Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Senin, 18 Juni 2012

Kawaliwu (lagi): Ketenangan Senja

Sebuah pohon bakau besar tunggal di Kawaliwu
Entah kenapa kalau ke Larantuka pasti cari kesempatan mampir ke Kawaliwu. Ada apa sih dengan Kawaliwu, paling cuma lihat matahari terbenam yang kadang kelihatan kadang hilang, atau paling juga nyemplungin kaki di cekungan tempat menampung air panas yang mengalir di sela-sela batu di pinggir laut. Atau bertingkah seperti remaja yang lagi galau duduk diam melihat ke laut sampai gelap.
Iya, memang iya cuma ada hal-hal seperti itu di Kawaliwu. Ada yang lain? Hmmmmm, ada tapi mungkin tidak penting. Tidak penting kan cerita salah ambil jalan sampai harus menerobos alang-alang tinggi sampai kaki gatal-gatal. Juga tidak penting kan aku cerita lagi duduk enak-enak tiba-tiba ada bangkai anak babi mengambang di pinggiran dengan perut kembung (kapan babi pernah kurus perutnya). Lebih tidak penting lagi kan menceritakan aku dan Kadek tiduran di batuan hanya untuk memotret jajaran kelapa yang tumbuh tinggi-tinggi di sepanjang garis pantai.
Mencari ikan dan kerang saat surut
Bebatuan tempat nokrong
Tapi meski cuma ada semua itu di Kawaliwu tetep rasanya tidak pernah bosan kembali ke sana. Apalagi dengan teman yang baru ke sini, pasti acara memperkenalkan Kawaliwu menjadi hal pertama yang aku lakukan sesampai di Larantuka. Lama-lama ini lebih seperti prosesi pembaptisan buat yang pertama ke Larantuka: mengunjungi Kawaliwu.
Tentu saja kesana untuk semua hal itu, tidak sama persis tapi ya tetap hal-hal itu semua (kita tidak selalu harus membuat berbeda suatu hal hanya karena tidak ingin sama). 
Acara pertama tentu saja acara mengejar matahari terbenam, apalagi kalau langit lagi banyak awan dan berharap bisa melihat cahaya yang keluar di balik awan. Tak selalu harapan itu terjadi, atau malah lebih sering gagal (kadang itu tidak penting). Seperti hari itu, matahari justru telah hilang sebelum sampai ke batas horison di telan awan tebal yang tak tampak dari pantai. Hanya menyisakan warna merah kuning selapis, yang terus menggelap. Kadang kamera harus menyerah dan membiarkan mata yang menjadi penikmat sesungguhnya. Dan batu-batu hitam yang bertumpuk menjorong ke laut tetap menjadi tempat yang menarik untuk menghabiskan hari menikmati malam yang menggeser senja.
Menikmati bintang-bintang dari pantai
Yang kedua tentu saja kegiatan merendam kaki di cerukan-cerukan air panas di beberapa tempat. Cerukan-cerukan ini hasil karya para penduduk asli yang digunakan untuk mandi baik menggunakan kayu atau tangan. Setelah sebuah cekungan selesai dibuat biasanya mereka menguras dulu beberapa kali untuk membuat air di cerukan yang mereka buat menjadi bersih. Waktu aku membuatnya ternyata menguras air pertama ini memang harus dilakukan untuk membuang lapisan tanah halus yang membuat air cepat kotor sehingga di cerukan tinggal batu dan pasir hitam kasar. Suhu tiap cerukan bervariatif, kali ini aku dan Arief 'mbah' agak kurang ajar. Setiap ketemu cerukan pasti ada kerjaan merendam kaki disitu entah berapa cerukan yang menjadi korban kaki kami, untungnya tidak ada yang korengan kakinya hehehehe.

Kali kedua aku kesini aku mendapatkan matahari bersinar terang, warna kuning dan bulat tampak sampai di batas cakrawala. Arief agak keranjingan merendam kaki, penyakit kalau mau spa gratis seperti itu.
Tempat menikmati senja yang paling menenangkan
Sebenarnya ingin kembali menikmati matahari tenggelam di bebatuan seperti biasa tapi di bagian atas terdengar suara yang ramai sekali. Ada rombongan muda-mudi yang sedang berliburan. Kami bukan terganggu dengan jumlah mereka tapi suara-suara yang terdengar ribut sekali macam orang yang bertengkar. Padahal salah satu kesukaan kami dari Kawaliwu adalah suasana yang terasa begitu tenang, bukan suara lagu yang terdengar keras dari salah satu peralatan elektronik anak-anak muda itu. Aku pikir mereka salah tempat menuju kesini, ada baiknya mereka duduk di cafe yang hingar bingar.
Untung mereka segera pulang tak lama setelah kami duduk-duduk di tepi laut. Suasana kembali tenang, Kawaliwu kembali menjadi begitu nyaman, suara perahu menyibak air laut memotong bayangan matahari begitu berpadu dengan kecipak dayung perahu kecil yang mengoyak air laut yang tenang. Suara tokek dan burung-burung seperti harmoni yang tak boleh dilewatkan.
Mungkin ini sebenarnya hal yang tak pernah membosankan, Kawaliwu sungguh menawarkan ketenangan dan harmoni yang sungguh melenakan. Sehingga seperti apapun kondisi matahari yang terlihat, melihat gradai-gradasi warna langit senja dan harmoni segala sesuatunya seperti memanggil untuk kembali menikmatinya, setiap kali aku kesini.


Boat room untuk menikmati matahari pagi
Oh iya, ada satu tempat yang ingin aku bagi siapa tahu ada salah satu kalian kesini dan tertarik menginap kesini. Namanya hotel Asa, tempat aku menginap pertama kalinya karena biasanya aku tidak menginap di sini. Tapi ini bukan tentang hotel itu tapi salah satu kamar hotel yang unik, namanya Boat Room. Satu-satunya kamar yang unik dan paling murah, harga terakhir adalah 325.000/malam. Boat room ini adalah kamar yang dibangun dari bekas perahu/kapal kecil yang sudah tidak dipakai. Boat room ini otomatis adanya di tepi pantai, jadi jalan masuknya ke perahu melewati blok-blok semen di sepanjang pasir pantai. Anda akan menikmati kamar dengan suara ombak yang terdengar berdebur sepanjang malam, dan kerennya lagi anda akan bisa menikmati matahari terbit sambil menikmati secangkir kopi panas di ujung kapal karena kapal ini menghadap ke arah timur.



Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya