Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Selasa, 13 Juli 2010

Di Ketinggian Kota Bajawa (1)


Sungai Waewoki diambil pada waktu menjelang petang pukul 18.12 dengan bukaan selama 13 detik

 Pesawat mendarat di bandara Turulelo Soa sekitar pukul 8 pagi, cukup cerah untuk dinikmati. Hawa sejuk cenderung dingin langsung menyergap kami, ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut membuat kota ini selalu diselimuti dingin apalagi pada bulan Juni-Juli. Beberapa lelaki hidir mudik di ruangan tunggu kedatangan menawarkan angkutan menuju kota Bajawa. Kebetulan karena kami sedang dalam tugas sehingga sudah ada yang menjemput kami, namun apabila tidak ada yang menjemput dengan biaya sekitar 50ribu-an sebuah mobil berplat hitam dapat mengantarkan anda ke ibukota Kabupaten Ngada ini.

View dari hotel Edelweis lantai 4 pada saat kabut tebal mulai menyelimuti

  Perjalanan menuju Bajawa yang berjarak sekitar 21 km dari bandara ini terasa menyenangkan, melewati perkampungan dan hutan-hutan yang rimbun membuat kendaraan yang melaju di jalan berkelok-kelok tidak terasa.

Kesan pertama begitu kami memasuki jalan masuk ke Bajawa seperti masuk di kawasan perumahan. Bagaimana tidak, kota Bajawa yang terletak di cekungan seperti sebuah piring yang dipagari barisan pegunungan. Akses jalan keluar dan masuk ya jalan ini, persis sebuah perumahan yang tertutup yang gerbang masuk keluarnya tunggal kan?
Perumahan di kota Bajawa sebagian masih bergaya lama, beberapa bangunan mengingatkan bahwa tempat ini pernah menjadi tempat persinggahan orang-orang Purtugis atau Belanda dulu.
 
Bunga-bunga kecil diambil di depan hotel Kembang

 Jam setengah sembilan, mobil carter kami memasuki areal hotel Edelweis. Beruntung saat itu tidak ada kendaraan terparkir sehingga mobil bisa masuk tidak harus berhenti di pinggir jalan. Hotel Edelweis memiliki gambaran seperti halnya losmen-losmen di Jawa, sama seperti halnya beberapa hotel yang tersebar di kota Bajawa ini. Namun yang paling menarik dari hotel yang berada di pinggir jalan keluar masuk kota Bajawa ini adalah kontur tanah berbukit yang menyebabkan posisi kamarnya bertingkat. Jika mau memilih kamar yang berada di belakang maka kita bisa menikmati pemandangan gunung Inerie yang sering tersaput kabut tebal bagian puncaknya pada sore hari. Maka kegiatan yang cukup menyenangkan di pagi atau sore hari adalah menikmati pemandangan kota Bajawa berlatar gunung Inerie di bagian paling belakang hotel di lantai paling atas. Bunga-bunga begitu segar di sekeliling hotel juga bagian yang saya nikmati dari hotel ini.

Pemandangan sungai Waewoki dengan pengambilan petang hari

Sore setelah selesai dengan pekerjaan pasti saya sempatkan berjalan-jalan mengelilingi kota ini. Rasanya tak lama untuk mengenal tempat ini, kota yang kecil yang mungkin tak lebih besar dari sebuah kawasan perumahan bertipe sedang di Jawa. Bahkan karena kecilnya kota ini, kaki saya sampai harus ajak berkeliling keluar agak jauh.

 Ada satu sungai yang mengelilingi separo kota Bajawa yang beberapa kali saya datangi. Sungai yang alirannya bening ini masih digunakan sebagian penduduk Bajawa yang terutama di pinggir kota untuk melakukan aktivitas seperti mandi, mencuci atau mengambil air. Di pinggir sungai ini dengan mudah kita temui pohon-pohon bambu yang batangnya panjang lurus yang menjadi salah satu bahan utama rumah penduduk di Bajawa. Bahkan atap rumah yang menggunakan bambu banyak saya temui disini, unik sekali. Oh iya, bambu di Bajawa ini ukurannya besar-besar dengan batang yang lurus dengan sedikit cabang. Dari kualitas bambunya sebenarnya bambu-bambu ini sangat berpotensi dikembangkan.

Pemandangan yang berselimut kabut dari gunung
Inerie diambil dari gunung Inelika

Sebenarnya saya senang sekali menikmati sungai yang airnya terasa dingin di kaki ini, namun dari banyaknya sampah tersangkut di pinggir atau di bekas-bekas kayu melintang menunjukkan masih adanya kebiasaan beberapa masyarakat yang membuang sampah ke sungai.

 Semakin kaki saya melangkah semakin banyak yang ingin saya kenal dari Kabupaten Ngada ini. Rasanya menyenangkan sekali menyaksikan penggalan masa lalu tercipta di sini karena di sini lah saya bisa menemukan budaya lama (Megalitikum) yang masih hidup bersama masyarakatnya.
Hampir semua tempat yang pernah saya kunjungi membuat saya terkesan. Seperti perjalanan tanpa bekal yang cukup yang membuat saya terkapar sendirian di tepi kawah gunung Inelika sampai harus memakan buah-buahan yang saya gak tahu namanya (rasanya asam manis yang biasanya pertanda buah yang tidak beracun) untuk mengambil airnya. Sayangnya saat itu, kawah gunung Inelika baru saja kering sehingga waktu disana saya hanya bisa menyaksikan kawah yang sedang kering dengan sisa-sisa pohon kering.

Susunan batu berlumut yang digunakan untuk tempat
menambatkan hewan piaraan. Lokasi Kampung Bena

Aliran percabangan air dingin san air panas di Sumber
Air Panas Soa, sekitar 13 km dari Bajawa

Meskipun sisa-sisa budaya Megalitikum masih bisa ditemui di banyak tempat, namun tempat yang masih kental nuansanya dapat di saksikan di Bena. Jika harus membuat daftar kunjungan wajib jika di Flores, maka Bena adalah salah daftar wajib yang harus anda kunjungi.

Di Bena, anda bisa menyaksikan sebuah perkampungan yang berbentuk melingkar dengan nuansa Megalitikum yang masih kental dan menyaksikan dari dekat bagaimana aktivitas yang mereka jalankan.
Ada juga air terjun Ogi yang sayang potensinya masih belum diperhatikan oleh pemerintah.
Air terjun yang terletak di celah bukit dengan debet air yang sangat kencang ini cukup menjanjikan suasananya. Sebenarnya air terjun Ogi ini bisa menjadi salah tempat tujuan wisata yang layak bila dibenahi. Untuk mencapai kesana waktu itu saya harus bersedia melewati pematang sawah sejauh hampir satu kilometer tanpa ada akses jalan sama sekali. Menurut informasi, sebenarnya disini pernah dibangun akses jalan, namun seiring kerusakan yang tidak ada perbaikan lama-lama jalannya terkubur tak berbekas.

Pemandangan laut di salah satu pulau berterumbu karang
di kawasan Taman Laut 17 Pulau di Riung, Bajawa

Bagi yang ingin merasakan air panas, maka daerah Detusoko menjanjikan tempat pemandian air panas di Soa. Sumber air panas yang letaknya dekat dari bandara ini memliki sumber air panas yang cukup besar. Tempat yang menyenangkan untuk berendam apalagi setelah merasakan dinginnya air di Bajawa yang membuat kita menjadi malas mandi.


Masih ada lagi potensi yang berkelas dunia di taman laut 17 pulau yang berada di Riung. Meskipun jarak yang cukup jauh dari Bajawa sekitar tiga jam dengan perjalanan darat yang berliku-liku, namun semua kesulita itu akan terbayar begitu kita menikmati alam Riung, pulau-pulau berpasir putih dengan keunikan masing-masing, taman lautnya yang begitu bening dengan terumbu karang yang memukau. Namun lagi-lagi yang harus saya ingatkan adalah keterbatasan fasilitas di tempat ini, jadi jangan lupa membawa peralatan sendiri termasuk alat snorkling atau peralatan selam jika anda tertarik ke tempat ini. Namun yang tidak pun tidak akan kecewa dengan keindahan pulau-pulau yang ditawarkan tempat ini.

Rasanya bercerita tentang Ngada tak akan cukup dengan satu kali tulisan, mungkin untuk lebih detil masing-masing tempat ini akan saya sajikan dalam gambaran tersendiri.

20 komentar:

  1. Bajawa kembali teringat akan kenangan yang sangat manis tak terlupakan. kota dingin yang di pagari bukit-bukit. kota kecil yang membawa pengaruh besar dalam hidup saya. Ingin rasanya kembali kepelukan masa lalu yang tak kunjung kembali

    BalasHapus
  2. Bajawa... kota kelahiranku yang sangat dingin. :) menawarkan sejuta pesona :)

    BalasHapus
  3. @John Deru: kota dinginin sejuta pesona katanya (yang dibawah)
    @Rose: yup.... rasanya masih banyak yang saya ingin eksplore dari bajawa

    BalasHapus
  4. Alberto A. Djono Moi, O.Carm30/10/11 01.22

    Bajawa itu indah .... wow dingin sedingin salju di Montreal. Terkenang aku berenang di sungai waewoki dan mencari kayu api di wolo ngadha. Bajawa tersimpan sejuta kenangan buat aku. Kapan aku bisa mengisahkannya melalui buku-buku yang aku tulis? Hehehehehehe tungguh aja ya....!!
    Terima kasih buat Bajawaku!!!
    Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm

    BalasHapus
  5. Terima kasih Romo Alberto A. Djono Moi, O.Carm udah berkunjung ke blog. Bajawa memang tempatnya unik, ditunggu peluncuran bukunya Romo. Tolong nanti diinformasikan bisa blog ini bisa bantu promosi

    BalasHapus
  6. Hahahahahaha buku-buku saya sudah banyak nih. Artinya saya telah menulis banyak buku. Coba ketika: Alberto A. Djono Moi, O.Carm atau djono moi. di sana akan tampak promosi-promosi buku-buku saya hehehehe!!!!
    Terima kasih ya. Salam dan doa saya dari Jakarta!!!!

    BalasHapus
  7. Publikasi yang sangat indah.. Bangga Menjadi orang Bajawa...

    BalasHapus
  8. Romo Alberto A. Djono Moi: Wah ternyata Romo Alberto A. Djono Moi, O.Carm penulis yang aktif sekali.. wah jadi malu *ikon malu*....... makasih sekali ROmo untuk kunjungannya ke blog kecil ini. Salam

    BalasHapus
  9. Itha Mone, Bobbie: thanks ya buat kunjungannya

    BalasHapus
  10. Saya ada rencana berkunjung ke bajawa dan menginap di hotel edelweis mai 2012 ini.
    Bila ada no telp-nya apakah bisa di share?

    Terima kasih

    Rila

    BalasHapus
  11. Silahkan Rila mengirimkan pesan langsung ke email saya baktiar77@gmail.com

    BalasHapus
  12. bajawa adalah kota kecil bagaikan di dalam kaldera gunung..kota yang hijau dengan sejuta potensi wisata yang masih terpendam..
    semoga pemda dapat melihat potensi pariwisata yang ada yang dapat menjadikannya sebagai daya tarik kota bajawa melalui pameran atau promosi2,dan juga objek wisata yang sudah ada lebih di percantik lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak lokasi yang menarik, dan itu banyak saya temui di belahan bumi ntt... kesadaran masyarakat lokal untuk menjaga dan kemauan pemerintah untuk menjaganya, semoga....

      Hapus
  13. sebenarnya Masih banyak yang perlu diperbarui dari kota Bajawa
    ..walaupun bgitu saya bangga jadi orang bajawa,..
    (\__/)
    (♥‿♥)
    (“)_(“) ★_★

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak sekali.... semoga Pemda bisa segera berbenah karena mata sekarang lagi tertuju ke provinsi ntt

      Hapus
  14. sayang sekali,sungai waewoki skg tak seindah foto diatas...banyak sampah skg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya waktu saya memotret ini juga sudah banyak sampah... saya menelusuri untuk mencari lokasi yang tidak terlalu banyak sampah... kesadaran masyarakat tentang sampah masih minim

      Hapus
  15. keren mas doakan biar aku juga konsisten nulis perjalananku di blogku...aminnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, sekarang kan udah jadi auditor jadi kesempatan jalan2 keliling NTB lebih terbuka... tapi jangan lupa kalo ke jawa cari tempat ampiran juga

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya