit dan langsung merapat ke dermaga yang berada di sisi berhadapan dengan dermaga Alor Kecil. Begitu perahu mendekati dermaga, air berwarna biru tosca langsung menyambut mataku. Pemandangan terumbu karang jauh di bawah air terlihat jelas, mungkin karena airnya sangat jernih dan laut mulai surut.
Pak Sueb di pantai masih di bagian kepala Alor
Tapi anak-anak mengajak aku ke tempat lain karena menurut mereka arus di depan dermaga sangat kencang dan sering terjadi perpindahan arus laut. Aku sendiri pernah menyaksikan video dari fenomena unik dari tempat ini saat terjadi arus laut. Pada bulan-bulan tertentu sekitar satu atau dua kali ada arus bawah laut yang menjadi perairan ini sangat dingin yang mengakibatkan banyak ikan yang teler dan pindah ke pinggir. Saat hal itu terjadi, di video aku menyaksikan segala jenis ikan memenuhi pinggir pantai. Sangat banyak bahkan aku sampai bilang kalau pada saat itu ikan tampak lebih banyak dari air laut. Dengan segala benda yang ada, kaos, jaring, topi, semua menjadi alat untuk mengambil ikan dengan mudah. 
Aku dan teman-teman mengikuti anak-anak, mereka menelusuri sisi utara hingga bertemu dengan sebuah resort dengan rumah-rumah berbahan kayu dan atap ilalang dan berpagar kayu. Resor ini katanya milik seorang bule yang telah lama menjadi pemandu wisatawan asing yang ingin melakukan penyelaman di Kepa.
Sekedar informasi, Alor ini punya lokasi penyelaman yang disebut-sebut salah satu terbaik di dunia. Tentu saja hal ini tidak bisa aku buktikan sendiri karena aku tidak punya lisensi dan pengalaman menyelam. Bule ini sangat ketat persyaratan, mereka tidak akan pernah mengijinkan kita menyelam jika tidak punya lisensi. Apalagi di beberapa titik penyelaman yang viewnya sangat indah juga terkena berbahaya.
Kegembiraan anak-anak yang begitu polos
Aku melihat sendiri bagaimana arus dari selat ini membuat dua orang penyelam pencari ikan (dengan alat panah) harus berjuang menepi karena terbawa arus laut. Dari resor itu, anak-anak berjalan ke samping pagar dan melewati rerimbunan pepohonan.
Akhirnya kami dibawa disebuah pantai yang menurut mereka menjadi favorit para bule untuk menyelam. Sayangnya tidak untuk snorkling karena karang landainya jauh, jadi kami harus berjalan beberapa puluh meter sebelum menemukan kawasan terumbu karang.
Akhirnya kami balik lagi ke tempat semula. Memang di tempat semula kami tidak bisa berenang terlalu jauh karena kondisinya pantainya curam, beberapa meter ke depan langsung laut dalam. Aku juga sempat merasakan air tiba-tiba berubah dingin, hal yang menjadi kan Pak Sueb mengalami kram kaki sehingga berpindah ke pinggir. Yang paling asyik adalah Danu, dia berkesempatan banyak menikmati alam bawah laut dengan kacamata pinjaman kami. Anak-anak tampak begitu tertarik, padahal kami kira mereka sudah sangat biasa dengan pemandangan seperti ini.
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 25 November 2013

Seri Alor: Menelusuri Sisi Timur dan Utara

Pantai Maimol siang hari yang sedang berawan
Lagi-lagi hal yang sama, tiket sudah di tangan hari Minggu namun tidak ada kegiatan lagi di hari Sabtu. Padahal awalnya aku kira jam kerja sampai hari Sabtu, ternyata mereka sudah menggunakan standar jam kerja lima hari saja. Untungnya semua kerjaan sudah selesai. Ngomong sama Arif, akhirnya kita sepakat daripada molor mendingan kita jalan-jalan. 
Dengan motor pinjaman, akhirnya kita milih untuk melengkapi jejak jalan kita mengelilingi kepala Alor. Jika kalian lihat Alor di peta, di pulau Alor ada bagian besar yang disebut badan dan bagian kecil di sisi atas yang disebut kepala. Di kepala bagian bawahnya itulah terletak kota Kalabahi, terletak ke dalam teluk (bagian leher pulau Alor) yang disebut dengan nama teluk Mutiara. Karena sebelumnya kita sudah melakukan perjalanan ke arah barat ke Alor kecil, hari itu aku dan Arif memutuskan mengelilingi dari sisi Timur sampai ke bagian atas kepala Alor. Di bagian ujung atas (bagian utara) menurut informasi terdapat sebuah pantai berpasir putih yang disebut dengan Pantai Batu Putih, ini juga sekaligus nama dari desa di daerah itu.
Sekitar jam dua siang, aku membonceng di belakang motor yang dikendarai Arif, sebuah motor Supra Fit. Motor nyaris celaka saat di pertigaan sebuah kendaraan dinas model bak terbuka mau memaksa masuk ke kiri padahal motor kami ada disisi itu. Untung Arif sedikit lebih cepat sebelum bagian belakang tersenggol mobil itu.
Suasana pagi di pantai Kadelang
Setelah melewati bagian leher Alor (ada sebuah pasar di bagian itu yang disebut dengan nama Kadelang), kami menyisir bagian timur ke arah Mali. Kadelang sendiri sebenarnya selain pasar juga menjadi terminal. Aktivitas pasar paling ramai ya di Kadelang ini. Letaknya yang berada tepat di bagian leher pulau Alor punya view pagi yang menarik. Beberapa kali kalau ke Alor dan tidak sempat kemana-mana sering aku sempatkan jalan pagi di pasar Kadelang menikmati suasana pagi yang masih sepi. Perahu-perahu nelayan tertambat tenang, air lautnya tenang sekali nyaris tanpa gelombang namun berwarna coklat tanah. Pantai di Kadelang memang berlumpur sehingga tidak digunakan masyarakat untuk aktivitas harian. Kadang-kadang kabut pagi dari seberang pantai menimbulkan suasana tersendiri.
Di daerah Maimol, kami sempat berhenti sebentar untuk mampir di pantai yang merupakan kawasan nelayan. Walaupun kawasan nelayan, pantai Maimol biasa menjadi salah satu tujuan masyarakat Alor menghabiskan akhir minggu. Namun sekarang pantai itu masih sepi karena bukan hari libur. Sambil makan jagung rebus (jagung pulut) yang masih muda dan rasanya manis, kami duduk-duduk di sebuah tempat bersantai dari bambu perpenopang kayu yang dibangun di pinggir pantai. Suasananya cukup dingin karena di sekeliling lokasi dipenuhi pepohonan yang rindang. Pantai Maimol ini menghadap timur jadi lebih pas untuk melihat matahari terbit.
Percakapan pagi di depan pasar Kadelang
Aku sempat menawar mangga  oleh ibu-ibu yang menjual mangga Kelapa di sebelah penjual jagung rebus tapi batal karena ukuran mangganya tidak sebesar yang ditawarkan di depan bandara. Alor punya mangga yang telah dikenal banyak orang untuk oleh-oleh, yaitu mangga kelapa. Disebut begitu karena bentuknya yang bulat besar hampir sebesar tempurung kelapa, rasanya tidak asam walaupun masih muda. Tapi tahun belakangan ini aku perhatikan ukuran mangga kelapa makin mengecil. Sepertinya perlu dikembangkan bibit mangga kelapa unggulan yang buahnya besar namun dengan rasa yang tetap sama. Setelah masing-masing menghabiskan dua tongkol jagung, aku dan Arif kembali melarikan kendaraan.
Pagi membawa di pantai Mali
Sampai di Mali, kami memutuskan tidak berhenti. Sebenarnya di pantai Mali ini juga ada pantai yang secara resmi telah dijadikan pemerintah sebagai lokasi wisata. Tempatnya sendiri masih dalam renovasi. Sama seperti pantai Maimol, pantai Mali juga berpasir putih. Bedanya di depan pantai beberapa meter telah dipasangi balok-balok beton pemecah gelombang. Balok beton pemecah gelombang ini salah satu yang membuat kurang nyaman view di pantai Mali, seharusnya pemecah gelombang di pantai ini bisa dibuat dengan beton-beton berkaki tiga kecil yang disebar di sepanjang pantai. Beton semacam ini selain tidak mengganggu pemandangan pantai tapi tetap efektif memecahkan gelombang.
Di percabangan depan arah masuk bandara, Arif membelokkan kendaraan ke arah kiri yang langsung disambut dengan jalan menanjak ke atas bukit. Dari atas ini tampak jelas landasan bandara Mali yang sedang direnovasi dan ditambahkan panjangnya.
Jalanan yang sampai Mali mulus berubah menjadi jalan yang agak kurang mulus setelah melewati belokan tadi. Memang masih berupa jalan aspal, namun sebagian telah terkelupas meyisakan jalan berbatu dan sebagian lagi membentuk lubang-lubang kecil. Namun kondisi ini masih cukup baik untuk di lewati. Kami sampai di pantai Deere, pantai yang dulu sekali pernah aku kunjungi. Sayang sampai di depan sekolah dimana terdapat pantai berpasir putih telah dihalangi viewnya dengan beton memanjang. Sepertinya beton ini juga digunakan untuk penahan abrasi pantai, efeknya pantai Deere jadi tampak pendek karena terpotong memanjang seperti itu. Lagi-lagi aku menemukan bagaimana proyek-proyek pemerintah yang terkesan dibangun begitu saja tanpa perencanaan jelas. Padahal jelas pantai Deere ini sangat bagus, berpasir putih dan sangat halus. Jika tanpa penghalang seperti ini dan ditata, pasir putih di pantai ini akan terlihat sangat panjang dan lapang.

Suasana siang hari di pantai Deere
Aku dan Arif memilih menghentikan kendaraan di pantai Deere yang bentuknya menjorok ke tengah seperti tanjung.Pepohonan bakau yang tumbuh di sekitar tanjung kecil ini ada beberapa jenis. Daerah ini sepertinya terbentuk dari timbunan terumbu karang yang telah hancur. Apakah dahulunya pantai disini sering di rusak nelayan dengan bom ikan? Bisa jadi, karena dengan kondisi pantai seperti ini seharusnya terumbu karang juga banyak di tempat ini. Apalagi daerah ini ombaknya sangat tenang, tempat yang tepat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman laut yang cantik sebagaimana aku temui waktu berenang di perairan pulau Kepa. Beberapa bakau yang tumbuh seperti sebuah bonsai, sangat menarik berpadu dengan warna tosca muda air laut yang menunjukkan kalau perairan disini sangat dangkal. Aku menelusuri sampai ke ujung tanjung dimana pemandangan di depan mata terhampar air laut yang gelombangnya lebih terasa dibanding tempat semula.
Setelah beberapa saat menelusuri pantai ini, aku dan Arief kembali mengendarai kendaraan ke arah barat dari sisi utara. 
Pohon bakau di kawasan tanjung Deere
Perjalanan kali ini sedikit lebih lama, setelah melewati dua kampung akhirnya kami sampai di kampung yang dibatasi dengan tebing-tebing tinggi yang nyaris tegak lurus. Itulah ujung perjalanan kami, sebuah desa berwarna batu putih sehingga pantai di sini disebut dengan nama Pantai Batu Putih. Sebutan itu rupanya berasal dari tebing-tebing batu yang berwarna putih. Tebing-tebing inilah alasan kenapa bagian kepala Alor tidak bisa dikelilingi. Jadi jalan yang kami lewati adalah satu-satunya jalan keluar dan masuk ke daerah Batu Putih ini. Seperti di sebagian besar di daerah pesisir pantai Alor, sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam. Komunitasi muslim di sini cukup banyak dan sebagian besar menghuni daerah-daerah pesisir. Sebatang pohon pisang roboh menghalangi jalan kami, sepertinya akibat hujan yang datang beberapa hari ini. Begitu kami sampai di pantai, mata kami langsung disambut dengan pasir pantai berbatu yang dipenuhi batu koral dan kerang. Pantai ini juga sebenarnya bagian yang hendak dikelola oleh pemerintah sebagai daerah destinasi wisata. Namun seperti destinasi wisata lainnya, semuanya berakhir dengan proyek-proyek yang nyaris tak pernah berkelanjutan.
Pantai Batu Putih dengan pepohonan yang menguning 
Perbedaan utama antara pantai di sini adalah pantainya yang tidak landai seperti dua pantai yang aku ceritakan sebelumnya. Begitu melewati batas batu koral, pasir pantai langsung miring sampai ke batas pantai sehingga dalam beberapa meter ke depan warna laut langsung bergradasi ke gelap. Di luar dari penataan yang masih setengah hati, pantai Batu Putih ini sebenarnya menawarkan view pantai yang indah. Posisi matahari yang terhalangi bukit menjadikan suasana sore di pantai ini rindang. Posisi pantai ini berlekuk ke dalam cenderung ke utara. Tebing-tebing ini mungkin akan berwarna hijau pada musim setelah penghujan, tapi pada waktu seperti ini cenderung dipenuhi warna coklat dari rumput-rumput yang telah mengering. Daerah ini sepertinya masih belum terlalu dijamah sehingga kondisi pantainya masih cukup apik.
Nah kegiatan sore di pantai ini adalah mencari kulit kerang. Jika Arif lebih sering mencari kulit kerang/keong yang berbentuk memanjang, maka aku lebih tertarik mengumpulkan tutup kerang jenis moluska yang berbentuk seperti parabola tapi padat.Mungkin karena perairan di daerah ini bersih sehingga warna-warna kulit kerang dan moluska masih tampak bagus dan tidak kusam.
Karena sejak datang sudah mendekati senja, aku dan Arief memutuskan untuk pulang setelah gelap. Beberapa penduduk kampung pria sempat aku lihat bermain voli dari kejauhan.
Sebenarnya ceritaku ini adalah perjalanan kedua, karena di hari pertama justru aku melakukan perjalanan 

Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 17 Oktober 2013

Seri Rote: Pantai Sebelah Kali (Antara Dermaga-Mokdale)

Langit bergelora di atas pantai sebelah kali
Sore itu di hari ketiga penugasanku di Rote, langit yang biasanya cerah tanpa awan tebal tiba-tiba diselimuti mendung yang cukup tebal. Bukan cuaca yang normal pada bulan September seperti ini. Memang ada sekali waktunya hujan di bulan-bulan kering yang orang Kupang menyebutnya sebagai hujan bunga mangga, maksudnya hujan ini sekali datang pas pohon mangga sedang berbunga dan biasanya setelah itu diikuti panas terik musim kemarau. Entah yang hari ini, tapi aku tidak berharap awan kali ini akan berbuah hujan kencang, setidaknya untuk dua minggu penugasanku di sini. Mencoba peruntungan, aku membawa peralatan kameraku sore itu mau memotret di pinggir pantai di belakang hotel. Hotel Grace yang terletak persis di pinggir pantai memang menjadi tempat strategis untuk memantau suasana pantai. Dari teras belakang kita bisa apakah air sedang pasang atau surut, termasuk melihat matahari turun di balik bukit dari pantai Tiang Bendera.

Saat turun tangga aku bertemu dengan orang tua yang juga sedang menenteng kamera juga, dia memperkenalkan diri dengan nama Made. Pak Made ini baru sekali ke Rote, kebetulan dia sedang ada penugasan uji kelayakan pembangunan perpanjangan landas pacu. Dimana tempat yang bagus untuk memotret? tanyanya. Aku bingung juga, banyak tempat yang bagus untuk memotret di sini tapi tidak dengan situasi saat ini. Aku ingat sebuah tempat di dekat sini yang punya suasana pantainya cukup nyaman, termasuk juga banyak kegiatan dari masyarakat sekitar baik para orang tua dengan perahu-perahu penangkap ikannya juga anak-anak dengan permainan di pantainya. Seperti lokasi ini cocok dengan hobi pak Made yang suka memotret orang (ada yang mengistilahkan HI: Human Interest). Aku kurang tau sebutan untuk pantai ini, tapi lain waktu saat kutanya Sonny, dia bilang orang di sini menyebutkan pantai sebelah kali.
Sambil berjalan menuju lokasi, pak Made menjepretkan kameranya berulang kali di sekitar pertokoan yang sering menjadi pasar ikan dadakan terutama pagi hari. Aku sendiri tidak memotret karena di tanganku hanya ada satu kamera dengan lensa 11-16mm yang jika memotret orang harus dalam jarak dekat. Setidaknya tidak tepat untuk saat seperti ini. 
Setelah jalan ke atas sedikit dari dermaga, aku dan pak Made melewati jembatan yang melintasi kali Nah kali inilah yang membuat pantai di dekat situ dikenal dengan sebutan pantai sebelah kali. Kali ini cukup bersih bahkan seringkali digunakan untuk sopir angkutan ataupun truk mampir untuk mencuci kendaraannya.


Letaknya pantai ini memang di sebelah kali setelah dermaga namun sebelum pantai Mokdale yang pernah aku ceritakan sebelumnya waktu berjalan-jalan menuju Pantai Tiang Bendera. Beberapa perahu bersandar di pantai karena sekarang baru puncak surut. Sangat surut hingga aku bisa berjalan di atas pasir beberapa ratus meter ke depan. Sebenarnya aku berencana mau berjalan sampai ke pantai Tiang Bendera karena dengan kondisi surut seperti ini jarak dari Ba'a ke pantai Tulandale pasti tak lebih dari lima belas menit. Sayang kondisi matahari yang tak tampak membuat aku salah kira kalau matahari sudah di batas hingga aku membatalkan ke sana karena waktu yang aku rasa tidak cukup.
Langit sepertinya terlalu kelam, langit yang dipenuhi warna abu-abu gelap menipiskan harapan akan munculnya matahari di ujung horison. Tapi sepertinya cuaca sedang berpihak, walau tak mampu menyinari seluruh langgit, di akhir-akhir senja matahari ternyata mau menampakkan diri tepat di ujung horison. Namun sayang saat hilangnya matahari ada di balik pantai Tiang Bendera.
Karena surut sangat jauh, beberapa anak-anak bisa bermain sampai ke tengah laut. Beberapa orang anak perempuan menjadi kerang dan ikan yang terjebak di kubangan-kubangan pasir.
Dan lagi-lagi aku harus berkutat dengan masalah error di kameraku (atau lensa?)
Pak Made sendiri lebih asyik memotret aktivitas orang-orang di sekitar pantai. Beberapa anak yang sedang bermain ban motor bekas menjadi obyek pak Made. Pak Made cepat akrab dengan orang-orang di sekitar sementara aku di belakang sekedar mengikuti.
Untungnya hari ini tidak jatuh hujan. Memotret di kala mendung seperti ini memang sangat butuh keberuntungan, walaupun aku tidak beruntung dengan kondisi kameraku.

Walaupun bukan tempat wisata, tak ada salahnya jika ke Rote mampir ke tempat ini. Tempatnya lumayan enak lah buat sekedar duduk-duduk sambil memandangi aktivitas penduduk di sekitar pada senja hari. Walau hanya pada bulan-bulan antara April-Agustus kemungkinan bisa melihat matahari tenggelam di pantai ini, tapi warna langit dan suasana pantai yang masih natural masih nyaman dinikmati terutama karena tidak banyak sampah seperti di beberapa pantai yang aku kunjungi di tempat lain.
Baca keseluruhan artikel...

Sabtu, 28 September 2013

Seri Rote: Nemberala, We Call It Beach

Punya laut yang indah? Kamu dapat membandingkannya dengan Nemberala. Ini yang kita sebut pantai...
Tempat kedua yang aku datangi di Rote adalah Nemberala. Kalau aku bilang, Nemberala sekarang ini sudah mirip kampung bule. It’s not a joke, dude! Kalau kamu berkunjung ke pantai Nemberala suatu hari nanti kamu akan tahu persis apa yang kurasakan saat disana. Di sepanjang pantai Nemberala, kalau kamu menemui bangunan dengan penataan yang bagus maka kemungkinan itu milik bule. Beneran? Yup, gak salah lagi. Di sepanjang pantai yang membentang di sisi barat dari pantai Nemberala hingga ke pantai Boa satu demi satu bule mulai membangun di tempat ini. Gak perlu ditanya alasanya lah, gelombang tinggi, pasir putih menghampar dan pohon kelapa adalah paduan khas tentang surganya para pecinta surfing. 
Aku pernah ke tempat ini sekitar tahun 2008 (persisnya ntar aku cek lagi di album foto facebook, lupa sih hihihi). Sudah lima tahun lalu lamanya dan setelah itu nyaris tidak pernah mendatangi Rote lagi. Waktu itu tempat ini masih tempat ini kondisinya jalannya tidak semuanya beraspal, bahkan untuk sampai ke pantai Boa waktu itu kami harus melewati jalan yang masih berupa tanah berpasir putih. Keren kan? Sekarang jalan beraspal telah membentang di sini walau tetap saja tidak semuanya mulus dilewati karena belum jalan besar.

Salah satu pantai di sisi utara Nemberala
Sekitar hari Minggu aku berdua dengan Sonny naik motor ke Nemberala. Tujuan awal kami justru bukan Nemberala karena aku dan teman-teman lain berencana mampir ke Nemberala lain waktu sehingga perjalanan kali ini sebenarnya kami mau ke pantai Oeseli yang berada di sisi selatan pulau Rote. Tapi karena perhitungan waktu saat itu akhirnya tujuan kami belokkan ke arah Nemberala yang lebih dekat.
Sonny menjemputku dengan motornya jam tiga sehingga aku dan dia baru bisa berangkat setengah empat sore. Menuju ke arah barat, satu jam pertama perjalanan berjalan nyaman karena kondisi jalan cukup bagus. Kami melewati daerah Busalangga, disini ada pasar Busalangga yang buka pada hari-hari tertentu, kalau tidak salah hari Sabtu. Yang aku ingat dulunya sangat terkenal ramai pada saat buka, dan disana menjadi tempat tujuan pelancong yang ingin menjadi makanan khas Rote dengan harga murah: gula Rote (gula dari pohon Lontar) baik yang padat berbentuk lempengan bulat pipih atau yang masih berupa air gula, kain rote yang berasal langsung dari pembuatnya, susu goreng dan beberapa hasil kebun. Aku ingat dulu beli bawang merah disini. Kalau umumnya bawang merah dijual di pasar sudah tinggal bijinya maka di pasar Busalangga bawang merah dijual dengan tangkai daunnya sebagai alat pengikat.

Kelapa berbatang tinggi yang banyak ada di sini
Aku juga sempat mampir dulu di Danau Tua yang terletak di pertengahan jalan. Aku gak tahu kenapa disebut danau tua, tapi di pinggir-pinggir danau banyak tumbuh pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi tapi batangnya besar berurat yang menunjukkan bahwa batang-batang pohon itu sudah berusia lama. Mungkin beberapa pohon telah berusia ratusan tahun lebih. Sayangnya danau ini sudah mengalami pendangkalan. Aku tidak terlalu lama disini karena waktu makin mepet.
Sayangnya beberapa kilometer menuju Nemberala justru jalanan masih jelek, kondisi jalan yang aspalnya sudah mengelupas disana-sini. Ada beberapa ruas yang justru tinggal batu-batu saja. Dan itu justru memakan waktu seperempat jam lebih untuk dilewatinya. Sebuah gerbang selamat datang membentang di antara jalan yang menunjukkan kita telah sampai di pantai Nemberala. Tepat dipertigaan di pinggir pantai, kami memilih berbelok ke kanan arah ke utara karena arah itu yang belum pernah aku lewati. Menurut Sonny, ke arah sana kita menuju ke perkampungan dimana banyak perahu disandarkan. Disepanjang jalan itulah banyak aku temui bangunan-bangunan berpagar batu rapi yang menghalangi pemandangan langsung ke pantai yang adalah rumah-rumah para bule. Pagar-pagar batu menjadi pemandangan khas di Rote, namun jika umumnya masyarakat membuat pagar batu dari batu karang hanya selapis sehingga masih tampak berongga tidak rapat maka umumnya bangunan-bangunan yang bagus membuat pagar batu beberapa lapis sehingga tidak berongga. 

Rumput laut yang gagal panen karena kena gelombang
Di salah satu pantai, Sonny memarkir motor di bawah pohon Jambu mete lalu turun diantara karang-karang hingga bertemu pantai di sisi lekukan dalam karang yang berpasir putih. Beberapa perahu nelayan bersandar. Di kejauhan tampak seseorang sedang memunguti sesuatu, yang setelah aku dekati ternyata rumput laut. Beberapa hari ini memang cuaca sedang tidak bagus, kalau gak salah hampir lima hari pelayaran kapal cepat terpaksa bersandar di Kupang tidak bisa ke Rote karena cuaca yang buruk sehingga BMKG melarang pelayaran. Ternyata akibat cuaca buruk ini tidak hanya berimbas ke pelayaran tapi juga ke nelayan dan petani rumput laut. Rupanya rumput laut yang dikumpulkan ini adalah rumput laut laut yang mereka tanami dan berantakan akibat hempasan gelombang yang tidak bersahabat.
Selain itu, gelombang juga membuat rumput-rumput laut yang masih terpasang di ikatan dipenuhi sejenis lumut hijau panjang. Saat aku memotret seorang ibu yang sedang membersihkan rumput lautnya yang masih bisa diselamatkan, masih bisa bercanda “Anak, mama ini capek sekali pinggang bersih-bersih rumput laut, tapi anak foto mama nih, mama langsung segar memang,” yang disambut tawa rekan-rekannya sesama ibu. Ah, semoga masih banyak yang bisa diselamatkan setidaknya masih layak lah hasil yang bisa dibawa pulang ke rumah. Sekarang di sepanjang pantai lebih banyak tumbuh kelapa-kelapa yang pohonnya pendek. Hanya di titik-titik tertentu aku masih menemukan kelapa berbatang tinggi dan itu terasa eksotis sekali. Salah satunya ada di kanan dari Nemberala Resort.


Salah satu rumah punya bule, sepanjang pantai inilah viewnya
Saat matahari mendekati cakrawala, beberapa perahu yang mengangkut bule-bule yang habis berselancar merapat ke pantai. Jadi kalau lihat bule cantik jalan cuma pake two piece bawa papan selancar jangan langsung melotot ya gan, ente diculek ntar.... hahahaha... Dan juga jangan heran kalau melihat bule tua namun masih perkasa dengan papan seluncurnya. Kegilaan mereka dengan berselancar sepertinya tidak bisa dibendung. Coba saja seandainya mereka dibolehkan membeli tanah atau menjadi warga Indonesia pasti mereka sudah berbondong ganti kewarganegaraan. Untung peraturan kita tidak membolehkan tanah dibeli warga asing, sehingga walaupun warga asing berdiam disini tetap saja mereka tidak memiliki nama atas sertifikat itu. Sebagian lagi ada yang berkeluarga dengan penduduk lokal dan tentu saja sertifikat-sertifikat tanah itu atas nama pasangannya.
Beberapa hari kemudian aku habis dari liat sekolahan, pas makan juga mampir di Nemberala lagi. Awalnya sih udah mau ke Oeseli tapi eh ternyata jalan potongnya lagi ada pekerjaan penambahan sirtu (pasir batu), keruan aja gak bisa dilewati. Karena perut sudah bernyanyi keroncongan jadi akhirnya mampir yang paling deket. Jadinya ya ke Nemberala lagi. Lumayan juga, makan siang di bawah pohon kelapa sambil memandangi laut yang berwarna biru kehijauan.

Melepas hari dengan sebotol bir dan sunset yang indah
Minggu depannya akhirnya aku bisa berangkat berempat bareng Sonny, Try, dan Rey karena beban kerjaan sudah tidak terlalu banyak. Aku berangkat sudah masih siang sekitar jam setengah tiga. Jadi sebelum nanti ke Nemberala, kami mau ke pantai Boa. 
Rey sempat bingung bagaimana mereka berselancar karena dia melihat di sepanjang pinggir pantai lebih banyak dipenuhi karang dan tanaman rumput laut yang dibudidayakan. Aku menunjuk di kejauhan dimana ombak tampak bergulung-gulung besar. Jadi disini jika ingin surfing bukan langsung nyemplung dan mendapatkan ombak di pinggir pantai melainkan harus berenang jauh ke tengah dimana karang sudah tidak ada. Jadi jangan takut walaupun ombak Nemberala jika pada musimnya terkenal besar tapi itu hanya di kejauhan karena di pinggir pantai terhalang karang. Itu lah kenapa walaupun terkenal dengan ombaknya, tapi Nemberala juga banyak petani rumput laut.
Kami kembali dari pantai Boa sudah sore, matahari sudah tenggelam dalam warna kuning memerah. Saat warna kemerahan mulai menarik diri oleh warna biru gelap, sekelompok bule duduk-duduk di lopo depan sambil  ngobrol. Denting gitar mengalun menyanyikan lagu reggae. Pantai indah berpasir putih dan jajaran pohon kelapa berpadu sempurna dengan lagu-lagu dari Bob Marley... thar’s beautiful moment dude... siapa yang menyalahkan para bule tua ini menikmati keindahan surga Indonesia di pantai Nemberala.

Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 22 September 2013

Seri Rote: Batu Termanu

Menikmati malam di Batu Termanu
Sudah lama aku ingin jalan ke Batu Termanu karena dari daftar tempat yang cukup dekat dari kota Ba’a tapi malah belum pernah aku kunjungi selama beberapa kali penugasan ke Rote Ndao. Sedikit informasi, Rote Ndao berasal dua kata: Rote dan Ndao, nama dua pulau besar yang disatukan menjadi nama kabupaten. Rote Ndao sendiri merupakan kabupaten yang berada di paling selatan Indonesia, dan pulau terluarnya adalah pulau Ndana.
Sonny dan Try duduk melototi bintang
Makanya waktu kali ketiga kesini aku usahain supaya bisa mampir kesana. Pucuk dicinta ulam tiba, walaupun aku sudah niat jalan kaki ke sana namun ternyata ada teman yang bersedia yang punya motor mau menemani aku kesana. Sonny Saban, teman yang selama ini hanya bertemu lewat sosmed facebook karena kesamaan hobi sama-sama menyukai fotografi bergenre landscape. Jadi perjalanan ke batu termanu menjadi perjalanan dan perkenalan langsung pertama aku dengan Sonny. Eh salah, sebenarnya malah justru ke Nemberala yang pertama ding. Sebelumnya aku pernah coba jalan kaki tapi ternyata hanya sampai daerah PPI Tulandale yang jaraknya hanya separo dari Ba'a ke Batu Termanu.
Pertama kali datang ke hotel cukup kaget juga sih, ternyata orangnya jauh lebih kurus daripada fotonya di facebook beda jauh banget sama kang Eddy yang badannya kayak kingkong hehehehe *sorry pren, just kidding...* Tapi yang pasti sih orangnya bersahabat banget. Hari pertama dan kedua aku tidak langsung ke Batu Termanu karena pertemuan pertama waktu sudah terlalu sore. Batu Termanu baru aku utarain ke dia setelah perjalanan ke Nemberala hari Minggu.
Senin sore, sehari setelah sebelumnya ke Nemberala akhirnya aku, Sonny dan Try menggunakan dua motor memutuskan ke Batu Termanu. Jaraknya gak jauh, paling sekitar sepuluh menit sudah sampai di sana. Batu Termanu arahnya ke timur dari Ba’a setelah melewati Tulandale yang menjadi PPI di Rote dan pantai Leli yang dipenuhi tonjolan batu-batu karang di laut seperti di pantai Tiang Bendera.
Model dan fotografer
Sendiri merajut mimpi
Untuk menuju bukit terdekat di Batu Termanu, disebuah jalan kami berbelok ke arah jalan tanah menuju ke arah gerbang hotel Tiberias. Sebenarnya ini jalan umum tapi disisi kiri kanan terdapat pagar yang mengelilingi sehingga sepertinya jalan itu privat milik hotel. Ada dua tempat penginapan di sini, satu hotel Tiberias satunya lagi ada di sebelahnya aku lupa namanya. Tapi kalau penugasan kurang enak nginep disini karena jauh dari keramaian, mau makan jadi repot harus balik ke Ba’a lagi.
View Batu Termanu dari depan hotel Tiberias
Batu Termanu ini sebenarnya sebenarnya mirip sebuah tanjung yang berupa batu besar dengan tegak berdiri pipih memanjang. Karena bentuk batunya yang seperti itu jadi mudah dikenali jika melewati daerah ini. Dari atas jalan tinggi di perbukitan sebelum sampai disini, bentuk Batu Termanu sudah bisa terlihat jelas.
Sampai di atas ternyata udah terlalu sore, kami gak dapat lagi matahari karena sudah menghilang di balik awan. Perbukitan yang rumput-rumputnya telah rata tinggal menyisakan warna kuning semakin menguning oleh senja. 
Setelah menyandarkan motor di bawah, kami naik ke atas bukit yang dipenuhi banyak tai sapi. Sepertinya bukit-bukit di NTT dijadikan tempat gembala makanya banyak tainya. Kami bertiga duduk di atas batu, harus hati-hati memilih tempat duduk. Salah memilih bisa-bisa tai kering kita kira batu dan kita duduki begitu saja.
Dari atas bukit, kami bisa melihat ke seluruh penjuru arah. Dari bukit tempat kami berdiri, Batu Termanu tampak di sisi Utara. Berbeda dengan tempat kami berdiri yang tampak kering, Batu Termanu walau batu yang mencuat ke atas hanya batu keras saja namun di bagian bawah tampak pepohonan masih tumbuh berdiri menghijau walaupun ada juga yang telah mengering. Di sebelah dari Batu Termanu ada bukit yang di atas tampak terpancang sebuah salib kecil di puncaknya. Sementara di sisi Timur dari bukit, tampak beberapa bangunan peneduh dibangun di pesisir pantai yang pasirnya juga berwarna putih. Bangunan ini sepertinya disiapkan oleh pemda untuk menjadi lokasi wisata alternatif karena letaknya yang terhalang bukit dan pepohonan bakau dan di bagian depan ada sebuah pulau yang katanya adalah batu betina (pasangan dari Batu Termanu). Untungnya kami datang sore menjelang gelap seperti ini. Seandainya saja kami datang siang hari tentu hawanya akan terasa terik sekali.
Soul of traveller
Daerah ini masih tampak sepi, beberapa ratus meter dari daerah kami berdiri tidak tampak bangunan kecuali dua hotel tadi, dan beberapa rumah yang agak jauh dari sini. Saat mulai gelap, hanya tampak cahaya dari dua bangunan jauh di bawah itu, itu pun tidak berpengaruh dari sini kecuali bagai kerlip saja. Sayangnya angin yang bertiup terasa keras. Angin bulan ini memang terasa sangat keras, apalagi kami yang sedang berdiri di atas bukit. Tapi menurutku masih jauh lebih keras saat kami di Pantai Tiang Bendera. Bahkan kami selepas perjalanan ke Tiang Bendera harus merasakan akibatnya: perut kembung seharian.
Warna yang semula kuning semakin memerah dan disambung warna biru yang terus menggelap. Aku dan Sonny tentu saja tetap mencoba angle-angle yang mungkin. Aku sendiri sedang mengalami kesulitan menghandle lensa Tokina 11-16mm yang selalu nangkring di kameraku. Entah sejak kapan, tapi dalam kondisi yang aku kurang tau persis sering sekali mengalami error (disebut di kamera dengan istilah "ERR 001": terjadi masalah kontak antara kamera dengan lensa). Belakangan baru aku ketahui kalau error ini selalu menimpa saat aku menggunakan fokal lensa di 13mm ke bawah, jika menggunakan di atas itu ternyata tidak bermasalah dengan error itu. Itu pun aku masih harus menghadapi lensa yang bermasalah shutter speednya.
Bukit Termanu senja hari
Karena memang tidak memungkinkan untuk memotret senja lagi akhirnya kita memutuskan untuk menunggu malam. Sebenarnya sih memang aku mau mencoba memotret langit karena pada saat ini jika telah mulai gelap maka dengan mudah kita akan melihat sebentuk gumpalan tipis memanjang seperti awan dari utara ke selatan yang kita kenal sebagai galaksi Bima Sakti (Milky Way). Namun memang ada sepenggal bulan berbentuk bulan sabit yang akan menyulitkan kita mengambil foto galaksi. Walaupun secara mata kita masih bisa melihatnya, namun saat difoto maka cahaya sekecil apapun dengan mudah mempengaruhi penampakan sang Bima Sakti.
Saat gelap bukit Termanu makin terlihat angker berdiri dengan batu besarnya yang berubah menggelap. Saat itu memang cahaya bulan yang cuma sabit kecilpun masih harus dihalangi oleh awan-awan yang bergerak cukup cepat. Angin yang dari sore berhembus lumayan kencang masih juga terasa, walaupun sedikit menurun. Saran saya, kalau ke tempat-tempat terbuka seperti ini memang sebaiknya jangan pas musim angin. Dan satu lagi, bawa senter! Walaupun saat ini sebagian tai sapi yang ada sudah kering pastilah sebelumnya masih basah. Tentu tidak ingin kan anda pulang dengan menginjak tai sapi yang masih basah *tutup hidung*... Try saja nyaris salah ambil, waktu balik mau ambil jaket dia liat seonggok benda lumayan besar yang dikira jaketnya. Waktu mau diangkat baru sadar kalau itu tai kering. (ups, sorry Try buka rahasia :D)
Semakin larut, suasana semakin tenang. Jelas, tinggal kami bertigalah yang berdiri di bukit ini yang masuk kategori manusia. 
Sayangnya kami tidak membawa amunisi makanan dan minuman, pasti sangat menyenangkan duduk-duduk disini melihat bintang sambil ngobrol dan minum minuman panas (seandainya saja aku bawa termos yang biasa aku bawa kemana-mana). Aku dan Sonny berbagi banyak cerita dengan hobi kami memotret, sebuah kesempatan yang menyenangkan bertemu dan berbincang dengan teman-teman yang tidak hanya suka memotret tapi menyukai berjalan-jalan.
Sekitar jam setengah delapan kami memutuskan kembali ke hotel.

Thanks udah nemeni jalan-jalan kesini Sonny Saban yang udah rela tidak tugas demi menemani kita jalan-jalan plus pinjaman motor Mega Pro-nya yang masih ciamik (rajin ngerawat ya mas karena gak ada yang lagi yang dirawat disana hehehe) dan Try Sutrisno Sianipar yang sudah mau jadi obyek diam (gile juga padahal angin kenceng, susah tuh bisa diem begitu 1 menit)

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya